NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Amara menyadari satu hal: setiap kali Bethany bertemu dengan Tobias, Bethany pasti akan mengomel panjang lebar setelahnya.

"Beraninya dia! Benar-benar membuatku naik darah," gerutu Bethany. Tangannya mencengkeram setir dengan kuat saat ia mengemudi. "Maksudku, apa hak dia sampai berani ikut campur urusanmu? Apa dia tidak tahu apa itu batasan?!"

Amara tidak tahu harus menjawab apa, karena ia sendiri pun tidak punya jawabannya. Ia hanya diam, sesekali tertawa kecil. Baginya, omelan Bethany tentang kelakuan Tobias terasa lucu, namun di saat yang sama, ia setuju dengan setiap kata yang diucapkan temannya itu.

"Aku serius," lanjut wanita yang lebih tua itu dengan nada gemas. "Sepertinya dia menjadikan 'merusak hidupmu' sebagai misi utamanya. Dia itu seperti lintah—terus menempel padamu sejauh ini."

Amara tersenyum. Ia bisa merasakan betapa tulusnya kekhawatiran dan kemarahan Bethany untuknya. Hal itu menghangatkan hatinya. Untuk sejenak, sebuah pikiran melintas di benaknya:

Melanie dan Bethany punya banyak kemiripan. Rasanya mustahil jika mereka berdua tidak bisa menjadi teman akrab.

Tapi sekali lagi... Amara terkekeh sendiri membayangkan betapa ramainya hidupnya jika memiliki dua orang dengan karakter "meledak-ledak" yang sama di dekatnya. Meski begitu, ia tidak menolak ide itu.

"Dia benar-benar beruntung karena ibuku menyukainya," cetus Bethany sambil memutar setir, membelokkan mobil ke sebuah area parkir yang luas.

Amara mengerutkan kening, menyadari lingkungan di sekitarnya telah berubah. "Tunggu sebentar," pikirnya.

"Kita di mana,?" tanyanya langsung sesaat setelah mobil berhenti sempurna.

"Disco Cove," jawab Bethany singkat. Ia mematikan mesin, lalu segera keluar dari mobil.

Amara ikut turun. Matanya menyapu bangunan megah yang berdiri kokoh di depan mereka. "Ini klub eksklusif untuk kalangan VIP. Kakakku anggota di sini, jadi aku berhasil meminjam kartu aksesnya," jelas Bethany sambil melangkah penuh percaya diri menuju pintu masuk.

Begitu mereka melangkah masuk, indra Amara langsung diserbu oleh dentuman musik yang menggelegar dari pengeras suara. Lampu-lampu warna-warni tampak menari di setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang meriah.

"Selamat datang, Nona," sapa seorang pria berseragam putih bersih dengan anggukan sopan.

"Meja untuk dua orang, tolong," jawab Bethany tegas.

"Tentu saja, Nona." Pria itu memandu mereka ke sebuah meja di area yang lebih tinggi, lalu mempersilakan mereka duduk. "Silakan panggil saya jika Anda membutuhkan sesuatu. Saya akan segera datang."

"Terima kasih," jawab Bethany dengan anggukan kecil. Begitu pria itu pergi, ia langsung menoleh ke arah Amara yang sejak tadi menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Ini tempat terbaik untuk melepas penat setelah seharian stres bekerja," jelas Bethany.

Wanita yang lebih tua itu terkekeh pelan. "Aku bukan tipe orang yang suka bertele-tele, jadi langsung saja ya," mulainya. "Aku tahu belakangan ini kamu merasa stres, apalagi dengan masalahmu dan Tobias. Jadi, kupikir datang ke sini akan sedikit membuatmu tenang."

Bibir Amara melengkung, membentuk senyuman tipis yang tulus.

"Tapi tentu saja, kita bisa langsung pergi kalau kamu merasa tidak nyaman di sini," tambah Bethany cepat, tidak ingin sahabatnya itu merasa tertekan.

"Tidak, kok. Aku benar-benar tidak keberatan," Amara meyakinkannya, merasa tersentuh dengan perhatian Bethany.

Tak lama kemudian, seorang pelayan pria menghampiri meja mereka sambil membawa nampan berisi empat gelas shot.

"Ini minuman untuk Anda," ucapnya ramah. Ia memberikan satu gelas masing-masing kepada Amara dan Bethany, lalu meletakkan dua gelas sisanya di atas meja. "Selamat menikmati."

