NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Antara Darah dan Keadilan

Lembah kematian di Nusakambangan menyambut pagi dengan kabut yang begitu tebal, hingga menara pengawas tampak seperti hantu yang melayang di angkasa. Arkan Xavier berdiri di depan jendela kecil selnya, menatap sepetak langit yang tersisa. Kabar tentang keberhasilan Aisyah membongkar jaringan Viper telah sampai ke telinganya melalui bisikan Pak Bara. Ada rasa bangga yang membuncah, namun juga kecemasan baru yang merayap di sela-sela tulang rusuknya.

Pintu sel isolasi Arkan terbuka dengan dentuman yang lebih keras dari biasanya. Dua petugas berseragam hitam, lengkap dengan baret merah, berdiri di sana. Mereka bukan sipir biasa. Mereka adalah utusan khusus dari Kejaksaan Agung.

Arkan dibawa ke ruang interogasi bawah tanah yang dingin. Di sana, seorang pria berkacamata dengan setelan jas abu-abu sudah menunggu. Di atas meja, terdapat sebuah map tebal berlogo garuda.

"Arkan Xavier," pria itu memulai, suaranya sedatar garis cakrawala. "Nama saya Jaksa Hendra. Kami telah memantau kerja samamu dalam kasus Viper. Kejujuranmu adalah aset yang langka. Karena itu, negara menawarkan kesepakatan: Justice Collaborator."

Arkan menatap map itu. "Apa harganya?"

"Kebebasanmu. Kami bisa memotong masa hukumanmu hingga tersisa satu tahun lagi. Kau bisa keluar dari pulau ini tahun depan, Arkan. Kau bisa menikahi Dokter Aisyah dan hidup normal."

Jantung Arkan berdenyut kencang. Tahun depan.

Itu adalah mimpi yang paling ia dambakan setiap malam. "Lalu, apa yang harus saya berikan?"

Jaksa Hendra memajukan tubuhnya. "Kesaksian penuh tentang keterlibatan Sofia Xavier dalam penggelapan dana bantuan internasional sepuluh tahun lalu, dan peran pamanmu, Gideon, dalam konspirasi pembunuhan hakim yang menangani kasus ayahmu. Kami butuh kau bersaksi melawan ibumu sendiri di pengadilan terbuka."

Arkan tertegun. Dunianya seolah runtuh. Sofia Xavier, meski memiliki masa lalu yang kelam, adalah wanita yang melindunginya, yang mencarikan jalan pulang baginya. Mengkhianati ibunya berarti menghancurkan satu-satunya ikatan darah yang masih tersisa.

"Aku butuh waktu untuk berpikir," bisik Arkan, suaranya hampir hilang.

Di Jakarta, Aisyah sedang memimpin rapat evaluasi di Medika Utama ketika seorang asisten masuk membawakan kartu nama mewah.

"dr. Adrian Baskara, Sp.BS"

Aisyah terdiam melihat nama itu. Adrian. Teman masa kecilnya, rekan sejawat saat menempuh pendidikan di Jerman, dan pria yang pernah melamarnya sebelum kasus Xavier meledak.

Adrian juga merupakan putra tunggal dari Hakim Agung Baskara, pria yang saat ini sedang meninjau berkas remisi Arkan di tingkat pusat.

"Aisyah," suara Adrian terdengar dari ambang pintu. Ia tampak jauh lebih matang, dengan aura otoritas yang kuat. "Lama tidak berjumpa. Aku mendengar tentang prestasimu di sini, dan aku datang untuk menawarkan kerja sama riset bedah saraf."

Aisyah berdiri, mencoba bersikap profesional.

"Selamat datang kembali, Adrian. Terima kasih atas tawaranmu. Tapi kurasa kau datang bukan hanya untuk riset."

Adrian tersenyum tipis, melangkah mendekat. "Kau selalu tajam. Ayahku sedang menangani berkas Arkan Xavier. Dia tahu tentang hubunganmu dengan narapidana itu. Sebagai teman lama, aku hanya ingin mengingatkanmu... Arkan adalah jangkar yang akan menarikmu ke dasar samudera, Aisyah. Ayahku bisa membantu mempercepat proses pembebasannya, atau sebaliknya... mempersulitnya selamanya. Tergantung pada seberapa besar kau bersedia 'bekerja sama' denganku."

Aisyah merasakan amarah yang dingin menjalar.

"Apakah kau sedang mengancamku, Adrian? Menggunakan kekuasaan ayahmu untuk kepentingan pribadimu?"

"Bukan ancaman, Aisyah. Ini adalah realitas. Pria itu adalah putra seorang pembunuh. Kau adalah dokter masa depan bangsa. Kita adalah pasangan yang logis, bukan kau dan seorang narapidana di Nusakambangan."

Aisyah menarik napas panjang. "Adrian, kau mungkin ahli dalam membedah otak manusia, tapi kau tidak tahu apa-apa tentang isi hati. Pergilah. Aku tidak akan membiarkan integritas profesiku atau cinta pribadiku menjadi komoditas tawar-menawar."

