Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Jam lima sore, matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang lembut menyinari jalanan kelurahan Kenjeran Lama. Di Gang Damai nomor 15, suasana sore itu tampak biasa saja seperti hari-hari lainnya. Warga sekitar mulai beraktivitas santai, ada yang duduk-duduk di beranda, ada anak-anak yang bermain, dan aroma masakan mulai tercium dari setiap rumah.
Namun, sebuah pemandangan sedikit berbeda muncul dari ujung gang.
Suara deru mesin terdengar rendah namun gagah, mendekat perlahan. Bukan mobil mewah berwarna hitam yang biasa menjadi ciri khas Sulthan, melainkan sebuah sepeda motor sport berwarna hitam pekat dengan desain elegan namun tidak berlebihan. Sulthan Aditama datang mengendarainya sendiri, mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru dongker yang digulung sebatas siku, celana jeans, dan sepatu kets. Penampilannya sangat rapi, tampan, namun terlihat sederhana dan pas, sama seperti pemuda-pemuda lain di lingkungan itu.
Sulthan memang sengaja memilih cara ini. Dia berpikir panjang sebelum berangkat. Jika dia datang menggunakan mobil mewah besarnya, pasti akan langsung menjadi pusat perhatian. Tetangga akan berkerumun, bertanya-tanya, berbisik-bisik, dan pasti akan segera tersebar kabar bahwa gadis sederhana seperti Nurlia ternyata berkenalan dengan orang kaya raya. Sulthan tidak ingin hal itu terjadi. Dia ingin menjaga nama baik kekasihnya, tidak ingin Nurlia menjadi bahan pembicaraan yang tidak-tidak atau merasa risih dan tidak nyaman di lingkungannya sendiri.
Jadi, motor sport pilihan ini adalah jalan tengah yang tepat. Tetap terlihat gagah dan berkelas, tapi tidak terlalu mencolok dan masih masuk akal dilihat mata warga biasa.
Sulthan menghentikan motornya tepat di depan rumah kontrakan kecil Nurlia. Dia mematikan mesin, menurunkan standar, lalu melepas helmnya perlahan. Rambutnya yang sedikit berantakan terkena angin justru membuatnya terlihat semakin tampan dan mempesona. Dia menatap rumah sederhana itu, rumah tempat kekasihnya tinggal dan berjuang hidup, yang dulu alamatnya sempat dicatatnya dengan teliti.
"Jadi di sinilah tempatmu berteduh, Nur..." gumam Sulthan pelan sambil tersenyum tipis, hatinya bergetar karena rasa haru dan cinta.
Dan kebetulan sekali, tepat saat kakinya baru saja menginjak tanah, dari arah ujung gang terdengar suara putaran roda besi yang familiar.
Itu Nurlia.
Gadis itu baru saja sampai, mengayuh sepeda ontel tuanya dengan sisa tenaga yang ada. Tubuhnya sedikit lelah setelah seharian berdiri dan melayani pembeli di restoran, tapi wajahnya tetap terlihat ceria. Dia mengenakan seragam kerja yang agak kusut terkena panas dan debu jalanan, rambutnya dikuncir sederhana, dan di wajahnya masih tersisa sisa-sisa keringat perjuangan.
Nurlia berniat memarkirkan sepedanya di pelataran depan rumah, tapi saat matanya menangkap sosok pria tegap yang berdiri di sana, gerakannya seketika terhenti. Kakinya yang baru mau menginjak tanah tiba-tiba kaku, matanya membelalak lebar tak percaya, dan mulutnya sedikit terbuka karena terkejut luar biasa.
"Tuan Sulthan??" batinnya berteriak kaget.
Dia tidak salah lihat. Wajah itu, senyum itu, tatapan teduh itu... tidak mungkin salah. Itu adalah kekasihnya, orang yang paling dia cintai dan kagumi, CEO besar Aditama Group yang kemarin baru saja mengukuhkan status hubungan mereka. Tapi kenapa dia ada di sini? Kenapa dia berdiri santai seperti tetangga yang lewat? Dan kenapa dia naik motor biasa saja?
Dengan jantung yang berdegup kencang, campuran antara kaget, gembira, dan malu karena penampilannya yang lusuh setelah pulang kerja, Nurlia turun dari sepedanya dengan gerakan yang agak canggung.