Amara dan Bethany saling lirik sejenak sebelum mengangkat gelas mereka bersamaan. "Cheers!"

Keduanya menenggak minuman itu sekaligus hingga tandas, lalu meletakkan kembali gelas kosong tersebut ke atas nampan. Setelah mengucapkan terima kasih, si pelayan pun berlalu.

"Tadi itu..." Bethany menggantung kalimatnya.

"Menyegarkan," sambung Amara dengan senyum puas.

"Setuju," sahut Bethany sambil mengangguk. Ia baru saja hendak meraih gelas kedua saat teringat sesuatu yang penting. "Oh, aku hampir lupa memberitahumu. Aku sedang mendirikan sebuah yayasan dana bantuan."

"Dana bantuan?" tanya Amara penasaran.

"Ya, khusus untuk para wanita yang baru bercerai," jawab Bethany. Perhatian Amara langsung tersita sepenuhnya, ia bahkan mengabaikan gelas keduanya.

"Berdasarkan pengalamanku sendiri, masa-masa setelah perceraian itu bisa terasa sangat... berat dan membuat depresi. Banyak wanita yang kehilangan rasa percaya diri dan semangat hidup mereka. Aku ingin memberikan wadah dukungan bagi mereka. Sebuah tempat di mana mereka bisa merasa nyaman kembali menjadi diri sendiri."

Amara mengangguk pelan, menyimak setiap detail ide menarik yang dipaparkan Bethany dengan penuh perhatian.

"Dan," ucap Bethany sambil menjangkau meja untuk menggenggam tangan Amara, "aku ingin kamu menjadi bagian penting dari yayasan ini."

Amara merasa senang mendengarnya, namun tiba-tiba rasa ragu muncul di benaknya. Ia merasa tidak yakin pada dirinya sendiri.

Bagaimana kalau aku tidak bisa memenuhi harapannya? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika aku malah mengacaukan semuanya?

"Apa kamu yakin? Maksudku... kenapa memilihku?" tanya Amara ragu.

"Seribu persen yakin. Kamu adalah contoh yang sempurna, Mara," jawab Bethany mantap. "Aku sudah melihat sendiri bagaimana kamu berjuang. Kamu adalah salah satu wanita paling percaya diri dan tangguh yang pernah kukenal. Dengan semangat dan tekadmu, aku yakin kehadiranmu sebagai 'wajah' dari yayasan ini akan membangkitkan kepercayaan diri banyak orang."

Sambil memberikan remasan lembut pada tangan Amara, Bethany menambahkan, "Kamu sudah menularkan semangat itu kepadaku. Sekarang, aku ingin membawa kebaikan yang kamu lakukan itu dan membagikannya kepada dunia. Tolong, jangan tolak kesempatan ini, Mara."

Melihat senyum yang mulai merekah di wajah Amara, Bethany sudah tahu apa jawabannya.

"Baiklah, aku bersedia."

"Yey!" seru Bethany gembira sambil melepaskan genggaman tangannya. "Ini benar-benar harus dirayakan!"

Amara meraih gelasnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Untuk yayasan dana bantuan kita."

Ting! Bethany mendentingkan gelasnya ke gelas Amara. "Untuk masa depan para wanita!"

Setelah menenggak habis minumannya, Bethany langsung berdiri dan menarik tangan Amara menuju lantai dansa. "Ayo, kita rayakan ini dengan benar!"

Amara terkekeh, ia tidak kuasa menolak tarikan tangan itu. Energi positif Bethany benar-benar menular padanya.

Malam itu pun larut dalam dentuman musik, tarian, tawa, dan alkohol.

Banyak sekali alkohol.

Setelah gelas shot ketujuh, Bethany sudah hampir mabuk berat. Amara sendiri belum sepenuhnya mabuk, tapi kepalanya mulai terasa pening. Wajahnya memerah dan gerakannya sedikit canggung, namun mereka berdua terus menari, menikmati salah satu malam terbaik di tengah hidup mereka yang biasanya menyebalkan.

Setidaknya, untuk saat ini.

"Hei, sedang cari teman ya?" Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar di samping Amara. Namun, dalam kondisi pusing, Amara tidak memedulikannya. Ia terus menari, mengabaikan sosok pria yang kini sudah berdiri di belakangnya.

