Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Malam kedua tahlilan baru saja selesai. Suara mesin motor warga yang pulang satu per satu mulai menjauh, meninggalkan kesunyian yang mencekam di rumah lama itu. Siham berdiri di pojok teras, memegangi tiang kayu rumah untuk menopang tubuhnya yang terasa sangat ringan, seolah-olah jiwanya sudah siap melayang kapan saja.
Kepalanya berdenyut hebat, dan setiap embusan napas yang keluar dari hidungnya terasa membakar. Sel-sel kanker di dalam tubuhnya seperti sedang mengamuk, menuntut perhatian setelah seharian ini Siham paksa untuk tetap tegak melayani tamu.
Dewangga keluar dari pintu utama, merapikan kemeja mahalnya yang sedikit kusut. Ia melirik Siham yang tampak kuyu bersandar pada tiang. Wajah istrinya itu sudah tidak bisa lagi disebut pucat; warnanya abu-abu, dengan bibir yang pecah-pecah dan mata yang sayu tertutup kelopak yang bengkak.
Saat Dewangga berjalan melewati Siham untuk mengambil air minum di meja teras, lengannya tidak sengaja bersenggolan dengan lengan Siham.
Dewangga tertegun sesaat. Suhu yang merembes dari balik kain gamis Siham terasa sangat panas, seperti menyentuh permukaan teko yang baru saja mendidih. Ia berhenti melangkah dan menoleh ke arah istrinya.
"Badanmu panas sekali," ucap Dewangga datar. Tidak ada nada cemas, tidak ada gerakan untuk menyentuh dahi istrinya. Ia hanya berdiri di sana, menatap Siham seolah sedang memeriksa laporan kerja yang cacat.
Siham hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menatap kegelapan halaman. "Cuma capek, Mas."
"Kalau sakit, ya minum obat. Jangan dipelihara panasnya," balas Dewangga dengan nada ketus. "Aku tidak mau nanti saat tahlilan hari ketiga kau pingsan di depan warga dan membuat malu keluarga. Papa dan Mama sangat menjaga martabat di sini, jadi tolong kondisikan tubuhmu."
Siham tersenyum getir dalam hati. Martabat. Itulah yang selalu menjadi prioritas Dewangga. Bahkan saat ia merasa nyawanya sedang ditarik perlahan oleh rasa sakit yang menusuk ke tulang belakang, yang dipikirkan suaminya hanyalah bagaimana pandangan orang lain terhadap keluarga mereka.
"Aku tahu, Mas. Aku tidak akan pingsan," jawab Siham pelan, suaranya parau.
"Baguslah," Dewangga mendengus, lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi rotan dan duduk dengan santai sembari menyalakan ponselnya. "Dan satu lagi, jangan terlalu banyak merepotkan istri Pak Heru. Dia itu orang luar, jangan sampai dia berpikir kau istri yang lemah hanya karena mengurus tahlilan ayahmu sendiri."
Siham tidak menyahut lagi. Ia merasa percuma bicara dengan pria yang hatinya sudah membeku. Ia memilih untuk berjalan masuk ke dalam, berniat menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat agar bisa menelan dosis obatnya yang mulai tinggi. Namun, saat melewati ruang tengah, ia berpapasan dengan Mama mertuanya.
"Siham? Ya Allah, sayang... wajahmu merah sekali," Mama mertuanya langsung mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Siham. "Astaga! Kamu demam tinggi, Nak! Dewangga! Dewangga, sini!"
Siham mencoba menahan Mamanya. "Enggak apa-apa, Ma. Cuma kurang tidur."
Dewangga masuk ke dalam rumah dengan wajah malas. "Ada apa, Ma? Teriak-teriak malam begini."
"Ini istrimu demam tinggi, Dewangga! Kamu gimana sih, dari tadi di teras berdua kok diam saja? Cepat bawa dia ke kamar, kompres, atau panggil dokter!" perintah Mamanya galak.
Dewangga menatap Siham dengan pandangan jengah. Ia merasa terganggu karena Mamanya mulai ikut campur. "Tadi aku sudah bilang ke dia untuk minum obat, Ma. Dia saja yang keras kepala tidak mau. Sudahlah, dia sudah besar, tahu mana yang sakit mana yang tidak."
"Dewangga!" suara Papa mertua ikut terdengar dari arah kamar. "Jaga bicaramu. Temani istrimu di kamar sekarang!"
Dewangga menghela napas panjang, menunjukkan rasa keberatannya dengan sangat jelas. Ia mendekati Siham, namun bukannya merangkul, ia hanya berdiri di sampingnya. "Ayo ke kamar. Jangan buat Papa dan Mama teriak-teriak terus."
Siham berjalan dengan sisa kekuatannya. Ia tidak mau dibantu, dan Dewangga pun tidak berniat mengulurkan tangan. Sesampainya di kamar lama milik Siham, Dewangga hanya berdiri di ambang pintu sementara Siham merebahkan diri di atas kasur tanpa melepas kerudungnya.
"Obatmu mana?" tanya Dewangga dingin.
"Di tas," jawab Siham singkat sembari memejamkan mata.
Dewangga mengambil botol obat dari tas Siham, membacanya sekilas, namun karena tulisannya hanya kode-kode medis yang asing, ia meletakkannya kembali di atas nakas dengan kasar. "Minum sendiri ya. Aku mau ke ruang depan, mau telepon kolega kantor. Berisik kalau di sini."
Dewangga berbalik dan keluar, menutup pintu kamar tanpa perasaan. Tidak ada air hangat yang ia bawakan, tidak ada handuk kompres yang ia siapkan. Baginya, tugasnya mengantar ke kamar sudah selesai sesuai perintah Mamanya.
Di dalam kamar yang remang-remang itu, Siham mencoba meraih gelas air di samping tempat tidur. Tangannya gemetar hebat hingga airnya tumpah ke sprei. Ia menangis tanpa suara. Air matanya terasa panas, sama panasnya dengan suhu tubuhnya.
Ia merogoh ponselnya, mencari kontak Maya. Ia ingin mengetik sesuatu, namun jarinya kaku. Akhirnya ia hanya bisa memeluk bantal lama milik Ayahnya, menghirup sisa-sisa aroma rumah ini yang menenangkan.
"Yah... Siham mau pulang," bisiknya dalam kegelapan.
Sementara di ruang depan, Dewangga duduk dengan nyaman, tertawa kecil saat berbicara melalui telepon dengan rekan bisnisnya, sama sekali tidak peduli bahwa di kamar sebelah, istrinya sedang bertarung dengan rasa sakit yang mematikan dan kesepian yang menghancurkan jiwa.
Bagi Dewangga, sakitnya Siham hanyalah gangguan kecil di tengah rentetan acara tahlilan yang melelahkan. Ia tidak sadar, bahwa setiap detik ia membiarkan Siham sendirian dalam bara demam itu, ia sedang mengukir penyesalan yang tidak akan pernah bisa ia hapus dengan air mata sedalam apa pun di masa depan.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor