NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Perhitungan Yang Sama

Ruangan itu tetap hening bahkan setelah langkah Elvara benar-benar menjauh dari pintu. Suara pelan dari penutup pintu tadi masih terasa menggantung, seperti garis tipis yang memisahkan dua keadaan yang tidak akan pernah sama lagi. Zayden tidak bergerak dari tempatnya, map terbuka di tangan, pandangannya masih jatuh pada satu bagian yang sejak tadi menolak untuk terlihat biasa.

Tanggal itu tidak berubah.

Ia duduk perlahan, menarik kursi tanpa suara keras, lalu meletakkan map di atas meja dengan hati-hati. Tangannya tidak gemetar, tetapi ada ketegangan halus yang terlihat dari cara jarinya menekan sudut kertas. Ia membaca lagi, lebih lambat, seolah memberi waktu pada logikanya untuk membantah apa yang sudah terlalu jelas.

Tidak ada yang bisa dibantah.

Ia mengambil ponsel, membuka kalender, lalu mulai menghitung ulang dengan metode yang lebih rinci. Bukan sekadar hitungan kasar, tetapi memperhitungkan jarak hari, kemungkinan variasi waktu, dan semua kemungkinan kecil yang bisa memberi celah. Setiap angka ia cocokkan, setiap jeda ia periksa ulang, dan setiap kemungkinan ia uji dengan cara yang sama dinginnya seperti saat ia mengevaluasi proyek bernilai miliaran.

Hasilnya tetap sama.

Ia berhenti sejenak, lalu kembali menggeser layar. Ia bahkan menghitung dengan asumsi paling longgar yang bisa ia terima. Selisih hari, kemungkinan perbedaan waktu pencatatan, hingga faktor medis yang mungkin memengaruhi tanggal lahir. Semua dihitung. Semua dipertimbangkan. Namun hasil akhirnya tetap mengarah ke titik yang sama.

Cocok.

Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Ia menurunkan ponsel perlahan, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya mengarah ke langit-langit, tetapi pikirannya masih terpaku pada angka yang tidak mau berubah itu. Napasnya panjang, teratur, namun ada sesuatu di baliknya yang tidak stabil.

Ia tidak panik.

Ia tidak terburu-buru.

Namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari biasanya.

Ia mengingat malam itu dengan detail yang tidak pernah benar-benar hilang. Bukan hanya lokasi atau waktu, tetapi suasana yang menyertainya. Hujan yang turun deras, percakapan yang terlalu emosional, dan keputusan yang terjadi tanpa rencana. Semua terasa seperti potongan adegan yang selama ini tersimpan di bagian belakang pikirannya, kini muncul kembali dengan kejelasan yang tidak bisa diabaikan.

Ia menggeser map sedikit, lalu membuka kembali bagian identitas anak.

Nama itu kembali terlihat.

Rheon Naysha.

Ia mengulangnya dalam hati, kali ini lebih pelan, seolah mencoba merasakan sesuatu dari susunan huruf itu. Tidak ada petunjuk langsung, tidak ada penanda yang jelas, tetapi justru itu yang membuatnya semakin mencurigakan. Tidak ada nama ayah, tidak ada catatan tambahan, tidak ada jejak yang bisa diikuti.

Kosong.

Terlalu bersih untuk sesuatu yang seharusnya memiliki asal.

Ia mengetuk meja pelan dengan ujung jarinya, ritme yang tidak teratur, menandakan pikirannya sedang menyusun sesuatu. Jika bukan dirinya, maka siapa. Ia mencoba memaksa logika untuk mencari alternatif lain, sesuatu yang bisa menggantikan kemungkinan ini dengan penjelasan yang lebih sederhana.

Darren muncul di pikirannya.

Namun hanya bertahan sebentar.

Ia langsung menolaknya dengan cepat dan pasti. Tanggal tidak cocok, pola hubungan tidak mendukung, dan yang paling penting, reaksi Elvara tidak sejalan dengan kemungkinan itu. Ia terlalu defensif terhadap Zayden, bukan terhadap pria lain. Itu bukan sikap seseorang yang melindungi rahasia yang sama dari semua orang.

Itu sikap seseorang yang hanya takut pada satu orang.

Zayden menarik napas lebih dalam, lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke jendela dengan langkah pelan, berhenti di sana, dan menatap kota yang bergerak seperti biasa. Kendaraan tetap berjalan, orang-orang tetap sibuk, dan dunia tidak menunjukkan tanda bahwa sesuatu besar sedang berubah di salah satu ruangan di lantai tiga puluh satu.

Namun baginya, titik itu sudah terlewati.

Ia mengingat kembali ekspresi Elvara tadi. Cara wanita itu membeku saat melihat halaman itu. Cara napasnya tertahan tanpa perlu kata. Cara matanya berubah, bukan karena bingung, tetapi karena tahu.

Itu bukan kebetulan.

Itu bukan kejutan.

Itu pengakuan tanpa suara.

