NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemberontak

Mereka berjalan menyusuri lorong di belakang ruang utama Guild. Lorong yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, dinding batu abu-abu, lampu minyak di setiap sudut, udara yang sedikit lembap.

"Kita mau ke mana?" bisik Clara pada Will.

"Aku tidak tahu," jawab Will pelan.

Resepsionis berjalan di depan. Tidak menoleh. Tidak berbicara.

Lorong semakin panjang. Semakin dalam. Beberapa pintu kayu mereka lewati, semuanya tertutup rapat. Tidak ada suara dari balik pintu-pintu itu.

Kemudian, resepsionis berhenti di depan sebuah pintu yang berbeda, lebih besar dari yang lain, dengan ukiran aneh di permukaannya.

Ukiran yang tidak bisa dikenali. Garis-garis melingkar, mata-mata kecil di sudutnya.

"Masuk," kata resepsionis sambil membuka pintu.

Will dan Clara memasukinya.

Resepsionis menutup pintu.

Ruangan itu sunyi. Hanya ada satu meja kayu panjang di tengah, dua kursi di satu sisi, satu kursi di sisi lain. Lampu gantung di atas meja menyala redup, menerangi wajah mereka samar-samar.

"Duduk," perintah resepsionis.

Clara dan Will duduk di kursi yang berhadapan dengan resepsionis.

Resepsionis itu duduk di seberang mereka. Matanya bergantian menatap Clara dan Will, seperti sedang menimbang, atau seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat.

"Kalian bertemu dengan wanita bertopeng itu di hutan?"

"Iya," jawab Will.

"Dia yang memberi surat itu padamu?"

"Iya,"

Resepsionis menghela napas. Ia mengeluarkan surat itu dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.

"Kalian tahu siapa dia?"

"Tidak," jawab Clara.

"Dia... ketuaku,"

Will dan Clara terdiam.

"Ketua?" ulang Clara.

"Iya. Kami ... bukan bagian dari istana,"

Resepsionis itu menatap mereka bergantian. Suaranya pelan, hampir seperti berbisik.

"Kami adalah kelompok pemberontak kerajaan,"

Clara membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia menoleh ke Will, wajah Will tetap datar, tapi ada sesuatu di matanya.

"Kenapa kau memberitahu kami?" tanya Will.

Resepsionis itu tersenyum. Bukan senyum yang ramah seperti biasa. Tapi senyum pahit.

"Karena kalian sudah bertemu dengannya. Itu berarti dia percaya pada kalian,"

"Tapi, kami baru bertemu," bantah Clara.

"Dia tidak perlu waktu lama untuk menilai seseorang,"

Resepsionis itu menunjuk ke surat di atas meja.

"Kalian tahu, ini surat apa?"

"Tidak tahu," jawab Will dan Clara bersamaan.

"Ini surat pertanda. Kalau kalian bukan ancaman,"

"Ancaman?" tanya Clara yang matanya menyipit.

"Iya. Biasanya, jika ada yang bertanya soal pemberontakan, seperti yang kalian lakukan kemarin, kami anggap ancaman,"

Will terdiam. Ia ingat pertanyaannya dulu, tentang kelompok pemberontak timur, tentang ibunya.

"Astaga, berapa banyak orang yang kalian celakai itu?" tanya Clara yang suaranya sedikit meninggi.

Resepsionis itu menggeleng. "Belum ada. Kebanyakan tidak terlalu peduli,"

Will mengerutkan kening. "Kenapa tidak dicabut saja poster itu? Poster tentang kelompok pemberontak?"

"Kalau aku cabut, orang-orang akan curiga. Soalnya, poster itu tersebar di seluruh Guild, bukan hanya di sini,"

Will mengangguk mengerti.

"Jadi... kami aman?" tanya Clara.

"Untuk sekarang, iya. Tapi tetap hati-hati. Istana punya mata di mana-mana,"

Resepsionis itu berdiri.

"Sekarang pulanglah. Besok, kita bicara lagi,"

"Tunggu dulu," bantah Clara.

Resepsionis itu berhenti. Tangannya yang sudah mencapai gagang pintu, perlahan turun kembali.

"Mana bentuk tanggung jawabmu? Memberi misi yang membahayakan kami dengan sengaja,"

Suara Clara tidak tinggi, tapi menusuk. Matanya tajam menatap resepsionis.

Resepsionis itu terdiam.

