Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Benih Pengkhianatan di Ambang Pintu
Lantai marmer Mansion Jacob yang dingin menyambut kepulangan Vanya dan Devan dari Paris. Namun, keheningan rumah itu tidak bertahan lama. Baru saja koper-koper diletakkan di lobi, pemandangan di ruang tengah langsung menghentikan langkah mereka.
Viona duduk di sana. Wajahnya yang biasanya penuh riasan tebal kini tampak sembab, namun ada kilat kepuasan yang tertutup oleh akting sedihnya. Di tangannya, ia meremas sebuah amplop putih. Begitu melihat Devan, ia langsung berdiri dan berlari memeluk pria itu.
"Devan... aku takut..." isaknya kencang.
"Viona? Ada apa? Bukannya kamu sedang di luar negeri?" Devan bertanya bingung, matanya melirik ke arah Vanya yang berdiri tenang tak jauh dari sana.
Viona melepaskan pelukannya, lalu menyodorkan amplop itu. "Aku hamil, Devan. Sudah hampir dua bulan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain datang ke sini. Kamu harus bertanggung jawab, kamu harus nikahi aku sekarang!"
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Devan. Wajahnya yang tadinya lelah karena perjalanan panjang, kini berubah pucat pasi. Ia menatap Viona seolah wanita itu baru saja berubah menjadi hantu. Di sisi lain, Olivia, Karlo, dan Rose yang mendengar keributan itu mulai keluar dari kamar masing-masing dan berkumpul di balkon lantai dua, menyaksikan drama yang meledak di lobi.
"Viona... kamu bicara apa?" suara Devan bergetar. Ia menoleh dengan panik ke arah Vanya. "Vanya! Sumpah, Vanya! Sumpah demi Tuhan, aku belum pernah tidur bareng dia! Sumpah, aku tidak pernah melakukan itu!"
Devan mendekati Vanya, mencoba meraih tangan istrinya, namun Vanya justru melangkah mundur sedikit hanya untuk menjaga jarak profesional. Devan merasa gila dia tahu selama ini ia memuja Viona, tapi ia sangat yakin tidak pernah melangkah sejauh itu karena setiap kali ada kesempatan, selalu saja ada hal yang menghalangi.
Vanya menatap Viona dengan saksama. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan histeris, bahkan tidak ada kerutan kemarahan di dahi Vanya. Ia hanya bersedekap, menatap amplop di tangan Viona seolah itu hanya sekadar laporan bulanan kantor yang membosankan.
"Ya sudah," ucap Vanya santai. Suaranya datar, tanpa emosi. "Kalau memang hamil, nikah saja. Urus administrasinya, cari tanggal yang tepat."
Semua orang di ruangan itu terkesiap. Viona yang tadinya menyiapkan diri untuk dijambak atau dimaki oleh Vanya, kini malah terdiam bingung.
"Vanya? Kamu bicara apa?" Devan berteriak, frustrasi melihat ketenangan istrinya. "Aku bilang aku tidak melakukannya! Kamu tidak percaya padaku?!"
Vanya mengangkat bahunya sedikit. "Percaya atau tidak, itu tidak mengubah kenyataan bahwa wanita ini datang ke rumahku membawa pengakuan. Aku terlalu lelah untuk berdebat soal ranjang orang lain. Silakan selesaikan urusan kalian. Aku mau istirahat."
Vanya berbalik, menaiki tangga dengan langkah tegap seolah tidak ada beban di pundaknya. Ia melewati Olivia yang berdiri mematung di tangga.
Begitu Vanya menghilang di balik pintu kamar, barulah ledakan amarah Nyonya Olivia pecah. Ia menuruni tangga dengan langkah lebar dan langsung menunjuk-nunjuk wajah Devan.
"DASAR ANAK TIDAK TAHU DI UNTUNG!" teriak Olivia. "Kamu ini bodoh atau apa?! Kita ini sedang dalam masa sulit! Saham sedang naik, posisi kita sedang tidak aman di tangan Vanya, dan sekarang kamu malah menambah beban dengan menghamili wanita ini?!"
"Ma, Devan sudah bilang, Devan tidak melakukannya!"
