Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22. kembali ke kosan
"Mau diantar ke mana, Mbak?" tanya supir taksi itu saat mereka berjalan cukup jauh dari rumah Maya
Maya mulai gelisah. Ia lupa, saking emosi dan terburu-buru keluar rumah, ia tak sempat membawa dompet atau bahkan sekadar uang tunai. Detak jantungnya makin cepat, apalagi saat melirik ke argo taksi yang terus bergerak. Maya berfikir keras, lalu teringat pada temannya Putri.
"Ke jalan Ruslani, Pak," ucap Maya, mencoba tetap tenang meski keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Maya yakin, Putri pasti akan membantunya.
Sang sopir taksi hanya mengangguk dan mengarahkan mobil menuju rumah yang dimaksud. Sepanjang jalan, Maya terus memikirkan kemungkinan terburuk, bagaimana kalau Putri tak di rumah? Bagaimana ia harus membayar?
Dan benar saja. Begitu taksi berhenti di depan rumah bercat biru muda itu, suasana tampak sepi. Gerbang tertutup rapat, dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Maya turun sejenak, menekan bel, memanggil pelan, lalu keras, namun nihil. Tak ada siapa-siapa.Tak ada respon dari dalam.
Dengan wajah cemas, Maya kembali ke dalam taksi. Ia menggigit bibirnya keras, nyaris putus asa. Matanya beberapa kali mencuri pandang pada sang supir.
"Ish.. gimana, dong?!" Maya terus berfikir.
"Sekarang, mau ke mana, Mbak?"
Lalu, satu nama muncul di kepalanya, Chris. Ia menghela napas, tak ada pilihan lain. Dengan malu-malu, ia menatap sopir melalui kaca spion.
"Pak, antar saya ke perumahan Jogja Town House."
Sopir taksi itu mengangguk lagi, tanpa banyak bicara. Maya bersandar di kursi, matanya memandang ke luar dengan nanar. Jantungnya kembali berdebar. Ini benar-benar bukan hari yang mudah. Dan sekarang, satu-satunya harapan adalah pria yang baru saja membuat hatinya campur aduk, Chris.
...****************...
"Udah siap belum?" Alif membuka pintu kamar Chris dan bertanya padanya. Chris menoleh sekilas saat ia baru saja memakai kaos polosnya.
"Hm.." Chris hanya bergumam sambil meraih jaket bomber hitamnya yang tergantung di dalam lemari.
Saat Chris berniat mengambil jam tangannya, matanya jatuh ke sebuah tas selempang putih yang tergeletak di atas meja. Tas milik Maya.
Chris menggelengkan kepalanya, lalu melangkah keluar kamar diikuti oleh Alif di belakangnya.
"Kali ini gue mau ke Karlita." Alif menyebut nama cafe kepada Chris saat mereka telah berjalan berdampingan.
"Gue udah bosen di sana. Kita ke Taurus Cafe," balas Chris tanpa kompromi.
Alif mendengus tanpa mampu menolak, karena ia tahu saat ini Chris tidak sedang dalam kondisi bersahabat.
"Eh, tungguin gue dong! Anjir!" Riski berlari dari atas tangga dengan nafas ngos-ngosan.
"Jangan lupa kunci pintunya, Ki!" teriak Alif pada si Riski.
"Anjir! Kenapa gue mulu sih, yang disuruh ngunciin pintu?!" gerutu Riski saat masuk ke kursi penumpang.
Chris yang masih berada di luar, memilih untuk masuk paling terakhir. Saat Chris bersiap untuk masuk ke mobil, saat itulah ia melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan kosnya. Chris melepaskan genggaman pada pintu mobilnya dan melihat siapa yang akan keluar dari taksi itu.
Alif dan Riski yang sudah siap pun ikut menoleh, penasaran siapa yang datang.
Chris terkejut. Ia refleks menutup pintu mobilnya kembali dan berjalan mendekati gadis berpakaian serba putih itu.
"Maya?"
Dari dalam taksi, terlihat sosok Maya keluar dengan langkah ragu-ragu. Penampilannya begitu sederhana kaos putih berlengan pendek, rok jeans putih selutut, dan yang paling mencolok, sandal jepit murahan yang warnanya sudah pudar. Rambutnya di urai seperti biasa, tanpa riasan. Tidak ada aksesoris apapun yang Maya pakai. Wajahnya tampak lelah, seperti sudah menempuh perjalanan panjang.
