NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:566
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Proyek Roro Jonggrang di Tebet: Membangun Kos-kosan Nana dalam Semalam

Setiap kata Riton bagai palu yang menghantam Ekantika. Ia tidak lagi bisa membohongi dirinya sendiri. Riton curiga. Lebih dari curiga, Riton sudah mulai menghubungkan titik-titik. Jaring kebohongannya kini bukan hanya retak, tapi sudah mulai runtuh.

"Ton, aku... aku tahu ini kedengarannya aneh," Ekantika berusaha melembutkan suaranya, memohon pengertian. "Tapi ini beneran! Aku nggak bohong soal itu! Kenapa aku harus bohong soal Toni? Dia itu memang suka menggangguku, Ton."

"Aku tidak bilang kamu bohong soal diganggu, Na. Tapi semua kebetulan ini... entahlah. Aku jadi merasa ada yang aneh. Sejak awal, kayaknya ada yang nggak pas," Riton berkata, nadanya kini lebih tenang, namun dingin. "Aku cuma pengen kamu jujur sama aku, Na. Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita sama aku."

Hati Ekantika mencelos. Jujur. Kata itu menusuknya begitu dalam. Ia ingin jujur. Tuhan tahu, ia sangat ingin melepas semua topeng ini dan menceritakan semuanya pada Riton. Tapi ketakutan akan kehilangan pria ini, ketakutan akan ditolak, masih terlalu besar.

"Aku... aku jujur, Ton," Ekantika berbisik, suaranya serak. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Ia merasa sangat lelah.

"Kalau kamu jujur, Na," Riton melanjutkan, "kenapa kamu nggak pernah mau aku mampir ke kos-kosanmu? Kamu bilang di Tebet, tapi setiap kali aku tawarkan jemput atau mampir, kamu selalu menghindar. Sekarang, Toni ini. Jujur saja, Na. Ada apa sebenarnya?"

Mampir ke kos-kosan?Ide itu memukul Ekantika. Kos-kosan itu. Kos-kosan fiktif yang ia sebutkan sebagai alibi, tempat ia seharusnya tinggal sebagai Nana. Kos-kosan itu... tidak ada. Atau setidaknya, tidak ada yang siap dihuni oleh seorang "Nana."

"T-Ton, kos-kosanku... ya biasa aja. Mungil," Ekantika mencoba mengelak.

"Justru itu, Na. Aku pengen lihat vibe freelance designer kamu yang mandiri. Aku pengen lihat kamu yang sebenarnya," Riton berkata, ada tantangan dalam suaranya. "Kalau kamu memang nggak bohong, besok aku mau mampir ke kos-kosanmu."

Ekantika membeku. Besok. Kos-kosan. Ini adalah titik balik. Jika ia menolak, Riton pasti akan yakin ia berbohong. Jika ia menerima, ia harus menyiapkan sebuah "kos-kosan Nana" yang meyakinkan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Misi yang nyaris mustahil.

"Baik," Ekantika berkata, suaranya mengeras, membuang semua keraguan. Ia harus menghadapi ini. "Besok. Kamu datang ke kos-kosanku. Aku akan kirim alamatnya."

"Serius?" Riton terdengar terkejut. "Oke, Na. Aku tunggu. Aku harap besok aku bisa melihat Nana yang... apa adanya." Ada penekanan pada kata "apa adanya" yang terasa seperti peringatan.

Setelah menutup telepon, Ekantika segera menelepon Dimas.

"Dimas! Ke ruanganku sekarang! Ini darurat tingkat akhir!" perintah Ekantika, suaranya tajam dan penuh keputusasaan.

Dimas, yang sudah standby, segera masuk dengan wajah pucat. "Bu? Ada apa lagi? Riton sudah tahu soal Toni?"

"Lebih buruk dari itu, Dimas," Ekantika berkata, menjatuhkan diri ke sofa. "Riton mau datang ke kos-kosanku besok. Kos-kosan Nana! Dia mau membuktikan kejujuranku! Dan dia bilang kalau semua kebetulan ini bikin dia curiga!"

Dimas menganga. "Kos-kosan? Besok? Bu, kita nggak punya kos-kosan!"

"Aku tahu itu, Dimas! Makanya ini darurat! Kamu harus mencari kamar kos yang kosong di Tebet, yang siap huni, dalam waktu kurang dari 24 jam! Sekarang juga!" Ekantika menjerit, frustrasinya memuncak. "Pokoknya cari! Sewa satu kamar kos yang mirip dengan deskripsi Nana, yang sederhana, tapi terlihat nyaman!"

Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mencari kos-kosan dalam waktu semalam, Bu? Itu... itu gila! Mana ada yang langsung kosong dan siap huni? Apalagi di Tebet!"

