Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Tepat saat tawa Elara mereda, telinga tajam Xander menangkap suara langkah kaki yang berat namun teratur dari kejauhan lorong. Di saat yang sama sensor mana milik Elara yang baru saja diasah selama tiga bulan pun tau kalau itu adalah Pangeran Kaelen.
"Cih Pangeran menyebalkan itu datang lagi. Mengganggu saja" desis Xander tiba-tiba. Wajah datarnya yang tadinya sedikit melunak kini kembali mengeras bahkan lebih dingin dari es di kutub utara. Ia mendecih pelan sambil menatap pintu kamar Elara dengan pandangan permusuhan yang tak disembunyikan.
Elara hanya bisa melongo. Ia tidak sempat menjawab karena tertegun melihat reaksi Xander yang begitu ekstrem. Kenapa dia kelihatan benci banget sama Kaelen? batin Elara heran.
Dalam benak Elara pertanyaan mulai bermunculan. Kaelen adalah Putra Mahkota, calon Raja yang seharusnya dihormati oleh siapa pun termasuk oleh Xander yang statusnya hanya pemilik toko roti dan pemilik Shadow Guild, setidaknya itu yang Elara tahu. Tapi sorot mata Xander barusan bukan sekadar ketidaksukaan semata melainkan ada kebencian mendalam yang tersimpan rapi. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua orang ini sampai-sampai Xander merasa tidak suka hanya dengan mendengar langkah kaki Kaelen?
"Aku harus pergi" ucap Xander pendek, memutus lamunan Elara. Ia melirik cupcake yang tinggal separuh di tangan Elara "Aku harus kembali ke toko untuk mengurus beberapa panggilan untuk Shadow Guild"
"Okey hati-hati di jalan ya bayy" balas Elara sambil melambaikan tangan mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang.
Xander mendengus sekali lagi sebelum akhirnya ia melompat keluar jendela dengan kecepatan yang luar biasa, menghilang di balik kegelapan malam seolah ia memang bagian dari bayangan itu sendiri. Begitu jendela tertutup rapat suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Lady Elara? Apakah Anda sudah beristirahat?" Itu suara Mina diikuti oleh suara Rhea yang lebih tegas.
"Lady Pangeran Kaelen ada di depan. Beliau ingin berpamitan secara pribadi sebelum kembali ke istana" sambung Rhea dari balik pintu.
Elara menghela napas panjang lalu mengusap sisa krim cokelat di sudut bibirnya dengan terburu-buru. Ia menatap jendela yang baru saja dilewati Xander lalu menatap pintu kamarnya. Baru saja satu lelaki kabur lewat jendela, sekarang lelaki lain sudah nunggu di depan pintu. Hidup di dunia ini benar-benar bikin migrain keluhnya dalam hati sambil bersiap menyambut kedatangan sang Putra Mahkota.
Elara merapikan gaun tidurnya sejenak memastikan tidak ada remah kue yang tertinggal di kasur lalu memberikan izin kepada Mina dan Rhea untuk membuka pintu.
Pangeran Kaelen melangkah masuk dengan wibawa yang sejuk namun mendominasi ruangan. Jubah kebesarannya sedikit tersampir di bahu dan senyum tipis yang sopan terukir di wajahnya. Namun begitu melintasi ambang pintu langkah Kaelen terhenti sejenak. Hidungnya yang tajam menangkap aroma manis vanila yang kuat, bercampur dengan samar-samar aroma kayu cendana yaitu aroma khas seseorang yang baru saja berada di sana.
"Lady Elara, maaf jika kedatanganku di jam seperti ini mengganggu waktu istirahatmu" ucap Kaelen, matanya menyapu seisi ruangan dengan tenang sebelum akhirnya berhenti tepat di jendela yang sedikit bergetar karena angin malam.
Elara tersenyum kaku dan jantungnya sedikit berdisko "Ngga sama sekali kok Pangeran Mahkota. Aku justru merasa terhormat Pangeran menyempatkan diri untuk pamit"
Kaelen mendekat dan matanya beralih ke bungkusan kertas di atas meja kecil samping tempat tidur "Aroma cupcake? Sepertinya Lady Elara memiliki persediaan camilan yang sangat menggiurkan di mansion ini"
Elara segera memutar otak "Ah ini... tadi Mina bawain buat aku. Aku ngerasa sedikit lapar karena diperjalanan tadi ngga sempat makan" bohong Elara lancar meski dalam hati ia berharap Mina tidak masuk dan membantahnya.
Kaelen hanya mengangguk pelan meski tatapannya seolah tahu bahwa Elara sedang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak mendesak melainkan hanya mengulurkan tangan untuk menepuk bahu Elara dengan lembut "Berhati-hatilah Elara. Mansion ini tidak akan selalu aman. Jika terjadi sesuatu jangan ragu untuk mengirim pesan ke istana"
Setelah Kaelen pergi Elara baru bisa bernapas lega. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Suara langkah kaki Vane asisten pribadi Duke terdengar mendekat.
"Lady Elara" suara Vane terdengar dingin dari balik pintu "Duke Alaric menunggu Anda di ruang kerjanya sekarang. Beliau menekankan... Anda harus datang sendirian"
Elara menghela napas panjang lalu menatap pintu kamarnya dengan sorot mata yang mendadak berubah tajam. Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan sedikit penampilannya sebelum melangkah keluar. Rhea dan Mina segera menyongsongnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Lady, Anda tidak boleh pergi sendirian ke sana" bisik Mina dengan nada mendesak "Duke Alaric mungkin sedang dalam kondisi yang tidak baik, kami takut anda disiksa dan dilukai oleh dia Lady"
Rhea mengangguk cepat dan tangannya terkepal menggenggam pedangnya "Benar Lady. Setidaknya izinkan kami berjaga di depan pintu ruang kerja Duke. Kami tidak tenang membiarkan Anda menghadapi pria itu tanpa perlindungan. Jika saja Duke Alaric berani macam-macam kami tidak akan segan-segan untuk memenggal kepalanya"
Elara berhenti melangkah lalu menoleh ke arah kedua pelayan setianya. Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan muncul di bibirnya. Tatapannya yang tadi hangat kini berubah menjadi sedingin es, memancarkan wibawa yang membuat Rhea dan Mina tanpa sadar mundur satu langkah.
"Kalian sungguh mencemaskanku?" tanya Elara dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan "Apa kalian sudah lupa dengan apa yang aku lakukan selama tiga bulan di dalam hutan?"
Rhea dan Mina terdiam teringat kembali pada aura jernih dan tenang yang terpancar dari Elara saat ia pertama kali kembali.
"Atau... kalian sudah lupa siapa aku yang sebenarnya?" sambung Elara. Kalimat itu seolah menyentak kesadaran kedua pelayan tersebut. Mereka tersadar bahwa sosok di depan mereka bukanlah Lady Elara yang lemah dan mudah ditindas seperti dulu. Di balik wajah cantiknya tersimpan kekuatan besar yang sanggup meratakan musuh tanpa perlu merapalkan mantra.
Elara adalah monster yang sedang menyembunyikan taringnya. Melihat keyakinan di mata majikannya Rhea dan Mina akhirnya menunduk hormat membiarkan Elara berjalan sendirian menuju ruang kerja Duke Alaric....
Ini Rhea sama Mina, gacor banget ngga sihhhhh, btw yang rambut pink Mina dengan karakternya yang ceria dan yang rambut putih Rhea dengan karakternya yang cool abieezzz👇
kayaknya gak bakal pilih dua2nya🤣🤣🤣