"Tu... Tuan Sulthan?!" seru Nurlia pelan, suaranya bergetar karena terkejut yang luar biasa. "Tu... Tuan kok ada di sini? Kapan datangnya? Kenapa tidak memberi kabar dulu kalau mau ke sini? Saya... saya kaget sekali..."
Wajah Nurlia memerah padam. Dia merasa sangat tidak siap. Dia pikir Sulthan akan memberi kabar atau mengabari dulu lewat pesan, tapi pria ini malah datang tiba-tiba seolah-olah ini adalah hal yang paling biasa dilakukan setiap hari. Nurlia menunduk sedikit, menatap bajunya sendiri yang sudah tidak rapi lagi, merasa malu sekali bertemu kekasihnya dalam keadaan kotor dan lelah begini.
Sulthan tertawa kecil melihat reaksi kekasihnya yang polos dan menggemaskan itu. Dia melangkah mendekat perlahan, menatap Nurlia dari ujung kaki hingga ke ujung rambut, penuh rasa kagum dan kasih sayang. Baginya, Nurlia dalam keadaan apa pun tetaplah wanita tercantik di dunia.
"Sore, Nur," sapa Sulthan lembut, suaranya rendah dan hangat. "Maaf ya datang tiba-tiba tanpa kabari. Aku sengaja begitu saja. Aku takut kalau bilang dari tadi, kamu jadi sibuk bersiap-siap dan nanti malah tidak istirahat."
Dia menunjuk motornya yang terparkir rapi.
"Sengaja aku naik motor saja, biar tidak heboh. Kalau aku bawa mobil besar, nanti satu kampung pada nongkrong semua lihat kita. Aku tidak mau kamu jadi bahan omongan orang lain, kan sayang kalau kamu jadi risih."
Penjelasan sederhana itu membuat hati Nurlia langsung meleleh. Dia menatap wajah Sulthan dengan mata yang berbinar-binar penuh haru. Betapa perhatiannya pria ini. Dia memikirkan segalanya, bahkan hal-hal kecil dan sepele seperti pandangan tetangga pun dia perhitungkan demi kenyamanan Nurlia.
"Tu... Tuan ini ada-ada saja..." ucap Nurlia terbata-bata, tersenyum bahagia di balik rasa malunya. "Baik sekali hati Tuan... Sampai hal begitu pun dipikirkan. Saya kira Tuan cuma mau lewat, ternyata memang benar-benar datang ke rumah saya..."
"Kamu kan kekasihku, Nur. Wajar dong aku ingin tahu dan datang ke tempat tinggalmu," jawab Sulthan tegas dan tulus. "Ayo sekarang, bukakan pintunya ya. Aku ingin masuk sebentar, sekalian kenalan sama Adelia. Aku sudah lama ingin bertemu adikmu itu secara dekat."
Nurlia mengangguk antusias, rasa lelahnya seketika hilang tak berbekas digantikan oleh kebahagiaan yang meluap-luap. Dia segera memarkirkan sepeda ontelnya di samping rumah, lalu dengan tangan yang sedikit gemetar karena gembira, dia membuka pintu kayu rumah kecilnya itu, mempersilakan orang paling istimewa di hatinya untuk masuk ke dalam kehidupannya yang sederhana namun penuh cinta.
Nurlia membuka lebar pintu kayu rumahnya yang berukuran kecil itu. Pintu itu hanya setinggi sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, sangat pas untuk ukuran tubuh rata-rata orang dewasa pada umumnya. Namun, bagi Sulthan yang memiliki postur tubuh besar, tegap, dan tinggi menjulang seratus delapan puluh lima sentimeter, pintu itu terasa begitu pendek dan sempit.
Sulthan tersenyum kecil, lalu secara otomatis dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahkan sampai harus sedikit membungkukkan badannya agar kepalanya tidak terbentur kusen pintu kayu yang rendah itu. Gerakannya terlihat sedikit canggung namun tetap berwibawa, seolah dia sedang beradaptasi masuk ke dunia kecil milik kekasihnya.
"Silakan masuk, Tuan... hati-hati kepalanya," ucap Nurlia pelan sambil menahan pintu agar tetap terbuka.