Tiba-tiba, ia merasakan tangan pria itu mengusap pinggangnya. Secara naluriah, Amara langsung menepis tangan itu dengan kasar.

"Lepaskan tanganmu," peringat Amara dengan nada rendah namun tajam. "Atau kamu akan kehilangan tangan itu."

"Galak juga ya," sahut pria itu santai. Bukannya berhenti, ia malah mencoba menarik tubuh Amara agar lebih dekat dengannya.

Namun, sebelum jari-jarinya sempat menyentuh pinggang Amara lagi, sebuah tangan lain mendadak mencengkeram pergelangan tangan pria itu dan menghentikan gerakannya dengan paksa.

"Kau dengar apa yang dia katakan tadi, kan?"

Amara tersentak. Ia sangat mengenali suara itu. Saat ia berbalik, ia mendapati Tobias sudah berdiri tepat di belakangnya, menatap tajam ke arah pria kurang ajar di depannya.

"Sentuh dia sekali lagi, dan aku berjanji, tanganmu ini akan benar-benar hilang."

1
Yuli Yulianti
amara kamu perempuan yg bersifat pinplan apa apa minun yg membuk kan sekali ud mabuk bikin hal yg memalukan seolah kamu masih istri dihadapan mantan suami
nia febriyani
mantap
Virgo Non
kurang keren harusnya amarah lebih dinginlebih waspada dan lebih menghancurkan apalagi nama besar keluarganya cukup di hormati
Mundri Astuti
bethany menyesatkan nih...
tuk Amara mending kamu rehat menjauh dari hal" yg berhubungan dgn tobias dan keluarganya, klo mabuk"an malah jadi masalah baru lagi nanti klo ketemu tobias
Yuli Yulianti
lama lama muak juga liat tobias selalu ad di sekitar Amara
azzura faradiva
bosen banget dimana² si para benalu slalu nongol
Yuli Yulianti
knp sih ad tobias disekitar Amara coba dong cowok lain yg lebih berkuasa yg mendekati Amara kan nie judul kehilangan setelah bercerai masa ad mantan trus disekitar Amara
azzura faradiva
semoga saja kakaknya Bethany seorang pria dan bisa mengambil hati seorang Amara❤️💞
azzura faradiva
keren sich ceritanya,tapi masa iya Amara harus kembali lagi sama tobias nantinya🤔klo bisa untuk season skrg hadirkan pemain pria Baru yg mengisi hari² Amara biar si tobias tambah membara🔥🔥🔥
Yuli Yulianti
jgn mau kembali dgn lelaki yg telah mbuang mu Amara orang meanggap mu murahan yg slalu bisa disentuh ...
S
Lama lama Mara balikan deh itu emosi krn cemburu kan.
S
bagus
merry
herann mntn setiap gundik y dpt mslhh knp Mara yg dislhk,, hrs cari tau gundikmu itu Tobi jgn ssrhh mntn istri Menghntiknn perbuatan y,,, dan kmu Mara ud cerai jgn Mau di tdrinn lhh klo kmrin gpp krn Kena obat kyk gk pyn hrg dri ajj
lovina: gara2 baca komen ini g jd baca, otak othornya gablek
total 1 replies
S
murah dan bodoh miris srkali pewaris terkaya tp terkihat tak berharga.kemana si kakakbya
Lee Mbaa Young
nikmati saja Amara burung Tobias 🤣🤣👎. km kn bucin smp goblok.
Lee Mbaa Young
wanita selalu murah ya bgitu sprti Amara 🤣. Kl Berkelas tinggal banting saja la ini malah mapan 🤣.
S
mara bukan siapa siapa dan apa apa ternyata hanya krn proyek dia haris menyuyak harga dirinya tak sebanding dg sumpahnya yg terkesan hebat.
S
sukurin kau akan menysali tawaran Mela, mara
S
rasain berlagak sempurna.nyatanya di luar expectasi makanya bertindak preventif itu perlu kau.bukan orang super Mara.Sekali berbuat salah fatal akbatnya sdh pernah salah langkah masih sj remeh,ceroboh.
Yuli Yulianti
amara jgn mau kamu jadi tempat napsu nya melawan lah ...
Lee Mbaa Young: 🤣🤣 melawan yo eman to burung Tobias kn enak Amara menikmati kn murah dia. laki dah bgitu masih gk melawan mlh menikmati pdhl dah cerai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!