NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HEALING

Sekarang Karel gak lebih cuman sekedar tukang foto pribadi. Dia udah ngambil banyak foto Luz di pasar seni. Semua fotonya dia suka, huft bisa mempercepat tugas.

Abis dari sana, balik lagi ke hotel. Ganti baju pake bikini! Tercengang dia melihatnya. Kulitnya mulut banget, bekas luka cakarannya sendiri sudah hilang. Mungkin pakai salep.

Tubuh Luz sangat ideal. Bahkan sedang hamil sekalipun dia tetap cantik dan seksi. Karel jadi ingin punya tubuh seperti itu. Selama mengambil gambar ia selalu salah fokus, andai dirinya itu Luz.

Dari tadi, kerjaan Karel cuman celingukan bawa kamera di lehernya. Udah kayak fotografer magang. Gak lebih emang sih, dirinya cuman asisten.

“Ntar gausah terlalu bar-bar deh,” kata Karel sambil memotret Luz yang bergaya di sudut ruangan dan tempat tidur.

Dia memang fotogenik ternyata. Dari segala sisi cantik, punggungnya juga tak kalah mulus. Rambutnya tebal dan sehat. Apalagi saat di jedai. Keren!

Sebelum tanning, Luz memakai dulu sunscreen biar tetap terjaga. Biar hasilnya maksimal bukan gosong apalagi terbakar. Setelah teresap merata, ia memakaikannya untuk Karel seperti emak-emak ngurusin anaknya abis mandi.

Abis itu Luz jalan santai ke pantai. Dia antusias banget nginjek pasir. Berjalan-jalan di sekitar pantai, menikmati hamparan ombak. Angin sepoi-sepoi juga teriak matahari. Rasanya tenang sangat tenang.

Karel cuman ketawa dari jauh, pikirannya entah kemana.

Luz duduk di pasir, main air, baby bump kelihatan banget, mukanya bahagia tapi matanya kayak kosong sebentar. Karel tiba-tiba ngerasa aneh, kayak ada sesuatu yang patah di diri Luz, walau dia ketawa happy terus dari tadi.

Gak lama Luz balik lagi bar-bar, dia menghampiri Karel yang duduk. Malahan menyambar duduk di pangkuannya.

Menyodorkan dadanya secara gratis ke wajah Karel. Seakan-akan ingin di raba atau di cium.

Karel sampai membeku di tempat. “Sorry, tapi mending duduk di beach chair lo aja.”

“Biasa aja kali mukanya.” Luz menepuk pelan pipi Karel.

Keduanya ngobrol sambil menikmati air kelapa. Luz hampir jujur kalau dia sebenarnya beli tiket itu untuk berdua dari awal--- tapi dia tahan, takut merusak suasana.

“Fotoin gue lagi!” titah Luz untuk mengalihkan dunianya.

Luz ketawa iseng sambil ngeliat Karel kayak lagi nenteng kamera berat padahal isinya ringan, Cuma memotret dia.

Menjelang sore yang panas, pasir putih, pantai cukup rame. Luz pun pindah, malah santai banget berbaring di pasir menghadap langit.

“Hey, fotoin gue lagi yang banyak ya! Gue mau pamer ke anak gue nanti, nih mama lu keren banget.” Luz berteriak kencang.

Karel malu-malu pegang kamera, tapi tetap nurut. Dia bahkan sambil ngelap lensa kayak orang gugup. Kulit Luz terlihat mulai di tempelin pasir.

Luz ketawa lepas, kadang iseng melempar pasir ke arah Karel.

Karel memotret Luz diam-diam saat ekspresi Luz polos banget, bukan pose.

Sampe vibesnya kerasa lucu, bebas, sedikit nakal. Tapi dalam hati, terasa kayak... Luz sebenernya lagi menenangkan dirinya sendiri juga. Membuktikan bahwa dia masih kuat, masih cantik, masih punya kendali atas hidupnya.

Pas Karel lagi bengong, Luz nyipratin air dan main kejar-kejaran sampe saling mengejek masalah masing-masing.

Emang dasarnya Luz blakblakan. Dia habis-habisan bikin Karel kaget mulu.

“Gak mau cium bibir gue?!” Dengan lantang dia bicara, sambil berjalan mundur.

Karel cuman ketawa. “Jangan harap gue bakalan mau ciuman sama lo.”

“Oh ya?” Luz tertawa hambar, ia berjalan maju menghampiri Karel dan berjinjit lalu mengecup singkat bibir Karel.

Tubuh Karel terpaku. Bukan nafsu bukan, lebih ke marah. Hingga refleks ngedorong bahu Luz kasar. “Gak pantes lu kek gitu ke gue,” ucapnya ketus lalu berbalik badan meninggalkannya.