"Makasih, Nur," jawab Sulthan lembut sambil melangkah masuk melewati ambang pintu yang rendah itu. Begitu berada di dalam, dia baru bisa kembali berdiri tegak sepenuhnya, merasakan kembali kebebasan gerak tubuhnya.
Ketika kakinya menginjak lantai semen yang sederhana, mata Sulthan langsung menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang ada di depannya. Ini adalah ruang tamu yang berukuran sangat kecil, nyaris tidak ada sekat antara ruang tamu dan ruang tengah. Di sana terlihat perabotan yang sangat sederhana, ada sepasang kursi kayu yang sudah agak kusam warnanya, sebuah meja kecil dari kayu yang permukaannya sudah tidak licin lagi, dan lemari kaca kecil berisi barang-barang keperluan sehari-hari. Dindingnya dicat putih polos yang sudah terlihat sedikit usang, dan di sudut-sudut langit-langit terlihat beberapa jaring laba-laba yang tidak sempat dibersihkan.
Nurlia mengikutinya dari belakang, wajahnya langsung memerah karena rasa malu yang luar biasa. Dia sadar betul perbedaan yang sangat jauh ini. Bagaimana tidak, pria di hadapannya ini adalah orang yang biasa hidup di istana megah, tidur di kamar seluas ruangan ini berkali-kali lipat, duduk di kursi empuk berlapis kulit mahal, dan dikelilingi kemewahan di setiap sudut rumahnya. Sedangkan ini... rumah kecil, sempit, perabotannya tua, dan mungkin terasa panas serta sumpek bagi orang yang terbiasa hidup nyaman.
Dengan tangan yang saling meremas gugup, Nurlia menundukkan wajahnya sopan dan meminta maaf.
"Maafkan saya ya Tuan... rumah saya begini adanya. Sempit, kecil, dan agak berantakan juga. Tadi pagi saya buru-buru berangkat kerja jadi belum sempat membereskan semuanya dengan rapi. Saya khawatir Tuan risih, tidak nyaman, atau merasa kotor di tempat seperti ini..." ucap Nurlia, suaranya terdengar sedih dan tidak enak hati. Dia benar-benar merasa rendah diri dan malu sekali memperlihatkan tempat tinggalnya pada kekasihnya yang serba mewah itu.
Namun, mendengar itu, Sulthan justru langsung menoleh dan menatap Nurlia dengan tatapan yang sangat lembut dan hangat. Dia menggeleng pelan, lalu tersenyum menenangkan.
"Sudah jangan bicara begitu, Nur. Aku ke sini bukan karena ingin melihat rumah besar atau barang-barang mewah. Aku ke sini karena ingin bertemu kamu, ingin melihat tempat tinggalmu, tempat di mana kamu tumbuh dan beristirahat," jawab Sulthan tulus. Dia sama sekali tidak terlihat jijik, tidak terlihat kecewa, atau merasa terganggu sedikit pun. "Rumah ini sederhana, aku tahu itu. Tapi aku bisa merasakan kehangatan dan ketulusan di sini. Justru aku merasa damai berada di sini. Jadi jangan merasa malu atau minta maaf terus-menerus ya, aku tidak mempermasalahkan hal-hal kecil seperti ini sama sekali."
Kata-kata itu seolah menjadi penawar rasa malu di hati Nurlia. Dia mengangguk perlahan, tersenyum lega, lalu mempersilakan Sulthan duduk.
"Kalau begitu... silakan duduk dulu ya Tuan. Saya duduk di sini saja," kata Nurlia sambil menunjuk kursi kayu yang ada di sisi sebelah.
Sulthan pun duduk di kursi kayu yang keras dan agak tipis itu. Dia duduk dengan tenang dan santai, seolah itu adalah kursi paling nyaman sedunia. Namun, di dalam hatinya, Sulthan merasa terguncang hebat. Matanya kembali menatap sekeliling ruangan itu dengan pandangan yang lebih teliti dan dalam.
Sebagai anak tunggal keluarga Aditama, sejak dia bayi hingga dewasa, dia hidup di lingkungan yang serba lengkap dan mewah. Rumahnya luas, dingin ber-AC, perabotannya berdesain mahal, ada pelayan yang siap sedia, dan segala kebutuhan selalu terpenuhi dengan mudah. Baginya, ruang sekecil ini biasanya hanya dijadikan gudang atau ruang penyimpanan barang saja. Tapi ternyata, bagi Nurlia dan Adelia, ruang sempit ini adalah seluruh dunia mereka. Tempat mereka tidur, makan, belajar, dan berlindung dari panas dan hujan.
