NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADAPTASI TERMAL DAN KESEIMBANGAN SURABAYA

Surabaya menyambut keluarga Dirgantara dengan suhu udara yang konsisten berada di angka 34°C. Bagi Devan, ini adalah tantangan termodinamika; bagi Kania, ini adalah alasan tambahan untuk merasa mual di pagi hari. Namun, hidup tidak memberi mereka waktu untuk sekadar mengeluh tentang kelembapan udara.

Di hari pertama Kania resmi berkantor sebagai Senior Associate di firma hukum cabang Surabaya, Devan berdiri di depan cermin, mencoba memasangkan dasi sambil memegang botol susu Arlo dengan jepitan ketiak yang sangat tidak higienis menurut standar bedah saraf.

"Kania, secara statistik, paparan panas di kota ini dapat meningkatkan risiko dehidrasi sebesar 20% dibandingkan Jakarta. Pastikan kamu membawa botol minum yang saya siapkan di tasmu," ujar Devan dengan nada instruksi medis.

Kania muncul dari kamar mandi, mengenakan setelan kerja berwarna hijau mint yang tampak kontras dengan wajahnya yang sedikit pucat. "Iya, Dok. Botol minumnya sudah masuk, biskuit anti-mual sudah masuk, dan mental 'pengacara galak' juga sudah aktif. Dokter sendiri gimana? Hari pertama di universitas, kan?"

Devan merapikan kerahnya. Hari ini ia bukan lagi dokter bedah yang menghabiskan 18 jam di ruang operasi. Ia adalah Dokter Konsultan dan Dosen Tamu di Fakultas Kedokteran salah satu universitas ternama di Surabaya. "Saya sudah memetakan rute tercepat menuju kampus. Jika tidak ada hambatan pada sistem lalu lintas lokal, saya akan sampai dalam 15 menit."

Dunia kampus memberikan ritme yang berbeda bagi Devan. Jika di ruang operasi ia berhadapan dengan instrumen yang diam, di ruang kuliah ia berhadapan dengan ratusan mahasiswa yang menatapnya dengan pandangan antara kagum dan ketakutan.

"Bedah saraf bukan tentang seberapa cepat Anda memotong," suara Devan menggema di auditorium yang dingin oleh AC. "Tapi tentang seberapa dalam Anda memahami bahwa setiap milimeter jaringan yang Anda sentuh adalah memori, kepribadian, dan nyawa seseorang. Jika tangan Anda gemetar karena kurang persiapan, silakan keluar dari ruangan saya sekarang."

Di tengah kewibawaannya, ponsel Devan yang berada di atas podium bergetar. Sebuah notifikasi dari kamera pemantau bayi di rumah (yang kini dijaga oleh seorang perawat anak baru bernama Mbak Siti). Devan melirik layar kecil itu sejenak. Arlo sedang duduk di karpet, mencoba memasukkan potongan lego ke dalam hidungnya.

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Devan mengetik pesan singkat di bawah meja podium.

Devan: Siti, tolong jauhkan objek kecil radius 1 meter dari Arlo. Risiko aspirasi benda asing.

Mahasiswa di barisan depan saling berbisik, "Wah, dr. Devan lagi chatting sama siapa ya? Serius banget mukanya, pasti soal riset internasional."

Mereka tidak tahu bahwa sang legenda bedah saraf itu sedang melakukan operasi penyelamatan hidung dari balok plastik.

Sementara itu, Kania menemukan bahwa Surabaya memiliki kultur kerja yang berbeda. Rekan-rekan barunya jauh lebih santai secara interpersonal, namun sangat agresif dalam urusan bisnis.

"Mbak Kania, selamat bergabung. Ini berkas sengketa pelabuhan yang harus kita tinjau. Klien kita ingin ini selesai dalam dua minggu," ujar rekan barunya, seorang pria asli Surabaya bernama Bondan.

Kania menatap tumpukan berkas itu. Perutnya tiba-tiba bergejolak. Aroma kopi di ruangan itu mendadak terasa seperti bau belerang baginya. "Terima kasih, Pak Bondan. Saya akan segera pelajari. Oh, boleh saya minta tolong?"

"Apa itu, Mbak?"

"Tolong jauhkan gelas kopi itu dari meja saya? Sedikit... terlalu kuat aromanya untuk asisten kecil saya di dalam sini," Kania tersenyum sambil mengusap perutnya yang mulai sedikit menonjol.

Bondan tertawa lebar. "Oalah, lali aku! Siap, Mbak. Di sini kita kerja keras, tapi keselamatan keponakan baru tetap nomor satu."

Minggu-minggu awal di Surabaya menjadi ujian adaptasi bagi mereka. Devan sering kali pulang dengan baju yang basah oleh keringat setelah berjalan di koridor kampus yang semi-terbuka, sementara Kania harus berjuang melawan kelelahan fisik di tengah tuntutan karier barunya.

