NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi Meninggalkan Segalanya

Semalam berlalu dalam keheningan yang menusuk hati. Tak ada lagi pelukan hangat, tak ada percakapan manis seperti dulu. Ayranza memunggungkan tubuhnya sepanjang malam, matanya terjaga menatap dinding kamar yang redup. Di dalam dadanya, rasa kecewa bercampur sakit hati bergolak hebat. Lebih berat dari apa pun yang pernah ia rasakan saat dulu harus menanggung utang besar ayahnya. Baginya, bukan lagi soal masa lalu Axel dengan Shakira, melainkan kenyataan pahit: suaminya yang berjanji takkan ada rahasia besar, justru menutup‑nutupi hal yang paling mendasar sampai diketahui lewat cara paling menyakitkan.

Pagi buta, saat seluruh penghuni kediaman masih lelap, Ayranza perlahan bangkit. Ia bergerak pelan sekali agar tak membangunkan Axel yang tertidur di kursi sudut kamar dengan wajah lelah dan penuh penyesalan. Tangan kanannya mengusap lembut perutnya yang makin tampak membulat, hatinya bergetar memikirkan janin yang dikandungnya. Ia tak ingin anaknya lahir di tengah suasana penuh kebohongan dan rasa curiga.

Dengan hati‑hati ia mengemasi pakaian secukupnya, uang simpanan pribadi, dan sedikit perlengkapan bayi. Tak lupa ia memasukkan foto‑foto kenangan masa kecilnya bersama kedua adiknya. Satu‑satunya hal yang takkan pernah berubah. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sebentar menatap wajah Axel yang tenang dalam tidur. Mata Ayranza berkabut, namun ia menguatkan hati. Ia harus pergi sejenak, menjauh dari segala kenangan yang kini terasa pahit, sampai hatinya benar‑benar tenang kembali.

Lorong rumah masih sunyi senyap. Ayranza berjalan menyusuri lorong sayap timur menuju kamar Angga dan Arshen. Ia mengetuk pintu tiga kali pelan, kode yang biasa mereka gunakan sejak kecil. Tak lama pintu terbuka sedikit, wajah Arshen tampak bingung namun segera berbinar saat melihat kakaknya. Angga yang sudah terjaga sepenuhnya segera mendekat, melihat wajah Ayranza yang tampak berat dan sedih.

“Kakak… ada apa pagi‑pagi begini?” bisik Angga pelan.

Ayranza menarik mereka berdua masuk dan menutup pintu rapat. Ia berjongkok menyamakan tinggi badan, menatap wajah adik‑adiknya bergantian dengan mata berkaca‑kaca namun tegas.

“Ada hal berat yang harus kalian dengar,” ucapnya rendah namun jelas. “Ada masalah besar di antara aku dan Axel. Aku merasa sangat kecewa dan sakit hati. Untuk sementara kita harus pergi dari sini, menjauh ke tempat yang jauh, sunyi, dan tak mudah ditemukan siapa pun.”

Arshen membelalak tak mengerti. “Pergi? Ke mana, Kak? Lalu Axel, Ibu Xena, dan Bapak Xavier?”

Angga lebih tenang, meski matanya tampak khawatir. Ia sudah mulai mengerti ada sesuatu yang tak beres belakangan ini. “Apakah karena hal yang membuat Kakak sedih semalam?”

Ayranza mengangguk perlahan, air mata akhirnya jatuh juga menetes di pipi. “Ya. Aku tak sanggup tinggal di sini lebih lama dulu. Kita pergi saja bertiga. Cukup bawa barang yang ringan dan tak mencolok. Kita akan ke sebuah desa terpencil jauh di pegunungan utara, tempat dulu Ibu sempat cerita masa kecilnya di sana. Tak ada yang mengenal kita di sana.”

Tak ada lagi waktu untuk bertanya panjang lebar. Angga dan Arshen tahu betapa berat hati kakaknya sampai mengambil keputusan seberat itu. Tanpa ragu mereka segera mengemasi pakaian dan barang‑barang penting yang mudah dibawa. Kurang dari setengah jam, mereka sudah siap sepenuhnya.

Mereka keluar diam‑diam lewat pintu samping dekat gudang belakang. Jalur yang jarang diawasi petugas keamanan karena dianggap aman dan tertutup. Beruntung pagi itu kabut masih tebal menyelimuti halaman luas, menyembunyikan gerak‑gerik mereka dari siapa pun. Sesampainya di ujung jalan setapak, Ayranza segera memesan kendaraan lewat cara rahasia yang tak tertelusur ke kediaman Alexander, lalu mereka berangkat meninggalkan tempat yang dulu sempat terasa seperti surga kecil itu.

Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai meninggi, Axel terbangun karena terasa dingin dan kamar terlalu sepi. Ia segera menyadari kasur di sebelahnya kosong, tak ada jejak kehangatan tubuh Ayranza. Jantungnya berdebar cemas seketika. Ia segera berlari ke kamar adik‑adiknya, ruang makan, taman, dan setiap sudut rumah. Tak ada tanda sedikit pun dari Ayranza, Angga, maupun Arshen. Pakaian dan barang pribadi mereka berkurang jelas, hanya tersisa ruangan kosong yang sunyi.

