Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Waspada
Malam di rumah besar itu terasa terlalu sunyi bagi Maya. Setelah Norma menyuruhnya istirahat, Maya langsung masuk kamar tanpa banyak bicara. Namun begitu pintu tertutup, ekspresinya kembali dingin penuh waspada.
Ceklek.
Kunci pintu langsung diputar. Belum cukup sampai di situ, Maya menarik kursi belajar lalu menyelipkannya di bawah gagang pintu sebagai penahan tambahan. “Parno amat hidup gue,” gumamnya.
Namun Priska tahu satu hal pasti. Di dunia tempat dia dulu hidup, rasa percaya adalah penyebab kematian tercepat. Jamie pernah mencoba melecehkan Maya asli. Norma membiarkan semua terjadi. Dan Ziva? Gadis itu bahkan ikut menghancurkan hidup Maya. Tidak mungkin dia tidur santai begitu saja di rumah ini.
Maya berjalan ke jendela lalu membuka tirai sedikit. Halaman belakang rumah tampak tenang diterpa cahaya bulan. Akan tetapi justru ketenangan seperti itu yang paling berbahaya. Dia akhirnya duduk di kasur sambil memandangi kamar lama Maya asli. Rak buku kecil. Boneka beruang lusuh di sudut ranjang. Foto keluarga lama di meja.
Tangannya perlahan mengambil bingkai foto itu. Di sana ada Maya kecil tersenyum bahagia diapit kedua orang tuanya. Senyum polos yang benar-benar berbeda dari hidupnya sekarang.
Tatapan Maya perlahan melembut sedikit. “Kasihan banget hidup lo...” lirihnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, Maya merasa kemarahan Priska bercampur dengan kesedihan Maya asli. Dua emosi berbeda yang kini hidup di tubuh sama. Perlahan tatapannya kembali dingin.
“Tenang aja,” katanya pelan sambil meletakkan foto itu kembali. “Gue bakal ambil semua hak lo.”
Lampu kamar dimatikan. Maya akhirnya berbaring. Namun salah satu tangannya tetap memegang cutter kecil yang dia simpan di bawah bantal.
Keesokan paginya, cahaya matahari masuk lewat celah tirai. Maya membuka mata perlahan. Refleks pertamanya bukan melihat jam, melainkan memeriksa pintu kamar.
Kursi masih di tempatnya. “Bagus,” ucapnya.
Dia bangun pelan lalu berjalan ke kamar mandi. Air dingin langsung menyiram tubuhnya, membuat pikirannya lebih segar. Setelah selesai mandi, Maya mengenakan kaos longgar hitam dan celana pendek rumah seadanya.
Tok tok tok.
Maya langsung berhenti. Tatapannya berubah waspada lagi.
Tok tok tok.
“Maya?” suara Ziva terdengar dari luar. “Udah bangun?”
Maya diam beberapa detik sebelum akhirnya memindahkan kursi penahan pintu perlahan.
Ceklek.
Pintu terbuka sedikit. Ziva berdiri di luar sambil menggigit bibir bawahnya gugup. Penampilannya jauh lebih rapi dibanding kemarin. Rambutnya diikat sederhana dan wajahnya terlihat aneh, seperti merasa bersalah.
“Apa?” tanya Maya datar.
Ziva tampak ragu sesaat. Lalu akhirnya berkata pelan, “Gue mau minta maaf.”
Hening sejenak. Maya hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Ziva menunduk sedikit. “Soal kemarin… dan semua yang pernah gue lakuin.”
Tatapan Maya perlahan menyipit. “Lo sakit?” tanyanya curiga.
“Hah?”
“Biasanya mulut lo lebih nyebelin.”
Ziva terlihat kesal sedikit tapi menahannya. “Gue serius!"
Maya bersandar di kusen pintu sambil terus memperhatikan Ziva seperti sedang menginterogasi penjahat.
Di mata Priska, semua ini terasa terlalu mendadak. Norma mendadak baik. Jamie minta maaf. Sekarang Ziva juga?
'Topeng,' pikir Maya dingin. Namun dia tidak menunjukkan isi pikirannya.b“Terus?” tanyanya pendek.
Ziva menarik napas kecil. “Mama nyuruh sarapan bareng.”
“Ogah!"
“Sekali ini aja.”
Maya diam sebentar sebelum akhirnya mendecakkan lidah malas. “Yaudah.”
