Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam yang Belum Selesai
Malam itu belum benar-benar berakhir. Suara tembakan masih menggema di seluruh markas Retno, bercampur dengan langkah kaki yang berlarian dan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Di tengah kekacauan itu, satu hal terasa jelas, pertarungan ini bukan lagi sekadar tentang bisnis, kekuasaan, atau dendam lama. Semuanya sudah berubah menjadi pertarungan untuk bertahan dan melindungi orang yang paling penting bagi mereka.
Rakha kembali menghantam wajah Retno dengan keras hingga pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
Tubuh Retno membentur meja besar di belakangnya. Napas Rakha memburu. Emosinya sudah terlalu lama dipendam selama sepuluh tahun terakhir.
“Ini buat ayah gue!” bentak Rakha penuh amarah.
Retno menyeringai kecil sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Bahkan dalam keadaan terdesak, pria itu masih terlihat santai.
“Cuma segini?” ejeknya pelan.
Rakha langsung kembali maju, namun kali ini Retno berhasil menahan pukulannya dan membalas menghantam perut Rakha cukup keras hingga Rakha terdorong ke belakang.
Zayn yang sejak tadi menahan serangan anak buah Retno langsung menoleh, “Rakha!”
Namun Rakha segera berdiri lagi sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah, “Gue belum selesai sama lo, pak tua bajingan.”
Retno tertawa rendah. Tatapannya bergantian menatap Rakha dan Zayn.
“Menarik…” gumamnya santai.
“Dua bocah yang saling benci bertahun-tahun sekarang malah kerja sama.”
Zayn berjalan mendekat perlahan. Pistol masih berada di tangannya, tapi tatapannya jauh lebih berbahaya dibanding senjata itu sendiri.
“Semua gara-gara lo” ucap Zayn dingin.
Retno mengangkat alis, “Dan kalian cukup bodoh buat percaya.”
Rakha langsung kembali menghajar Retno tanpa menunggu lagi. Pukulannya kali ini lebih brutal dari sebelumnya. Semua amarah yang selama ini ia tahan seolah benar-benar meledak malam itu.
Retno jatuh berlutut sesaat. Namun pria itu malah tertawa pelan.
Rakha semakin kesal melihat ekspresi itu, “Masih bisa ketawa?”
Retno mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya mulai berubah dingin, “Kalian pikir setelah malam ini semuanya selesai?”
Kalimat itu membuat suasana terasa semakin menekan.
Sementara di luar ruangan, suara tembakan masih terus terdengar tanpa henti. Anak buah Zayn dan Retno masih saling menyerang di lorong markas.
Evan masuk sambil menembak salah satu pria yang mencoba menyerang dari belakang.
Pria itu langsung jatuh.
“Bos! Anak buah dia makin sedikit!” teriak Evan.
Zayn mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangan dari Retno.
Keadaan mulai berbalik.
Anak buah Retno perlahan kalah jumlah.
Rakha tersenyum miring penuh emosi, “Lo kalah.”
Namun Retno justru ikut tersenyum.
Dan itu membuat Zayn langsung merasa ada yang tidak beres.
Tatapan pria tua itu terlalu tenang untuk seseorang yang sedang kalah.
Dalam beberapa detik, tangan Retno perlahan bergerak ke balik jas hitamnya.
Zayn langsung menyadarinya lebih dulu.
“Rakha, mundur!” bentak Zayn.
Tapi semuanya terjadi terlalu cepat.
Retno mengeluarkan pistol dan langsung mengarahkannya ke Rakha dengan tatapan penuh kebencian.
Belum sempat peluru terlepas sempurna, Zayn langsung menendang tangan Retno dengan keras.
Pistol itu terlempar jauh ke lantai.
Rakha terdiam sesaat karena kaget.
Sedangkan Retno langsung menatap Zayn penuh amarah.
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi santainya benar-benar hilang.
Zayn berjalan mendekat pelan. Rahangnya mengeras, “Main licik terus ya…” ucapnya dingin.
Retno baru saja ingin menyerang lagi, tapi Rakha lebih dulu menghantam wajahnya.
Retno jatuh cukup keras ke lantai.
Rakha langsung menarik kerah pria itu dan memukulnya berkali-kali tanpa memberi kesempatan bangkit.
“Sepuluh tahun…” ucap Rakha penuh emosi.
“Sepuluh tahun gue hidup buat balas dendam!”
