NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Berita panas

DIDUGA TAK MAU KALAH SAING, PEMILIK BUTIK V&B HANCURKAN LAWANNYA

Artikel itu mulai menyebar luas di media sosial. Tak hanya itu, video TikTok yang menampilkan dokumentasi atas kerusakan yang terjadi di butik Dela itu juga semakin viral dan memancing emosi para netizen. Bahkan mereka sampai memberikan hujatan di akun media sosial Vanya dan butiknya.

Usut punya usut, banyak yang menuntut Vanya agar dijebloskan ke penjara. Bermunculan juga berbagai hastag #SiRatuobrakabrik, #Ratukegelapan, #darksideofVanya, dan lainnya.

"Waduh, ini dar der dor banget yang komenan," ucap Hanum saat dia menggeser kursor nya. Ditemani oleh Dela, Nunung, dan beberapa karyawan lainnya yang penasaran akan yang terjadi.

"Mestinya dia gak bisa berkutik lagi sih," ucap Dela kemudian.

"Tapi kamu gak papa, Hanum? Kok aku jadi khawatir ya sama kamu," kata Dela memikirkan resiko yang mungkin terjadi ke depannya.

"Udah gak papa kok, Kak. Apa pun itu resikonya kita hadapi sama-sama," kata Hanum santai. Terharu, Dela pun tersenyum dan berterimakasih pada Hanum.

"Ini sudah malam, besok kita lanjutin lagi ya," kata Dela pada karyawan-karyawannya. Mengingat hari sudah gelap dan waktu menunjukkan pukul sembilan malam.

Hanum segera menyambar ponselnya yanh sedari tadi di cas karena lowbat. Dia melihat ada banyak panggilan tak terjawab. Tiga panggilan dari Bunda dan lima belas panggilan dari Devan.

"Astaga ini Devan banyak banget..," gumamnya. Dia pun mengecek pesan yang masuk dari Bunda.

"Hanum, belum pulang juga? Bunda khawatir. Tadi ada tiga orang pria kesini nyariin kamu. Cepat pulang ya, Nak.."

Perasaan Hanum mendadak tidak enak. Dia yakin itu pasti orang suruhan Vanya.

Lalu dia kembali melihat pesan dari Devan.

"Aku sudah lihat beritanya, ada masalah ya? Kenapa gak bilang? Bunda nyariin kamu, kamu dimana sekarang?"

Dengan cepat Hanum membalas pesan Devan.

"Aku baru aja mau pulang."

Segera dibaca oleh pria itu.

"Cepat. Jangan keluyuran di luar. Bunda khawatir sekarang. Apa aku pulang aja?"

Dalam hatinya, Hanum ingin sekali menekan kembali kata "Bunda khawatir " itu. Apalagi saat Devan menawarkan diri untuk kembali saja.

"Gak, jangan. Siapin dulu kerjaannya ya. Aku dianterin sama Kak Dela kok, bos aku."

Hanum mencoba membuat alasan. Hingga akhirnya pria itu membalas iya dan mengatakan hati-hati di jalan.

"Kak, aku boleh ikut kakak pulang gak?" Hanum bertanya pada Dela yang baru saja muncul.

"Hm.., boleh boleh. Aku mau nawarin kamu duluan malah. I feel something bad (aku rasa ada sesuatu yang buruk), takutnya kamu kenapa-napa," kata Dela.

Hanum tersenyum. Akhirnya, dia pun diantar oleh Dela. Sepanjang jalan menuju pulang, Hanum berceritakan tentang Bunda yang mengatakan ada orang tak dikenal yang datang ke rumah. Oh iya, dia lupa untuk mengabari Bunda. Dengan cepat dia langsunh menelpon bunda.

"Assalamualaikum, Nak. Aduh, kamu dimana? Bunda khawatir loh dari tadi, cepetan pulang Hanum..,"

Ucap Bunda dengan penuh cemas dari dalam ponsel.

"Waalaikumsalam, Bun. Ini Hanum lagi di jalan, dianterin sama Kak Dela. Bunda tenang dulu di rumah ya, aku segera kesana," kata Hanum.

"Baiklah kalau gitu Bunda tunggu ya.., hati-hati," ucap Bunda lagi.

Setelah panggilan berakhir, Hanum terdiam menatap ponselnya. Sementara itu, Dela terdiam dari tadi.

