“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Manis dan Hak Milik Seutuhnya
Di ruang tamu, kini hanya tersisa kerabat dan keluarga dekat Aditya serta Kinanti. Kinanti duduk manis di samping Bu Lita. Pengantin cantik itu telah mengganti kebaya pengantinnya yang berat dengan gaun dress brokat sederhana. Sementara sang suami mengenakan kemeja putih dengan celana bahan yang santai.
"Paklek pulang dulu, ya, Nak. Taatlah pada suamimu," ucap salah seorang kerabat Kinanti.
"Baik, Paklek," jawab Kinanti, seraya menyalami kerabat ayahnya itu.
Aditya duduk di teras bersama para kerabat laki-laki lainnya.
"Mbak Kinan," panggil Abyan.
Kinanti menoleh, menatap remaja tampan itu yang kini duduk di samping Bu Lita.
"Ya, dek?" jawab Kinanti.
"Mbak Kinan bahagia tidak menikah sama Bang Adi?"
Bu Lita menatap Abyan, bingung dengan pertanyaan remaja itu. "Bicara apa kamu, Nak?" tanya Bu Lita.
Abyan bangkit dan beralih duduk di samping Kinanti, melingkarkan tangan di lengan kakak iparnya. Kinanti sama sekali tidak merasa keberatan.
"Jawab, Byan penasaran, Mbak Kinan," tuntut Abyan, karena Kinanti masih terdiam.
"Tentu saja Mbak Kinan bahagia menikah dengan Mas Adi, Abang kamu," sahut Kinanti dengan nada lembut penuh kasih. Tangannya membelai rambut Abyan yang sudah terbebas dari blangkon tadi.
"Cih! Seharusnya Mbak Kinan menunggu Byan lulus sekolah saja, bukan menikah sama Abang yang sudah tua! Ah, Byan keduluan Abang!" rajuknya.
Kata-kata Abyan mengundang gelak tawa para perempuan yang duduk santai di ruang tamu. Tawa geli itu bahkan terdengar hingga ke teras luar, membuat pengantin pria penasaran. Setelah berpamitan kepada bapak mertua dan sang ayah, Aditya beranjak masuk ke dalam rumah.
"Nah, itu dia, Abangmu datang!" ujar Bu Lita.
Aditya sedikit bingung, mengapa tawa riang tadi tiba-tiba berganti menjadi aduan? *Ada apa ini?* batin Aditya.
"Adi, ini Abyan. Dia merayu Kinanti agar menikah dengannya saja, bukan dengan kamu yang katanya sudah tua," ucap Bu Lita. Gelak tawa kembali menguar.
Sedangkan sang 'tersangka' hanya bisa menunduk takut kala ditatap tajam oleh abangnya, dan segera melepaskan pelukannya dari Kinanti.
Netra hitam Aditya beralih menatap istri cantiknya. Kinanti tersenyum membalas tatapannya. Tanpa banyak bicara, Aditya duduk di samping istrinya. Abyan yang sedari tadi menatap, kini menunduk lagi.
"Bicara apa tadi sama Mbak?"
Abyan memilih diam. Hanya gelengan kepala yang bisa ia lakukan. Bu Lita terkekeh geli, Abyan memang sangat takut pada abangnya jika sudah dalam mode serius seperti ini.
"Sudah, tidak ada apa-apa, kok, Mas," Kinanti tersenyum sembari membelai rambut Abyan.
Aditya yang menatapnya merasa cemburu. Harusnya yang dibelai begitu kan rambutnya? Kenapa jadi adiknya yang tengil itu?
Keheningan sejenak pecah saat dari arah dapur, sang ibu datang. Bu Sarasvati menghampiri anak dan menantunya.
"Kinanti, makan dulu, Nak. Itu di dapur sudah ada soto dan opor ayam. Ayo, cepat makan. Kamu pasti lapar, Nak," ucap Bu Sarasvati.
Abyan sontak menoleh menatap sang ibu. "Byan juga mau makan, ya, Bu, sama Mbak Kinan!" serunya, terdengar sangat mengganggu di telinga Aditya.
"Nak," ucap Bu Sarasvati, hendak memberi pengertian, namun Aditya sudah mendahului.
"Tidak bisa. Ini cuma Abang sama Mbak, kamu tidak usah ikut-ikutan!" ucap Aditya.
"Abang kan sudah makan tadi!" balas Abyan.