“Dan ternyata semua gara-gara lo!”
Retno akhirnya mendorong Rakha cukup keras hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Napas mereka sama-sama berat.
Ruangan itu berubah berantakan. Meja terbalik. Pecahan kaca berserakan. Darah menetes di beberapa sudut lantai.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar berhenti.
Retno berdiri perlahan sambil menyeka darah di bibirnya. Meski wajahnya mulai lebam, sorot matanya masih penuh ancaman.
“Kalian memang sama seperti ayah kalian…” kata Retno pelan.
Rakha mengernyit marah, “Jangan bawa ayah gue!”
Retno tertawa kecil, “Terlalu kuat.”
“Terlalu sulit dihancurkan.”
Zayn menatap tajam pria itu, “Makanya lo pake cara pengecut.”
Kalimat itu membuat wajah Retno berubah dingin, “Pengecut?” ulangnya pelan.
Tiba-tiba ia mengambil pisau kecil dari balik pinggangnya dan menyerang Zayn dengan cepat.
Namun Zayn berhasil menahan pergelangan tangan Retno sebelum pisau itu mengenai tubuhnya.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sesaat, suasana terasa benar-benar menegangkan.
Zayn memutar tangan Retno cukup keras hingga pisau itu jatuh.
Rakha langsung menendang pisau itu menjauh.
Retno mulai kesulitan melawan dua orang sekaligus.
Napasnya memburu.
Tapi anehnya, pria itu masih sempat tersenyum, “Kalau gue jatuh…”
Tatapannya berpindah ke arah Zayn.
“Hidup kalian juga nggak bakal tenang.”
Zayn mengernyit tipis.
Namun sebelum ada yang sempat bereaksi, tiba-tiba lampu markas mati total.
Ruangan langsung gelap.
“Brengsek!” suara Rakha terdengar.
Beberapa detik kemudian suara ledakan kecil terdengar dari arah luar.
Asap mulai masuk ke dalam ruangan.
Evan langsung masuk sambil batuk pelan, “Bos! Ada yang sengaja ledakin bagian bawah!”
Situasi berubah kacau dalam sekejap.
Suara langkah kaki terdengar dari berbagai arah.
Zayn langsung sadar, “Retno kabur!”
Rakha langsung mencoba mengejar ke arah gelap, tapi Zayn menahannya.
“Rakha! Jangan gegabah!”
“Lepas!” bentak Rakha.
Namun Zayn menahan tangan Rakha erat sebelum akhirnya berkata, “Aurora lebih penting sekarang.”
Kalimat itu membuat Rakha terdiam beberapa detik.
Sementara di sisi lain lorong markas, sosok Retno terlihat berjalan tertatih ditemani dua anak buahnya. Wajahnya penuh luka, tapi matanya masih dipenuhi kebencian.
“Pak, kita harus pergi sekarang!” ucap salah satu anak buahnya panik.
Retno menoleh ke belakang sebentar. Tatapannya gelap, “Ini belum selesai…” gumamnya pelan.
Lalu ia pergi menghilang ke dalam gelap malam.
Di luar markas, suasana masih kacau.
Lynda berdiri di dekat mobil sambil memperhatikan keadaan sekitar dengan tenang. Cahaya api samar memantul di wajah cantiknya.
Tatapannya sempat menangkap sosok Retno yang kabur dari sisi belakang markas.
Ia melihatnya dengan jelas. Namun Lynda hanya diam. Tidak mengatakan apa pun.
Beberapa detik kemudian, ia kembali menoleh ke arah Aurora yang masih tertidur di dalam mobil.
Tatapannya berubah tipis.
Sulit ditebak.
Sementara itu, Zayn akhirnya keluar dari markas bersama Rakha dan Evan.
Napas Zayn masih berat. Tangannya sedikit berdarah akibat pertarungan tadi.
Namun saat matanya melihat Aurora masih aman di dalam mobil, sebagian beban di dadanya perlahan menghilang.
Zayn membuka pintu mobil belakang pelan lalu menatap wajah Aurora beberapa detik.
Aurora masih tertidur karena efek obat bius.
Zayn mengusap pelan rambut Aurora yang sedikit berantakan, “Kamu aman… Flora” gumamnya lirih.
Dan malam itu, meski dendam sepuluh tahun akhirnya mulai terungkap, satu hal juga ikut berubah tanpa mereka sadari.
Permainan baru baru saja dimulai.