Suatu malam, ketegangan memuncak saat Arlo mengalami kesulitan tidur karena cuaca Surabaya yang gerah, meski AC sudah dinyalakan. Arlo terus menangis, dan Kania yang baru pulang lembur merasa hampir meledak.

"Dok, kenapa AC-nya nggak kerasa sih? Arlo keringetan terus!" seru Kania dengan nada frustrasi.

Devan mendekat, memeriksa suhu ruangan dengan termometer infra merah. "Suhu ruangan sudah berada di angka 22°C, Kania. Secara fisiologis, ini sudah optimal. Masalahnya bukan pada termoregulasi ruangan, tapi pada tingkat stres kolektif kita."

Kania terduduk di pinggir tempat tidur, menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aku capek, Dok. Surabaya panas, kerjaan numpuk, Arlo rewel... aku ngerasa kita salah langkah buat pindah ke sini."

Devan terdiam. Ia meletakkan Arlo yang sudah mulai tenang di gendongannya, lalu duduk di samping Kania. Ia tidak membantah dengan data, tidak juga memberikan diagnosa. Ia hanya merangkul bahu Kania dan menariknya ke dalam pelukannya.

"Adaptasi selalu membutuhkan energi aktivasi yang besar, Kania. Seperti reaksi kimia," bisik Devan. "Surabaya memang panas, tapi kota ini memberikan kamu posisi yang pantas kamu dapatkan. Besok adalah hari Sabtu. Kita tidak akan menyentuh berkas atau jurnal. Kita akan mencari tempat paling dingin di kota ini, atau kita diam di dalam kolam renang seharian."

Kania terisak pelan. "Maaf ya, Dok. Aku sensitif banget hamil kali ini."

"Tidak apa-apa. Secara hormonal, kamu sedang berada di puncak kurva emosional. Tugas saya adalah menjadi penyeimbangnya."

Keesokan harinya, Devan membuktikan ucapannya. Ia membawa Kania dan Arlo ke sebuah kawasan di pinggiran Surabaya yang memiliki banyak pepohonan dan udara lebih segar. Mereka menghabiskan waktu di sebuah kafe outdoor yang memiliki kipas angin uap besar.

Arlo tampak sangat bahagia melihat kolam ikan koi, sementara Kania mulai bisa menikmati jus jeruk dinginnya tanpa rasa mual.

"Dok, lihat deh," Kania menunjuk ke arah Arlo yang sedang mencoba berkomunikasi dengan ikan koi menggunakan bahasa bayi yang tidak dimengerti siapa pun.

Devan tersenyum, menyesap teh melati dinginnya. "Dia sedang melakukan observasi biologis."

"Masih aja bahasa medisnya keluar," Kania tertawa.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampiri meja mereka. Wajahnya tampak ragu-ragu. "Maaf... apa ini dr. Devan Dirgantara dari Jakarta?"

Devan menatap pria itu, instingnya langsung waspada. "Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu?"

"Dokter... saya ayah dari pasien yang Dokter operasi lima tahun lalu di Medika Utama. Anak saya yang dulu kena tumor batang otak. Kami pindah ke Surabaya setahun lalu. Saya tidak menyangka bisa bertemu Dokter di sini!" pria itu tampak sangat emosional.

Devan mencoba mengingat-ingat. Memorinya memindai ribuan kasus, hingga ia menemukan satu titik. "Rizky? Anak laki-laki yang suka menggambar pesawat?"

"Iya, Dok! Rizky sekarang sudah SMP, dia juara kelas dan ikut klub basket. Dia selalu bilang ingin jadi dokter seperti Dokter Devan."

Mata Kania berkaca-kaca melihat interaksi itu. Devan bersalaman erat dengan pria tersebut, memberikan beberapa saran kesehatan singkat, dan tersenyum tulus sebuah senyum yang kini jauh lebih sering muncul daripada saat ia masih menjadi "Dokter Es" di Jakarta.

Setelah pria itu pergi, Kania menggenggam tangan Devan. "Lihat kan, Dok? Di mana pun Dokter berada, kebaikan Dokter selalu ngikutin. Surabaya mungkin panas, tapi hati orang-orang di sini hangat buat Dokter."

Devan menatap istrinya, lalu beralih ke Arlo, dan terakhir ke perut Kania. "Kamu benar. Adaptasi termal kita mungkin sulit, tapi secara sistemik, kita berada di jalur yang benar. Dan sepertinya... saya mulai menyukai Surabaya."

Malam itu, mereka pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih ringan. Surabaya tidak lagi terasa seperti kota asing yang membakar kulit, melainkan seperti lembaran baru yang siap mereka tulis dengan cerita-cerita yang lebih hangat, lebih berisik, dan tentu saja, penuh dengan cinta yang tidak terbatas oleh suhu udara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!