Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebocoran Data
"Aku baru menemukan sesuatu." Armand meletakkan berkas itu di atas meja dengan wajah serius.
"Apa?" Aiden mendekat sambil menarik kursi di depan meja.
"Alasan kenapa referensinya hilang." Armand mendorong berkas tersebut ke arahnya.
Aiden membuka halaman terakhir lalu membaca beberapa baris yang diberi tanda stabilo merah, semakin lama matanya bergerak menyusuri tulisan itu, semakin dingin ekspresinya. Jika informasi tersebut benar, masalah yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.
"Ini resmi?" Aiden menutup berkas itu.
"Baru masuk pagi tadi." Armand bersandar.
"Kenapa tidak ada di dokumen awal?"
"Karena perusahaan lamanya belum menyelesaikan penyelidikan."
Aiden terdiam beberapa saat, selama bertahun-tahun memimpin perusahaan ia sudah melihat berbagai macam masalah namun membawa seseorang yang sedang berada dalam penyelidikan internal ke dalam perusahaan jelas bukan kabar yang menyenangkan.
"Sudah ada bukti?" Aiden menyilangkan tangan.
"Belum cukup untuk menyatakan dia bersalah." Armand menggeleng.
"Lalu?"
"Cukup untuk membuatku tidak nyaman."
Aiden mengangguk pelan, perasaan itu ternyata sama persis dengan yang sejak tadi mengganggunya. Semua potongan informasi yang muncul mulai membentuk gambaran yang tidak ia sukai.
"Dia tahu soal ini?" Aiden mengangkat pandangan.
"Tentu saja." Armand menghela napas.
"Dan dia tidak mengatakannya."
"Itulah masalahnya."
Ruangan mendadak sunyi, tidak ada yang perlu ditambahkan karena kesimpulannya sudah sangat jelas. Jika Rendra sengaja menyembunyikan informasi tersebut, berarti alasan kepindahannya ke Pradana Group memang tidak sesederhana yang selama ini dikatakan.
"Jangan ambil keputusan dulu." Aiden menutup berkas tersebut.
"Aku juga tidak berniat." Armand mengangguk.
"Kita cari tahu semuanya."
"Itu rencanaku."
Aiden berdiri dari kursinya lalu membawa berkas tersebut, instingnya mengatakan bahwa hari itu belum selesai memberikan kejutan.
.
Sementara itu, di lantai bawah Kirana masih memegang amplop yang diberikan Selina. Beberapa lembar dokumen sudah tersebar di atas meja kecil ruang tunggu dekat resepsionis. Semakin lama ia membaca catatan-catatan itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
"Kamu menemukan sesuatu?" Selina menatapnya.
"Belum." Kirana menggeleng pelan. Tapi?" Terlalu banyak yang tidak masuk akal."
Selina mengangguk setuju, itulah alasan dirinya datang pagi itu. Semakin lama ia memikirkan tingkah Rendra selama beberapa bulan terakhir, semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan pria tersebut.
"Saya mulai tidak suka nama Rendra." Gavin duduk di kursi seberang sambil memegang gelas kopi.
"Kemarin kamu masih bercanda dengannya." Kirana meliriknya.
"Kemarin saya belum tahu ada dokumen misterius."
"Itu bukan istilah resmi." Selina menghela napas.
"Tapi terdengar menarik." Gavin mengangkat bahu.
Kirana kembali membaca salah satu lembar kertas, di bagian pojok terdapat tanggal yang langsung menarik perhatiannya.
"Selina." Kirana mengangkat kepala.
"Iya?" Selina langsung menoleh.
"Kamu ingat tanggal ini?"
Selina menerima lembar yang diberikan lalu mengernyit.
"Seingatku..." Selina berpikir sejenak. "Itu sekitar waktu kami mulai dekat."
Kirana langsung terdiam, tanggal tersebut ternyata hanya beberapa minggu sebelum hubungan gelap mereka dimulai.
"Ada yang aneh?" Gavin mencondongkan tubuh.
"Kalau ini benar..." Kirana menghela napas. "Dia sudah mengumpulkan dokumen ini sebelum mengenalmu."
Selina membeku.
"Kamu yakin?"
"Kemungkinan besar."
Kirana menunjuk beberapa catatan yang dibuat jauh sebelum Selina muncul dalam kehidupan Rendra.
"Jadi semua ini bukan karena saya?" Selina menunduk.
"Tidak." Kirana menggeleng.
"Itu tidak membuat saya merasa lebih baik."
Kirana memahami maksud wanita itu, jika benar demikian berarti Rendra sudah memiliki tujuan tertentu jauh sebelum perselingkuhan itu terjadi.
"Bos datang." Gavin menoleh ke arah lift.
Kirana langsung mengangkat pandangan, Aiden keluar dari lift dengan langkah cepat dan wajah yang jauh lebih serius daripada sebelumnya. Hanya dengan melihat ekspresinya, Kirana sudah tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
"Ada masalah?" Kirana berdiri.
"Ada." Aiden mengangguk singkat.
"Saya tidak suka jawaban itu." Gavin langsung meletakkan kopinya.
"Kali ini aku setuju." Aiden berhenti di depan mereka.
"Apa yang terjadi?" Kirana menggenggam amplop di tangannya.
"Ada informasi baru tentang Rendra." Aiden menatapnya.
Wajah Kirana langsung berubah tegang.
"Informasi apa?" Kirana mengernyit.
"Dia sedang dalam penyelidikan internal di perusahaan lamanya."
Keheningan langsung menyelimuti area resepsionis.
"Penyelidikan?" Selina kehilangan warna di wajahnya.
"Terkait kebocoran data." Aiden menjawab singkat.
"Itu tidak mungkin." Selina menggeleng cepat.
"Kami juga berharap begitu." Aiden menghela napas.
Gavin tidak lagi bercanda, untuk pertama kalinya hari itu pria itu terlihat benar-benar serius.
"Dia tidak pernah mengatakan apa pun." Selina merapatkan tasnya ke dada.
"Karena itu masalahnya." Aiden memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Kalau dia tidak bersalah?" Kirana menatapnya.
"Mungkin." Aiden mengangguk.
"Dan kalau dia bersalah?"
Aiden tidak langsung menjawab karena tidak ada jawaban yang akan membuat situasi menjadi lebih baik.
"Bos." Gavin berdiri.
"Hm?" Aiden menoleh.
"Menurut saya kita perlu bicara dengan orang yang bersangkutan."
"Aku juga berpikir begitu."
"Dan menurut saya dia akan berbohong."
"Itu juga kemungkinan besar."
Kirana memejamkan mata sesaat, beberapa hari lalu masalah terbesar dalam hidupnya adalah perselingkuhan suaminya, sekarang masalah itu berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
"Tuan." Seorang staf menghampiri mereka dengan langkah tergesa.
"Ada apa?" Aiden mengalihkan perhatian.
"Tuan Armand meminta semua manajer berkumpul di ruang rapat."
"Sekarang?"
"Iya."
Aiden mengangguk pelan.
"Ada hal lain." Staf itu terlihat ragu.
"Katakan."
"Pak Rendra sedang dicari."
Semua orang langsung saling berpandangan.
"Dicari?" Gavin mengernyit.
"Dia tidak ada di ruangannya."
"Sejak kapan?" Aiden bertanya.
"Kurang lebih tiga puluh menit."
Wajah Aiden langsung berubah, tiga puluh menit sama seperti saat setelah dokumen penyelidikan itu ditemukan.
"Kamu menghubunginya?" Kirana menatap staf tersebut.
"Sudah."
"Jawabannya?"
"Tidak aktif."
Keheningan kembali muncul, namun kali ini jauh lebih buruk.
"Itu bukan kebetulan." Gavin berdiri perlahan.
"Terlalu cepat untuk menyimpulkan." Aiden menggeleng.
"Tapi tetap mencurigakan."
Aiden tidak membantah karena jauh di dalam pikirannya, ia juga memikirkan hal yang sama.
"Kirana." Selina menatap wanita itu dengan wajah pucat.
"Iya?" Kirana mengangkat pandangan.
"Ada sesuatu yang belum kuberitahu."
Kirana langsung membeku.
"Apa lagi?" Gavin mengusap wajahnya.
"Saya mulai lelah." Tidak ada yang memedulikannya. "Aku menemukan satu dokumen lagi semalam." Selina menelan ludah.
"Kenapa tidak langsung bilang?" Kirana mengernyit.
"Karena aku tidak yakin."
"Dokumen apa?" Aiden menatapnya.
Selina terlihat ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka tasnya lagi.
"Aku menemukannya di tempat yang berbeda." Selina menyerahkan selembar kertas yang sudah agak kusut.
Kirana menerima kertas itu lalu membacanya dan untuk pertama kalinya sejak pagi, wajahnya benar-benar kehilangan warna.
"Ada apa?" Aiden mendekat.
Kirana tidak menjawab, ia hanya menyerahkan kertas itu.
Aiden membaca beberapa baris pertama lalu ekspresinya langsung berubah karena di bagian atas kertas itu tertulis:
Daftar akses internal Pradana Group.
Dan tanggal yang tercetak di bawahnya menunjukkan satu fakta yang mengerikan, dokumen itu dibuat hampir enam bulan sebelum Rendra resmi bergabung dengan perusahaan.