"Abang lapar lagi! Tidak usah mengganggu!" ucap Aditya.
Aditya segera menarik lengan Kinanti untuk ikut bersamanya, tak ingin melihat istrinya kelaparan. Para kerabat yang ada di ruang tamu langsung menertawai Abyan yang sudah bersungut-sungut di tempat.
"Dasar pelit! Mbak Kinanti kan kakak ipar Byan juga, Bang!" ucap Abyan.
"Tapi Mbak Kinan istri Abang, Byan," sela Aditya.
Kalah telak, wajah Abyan berubah cemberut karena kesal.
Bu Lita terkekeh geli sambil mencoba menenangkan remaja SMP yang sedang cemberut ini.
"Nak," ucap Bu Sarasvati mendekat. Abyan langsung menghambur dan mengadu kepada ibunya. "Bang Adi jahat banget sama Byan, Bu!"
Bu Sarasvati dibuat geli dengan anak bungsunya ini. *Cemburu yang salah sasaran, Nak,* batin Bu Sarasvati.
"Sudahlah, jangan cemberut terus. Masa anak laki-laki cemberut," tegur Bu Sarasvati lembut.
"Dihhh Ibuuu!!! Wajar dong aku tidak punya saudara perempuan" rengek Abyan, semakin dibuat ngambek. Tidak ada yang memihaknya, menyebalkan!
"Byan mau mie ayam tidak? Bulek Lita traktir. Kebetulan Bulek ingin makan yang pedas-pedas. Ayo kita beli mi ayam sama sepupu!" ajak Bu Lita agar Abyan berhenti merajuk.
Tidak jauh dari rumah Kinanti, memang ada sebuah warung yang menjual mi ayam.
"Mau?"
Abyan menatap wajah bibinya dengan bimbang, lalu matanya beralih memandang sang ibu, bermaksud meminta izin.
"Pergilah bersama Bulek Lita," Bu Sarasvati mengizinkan. Bu Lita tersenyum.
"Ya sudah, ayo! Byan mau!" ujar Abyan. Bu Lita yang sudah gemas dengan mood keponakannya yang gampang berubah itu langsung membawanya keluar.
Bu Sarasvati menggeleng, tak habis pikir dengan tingkah bocah itu. Ia bisa-bisanya menggoda kakak iparnya, padahal sudah tentu Aditya langsung siaga. Kinanti adalah istrinya.
"Byan... Byan..." gumam Bu Sarasvati.
✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
💋 Pangkuan Mesra di Meja Makan
Meninggalkan Abyan yang sempat tantrum tadi, kini Kinanti dan Aditya berada di meja makan. Sepiring nasi putih hangat dengan soto ayam yang menggugah selera sudah tersaji di depan mereka berdua.
"Juragan yakin mau sepiring berdua? Tidak kurang?" tanya Kinanti yang masih betah berdiri di samping suaminya. Aditya sudah duduk.
Adi menoleh dan meraih pinggang ramping sang istri, memeluknya mesra. Wajah tampannya mendongak. "Yakin, Sayang. Cukup sepiring berdua sama kamu, dan kita harus biasakan panggil Mas saja. Kita sudah sah jadi suami istri, Sayang."
"I-iya, Mas Adi," gugup Kinanti.
BLUSH!
Pipi Kinanti bersemu kemerahan.
"Aduh! Budhe tidak dengar, kok," goda salah seorang tetangga yang membantu di rumah Kinanti.
Para wanita paruh baya itu memilih menjauh dari pasangan suami istri baru ini. "Budhe pulang dulu, ya, Nak. Nanti kalau butuh apa-apa, langsung panggil Budhe saja."
Kinanti mengangguk mengiyakan. "Terima kasih, Budhe, sudah membantu acara Kinan."
"Ah, tidak apa-apa, Nak. Budhe malah senang bisa ikut melihat kamu menikah tadi," ucap tetangga Kinanti.
"Ya sudah, Budhe pulang dulu, ya," pamit tetangga Kinanti.
Setelah mereka berlalu, Aditya menyuruh Kinanti duduk di sampingnya.
"Ayo mam, Mas lapar, Sayang," ajak manja Aditya.
"Mam?" Kinanti dibuat geli mendengar kosakata Aditya barusan. Ada apa dengan suaminya ini?!
Gadis cantik itu terkekeh geli, terdengar merdu sekali. Aditya tersenyum senang.