Luz jadi merasa bersalah, ia mengejar langkah Karel. Menahan tangannya dan meminta maaf. “G-gue minta maaf, tapi gue suka di tantang.”

“Emang pantes lo di sebut lonte, karna emang bener.”

Tidak terima di katakan begitu. Ia menghadang langkah Karel. “Gak pantes juga lo ngomong gitu. Beda konteks, gue emang punya back story jelek. Karna gue hamil di luar nikah. Gue tau itu salah dan gak patut di tiru.”

“Cuman setidaknya gue masih normal, gak kayak lo yang bahkan nyaris sempurna. Gue rasa banyak cewek yang ngantri buat jadi pasangan hidup lo, tapi kenapa lo malah belok?”

Karel menahan amarah, tangannya terkepal kuat. “Lo gak ngerti dan gak akan ngerti, udah cukup jangan hanya menyudutkan gue sepihak.”

Tubuh Luz mulai berbalik, ia melihat Karel berjalan cepat menuju penginapan. “Orang yang milih belok itu ngerasa kalo sama sejenis bisa lebih di mengerti. Padahal nyatanya sama aja, semuanya cuman manis di awal dan sama-sama bakalan ninggalin luka di akhir."

Langkah Karel terhenti itu seperti sebuah isyarat tak tertulis. Ia berbalik badan dan menatapnya sekilas lalu pergi.

Luz kesal, apakah benar Karel menang tidak pernah tertarik sedikit pun padanya. Seperti dirinya yang pernah nafsu karna dia?

“Kenapa lo gak coba buat straight lagi?”

Karel menarik tangan Luz ke dalam kamar hotel. “Kenapa harus nanya hal yang lo tau itu gausah di pertanyakan lagi?”

Luz mendongak penuh tanya. Mereka berakhir berdebat panjang hanya karna ejekan Luz awalnya.

“Padahal kita semua di takdirin berpasang-pasangan, laki sama cewek, cewek sama laki. Kenapa sih lo?----“

“Lo aja yang sama lawan jenis malah hamil duluan, ujungnya sama di tinggal. Lukanya double.”

“Tapi setidaknya gue menjalankan hidup normal sesuai kodratnya!”

Karel meninggikan suaranya. “Iya gue emang suka di sodok bukan nyodok. Gue gak senormal cowok biasanya. Gue tau itu salah dan stop.”

“Dasar waria!”

“Pergi lo dari sini,” usir Karel, bahkan enggan melihat Luz. Ia tersulut emosi.

Ketegangan antara keduanya semakin tinggi. Luz merasa frustasi karna di tolak terus-menerus, Karel sendiri hanya tegas dan jujur atas dirinya.

“Oh oke gue pergi.” Luz berbalik badan meninggalkan ruangan itu, dia kembali ke pesisir pantai. Berjemur sambil memejamkan mata.

Luz ilang tetep Karel cariin buat bawa pulang setelah sadar dirinya salah sudah menyuruhnya pergi. Dia pasti salah paham lagi.

Karel masih nyariin Luz kalau dia pergi masih bertanggung jawab terlepas perasaan cinta itu ada atau tidak. Luz saja memerankan perasannya dengan baik masa hak seperti itu tidak dapat ia penuhi. Itu kecil dan gampang.

Karel mulai terbiasa dengan bocah heboh itu, seperti bunyi di hidupnya. Ia datang menghampiri Luz tapi ternyata di tolak mentah-mentah dengan nada kesalnya.

“Jangan deket-deket, sana pergi. Katanya mau sendiri.”

Karel berjalan mundur. “Sorry gak seharusnya gue bentar lo kayak tadi.” Nada bicaranya lirih penuh rasa bersalah.

“Gue pengen sendiri.”

Karel ngerti langsung menjauh dari sana.

...--✿✿✿--...

Ragu-ragu, Karel menyalakan handphone nya diam-diam menghubungi James. Dimana dia udah uring-uringan banget karna gak ada kamar.

Lewat panggilan video mereka menghabiskan waktu sampe Karel lupa tentang Luz.

Karel cerita juga soal Luz yang beli tiket buat sama sahabatnya tapi sahabatnya tidak bisa pergi. James curiga, itu di rencanakan.

Apalagi saat ia chat Mireya, dia tidak di ajak kemanapun oleh siapapun, tanpa menyebutkan namanya. Bisa curiga nanti.

James yakin Luz berbohong ia mulai membuat Karel bertanya. Dan sadar kalau memang ada yang janggal.

Karel merasa kecewa, ia harus meninggalkan semua pekerjaannya hanya demi menemani perempuan itu liburan?

James sempat nanya Karel liburan kemana. Tapi keburu di matiin dan Karel nyariin Luz karna tak terasa udah malem dia belum balik. Terbesit dendam dan ingin menyingkirkan Luz saking tersulut emosi. Karna kehadiran Luz bukan solusi bagi James malah bencana.