Ziva tampak sedikit lega. Begitu Maya berjalan melewati dirinya, gadis itu kembali bicara pelan.
“Maya…”
“Hm?”
“Gue beneran nyesel.”
Langkah Maya berhenti sepersekian detik. Namun dia tidak menoleh.
“Penyesalan nggak bisa muter waktu,” jawabnya datar.
Lalu dia berjalan turun ke lantai bawah. Ruang makan rumah itu luas dan mewah. Aroma roti panggang dan telur memenuhi udara. Norma sedang menata makanan di meja, sementara Jamie duduk sambil memainkan ponsel dengan wajah malas.
Begitu Maya masuk, Jamie langsung melirik sekilas.
“Pagi...”
Maya malah langsung menarik kursi lalu duduk tanpa membalas.
Norma mencoba tersenyum hangat. “Makan dulu ya.”
Di atas meja ada roti, telur, sosis, dan susu hangat. Sarapan keluarga normal. Tapi Maya tidak langsung menyentuh makanannya. Tatapannya justru tertuju pada piring di depannya dengan curiga penuh.
Jamie mengernyit. “Kenapa?”
Maya menyandarkan tubuh santai lalu menunjuk piringnya.“Makan dulu!"
“Apa?”
“Lo duluan.”
Suasana langsung hening.
Norma tampak bingung. “Maksud kamu?”
“Takut diracuni gue,” jawab Maya santai.
Jamie langsung tersedak minuman sendiri. “APAA?!”
Ziva sampai memijat pelipis.
Norma terlihat shock. “Maya… mama nggak mungkin—”
“Mana gue tau.”
“Makanan ini aman!”
Maya menyilangkan tangan. “Buktiin.”
Jamie langsung emosi sedikit. “Lo kira kita penjahat apa?!”
Maya melirik datar.
“Iya sih,” gumam Jamie kecil sambil langsung diam lagi.
Norma tampak frustrasi. “Ya ampun…”
Namun Maya tetap tidak menyentuh makanannya sedikit pun.
Akhirnya Ziva mendecakkan lidah kesal. “Sini!”
Dia menarik piring Maya lalu langsung memakan telur dan roti dari sana.
“Hm. Nih lihat,” katanya sambil mengunyah. “Nggak beracun.”
Maya memperhatikan beberapa detik. “Belum tentu. Racun lambat ada.”
“ASTAGA!” Ziva hampir membanting garpu.
Jamie memegangi kepala. “Lebay lo!"
“Yang bikin juga kalian,” balas Maya santai.
Hening lagi. Kali ini Jamie tidak bisa membantah. Cowok itu akhirnya meletakkan ponselnya lalu menatap Maya cukup serius.
“Denger…” katanya pelan. “Gue emang brengsek sebelumnya.”
Norma dan Ziva langsung menoleh kaget karena Jamie jarang bicara seterus terang itu.
Jamie mengusap wajah kasar sebelum melanjutkan, “Tapi sekarang gue serius mau berubah.”
Maya diam mendengarkan.
Jamie menatap lurus ke arahnya. “Lo bagian keluarga ini juga.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi. Maya perlahan mengangkat pandangan. Tatapannya tajam meneliti wajah Jamie. Dia bisa melihat rasa tidak nyaman di sana. Harga diri Jamie jelas masih melawan untuk mengucapkan semua ini. Namun cowok itu tetap memaksakan diri.
Norma ikut bicara lirih, “Kami mau mulai lagi dari awal.”
Maya hampir tertawa kecil mendengarnya. Mulai dari awal? Kalau hidup semudah itu, Maya asli tidak akan menderita bertahun-tahun.
Tapi Maya akhirnya mengambil garpu lalu mulai memakan sarapannya perlahan. Norma tampak lega melihat itu.
Sementara Maya tetap memasang wajah datar. Di dalam kepalanya, Priska terus menghitung kemungkinan. Apa mereka benar berubah? Atau cuma takut karena Maya sekarang berani melawan?
Entahlah, tapi satu hal pasti, dia tidak akan lengah. Karena sekarang, bukan Maya lama yang duduk di meja makan itu. Priska siap menghancurkan semuanya dari dalam rumah mereka sendiri.
'Mereka benar-benar aneh. Gue yakin pasti ada sesuatu dibalik sikap baik mereka. Gue harus cari tahu,' batin Maya.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