Ia menutup mata sebentar, bukan untuk menenangkan diri, tetapi untuk mengatur ulang pikirannya. Saat membukanya kembali, ekspresinya tidak berubah banyak, tetapi fokusnya menjadi lebih tajam. Ia bukan tipe orang yang berhenti di tengah ketidakpastian. Jika satu jawaban hampir terlihat, ia akan menariknya keluar sampai jelas sepenuhnya.

Ia kembali ke meja, duduk, lalu membuka dokumen sekali lagi. Bukan karena masih ragu, tetapi karena ia ingin memastikan tidak ada detail yang terlewat. Ia membaca ulang semua bagian dengan urutan berbeda, mencoba melihat pola yang mungkin tersembunyi di antara data yang terlihat biasa.

Namun hasilnya tetap sama.

Semua mengarah ke satu kesimpulan.

Ia menutup map itu perlahan, lalu meletakkannya tepat di tengah meja. Tangannya tetap berada di atasnya beberapa detik, seolah menyadari bahwa benda sederhana itu sekarang memegang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar data.

Lima tahun.

Angka itu muncul begitu saja di kepalanya.

Lima tahun tanpa tahu.

Lima tahun tanpa hadir.

Lima tahun di mana seseorang tumbuh, belajar bicara, berjalan, tertawa, dan sakit, tanpa pernah ada dirinya di sana.

Ia tidak terbiasa dengan kehilangan yang tidak ia sadari.

Ia lebih tidak terbiasa lagi dengan kenyataan bahwa kehilangan itu terjadi begitu lama.

Tangannya mengepal perlahan di atas meja. Bukan ledakan emosi, bukan kemarahan yang terlihat jelas, tetapi tekanan yang dalam dan terkontrol. Ia tidak marah dengan cara biasa. Ia memproses, menyimpan, lalu memutuskan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Perasaan tertinggal.

Ia tidak suka berada di posisi itu.

Selama ini ia selalu lebih cepat, lebih tahu, lebih siap. Ia mengendalikan situasi bahkan sebelum orang lain menyadari ada masalah. Namun kali ini, ia datang terlambat ke sesuatu yang mungkin sudah berjalan sejak lama.

Dan itu bukan sesuatu yang bisa ia terima dengan mudah.

Di luar ruangan, Elvara mencoba kembali ke rutinitasnya. Jari-jarinya bergerak di atas keyboard, tetapi pikirannya tidak mengikuti. Setiap kalimat yang ia ketik terasa kosong, setiap angka yang ia masukkan terasa tidak berarti. Fokusnya pecah, berpindah antara layar di depannya dan percakapan yang baru saja terjadi.

Ia tahu apa yang ada di map itu.

Ia tahu apa yang dilihat Zayden.

Dan ia tahu bahwa diamnya tadi sudah cukup menjadi jawaban.

Daniel yang melihat dari kejauhan akhirnya mendekat dengan langkah santai, mencoba membaca situasi tanpa terlalu mencampuri. Ia meletakkan satu botol air di meja Elvara tanpa banyak bicara, lalu menatapnya sebentar.

"Kamu benar-benar kelihatan tidak baik-baik saja."

Elvara menarik napas, lalu memaksakan senyum tipis yang tidak bertahan lama. Ia mengambil botol itu, tetapi tidak langsung meminumnya.

"Aku masih di sini, berarti belum hancur."

"Standar kamu rendah sekali kalau itu dianggap baik-baik saja."

Ia menghela napas pelan. "Aku cuma butuh waktu."

Daniel mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Ia cukup peka untuk tahu kapan harus diam. Ia menepuk meja pelan, lalu mundur tanpa menambah beban dengan rasa ingin tahu yang tidak perlu.

Elvara kembali menatap layar, tetapi pikirannya sudah melangkah lebih jauh.

Ia tahu ini tidak akan berhenti di sini.

Zayden bukan orang yang berhenti pada setengah jawaban.

Dan kali ini, jawabannya bukan sesuatu yang bisa ia sembunyikan lagi dengan alasan sederhana.

Di dalam ruangan, Zayden tetap duduk tanpa bergerak banyak. Map di depannya sudah tertutup, tetapi isinya masih terbuka jelas di kepalanya. Ia tidak lagi menghitung. Ia tidak lagi mencoba mencari celah. Tahap itu sudah lewat.

Sekarang tinggal satu hal.

Memastikan.

Ia mengangkat ponsel lagi, menatap layar beberapa detik, lalu meletakkannya kembali tanpa melakukan apa pun. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu langkah berikutnya harus tepat. Tidak ada ruang untuk kesalahan, bukan karena ia ragu, tetapi karena konsekuensinya terlalu besar.

Ia menatap ke depan, lalu bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Kalau ini benar..."

Kalimat itu tidak ia selesaikan.

Namun ia sudah tahu.

Ini bukan lagi soal kemungkinan.

Ini soal bagaimana ia akan menghadapi kebenaran yang selama ini berdiri tepat di depannya tanpa ia sadari.

Dan kali ini, ia tidak akan mundur.

1
Lisa
Jgn keras hati Elvara..Zayden tdk akan mengambil Rheon dr kamu.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
terlalu n makin mbuleeddd, n heran nya masih aq baca🤣🤣🤣🤣
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!