"Kau tahu dari awal itu misi rank A. Tapi kau tetap memberikannya pada kami. Bilang itu rank B,"

Will menoleh ke Clara. Kemudian, ke arah resepsionis.

"Kenapa kau sengaja melakukan itu?" tanya Will pada resepsionis.

Resepsionis itu menghela napas panjang. Ia tidak membantah.

"Iya. Aku sengaja,"

Clara mengepalkan tangannya.

"Kenapa?"

Resepsionis itu menatap mereka bergantian. Wajahnya tidak marah. Tidak menyesal. Hanya lelah.

"Karena aku harus memastikan dulu, apakah kalian pantas dipercaya,"

"Dengan mengirim kami ke tempat yang berbahaya?" Clara meninggikan suara.

"Tapi kalian, baik-baik sajakan, tidak perlu dipikirkan lagi," jawab resepsionis dengan enteng.

Clara hendak melangkah maju. Will menahan lengannya.

"Clara, tenang,"

"Tenang? Dia sengaja menjebak kita!"

"Aku tahu, kita tidak boleh gegabah,"

Clara menggigit bibirnya. Ia menatap Will, lalu resepsionis, lalu kembali ke Will.

"Kau benar-benar mau memaafkannya?"

"Tidak," Will menoleh ke resepsionis.

"Tapi kita butuh dia. Dan dia butuh kita,"

Resepsionis itu mengangguk pelan.

"Maaf. Itu satu-satunya cara untuk memastikan kalian bukan mata-mata istana,"

Clara membuang muka.

Ia tidak bisa memaafkan. Tapi, ia juga tidak bisa membantah.

"Aku akan ganti rugi. Dua kali lipat," kata resepsionis.

"Itu saja?"

"Dan mulai sekarang, aku akan lindungi kalian. Tidak akan ada misi jebakan lagi,"

Will menarik tangan Clara.

"Ayo pulang,"

Clara menurut.

Mereka berjalan keluar dan menutup pintu.

Resepsionis itu berdiri sendirian di ruangan yang sunyi.

"Maaf," bisiknya lagi.

Malam harinya, di tempat rahasia.

Bangunan tua di pinggiran kota. Dinding batu berlumut. Tidak ada jendela.

Hanya satu pintu besi berkarat yang tidak pernah terbuka untuk orang biasa.

Tapi malam ini, pintu itu terbuka.

Satu per satu, bayangan-bayangan masuk. Jubah hitam menutupi seluruh tubuh mereka. Kepala tertunduk. Tidak ada suara selain gesekan kain dan langkah kaki pelan di atas lantai batu.

Di dalam ruangan yang gelap, sebuah meja panjang berdiri di tengah. Lilin-lilin kecil di atas meja menyala redup, cukup untuk melihat wajah, tapi tidak cukup untuk mengenali siapa pun.

Resepsionis itu ada di antara mereka. Jubah hitam menutupi seragam Guild yang biasa ia kenakan.

Di ujung meja, seorang perempuan duduk.

Topeng putih. Kain tudung menutupi kepala. Jubah hitam tidak bergerak, padahal lilin-lilin berkedip-kedip ditiup angin dari mana pun.

"Bagaimana dengan mereka? Apa menurutmu mereka cocok?" tanya ketua. Suaranya sama saat di hutan.

Resepsionis itu mengangguk.

"Mereka selamat dari misi rank A. Dia tidak terluka. Bahkan serangan sihir yang bisa menghapus tubuh seseorang tanpa sisa, tidak mempan padanya,"

Beberapa anggota lain saling berpandangan.

"Tapi ketua, mereka mau tidak membantu kita?" tanya salah satu anggota, dengan suara pelan dan ragu.

Ketua tidak menjawab. Diam sejenak. Angin dingin berembus di antara mereka.

"Kita bisa menyuruh mereka mengerjakan tugas, tanpa menyadari keterlibatan mereka. Kita hanya menutupi jejak perbuatan mereka,"

Resepsionis itu mengerutkan kening.

"Bagaimana caranya?"

Ketua mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil dari balik jubahnya. Kertas itu tidak diikat, tidak dilipat, seperti sudah menunggu untuk dibuka.

"Misi berikutnya yang akan kau berikan pada mereka... adalah misi dari kita,"

"Tapi, kalau mereka tahu gimana?"

"Mereka tidak akan tahu. Selama kita menutupi jejaknya,"

Ketua meletakkan gulungan itu di atas meja.

Resepsionis melihatnya, dia mengerti apa yang harus dilakukan.

Bersambung...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!