Sedangkan Karel udah curiga eh bener aja, dia di kerumunin banyak cowok keliatannya risih. Ada yang ngajak kenalan, cuman nemenin ngobrol. “Emang bule gatel!” gumamnya. Sampe Luz pindah-pindah tempat di ikutin terus.

Datanglah Karel menyuruh mereka pergi, menjelaskan juga kalau dirinya adalah suami dari Luz. Akhirnya mereka pun meminta maaf dan meninggalkan Luz.

Usai berperang ego dengan dirinya sendiri. Luz meminta maaf dan berterima kasih.

Karel mengangguk, ia jadi lupa mau nanya apa. Jadinya duduk nyalain rokok dan menikmati sunset. Jadi kepikiran, ia makin pengen punya badan kayak Luz dan bahkan pengen jadi dia.

“Gamau balik ke hotel?”

Luz agak gengsi sebenarnya jadinya nolak. “Nanti aja, masih betah.”

Alhasil keduanya menikmati pantai menjelang malam, tanpa bicara apapun. Hingga akhirnya Luz milih pulang dulu buat mandi karna gerah.

Sesampainya di hotel, Luz langsung gila, membuka pintu kaca kamar mandi, dimana sekelilingnya cuman kaca tanpa tirau, lalu nyebur ke bathup.

Sambil panggil Karel kayak emak-emak manggil anak kecil mandi sore. “Woyyy Karel! Matiin hape cepet! Bawa kamera doang! Buruan! Mau photoshoot nih!” Ia sengaja seperti ini siapa tahu Karel tergoda dan bisa ia rusak hubungan dengan James.

Karel jalan berat kayak nganterin diri ke tiang gantungan. Sambil nenteng dua minuman dari luar dan dia ngeh langsung. Begitu ngeliat Luz, yang santai banget, perut buncit kecilnya keliatan cantik di antara kelopak bunga mawar.

Harusnya Karel balik badan dia malah tertegun dan bengong.

Karel narik nafas dalam-dalam, tapi bukan karena tergoda, lebih ke goda jadi dirinya.

Kalau dia secantik Luz pas hamil kayak gitu, James mungkin udah nempel kek perangko. Membuatnya merasa iri yang pahit bukan birahi.

Dia masih berdiri disitu, membeku.

Luz sadar Karel liatin dia. Bukannya nutupin malah senyum-senyum tipis. “Kenapa, Rel, mau ya?”

Karel akhirnya balik badan. Tapi senyum itu, sama tubuh cantik nya membekas di matanya lama banget.

Luz jelas menawarkan dirinya di sentuh padahal jelas tahu dia, kalau Karel gak bisa melakukannya dari awal juga udah bilang.

Tapi matanya terus berharap di terima, tidak ada rasa lelah meminta perasannya.

“Cepet fotoin.”

Karel tersadar, dia gelagapan. Sampe ngomongnya aja gak jelas.

“Sinilah masuk masa dari luar.”

Karel mengangguk, ia mengambil gambar dari beberapa gaya. “Udah nih oke.”

“Naik dong ke sini, biar jelas.”

Karel menginjakkan kakinya masuk ke bathup. Ia mengambil gambar telat di atas Luz. Saat mengecek gambarnya, Luz malah menarik pengikat di bikininya hingga terlepas dan melempar ke lantai.

Senyum nakalnya jelas seperti memintanya untuk segera datang.

Luz berendam tanpa rasa malu sedikit pun. Saat Karel mau turun, kakinya di kunci kaki Luz.

“Gamau berendam bareng?”

Karel menggeleng. “Engga.”

Luz duduk, dadanya terlihat jelas kencang. Karel menghela nafas. Saat mau melangkah, celananya di tarik. “Lo jangan kemana-mana.”

Cuman bisa mengumpat dalam hati, benerin celananya lagi. Sekarang Luz berdiri dalam keadaan tanpa busana bikin Karel gak habis pikir.

“Jangan bilang lo lagi birahi sekarang?” Karel menatapnya penuh tanya.

Luz meraih tangan Karel menuntunnya menyentuh bahu Luz. Karel langsung tarik dan turun.

Namun, saat itu juga dia menciumnya begitu saja. Bahkan tangannya di ambil alih untuk menyentuh titik tertentu. Karel membeku di tempat. Rasanya aneh, sangat aneh. Berbeda dengan James, ini lebih bikin sesak nafas.

Malah Luz lebih ganas dirinya ciut kayak pengecut.

“Goblok!” umpat Karel saat Luz meremas selangkangannya begitu saja. Mana kenceng banget. Keliatan dia jago bermain.

