NovelToon NovelToon
Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ginian

​"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
​Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
​Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya

​Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
​Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
​"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Runtuhnya Langit Himalaya

Angin menderu di puncak tertinggi dunia, membawa serpihan es yang tajam seperti belati.

Di dalam kompleks bawah tanah The Black Ledger yang tersembunyi di kedalaman Himalaya, Vandiko Elhaz berdiri di tengah kekacauan.

Alarm merah meraung-raung, membelah kesunyian bunker yang biasanya hanya berisi bisikan transaksi triliunan dollar.

​Vandiko menatap monitor raksasa di depannya

Selama sepuluh tahun, otaknya bekerja seperti mesin. Ia menyebutnya "Sistem"—sebuah mekanisme pertahanan mental yang membuat setiap rasa sakit hatinya menjadi bahan bakar untuk mencari uang.

...Setiap hinaan dari Isabella Wijaya, setiap pengkhianatan dari Clarissa, semuanya terakumulasi menjadi angka-angka di saldo rekeningnya. Namun hari ini, angka-angka itu terasa dingin....

​"Tuan, sistem penghancuran mandiri telah aktif," teriak Gia dari balik kepulan asap. "Kita harus segera keluar sebelum seluruh gunung ini menimbun kita!"

​Vandiko tidak bergerak.

Ia menatap The Prime, pria tua yang selama ini mengendalikan ekonomi dunia dari balik layar. Pria itu kini hanyalah seorang kakek yang gemetar, ketakutan melihat seluruh data kekuasaannya hangus terbakar oleh virus yang disuntikkan Vandiko.

​"Kau menghancurkan dunia, Vandiko!" teriak The Prime dengan suara parau. "Tanpa data ini, ekonomi global akan lumpuh! Kau akan menjadi orang paling dibenci di sejarah manusia!"

​Vandiko tersenyum miring. Wajahnya yang penuh luka bakar akibat ledakan generator tampak mengerikan namun berwibawa. "Dunia tidak akan hancur, Prime

Dunia hanya sedang melakukan restart

Aku mengembalikan semua uang yang kau curi dari rakyat kecil kembali ke sirkulasi normal. Aku bukan menghancurkan dunia, aku sedang mencabut parasitnya."

​Ledakan besar mengguncang lantai beton. Langit-langit mulai retak, Vandiko merasakan dadanya sesak, bukan karena asap, tapi karena beban mental yang selama ini ia pikul

Selama ini ia berpikir bahwa dengan menjadi orang terkaya, ia bisa membalas dendam.

Namun melihat kehancuran di depannya, ia menyadari bahwa dendam hanya melahirkan kehampaan yang lebih besar.

​"Gia, pergi!" perintah Vandiko.

​"Bagaimana dengan Anda, Tuan?"

​"Aku akan memastikan pria ini tidak keluar dari sini dengan membawa satu bit data pun."

​Vandiko mendorong Gia menuju pintu keluar darurat tepat saat pilar raksasa runtuh menghalangi jalan.

Vandiko terjebak di dalam ruang kendali bersama musuh bebuyutannya. Ia duduk di kursi kebesaran The Prime, mengambil napas panjang, dan menutup matanya. Di dalam pikirannya, suara "Ting!" dari sistem yang selama ini menghantuinya perlahan memudar.

​Aku lelah, batinnya. Ibu... Ayah... aku hanya ingin pulang

​Tepat sebelum kesadarannya hilang karena kekurangan oksigen, ledakan terakhir meruntuhkan markas itu. Di mata dunia, Vandiko Elhaz telah tewas bersama rahasia terbesar umat manusia. Namun di hati Vandiko, itu adalah awal dari kebebasannya

Vandiko tidak mati, Ia ditemukan oleh tim pencari rahasia Black Sentinel tiga hari kemudian di bawah tumpukan salju, terbungkus dalam kantong tidur termal yang sempat ia gunakan di detik-detik terakhir.

Namun, pria yang bangun di rumah sakit rahasia di Zurich itu bukanlah Vandiko sang Billionaire yang haus darah.

Matanya yang dulu tajam dan penuh perhitungan kini tampak sayu namun tenang. Ia menatap perban di tangannya dengan tatapan kosong.

"Tuan, Anda sudah sadar selama dua minggu, tapi Anda tidak mengucapkan sepatah kata pun," ucap Gia dengan nada cemas. "Dunia sedang gempar. Nama Anda dicari di mana-mana

Para pemimpin negara ingin tahu ke mana perginya dana likuidasi dari Black Ledger."

Vandiko menoleh pelan. "Gia... berapa banyak uang yang tersisa di rekening pribadiku?"

Gia membuka tabletnya.

"Setelah semua donasi otomatis dan pembersihan jejak, Anda masih memiliki sekitar dua miliar Dollar dalam bentuk aset lancar. Anda tetaplah salah satu orang terkaya, meski identitas Anda kini dianggap sudah mati."

Vandiko menarik napas panjang. Dua miliar Dollar. Angka yang cukup untuk membeli satu negara kecil. Namun bagi Vandiko, angka itu hanyalah pengingat akan sepuluh tahun hidupnya yang hilang. Ia mengingat kembali saat ia dihina di Jakarta, saat ia tidak punya ongkos bus untuk menjenguk ibunya.

"Jual semuanya," ucap Vandiko.

Gia tertegun. "Maksud Anda?"

"Aku tidak ingin ada satu sen pun sisa dari dunia itu yang menempel padaku. Gunakan uang itu untuk membangun rumah sakit gratis di seluruh Asia Tenggara atas nama anonim. Sisakan... sisakan sepuluh juta rupiah saja di rekening bank lamaku di Indonesia. Rekening yang dulu sering kosong."

"Tuan, itu gila! Anda akan menjadi gelandangan!"

Vandiko tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat manusiawi. "Tidak, Gia. Aku justru akan menjadi orang paling merdeka. Selama ini, uang itulah yang memenjarakanku. Setiap triliun rupiah yang kudapat, aku kehilangan satu jam waktu tidurku. Setiap gedung yang kubeli, aku kehilangan satu kenangan indah tentang rumah."

Selama sisa masa pemulihannya, Vandiko merencanakan pengunduran dirinya dari sejarah. Ia memerintahkan Gia untuk menghapus seluruh jejak digital wajahnya dari internet, menggunakan algoritma tercanggih yang ia miliki. Ia ingin menjadi hantu. Ia ingin kembali ke Jakarta bukan sebagai raja, tapi sebagai debu yang tak terlihat.

"Tuan, apakah Anda benar-benar yakin tidak ingin menyimpan sedikit pun kemewahan?" tanya Gia saat mereka bersiap meninggalkan Zurich.

Vandiko melihat keluar jendela, ke arah pegunungan Alpen yang megah. "Kemewahan sejati adalah bisa tidur tanpa takut ditikam dari belakang, Gia. Dan itu tidak bisa dibeli dengan dua miliar Dollar."

1
Ali
Thor knapa si isabela dibiarin hidup...bego lu thor.skip ah.cerita muter muter kayak gasing.
Ginian
iya terimakasih
Ginian
terimakasih 🙏
D'ken Nicko
ga seru kalau ada sistem lain. jadi hambar
D'ken Nicko
tetap semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!