Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pelatihan rutinan?
“Kak Ar, dorongnya yang cepet dong!”
“Sabar, Nyonya.”
“Nggak bisa! Aku udah nggak sabar ketemu sama Rahel. Cepet! Cepet! Cepet!”
Arlo menulikan pendengarannya setiap mendengar protesan yang keluar dari belah bibir Nyonya mudanya.
Saat ini Laura sedang dalam perjalanan menuju lantai bawah untuk makan malam bersama. Ia sudah mirip seperti seseorang yang sakit parah karena harus terduduk di kursi roda.
Ya! Kalian tidak salah membaca. Saat ini Laura terduduk di kursi roda karena usulan dari Ibu mertua dan di setujui langsung oleh Gaharu. Padahal hanya demam biasa bukan sakit parah, kenapa harus menggunakan kursi roda?
Ia sudah merasa baikan dengan tubuhnya. Tidak merasa pusing, hanya sedikit lemas saja.
Mereka masuk ke dalam lift. Di dalam lift tersebut mulut Laura tidak pernah diam. Bibir itu seakan tidak kenal lelah, selalu melontarkan gerutuan kecil bahkan pertanyaan random.
“Kak Ar, aku nggak liat Kak Riel sama yang lainnya, mereka kemana? Biasanya kalo aku nggak ada kegiatan kuliah mereka suka seliweran. Kok ini nggak ada? Mereka libur?”
Arlo terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Bagaimana ia harus menjawabnya jika ke empat ajudan itu mendapatkan hukuman karena lalai menjaga Nyonya muda mereka. Pengecualian untuknya, karena saat kejadian Laura yang pingsan, kebetulan itu adalah hari liburnya.
“Kak Ar, kok diem?” tegur Laura. Gadis itu sedikit mendongak untuk menatap pengawalnya.
“Oh.. itu.. mereka sedang latihan, Nyonya.” Sahutnya cepat. Pria itu berusaha agar suaranya tidak terdengar gugup.
Laura mengernyitkan dahinya bingung. “Latihan,” gumamnya pelan. “Latihan apa?”
Ting!
Tepat saat pertanyaan itu terlontar, mereka sampai ada lantai bawah. Arlo tampak bernafas lega akan hal itu. Arlo tidak terlalu pandai dalam memberikan alasan. Apalagi di depan Laura. Bisa-bisa ia kelepasan berbicara jika mereka berempat sedang dalam masa percobaan hukuman.
“Kak Ar, jawab dulu. Latihan apa?” Laura bertanya lagi saat Arlo mulai mendorong kursi roda itu keluar dari dalam lift.
“Hanya latihan rutin, Nyonya.” Memberi jawaban yang paling masuk akal.
Laura mendengus, menyandarkan punggungnya dengan sisa tenaga yang ia punya. “Aneh banget. Masa latihan rutin barengan semua? Biasanya 'kan gantian. Curang banget, aku sakit mereka malah healing berkedok latihan.”
Arlo hanya bisa meringis dalam hati. Healing? Mereka mungkin sedang berharap bisa bertukar nasib dengannya karena selamat dari hukuman Tuan muda mereka.
Begitu memasuki area ruang makan yang megah itu, mata Laura langsung berbinar. Di sana, Rahel sudah duduk manis dengan segelas jus jeruk di depannya.
“Rahel!” pekik Laura girang.
Tanpa berfikir dua kali, gadis itu meloncat dari kursi rodanya. Membuat pengawal di belakangnya terkejut seakan-akan baru saja terkena kejutan listrik. Saat ia menunduk, Nyonya mudanya sudah tidak berada di tempat.
“Nyonya! Tuan muda bilang jangan—”
Laura menulikan pendengarannya saat mendengar peringatan ajudannya. Ia sedikit berlari kecil untuk dapat bergerak cepat menghampiri sahabatnya.
“Lau? Astaga, pelan-pelan!” Rahel bangkit dari duduknya, wajahnya antara gemas dan khawatir melihat sahabatnya yang tampak pucat tapi semangatnya melebihi atlet lari.
Belum sempat Laura memeluk tubuh sahabatnya, suara bariton dingin terdengar jelas di pendengaran Laura.
“Laura,” panggil seorang pria yang tidak lain adalah Gaharu.
Pria itu berada tepat di samping Arlo yang sudah merasa gugup karena keberadaan Tuan mudanya yang datang secara tiba-tiba. Sudah seperti makhluk ghaib saja, datang tidak di undang, pulang tidak di antar.
“Arlo, saya tidak membayar kamu untuk membiarkan istri saya berlari seperti tadi.”
Arlo langsung menunduk dalam, wajahnya pucat pasi. “Mohon maaf, Tuan Muda. Nyonya bergerak terlalu cepat, saya—”
“Suami!” potong Laura cepat, berusaha mengalihkan perhatian suaminya agar Arlo tidak semakin dipojokkan. Ia berbalik dengan senyum canggung, masih berdiri tegak meski sebenarnya betisnya mulai terasa sedikit bergetar karena dipaksa berlari kecil. “Jangan marahi Kak Ar, aku yang salah. Lagipula aku sudah sehat, lihat nih! Bisa berdiri, bisa lari, bisa...”
“Bisa pingsan lagi jika kamu tidak segera duduk,” Gaharu memotong kalimat istrinya dengan nada datar namun menusuk.
Gaharu menghela nafas pelan. Ia menjalankan kursi rodanya mendekat tepat di hadapan Laura. Ia mengkode Laura lewat isyarat tangannya untuk menunduk. Dengan bibir yang mengerucut samar, Laura menurunkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan Gaharu.