"Aku turun di depan saja ya, Kak," Hanum meminta untuk turun di arah yang dimaksud. Akan tetapi, Dela diam saja.

"Hanum, kita sedang diikutin sama mobil belakang," kata nya dengan tergesa-gesa. Tampak wajah Dela yang pucat dan keringat dingin di dahinya.

Hanum menoleh ke belakang, ada mobil hitam yang memang mengikuti mereka.

"Gak bisa begini, Kak. Kita ganti rute kalau gitu, biar aku saja yang bawa boleh?" Kini Hanum menawarkan diri langsung, jalanan itu memang berangsur-angsur sepi sebab jalan yang mereka lewati adalah jalan alternatif. Tak begitu banyak orang yang lewat kecuali saat jam sibuk saja.

"Ini, cepat!" Dela tampak panik dan segera menggeser posisi nya. Dengan cekatan Hanum memutar balik mobil itu dan berbelok ke arah gang menuju jalan raya. Dimana mobil hitam itu benar-benar terhenti sejenak kemudian kembali mengikuti mereka.

"Tuh kan bener, mereka emang lagi ngikutin kita, Hanum!" Dela tampak ketakutan.

Tetapi Hanum malah tersenyum. Ekspresinya cukup membuat Dela membeku sesaat saking terkejutnya. Sebab yang dia lihat adalah sosok perempuan yang berbeda.

Dengan cepat, Hanum menancap gas, menikung dengan tajam, dan berbelok-belok di antara mobil-mobil yang ada di jalan raya. Membuat kendaraan yang ada di jalanan itu berteriak dan membunyikan klakson mobil mereka. Tampak kecepatan 90 km/h di layar mobil itu.

Kini ketakutan Dela terbagi menjadi dua. Satu karena mereka sedang dikejar oleh mobil hitam dan satu lagi karena Hanum mengemudi seperti pembalap.

Hanum melihat lampu lalu lintas yang sebentar lagi akan berganti menjadi warna merah. Dia langsung menancap gas hingga akhirnya mobil hitam itu terjebak di lampu lalu lintas.

Lima menit kemudian, mereka telah tiba di rumah Devan. Dela mengatur napasnya yang tersengal-sengal sebab kejadian barusan.

"Kamu itu sebenernya siapa sih?" ucapnya sambil terus mengatur napasnya.

Hanum yang dia pikir Dela baik-baik saja itu pun tercengang. "Eh, kakak kenapa??" katanya kaget.

"Kamu tuh yang kenapa, Hanum! Bikin jantungan tau gak..," Dela mengomel pada perempuan itu. Tak disangka dengan penampilan nya yang hijabi berlainan dengan apa yang dilakukannya barusan. Berbeda jauh dengan dirinya yang berpenampilan terbuka, membiarkan rambut panjangnya terurai dan pakaian kasual nya yang cukup menonjol jika dilihat dari jarak beberapa meter.

"Hehe maaf, Kak," katanya lagi.

"Aku jadi takut balik deh," kata Dela.

"Ya udah, Kakak nginap di sini saja dulu. Aku juga mikirnya gitu," Hanum pun mengajak Dela untuk masuk ke rumah. Bunda yang menyambut kedatangan mereka berdua langsung tergesa-gesa mendekati Hanum.

"Bunda khawatir sama kamu tau?!" ucapnya sambil menatap Hanum penuh kekhawatiran. Lalu melihat Dela di belakangnya.

"Ini bos aku, Bun. Dia katanya takut buat pulang ke rumah untuk saat ini. Jadi, aku bawa kesini dulu boleh, Bun?" tanya Hanum meminta persetujuan dari Bunda.

"Ya boleh lah! Sekalian biar rumah kita rame. Ayo Nak Dela, kamu masuk ke kamar Hanum dulu ya. Soalnya tinggal itu yang tersisa," kata Bunda.

"Baik, Bunda. Wah, udah lama aku gak kesini, makasih ya, Bun," kata Dela sambil tersenyum.

Seketika Hanum tersadar. Bunda tahu namanya dan kelihatannya Dela juga sering kesini sebab sekarang Dela masuk ke kamar Hanum.

"Eh iya, kamar ini kan kamu tempatin. Aku masuk gapapa?" tanya Dela baru ngeh.

"Gapapa kok, Kak," Hanum menjawab. Meskipun saat ini dia diliputi dengan berbagai pertanyaan di benaknya.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!