Hati Sulthan terasa perih dan penuh rasa iba. Dia membayangkan bagaimana beratnya perjuangan kekasihnya ini. Bagaimana Nurlia yang tubuhnya kecil itu harus berjuang mati-matian mencari nafkah seharian, lalu pulang ke tempat yang sempit, panas, dan serba kekurangan ini. Bagaimana mereka berdua bertahan hidup, belajar, dan tumbuh besar di kondisi yang sangat jauh dari kata layak bagi standar kehidupan Sulthan.
"Ya Allah... kasihan sekali mereka..." batin Sulthan bergumam sedih. "Bagaimana mungkin gadis sebaik, seindah, dan selembut Nurlia harus hidup bersusah payah begini? Dia berhak mendapatkan kemewahan, dia berhak hidup enak dan nyaman. Padahal aku punya segalanya, harta kekayaanku bahkan tidak akan habis untuk sepuluh turunan, tapi kenapa dia harus menanggung beratnya dunia sendirian?"
Rasa ingin segera memindahkan mereka ke tempat yang lebih baik, rasa ingin memberikan segalanya agar Nurlia tidak perlu lagi susah payah, semakin membara di dada Sulthan. Dia berjanji dalam hati, suatu saat nanti—dan itu akan segera—dia akan mengubah nasib kekasih dan adiknya ini. Dia akan membuat mereka hidup seperti ratu dan putri, sesuai dengan harga diri mereka yang sesungguhnya.
Namun, Sulthan menahan diri. Dia tidak ingin terlihat berlebihan atau membuat Nurlia merasa tersinggung. Dia tetap berusaha terlihat tenang dan biasa saja di luar sana.
Sementara Sulthan sedang tenggelam dalam pikirannya, Nurlia yang sadar diri bahwa dia baru pulang kerja dan badannya pasti lengket debu serta keringat, pun segera izin.
"Maaf ya Tuan, saya izin ke belakang sebentar ya. Mau bersih-bersih diri dulu, cuci muka dan ganti baju. Takutnya tidak sopan duduk di depan Tuan dalam keadaan begini," kata Nurlia sopan.
"Iya silakan saja, santai saja. Anggap saja aku ini sudah bagian dari keluarga sendiri, tidak usah kaku," jawab Sulthan lembut.
Sebelum pergi ke belakang, Nurlia berjalan sedikit ke arah kamar yang ada di samping ruang tamu. Dia membuka pintu sedikit dan memanggil adiknya yang sejak tadi bersembunyi mengintip dari balik celah pintu karena malu melihat tamu asing.
"Adelia... Del... sini dulu sebentar," panggil Nurlia pelan namun tegas.
Tak lama, keluarlah Adelia dengan wajah yang masih agak malu-malu. Dia sudah berganti baju santai, rambutnya dikepang rapi.
"Ya Kak?" jawab Adelia pelan sambil menunduk.
"Nak, ini Tuan Sulthan yang dulu pernah kita ceritakan. Yang baik hati itu lho," bisik Nurlia sambil menunjuk ke arah Sulthan yang sedang tersenyum ramah. "Kakak mau bersih-bersih dulu, kamu tolong buatkan minuman ya. Buatkan teh hangat saja, yang manis sedikit. Sajikan ke Tuan Sulthan ya. Pasti bisa kan?"
Adelia mengangguk antusias. Dia pun ingat betul orang ini. Orang yang sudah membayarkan seragam sekolahnya, orang baik hati yang selalu dibanggakan kakaknya.
"Iya Kak. Aku buatkan sekarang," jawab Adelia, kini sudah berani menatap Sulthan dengan senyum sopan dan kagum.
Nurlia pun akhirnya berjalan menuju kamar mandi kecil di belakang rumah, meninggalkan Sulthan yang duduk menunggu dengan sabar, ditemani Adelia yang bergegas ke dapur sempit untuk menyeduh teh hangat, tanda penghormatan terbaik yang bisa mereka berikan untuk tamu istimewa hari ini.