Panik mulai merayapi dada Axel. Ia segera memanggil Leonardo dan Mommy Xena yang baru saja bangun. Kabar itu menyebar seketika, mengubah kediaman yang damai menjadi penuh kekhawatiran luar biasa.

“Dia pergi membawa kedua adiknya,” gumam Axel gemetar sambil menatap laci pakaian yang terbuka kosong. “Dia sungguh‑sungguh marah dan kecewa padaku.”

Mommy Xena menepuk bahu anaknya, namun wajahnya pun tampak sangat cemas. “Tak perlu disalahkan diri sendiri berlebihan dulu. Kita harus segera lacak ke mana mereka pergi.”

Leonardo langsung bertindak cepat. Ia memeriksa rekaman gerbang, memeriksa catatan kendaraan yang lewat, dan menghubungi semua jaringan orang kepercayaannya. Namun hasilnya nihil. Ayranza ternyata bergerak sangat hati‑hati dan cerdik. Tak ada jejak pembayaran, tak ada pesan tertinggal, tak ada saksi yang ingat ciri kendaraan yang mereka tumpangi. Seolah‑olah mereka lenyap ditelan kabut pagi itu.

Berhari‑hari berlalu. Axel, Leonardo, dan timnya menyisir setiap jalan, kota, dan desa di sekeliling Milan hingga ke pelosok‑pelosok yang jauh. Mereka bertanya ke setiap penginapan, kedai, dan pos perlintasan. Namun tak ada satu pun petunjuk yang jelas. Ayranza dan kedua adiknya seolah menghilang sempurna dari permukaan bumi.

Di kediaman Alexander, suasana berubah menjadi suram dan sepi. Axel hampir tak pernah berhenti bergerak mencari, jarang makan dan tidur, wajahnya makin tirus dan matanya bengkak kurang istirahat. Setiap malam ia kembali dengan tangan kosong, rasa bersalah dan penyesalan menindih dadanya makin berat.

Sementara itu, jauh di pegunungan utara, hari‑hari baru perlahan terbentuk. Setelah perjalanan panjang berliku, menyeberangi sungai, dan naik turun jalan tanah, Ayranza, Angga, dan Arshen akhirnya sampai di sebuah desa kecil yang sangat terpencil. Rumah‑rumah kayu berderet rapi di lereng bukit, dikelilingi hutan lebat dan sawah bertingkat hijau. Udara sejuk beraroma tanah basah dan bunga liar. Orang‑orang desa ramah namun tak banyak bertanya, cukup menerima mereka sebagai pendatang baru yang ingin beristirahat lama.

Mereka menyewa sebuah rumah kayu sederhana di pinggir desa, cukup luas dan teduh. Angga segera menyesuaikan diri, membantu warga desa bekerja di ladang atau menjaga ternak untuk menambah uang saku. Arshen mulai akrab dengan anak‑anak desa, bermain di tepi sungai kecil yang jernih dan bersih. Namun Ayranza sering menyendiri, duduk berjam‑jam di teras kayu menghadap lembah luas yang berkabut. Di sana ia membiarkan hatinya perlahan sembuh dari luka kecewa yang dalam. Ia tak ingin kembali sebelum benar‑benar tenang dan yakin akan keputusan yang diambilnya kelak.

Tak ada kabar yang dikirimnya pulang. Tak ada pesan yang memberi petunjuk lokasi. Ia tahu Axel pasti mencari mati‑matian, namun biarlah demikian dulu. Biarlah jarak jauh ini menjadi waktu bagi mereka berdua untuk saling merenungi segala kesalahan dan janji yang pernah terucap.

Siang itu, saat matahari mulai condong ke barat, Angga duduk di sebelah kakaknya di teras. Ia menatap wajah Ayranza yang tampak jauh lebih tenang meski masih ada kesedihan samar di sana.

“Kau tak ingin sekadar memberi kabar sedikit saja, Kak?” tanyanya pelan. “Setidaknya agar mereka tahu kita selamat.”

Ayranza menggeleng pelan, menatap bayang‑bayang awan bergerak perlahan di puncak gunung. “Belum waktunya, Angga. Biarkan waktu berjalan dulu seperti air sungai ini, mengalir perlahan, membawa debu dan lumpur pergi, sampai airnya jernih kembali. Begitu juga hati kita semua.”

Di kejauhan, di sebuah kota besar yang jauh di sebalik gunung, Axel masih terus berusaha. Ia takkan berhenti sebelum menemukan jejak istri dan adik‑adiknya. Namun sampai saat itu, desa terpencil itu menjadi tempat persembunyian sempurna, tempat di mana mereka yang lari itu hidup aman, tenang, dan tak tersentuh oleh siapa pun, termasuk orang yang dulu paling dicintai Ayranza.

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!