Karel tidak suka situasi ini, ia tertekan. Langsung ia gigit bibirnya. Terus keluar dari kamar mandi, mengunci diri di balkon, berdiri di belakang pintu sambil ngelus dada dan ngomong sama dirinya sendiri, “Karel. Fokus. Lu bukan pelaku ataupun korban, cuman salah tempat. Lu kuat. Lu harus survive sampai liburan ini selesai bahkan lu juga gatau hal ini bakalan berakhir.”

Pas Karel merasa lebih lega, pintu balkon di gedor-gedor sambil ketawa. “Woy porter! Pinjem jari lo bentar, punya gue kukunya panjang.”

Dan tubuh Karel langsung panas dingin ketakutan, keringet bercucuran padahal di luar sangat dingin di tambah hembusan angin. “Ya Tuhan saya harus lari kemana dari wanita menyeramkan itu?” batin Karel lalu pura-pura gak denger sampe akhirnya berdiam lama di balkon, masih ngerasa kosong. Dia nelen lidah, masuk kamar, pura-pura sibuk ngurus barang.

Curiga juga takut ngapain, taunya lagi mast*rbasi di kamar mandi. Suaranya bahkan makin kenceng pas dia masuk. Karel menepuk dahinya tak habis pikir. Kehidupan liburan macam apa ini? Bukannya turn on, malah makin menyusut ketakutan.

Ini mungkin culture shock sementara nanti Karel bakalan terbiasa liat dia begitu. Karel pura-pura santai dan duduk di sofa. Seolah biasa saja tak peduli. Setelah ini Karel berpikir Luz akan diam.

Tapi ternyata di kamar, Luz makin nempel, terus deketin Karel kayak lintah, makin konyol yang ada. “Jauh-jauh bisa gak?” Karel menggeser duduknya.

Luz menggeleng. “Gamau.”

Karel pun berdiri menjauh, Luz ikutan. Ia ke kasur ikut juga. Malam itu mereka tidur berdua di kasur gede. Cuman Karel ngeluarin semua bantal dan hal yang bisa di buat sekat—kayak koper dia taro di tengah, tapi usahanya sia-sia karna di acak-acak Luz.

Konyol dan Luz puas bikin Karel tersudut ketakutan. Pas dia mau keluar kamar, langsung di cegah. Putar kunci, sembunyikan. Terus dia gangguin, kejar terus sampe milih sembunyi di balik selimut. Percuma, yang ada Luz malah ikut masuk dan meluk dia. Nyubit puting Karel. Sampe dia menjerit kesakitan. Di tambah telinganya di sentil, selangkangannya di pegang-pegang bikin Karel mau nangis.

Di tengah keramaian Bali yang hangat, suasana dalam kamar hotel kini terasa tegang dan sunyi. Luz tadi terlihat duduk di salah satu sudut ruangan menikmati secangkir susu hangat, senyum jahil dan lirikan matanya masih membuat Karel trauma.

Karel mulai berjalan pelan, turun dari kasur tapi langsung di takut-takutin lagi sampe dia ngakak kenceng. Gak lama dia ikut naik, parahnya naikin badan Karel. “Rel tidur?”

Ide bagus, Karel pura-pura tidur aja. Sampe gak kedengeran lagi suara Luz, dia membelakanginya dan ternyata sudah tidur padahal baru jam 8. Kecapean kali ya? Ini kesempatan pergi ke klub! Karel bisa melepaskan penatnya disini, minum sedikit alkohol dan berjoget mendengarkan irama musik.

Karna kurang, ia menambah dosis minuman sampai mulai merasa kesadarannya berkurang. Berbincang dengan orang disana, hingga menambah kenalan baru.

Tak di sangka cowok itu seorang seme, dia kaget dan bisa menilai walau ragu kalau Karel boti yang tidak terlalu menunjukkan. Bule itu sempat menawarkan one night, cuman Karel menolak halus, tapi lama kelamaan berakhir jadi paksaan hingga mereka sempat cekcok.

Tidak di terima di tolak, bule itu mulai bertindak kasar. Karel tidak tersulut emosi cuman mau membela diri, saat itu Luz datang dengan pakaian tidurnya.

“Gue cariin taunya ada disini, ayo balik. Ini nih azab ninggalin gue sendirian, tadi ada hantu.”

Luz marah-marah ia sempat berjalan ke sekitar sampe akhirnya nyampe, ia ke bangun karna mimpi buruk.

Luz menarik anaknya balik. “Untung gue keburu dateng, kalo gak, lo di gondol tuh waria eh bukan itu apa sih ah itu deh.”

“Kok bisa tadi gue disana?” Karel mematung dan ingin tahu.

Luz menggaruk kepalanya dan balik menjatuhkan diri ke kasur. “Kalo malem, gue mulai gak bisa tidur nyenyak.”

“Jadi?”

“Tolong usapin perut gue, biar gue bisa tidur.”

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!