Chris terdiam. Matanya menatap Maya tanpa kedip. Kenapa dia datang ke sini? Dan... dengan penampilan seperti itu? batinnya bertanya-tanya, merasa ada yang tidak biasa. Maya yang dikenalnya selalu menjaga penampilan, rapi, bersih, bahkan ketika sedang santai pun tetap terlihat niat. Tapi sekarang... ia terlihat seperti seseorang yang kabur dari rumah.
Alif menyikut lengan Chris pelan. "Bro, itu bukannya... Maya?"
"Kayaknya sih," gumam Riski sambil memiringkan kepala, "tapi kok... kayak habis lari dari pengungsian?"
"Kenapa?"
Chris melihat senyum lega di wajah Maya. Bahkan saat gadis itu meraih lengannya, ia merasakan ada sesuatu yang membuatnya terganggu.
"A- aku lupa nggak bawa uang. Tolong kamu bayarin.."
"Apa?"
Chris melihat ke belakang tubuh Maya dan melihat supir taksi yang tampak curiga, takut jika Maya tidak bisa membayar tagihannya. Chris kembali mengalihkan matanya kepada Maya, lalu berjalan ke tempat sang supir taksi, dan memberikan dua lembar uang seratus ribu kepadanya.
"Kamu mau pergi, ya?"
Chris menoleh dan menatap Maya lama, lalu mengalihkannya lagi saat merasakan sensasi lain di dalam dirinya karena kehadiran Maya.
Sedangkan Maya memandangi Chris dari ujung kepala hingga kaki, alisnya bertaut pelan. Jaket favorit Chris terlihat baru disetrika, kaus putih bersih membingkai tubuhnya dengan sempurna, dan sepatu sneakers-nya tampak mengilap. Bahkan aroma parfum maskulin menyusup ke udara, menusuk inderanya yang sensitif.
"Nggak."
“Bohong! Pakaian kamu rapi terus wangi lagi!" jawab Maya datar, menatap lekat-lekat wajah Chris.
Chris agak salah tingkah, menyadari sorot curiga Maya yang tidak bisa dia hindari. Ia tersenyum santai, mencoba terlihat tak bersalah. "Alif sama Riski yang mau pergi."
Chris berkata sambil berjalan ke arah mobil Pajero nya. Ia melemparkan kunci mobilnya kepada Alif, sambil berbisik pelan yang hanya bisa didengar oleh kedua temannya. "Gue nggak jadi ikut."
Alif menyipitkan mata. " Lo mau nge-date sama Maya di kos? Cuma berdua? Jangan-jangan..."
Celetukan Alif ternyata terdengar sampai ke telinga Maya.
"Anjing! Diem lo!" Chris melemparkan tatapan sangarnya kepada Alif.
Alif hanya mengangkat bahu. "Oke. Oke! Kita pergi. Jangan sensi gitu, dong!"
Alif langsung menstarter mobil Chris dan akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Masuk, May. Di luar dingin." Chris mengajak Maya masuk ke dalam kosnya, tetapi Maya enggan. Ucapan Chris itu membuat Maya makin waspada.
“Nggak mau." Maya masih berdiri kaku dengan tangan meremas ujung roknya.
Chris tidak menyangka kalau kesehariannya, Maya memang selalu memakai dress selutut. 'Apa gaya berpakaian Maya memang seperti itu?'
Chris menahan napas sejenak. "Aku janji nggak akan ngelakuin yang macam-macam sama kamu," Namun berikutnya, senyum jahil kembali muncul menghiasi wajah tampan Chris, "kecuali kamu sendiri yang memintanya."
Maya mencubit lengan Chris. "Ish! Dasar mesum!"
"Sakit, Honey." Chris meringis kesakitan.
Maya mendengus pelan, "Rasaiin! Lebih baik, kamu antar aku pulang sekarang."
"Loh, kenapa pulang? Bukankah kamu sendiri yang kesini? Itu artinya kamu ingin bertemu dengan ku, kan?" tanya Chris masih dengan nada menggoda.
"I- itu karena..."
"Karena merindukan ku?"
"Ish, bukan!" Maya kembali memukul lengan Chris, dan lelaki itu hanya tertawa.
"Kalau begitu, ayo masuk. Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, aku yakin kamu pasti suka." Chris masih membujuk Maya agar mau masuk ke dalam.
"Apa itu?"
"Kamu akan tahu setelah melihat sendiri." Tanpa aba-aba, Chris menggandeng tangan Maya dan menuntunnya masuk.
Maya yang masih ingat menolak, tidak dibiarkan untuk pergi. Namun sesuatu dalam tatapan Chris membuat Maya memilih untuk diam. Meski ia tahu, Chris tidak akan mungkin berbuat macam-macam padanya. Dan itu membuat hatinya terasa... nyaman.