Tangan pria itu terulur, menempelkan punggung tangannya pada dahi dan leher Laura, memastikan suhu tubuh gadis itu tidak panas seperti kemarin. “Masih hangat. Duduk, atau sahabatmu aku suruh pulang sekarang juga?”
“Iya, iya! Dasar tukang ancam!” gerutu Laura sambil mendaratkan bokongnya pada kursi roda. Ia tahu benar kalau Gaharu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Jika ia membantah satu kali lagi, Rahel pasti benar-benar akan dikawal keluar dari rumah detik ini juga.
Arlo bergerak dengan cepat, mendorong kursi roda tersebut menuju area meja makan. Pria itu menempatkan Laura tepat di samping Rahel yang kini telah duduk kembali.
Sementara Gaharu, pria itu menempatkan posisinya berada di kepala meja.
Tidak lama dari itu, Adeline dan juga Rajendra datang menyusul. Rajendra yang terlihat seperti sehabis mandi, dan Adeline yang keluar dari dapur dengan piring hidangan di tangannya.
“Oh, kalian sudah menunggu ternyata.” Adeline tersenyum manis. “Sayang, bagaimana keadaanmu? Sudah merasa baik?” Pertanyaan itu jelas di tujukan kepada Laura.
“Sudah lebih baik, Ibu.”
“Baguslah, mari kita mulai acara makan malam kita.”
Mereka mulai makan malam dengan khidmat. Tidak banyak obrolan di antara mereka. Hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Selesai dengan acara makan malam, para pria masuk ke dalam ruang kerja, jelas saja mereka akan membicarakan angka-angka yang tidak di mengerti oleh para wanita. Sedangkan Adeline dan dua gadis lainnya, kini berada di Gazebo halaman belakang. Mereka bertiga sedang berbicara ria dengan di selingi oleh tawa yang mengisi obrolan mereka.
“Hahaha.. begitu, jadi jika boleh Ibu tahu. Sudah berapa lama kalian bersahabat?”
“Hum.. cukup lama, Ibu. Dari kita zaman SMA ya, Hel?” Laura melirik Rahel yang di balas oleh anggukan cepat oleh gadis tersebut.
“Awet banget ya,” komentar Adeline.
“Ya, begitulah, Nyonya. Soalnya cuma saya yang tahan sama kelakuan ajaib Laura,” goda Rahel sembari menyenggol bahu sahabatnya.
“Hey, mana ada! Harusnya aku yang bilang begitu.” Laura menyahut tidak terima.
Adeline tersenyum melihat interaksi kedua gadis itu. Wanita itu dapat melihat perubahan di wajah Laura yang kini mulai terlihat hidup kembali, tidak seperti tadi siang yang masih terlihat pucat.
Jadi memang benar ya, obat yang paling ampuh adalah kehadiran seseorang yang menurutnya benar-benar berharga. Adeline dapat melihat itu, kehadiran Rahel sangat membantu untuk menghibur Laura.
Wanita itu jadi penasaran.. seberapa besar rasa sayang Laura pada gadis yang menjadi sahabatnya itu. Matanya benar-benar memantulkan binar tulus.
Obrolan mereka terus mengalir, mulai dari mengenang masa SMA yang penuh drama hingga membicarakan hobi melukis Laura, bahkan sampai membahas perihal Rahel yang bercita-cita ingin menjadi konten creator makanan.
“Loh, jadi kenapa kamu masuk jurusan seni jika kamu tertarik menjadi seorang konten creator? Kenapa tidak masuk tata boga agar mendapatkan ilmu tentang memasak.”
“Dia tahunya cuma makan, Ibu. Urusan masak dia lebih milih beli di warung depan kos-an,” celetuk Laura di iringi tawa renyah.
Rahel meringis, gadis itu menunjukkan deretan giginya yang rapi. “Aduh, Lau. Jangan buka kartu gitu dong. Tapi bener sih apa yang di bilang Laura. Saya cuma iseng aja ngikut kuliah, nggak taunya bertahan sampai sekarang.”
“Lengket banget ya, udah kayak induk dan anak itik,” canda Adeline dan mereka berdua ikut tertawa.
Suasana malam di gazebo itu terasa sangat hangat. Lampu-lampu taman yang temaram dan suara serangga malam memberikan kesan damai. Namun, rasa penasaran di hati Laura kembali terusik saat ia teringat sesuatu.
“Ibu,” panggil Laura pelan, membuat atensi Adeline kembali sepenuhnya. “Apa Ibu tahu soal latihan Kak Riel dan yang lainnya? Tadi Kak Ar bilang mereka semua dikirim latihan rutin barengan. Bukannya aneh ya kalau semuanya pergi sekaligus?”
Senyum di wajah Adeline sedikit memudar, meski ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi lembutnya. Sebagai istri seorang Rajendra, ia tentu paham betul apa arti ‘pelatihan’ yang diperintahkan oleh anaknya.
“Oh, itu...” Adeline mengusap punggung tangan Laura. “Mungkin Gaharu merasa mereka perlu menyegarkan kembali kedisiplinan mereka, Sayang. Rumah ini besar, tanggung jawab mereka juga besar. Jangan terlalu dipikirkan ya? Lebih baik kamu fokus untuk benar-benar sembuh dulu.”
Laura terdiam sebentar. Ia tahu ada yang disembunyikan, tapi ia juga tahu tidak akan mendapatkan jawaban jujur dari ibu mertuanya jika itu menyangkut kebijakan internal keluarga ini.
Hm.. ia jadi berfikir keras akan hal ini. Latihan apa kira-kira yang sedang ke empat ajudannya lakukan?
***
Minggu, 10 Mei 2026
Published : Senin, 11 Mei 2026