"Bicara sama istrimu cepat! Bujuk dia!" seru Olivia, tidak peduli pada kebenaran pengakuan Devan. "Jangan sampai karena kelakuanmu ini, jatah bulananku ikut terpotong lagi! Kalau Vanya marah dan dia memutus aliran dana untuk kita semua gara-gara selingkuhanmu ini, Mama tidak akan memaafkanmu!"
Karlo yang berdiri di samping Rose hanya bisa memijat pelipisnya. Situasi ini benar-benar kacau. Sementara itu, Rose menatap punggung Vanya yang sudah tertutup pintu, lalu beralih menatap suaminya, Karlo.
"Kalo dipikir-pikir," bisik Rose pada Karlo, suaranya mengandung nada ngeri sekaligus kagum. "Kalo aku jadi Vanya, mana kuat diselingkuhi di depan mata, didukung keluarga suaminya pula, lalu sekarang disodori masalah hamil begini. Sumpah, dia kaya batu yang gak gampang terbawa arus. Mentalnya benar-benar dari baja."
Rose kemudian menyipitkan mata, menunjuk wajah Karlo dengan jarinya. "Awas ya kalau kamu kaya Devan! Sampai ada wanita lain yang datang membawa perut buncit ke rumah ini, aku tidak akan setenang Vanya. Aku akan habisi kamu saat itu juga!"
"Apaan sih? Kok jadi bawa-bawa aku?" gerutu Karlo, meskipun keringat dingin mulai membasahi punggungnya karena teringat akan Gaby yang baru saja diturunkan jabatannya oleh Vanya.
Di lobi, Devan masih berdiri mematung. Viona mencoba mendekatinya lagi, mencoba menangis di dadanya, namun Devan menepis tangan wanita itu.
"Pulanglah dulu, Viona. Aku butuh waktu," ucap Devan dingin.
"Tapi Devan—"
"PULANG!" bentak Devan.
Setelah Viona pergi dengan wajah kesal, Devan berlari menaiki tangga dan masuk ke kamar. Ia menemukan Vanya sedang duduk di depan meja rias, menghapus riasan wajahnya seolah-olah pengakuan kehamilan tadi hanyalah gangguan kecil seperti debu.
"Vanya, dengarkan aku!" Devan berdiri di belakangnya. "Aku berani bersumpah di depan makam Papa. Aku tidak pernah tidur dengan Viona. Kamu harus percaya padaku. Aku memang bajingan karena meninggalkanmu dulu, tapi aku tidak sebodoh itu sampai menghamilinya!"
Vanya menatap pantulan Devan di cermin. "Kenapa kamu sangat ingin aku percaya, Devan? Bukankah kamu mencintainya? Bukankah kamu bilang aku membosankan dan kaku? Sekarang dia memberimu apa yang mungkin tidak bisa kuberikan—seorang anak. Bukankah ini yang kalian inginkan?"
"TIDAK! Bukan begini caranya!" Devan meremas rambutnya. "Vanya, aku... aku mulai sadar ada yang salah. Aku merasa dijebak."
Vanya memutar kursinya, menatap Devan dengan tatapan tajam yang membuat Devan bungkam. "Kalau kamu merasa dijebak, buktikan. Tapi jangan harap aku akan menangis atau memohon padamu untuk tetap tinggal. Aku sudah menyiapkan surat cerai sejak lama, Devan. Jika anak itu benar anakmu, aku akan menandatanganinya besok pagi agar kalian bisa menikah dengan terhormat."
Mendengar kata "cerai", Devan merasa seolah-olah jantungnya baru saja berhenti. Selama ini ia yang selalu mengancam akan pergi, tapi sekarang, saat Vanya yang mengucapkannya dengan nada sesantai itu, Devan menyadari bahwa kehilangan Vanya sama dengan kehilangan warisan ayahnya dan setelah itu dia akan menghadapi luapan emosi ibunya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menandatangani apa pun," desis Devan. "Akan kubuktikan bahwa wanita itu berbohong."
Vanya hanya tersenyum tipis—senyum yang sangat sulit diartikan—lalu kembali fokus pada perawatan wajahnya. Di dalam hatinya, Vanya sudah tahu. Ia sudah menyuruh Pak Hans menyelidiki Viona sejak di Paris. Ia tahu siapa yang sebenarnya tidur dengan Viona saat ia di luar negeri. Namun, Vanya ingin melihat, seberapa jauh Devan akan berjuang untuk membersihkan namanya, atau apakah Devan akan kembali jatuh ke lubang yang sama.