"Mas sudah makan tadi, lalu lapar lagi," ucap Kinanti sambil mengarahkan sendok ke Aditya.
"Ingin makan sepiring berdua sama kamu, Sayang," ucap Aditya, memakan suapan dari Kinanti.
"Pakai kerupuk udang, Mas?" tanya Kinanti.
"Boleh," jawab Aditya.
Kinanti mengambilnya di toples tak jauh dari tempat ia duduk.
"Mas suapi," pinta Aditya.
"Aku sendiri saja, Mas," tolak Kinanti lembut.
Adi menggeleng. Ia berbisik pelan, "Mas tidak menerima penolakan, Sayang."
Kinanti membuka mulutnya malu-malu. Satu suapan pertama berhasil masuk ke mulut mungil Kinanti. Ia mengunyah perlahan sambil menatap sang suami yang sudah menyendok nasi ke arahnya lagi. Kinanti teringat orang tua mereka.
"Ayah, Ibu, Bapak, tidak sekalian makan, Mas?"
Aditya menggeleng pelan. "Menyusul katanya. Masih seru mengobrol di depan."
Kinanti mengangguk nurut.
"Aaaak, lagi, Sayang," ucap Aditya.
"Hmm," gumam Kinanti.
Sebuah sendok sudah terulur kepada Aditya lagi. Kinanti menahan senyum, suaminya ini semakin manis saja. Kinanti menatap sang suami yang juga tak mengalihkan pandangannya.
"Mas, jangan dilihatin begitu," lirih Kinanti.
"Kenapa, Sayang?" goda Aditya.
"A-aku malu," cicit Kinanti pelan sambil berusaha menelan kunyahannya.
Aditya yang dibuat gemas oleh sang istri mendekat, tak lupa menggeser kursinya agar semakin dekat dengan sang istri.
"Kenapa harus malu, Sayang? Mas ini sudah suamimu," suara berat nan lembut itu keluar dari Aditya.
Dada Kinanti berdetak kencang. Gadis itu menolehkan wajahnya, dua pasang mata mereka saling bertatapan.
"Mas Adi," panggil Kinanti.
"Ya, Sayang?" sahut Aditya lembut.
Sebelah tangan Kinanti perlahan terangkat, membelai lembut pipi tegas Aditya.
"Aku..." ucap Kinanti.
Mata tajam Aditya tak teralihkan sedikit pun. "Hmm?" gumam Aditya.
"Minta maaf, Mas," ucap Kinanti.
Aditya menatap bergantian mata indah Kinanti. "Awalnya aku takut dan terpaksa tapi sekarang aku lega sudah sah sama Mas Adi dan acaranya berjalan lancar," lanjut Kinanti.
Sudut bibir Aditya nampak berkedut-kedut menahan senyum. "Kalau Mas Adi bagaimana perasaannya? Senang juga tidak seperti aku?" tanya Kinanti.
"Lebih dari itu, Sayang. Perjuangan Mas meyakinkan kamu tidak sia-sia," ucap Aditya. "Mas, rasanya mau ajak kamu ke kamar sama Mas sekarang juga."
Senyum nakal Aditya kembali terbit. Kinanti sontak menelan ludahnya sendiri. *Aduh, gawat!* batin Kinanti.
"Kamu sudah jadi hak milik Mas, punya Mas selamanya. Meskipun Abyan adik Mas, dia juga tidak boleh berlebihan sama kamu," ucap Aditya posesif.
*Lho, kok?!* batin Kinanti.
GREP!
Lengan Aditya tiba-tiba hinggap di pinggang Kinanti.
SRET!
Tanpa aba-aba, Aditya langsung menarik Kinanti ke pangkuannya. Gadis cantik itu tentu saja sangat terkejut. Ia berusaha meronta, takut ada yang datang dan memergoki mereka seperti ini. Meskipun mereka sudah sah secara agama dan negara, tetap saja Kinanti merasa malu.
"Mas, lepaskan. Jangan begini, nanti ada yang lihat," tegur pelan Kinanti.
Aditya nampak tenang, tak terusik sedikit pun. "Mas," tegur Kinanti lagi.
Aditya menyunggingkan senyum santai. "Apa Mas kelihatan peduli?" jawab santai Aditya.
Kinanti memandang horor Aditya. Suaminya ini terlihat semakin berbahaya dari sebelumnya. *Aduh, bagaimana ini?!* batin Kinanti.