"Aku tidak peduli itu gila atau tidak mungkin, Dimas! Kamu bilang kamu penyihir teknologi, kan? Sekarang buktikan sihirmu! Aku butuh kos-kosan itu. Aku butuh kamar itu bersih, ada kasur, meja belajar, rak buku, barang-barang desainer lepas yang realistis! Apa saja! Dalam 30 menit, aku butuh kamu menyewa kos-kosan itu!" Ekantika berdiri, melangkah mendekat ke Dimas, tatapan matanya mengancam. "Lakukan, Dimas! Atau... ini tamat."

Dimas menatap mata Ekantika. Ia melihat ketakutan yang mendalam di sana, namun juga determinasi yang membara. Ia tahu Ekantika tidak main-main. Reputasi, karier, dan mungkin juga hatinya, benar-benar bergantung pada "kos-kosan Nana" ini.

"Baik, Bu," Dimas mengangguk, suaranya tegang. "Saya akan mencari sekarang. Saya akan mengerahkan semua teman saya di agen properti online. Tapi Ibu harus tahu, ini akan sangat mahal dan... tidak menjamin."

"Lakukan saja, Dimas!" Ekantika mendesak.

*

Beberapa jam berlalu dengan begitu cepat. Ekantika tidak bisa tenang. Ia mondar-mandir di apartemennya, menunggu kabar dari Dimas. Setiap dering ponsel membuatnya terlonjak. Ini adalah pertaruhan terbesar dalam skenario kebohongannya. Sebuah kos-kosan fisik untuk persona virtual.

Akhirnya, ponselnya bergetar. Nama Dimas muncul.

"Bagaimana, Dimas? Ketemu?" Ekantika bertanya, suaranya tercekat.

"Ketemu, Bu!" Dimas terdengar sedikit terengah-engah, seolah baru saja berlari maraton. "Saya menemukan satu! Di gang belakang Kopi Senja tempat Ibu kencan dulu! Namanya 'Kos Pelangi Tebet'. Kebetulan ada satu kamar yang baru saja kosong karena penghuni sebelumnya mendadak pulang kampung. Pemiliknya bilang bisa langsung ditempati, tapi... butuh sedikit sentuhan."

"Sentuhan apa? Maksudmu harus diisi perabotan?"

"Bukan hanya perabotan, Bu. Pemiliknya bilang kamar itu masih sedikit berantakan. Kami harus bersih-bersih dan isi dalam waktu singkat. Saya sudah minta bantuan beberapa teman saya untuk beli perabotan minimalis dan aksesoris khas Nana. Saya akan ke sana langsung sekarang!"

"Kamu gila, Dimas! Bagaimana bisa secepat itu?"

"Kita harus gila, Bu, kalau mau menyelamatkan Ibu! Saya sudah sewa mobil bak terbuka untuk angkut barang. Pokoknya Ibu kirimkan alamatnya ke Riton. Saya akan pastikan kamar kos itu siap pada waktunya!" Dimas berbicara dengan kecepatan kilat, penuh tekad.

Ekantika mengembuskan napas panjang. Ini dia. Aku mempertaruhkan segalanya. Ia mengirimkan alamat Kos Pelangi Tebet kepada Riton. Jantungnya berdebar kencang saat pesan itu terkirim.

"Besok jam empat sore," tulisnya. "Kamu jangan telat ya."

Riton membalas singkat: "Siap, Na. Aku datang."

Sisa malam itu dihabiskan Ekantika dalam kegelisahan. Ia mencoba tidur, namun setiap kali ia memejamkan mata, ia membayangkan Dimas dan teman-temannya sibuk mengisi kamar kos kosong itu, mengecat dinding, menata barang-barang, semuanya demi sebuah kebohongan yang semakin rumit. Apakah ini semua sepadan?

Pagi harinya, Ekantika mencoba tampil sesantai mungkin sebagai Nana. Ia memilih pakaian yang ia beli di thrift shop: kaus oversized warna pastel dan celana jeans longgar. Riasannya sangat tipis, rambutnya digerai berantakan alami. Ia ingin terlihat "apa adanya," persis seperti yang Riton inginkan.

Dimas menelepon menjelang siang.

"Bagaimana, Dimas?"

"Kosnya hampir siap, Bu! Tapi... ada sedikit kendala," Dimas terdengar ragu.

"Kendala apa lagi?" Ekantika bertanya, suaranya menipis.

"Kamar sebelah, Bu. Penghuninya pulang terlambat. Suaranya agak berisik. Saya sudah bilang ke Ibu Kos untuk bilang itu lagi renovasi kalau Riton bertanya," Dimas menjelaskan. "Tapi secara umum, kamarnya sudah mirip kos-kosan Nana yang sederhana, kreatif, dan chill."

"Bagus. Pastikan tidak ada yang mencurigakan. Jangan sampai ada jejak aku atau perusahaan di sana!" Ekantika mengingatkan.

"Siap, Bu! Ibu datang aja nanti. Saya sudah siapkan semuanya!" Dimas berjanji.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!