Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Melawan Trauma demi Sang Pemilik Hati
Devan berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, menatap Aiswa yang masih mematung di tengah area parkir. Gadis itu tampak seperti kehilangan separuh jiwanya setelah semua kejadian hari ini.
"Aiswa, mau sampai kapan kamu berdiri di sana seperti patung selamat datang? Masuk," tegur Devan dengan nada memerintah.
Aiswa tersentak. Ia menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan cepat menuju mobil. Namun, karena aspal yang licin akibat sisa hujan dan pikirannya yang sedang kalut, langkah Aiswa goyah. Ia terpeleset.
"Aakh!"
Dengan gerak refleks yang luar biasa sigap, Devan menangkap tubuh mungil itu sebelum menyentuh tanah. Aiswa jatuh tepat di pelukan Devan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan, ekspresi wajah Devan yang tadinya dingin mendadak berubah tegang. Ada panas yang tidak wajar merambat dari tubuh Aiswa ke telapak tangannya.
Devan menempelkan punggung tangannya ke kening Aiswa.
Panas. Gadis ini demam tinggi.
Tanpa berkata-kata lagi, Devan langsung menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Aiswa, mengangkatnya dalam satu gerakan mantap.
"Eh! Bapak! Turunin! Saya bisa jalan sendiri!" protes Aiswa lemah, tenaganya sudah terkuras habis.
Devan tidak membalas. Ia memasukkan Aiswa ke kursi penumpang dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang memindahkan barang pecah belah yang sangat mahal. Ia memasangkan sabuk pengaman, memastikan posisi duduk Aiswa nyaman.
"Sebelum pulang, kita ke rumah sakit dulu," putus Devan mutlak.
Aiswa hanya bisa melongo.
"Apa? Nggak perlu, Pak! Cuma pusing dikit, dibawa tidur juga sembuh. Saya mau pulang!"
Devan mengabaikan protes itu. Ia menutup pintu mobil dengan keras lalu masuk ke kursi pengemudi. Sikap otoriter pria ini benar-benar membuat Aiswa ingin meledak, tapi rasa pening yang menghantam kepalanya membuat ia hanya bisa bersandar pasrah pada kursi kulit mobil tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Devan terus mencengkeram kemudi dengan sangat kuat. Rahangnya mengeras. Rumah sakit adalah tempat yang paling ia hindari di dunia ini penjara bagi trauma masa lalunya.
Namun, melihat wajah pucat Aiswa dan mendengar napas gadis itu yang mulai memberat, rasa takutnya kalah oleh keinginan untuk memastikan gadis ini baik-baik saja.
Sesampainya di sana, Devan turun dengan langkah yang sedikit gemetar, namun ia tetap terlihat tangguh. Setelah diperiksa, dokter menyatakan Aiswa hanya mengalami demam akibat kelelahan dan kehujanan. Dokter meresepkan beberapa obat dan vitamin tambahan.
Begitu kembali ke mobil, Devan menyodorkan sebotol air mineral dan obat.
"Minum sekarang. Jangan membantah kalau kamu tidak mau saya panggilkan suster untuk menyuapimu secara paksa."
Aiswa hanya mencebik, namun ia tetap menelan obat itu. Efek obat penurun panas dan kelelahan yang luar biasa perlahan membuat kelopak mata Aiswa terasa berat. Tak butuh waktu lama, ia terlelap dalam tidurnya yang gelisah.
Melihat Aiswa sudah tertidur, Devan barulah bisa menarik napas panjang. Ia merogoh saku jasnya, mengambil obat penenang yang selalu ia bawa, lalu menelannya dengan sisa air mineral tadi.
Cukup lama ia menahan sesak di dadanya selama berada di dalam gedung rumah sakit tadi. Trauma kehilangan masih membayangi, namun anehnya, kehadiran Aiswa di sisinya menjadi jangkar yang membuatnya tetap berpijak pada kenyataan.
Devan kembali fokus mengemudi, melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai mengering. Salah satu tangannya bergerak, meraih tangan Aiswa yang terkulai lemas dan menggenggamnya perlahan.
Genggaman itu lembut, namun sangat posesif.
Entah mengapa, merasakan denyut nadi Aiswa di telapak tangannya memberikan energi positif yang luar biasa bagi Devan. Ketakutannya perlahan sirna, digantikan oleh ambisi yang semakin kuat.
"Kamu mungkin membenci saya sekarang, Aiswa," bisik Devan lirih sambil menatap wajah tenang gadis itu di balik cahaya lampu jalan yang temaram.
"Tapi saya tidak peduli seberapa keras kamu berusaha lari. Kamu adalah energi saya, dan saya tidak akan pernah melepaskan sumber kehidupan saya sendiri."
Bagi Devan, tidak peduli seberapa besar kebencian yang terpancar dari mata Aiswa, selama gadis itu ada di dalam jangkauannya, itu sudah cukup. Aiswa adalah miliknya, dan takdir apa pun yang mencoba memisahkan mereka akan ia hancurkan tanpa sisa.