Kinanti merasakan pinggangnya diremas. Kinanti menelan ludahnya susah payah. Ini di ruang terbuka. Dan posisi ia duduk menyamping di paha kekar Aditya membuat Kinanti ketar-ketir.
"Kenapa gugup begitu, sih, gadis cantik?" bisik Aditya.
Kinanti sudah waswas bukan main, Aditya malah menggodanya. "Ini cuma dipangku, Sayang. Kamu lupa? Bahkan kita sudah pernah serumah bersama dan bahkan tidur bersama seranjang..."
DWAR!
Mata Kinanti rasanya hampir copot dari tempatnya. Bibirnya bahkan menganga saking speechless mendengar perkataan santai pria itu barusan.
"Mas," lirih Kinanti.
Sebelah alis tebal Aditya terangkat penuh goda. Menyenderkan punggung lebarnya ke sandaran kursi. "Jadi kangen tidur bareng," ujar Aditya. "Sudah sah, kan?" lanjut Aditya.
Punggungnya kembali tegak. Wajahnya merangsek maju mendekati Kinanti yang sudah menahan dada bidang itu.
"Mas," ucap Kinanti.
Aditya tersenyum nakal. "Mas mau, Sayang."
*Waduhh!!* batin Kinanti.
"Sekarang aja boleh tidak? Mumpung senggang, kita bisa istirahat dulu di kamar. Tidak apa-apa, kan, kamu..." ada jeda sejenak, mata Aditya semakin sayu, "istri Mas, Sayang," bisik Aditya.
Pinggang Kinanti semakin diremas sensual oleh si tampan ini. Wajah Aditya merendah dan mencium sekilas kening Kinanti.
CUP!
"Sudah ingin, Sayang. Ke kamar saja, ya."
"Aku lagi makan, loh, Mas. Memangnya kamu tega?" ucap Kinanti memelas.
Aditya hanya bisa menghela napas. Tidak mungkin kan membiarkan sang istri kelaparan demi menuruti keinginannya. "Ya sudah, selesaikan dulu makannya, Sayang. Mas tungguin di sini," ucap pasrah Aditya.
"Tapi turunin dulu," ucap Kinanti.
"Biarkan begini saja. Lanjutkan makannya, Sayang," ucap Aditya menolak sambil menggelengkan kepala.
Mau tak mau, Kinanti melanjutkan acara makannya, sesekali melihat ke arah sang suami yang tiada henti memperhatikannya.
"Mas mau nambah lagi makannya?" tanya Kinanti, berusaha menutupi kegugupannya.
"Tidak, Sayang. Kamu makan saja. Mas sudah kenyang," ucap Aditya.
Kinanti menganggukkan kepala sambil mengunyah hingga tak lama piring kosong tak bersisa.
"Minum dulu, Sayang," ucap Aditya menyodorkan gelas.
"Sudah, Sayang?" tanya Aditya melihat Kinanti meletakkan gelasnya.
"Iya, Mas, sudah," ucap Kinanti.
SWING!
Dengan tak sabar, Aditya langsung menggendong sang istri ala bridal style.
"Mas, ini piringnya aku..." ucap Kinanti terpotong.
"Ssshhh... Biarkan saja. Nanti ada yang bereskan," ucap Aditya menghentikan perkataan Kinanti.
"Mas, masih siang, loh, ini," Kinanti mencoba bernegosiasi.
"Tidak peduli mau siang atau malam. Tidur bersama itu harus, Sayang," ucap Aditya.
Kaki panjangnya melangkah lebar menuju kamar Kinanti.
"Kalau Ibu mencari bagaimana?" ucap Kinanti.
"Mereka pasti paham," jawab Aditya santai.
"Tapi..." ucap Kinanti terpotong.
"Buka pintunya, Sayang," pinta Aditya.
Kinanti menatap wajah tampan sang suami. Aditya mengangguk, seakan menyuruhnya lekas membuka.
"Mas..." ucap Kinanti.
"Sayang," jawab Aditya.
Mencibirkan bibirnya pasrah, Kinanti akhirnya menurut. Aditya tersenyum senang. Pria tampan itu lekas masuk, menutup pintu kamar dengan sebelah kakinya. Namun, sebelum itu, suara lirih seksinya kembali berucap. Suara beratnya lagi-lagi terdengar penuh hasrat.
"Akhirnya bisa memiliki kamu seutuhnya."
Bersambung__
____
STYLE KINANTI DAN MAS JURAGAN