Malam itu di Nusakambangan, Arkan tidak bisa memejamkan mata. Ia membayangkan wajah ibunya, Sofia, yang selalu menatapnya dengan penuh harap. Sofia telah berubah, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu yayasan. Namun, hukum tetaplah hukum. Dosa masa lalu tetap harus dibayar.

Tiba-tiba, Arkan mendengar suara langkah kaki di koridor. Pak Bara muncul di depan selnya, membawa sebuah surat dari ibunya yang diselundupkan lewat jalur khusus.

"Arkan, anakku... Ibu tahu tentang tawaran jaksa itu. Jangan ragu. Jika kesaksianmu tentang masa lalu Ibu bisa membebaskanmu, lakukanlah. Ibu sudah lelah berlari dari bayang-bayang. Ibu lebih rela menghabiskan sisa hidup di penjara asalkan melihatmu bahagia bersama Aisyah. Jangan biarkan darah Xavier menghalangimu menjadi manusia merdeka."

Arkan meremas surat itu, air mata jatuh membasahi lantai semen yang dingin. Pengorbanan Sofia justru membuatnya semakin merasa berdosa. Ia merasa seperti Yudas yang menjual orang tercintanya demi kebebasan pribadi.

Keesokan harinya, Adrian kembali mendatangi Aisyah. Kali ini ia membawa dokumen yang menunjukkan adanya "ketidakteraturan" dalam pengadaan alat medis yayasan yang dilakukan Leo minggu lalu—sebuah kesalahan administratif kecil yang bisa dibesar-besarkan menjadi kasus korupsi jika Hakim Agung Baskara menginginkannya.

"Pikirkan baik-baik, Aisyah," ancam Adrian. "Satu telepon dari ayahku, dan Arkan akan dipindahkan ke sel isolasi tanpa akses komunikasi selama bertahun-tahun. Dan yayasanmu akan dibekukan."

Aisyah menatap Adrian dengan mata yang berkilat tajam. "Kau meremehkan kekuatan kebenaran, Adrian. Dan kau meremehkan Arkan."

Aisyah segera menghubungi Leo dan Sofia. Mereka mengatur pertemuan darurat di paviliun panti.

"Kita tidak bisa membiarkan Adrian memeras kita," ucap Sofia dengan tenang. "Dia ingin Arkan tetap di penjara agar dia bisa memilikimu, Aisyah. Tapi dia lupa bahwa aku masih punya kartu yang bisa meruntuhkan karier ayahnya."

Sofia menyerahkan sebuah flashdisk kecil kepada Aisyah. "Di dalamnya ada rekaman pembicaraan Hakim Agung Baskara dengan klan Xavier dua puluh tahun lalu. Dialah hakim yang disuap ayah Arkan untuk menjebak ayahmu, Rahman Malik. Adrian tidak tahu bahwa ayahnya adalah bagian dari dosa yang selama ini ia hujat."

Aisyah tertegun. Lingkaran setan ini ternyata jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.

Minggu berikutnya, Aisyah kembali menyeberangi selat menuju Nusakambangan. Ia bertemu Arkan di ruang kunjungan. Wajah mereka berdua tampak lelah oleh beban rahasia yang mereka pikul.

"Arkan," bisik Aisyah lewat telepon. "Adrian Baskara mencoba memeras kita. Ayahnya adalah hakim yang mengkhianati ayahku dulu."

Arkan memejamkan mata, kepalanya tertunduk. "Dunia ini sangat kecil bagi orang-orang berdosa, Aisyah."

"Arkan, kau tidak perlu bersaksi melawan ibumu jika itu menghancurkan jiwamu. Kita akan menemukan jalan lain. Aku punya bukti kejahatan ayah Adrian."

Arkan mendongak, menatap Aisyah dengan ketenangan yang menakutkan. "Tidak, Aisyah. Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan menerima tawaran Justice Collaborator itu."

Aisyah terkesiap. "Tapi ibumu..."

"Ibu yang memintanya. Dia ingin menebus dosanya dengan cara ini. Dan aku... aku akan bersaksi bukan hanya melawan Ibu dan Gideon, tapi juga melawan Hakim Agung Baskara. Aku akan membongkar seluruh jaringan itu, Aisyah. Sekaligus."

Arkan menggenggam gagang teleponnya dengan kuat. "Kita tidak akan membalas pemerasan dengan pemerasan. Kita akan membalasnya dengan kejujuran yang menghancurkan segalanya. Meskipun aku harus tinggal di sini lebih lama untuk proses sidangnya, aku ingin keluar dengan tangan yang benar-benar bersih."

Aisyah melihat kekuatan di mata Arkan—kekuatan seorang pria yang tidak lagi takut pada bayang-bayang.

"Aku akan bersamamu di setiap persidangan, Arkan. Kita akan meruntuhkan tembok ini bersama-sama," janji Aisyah.

Berita tentang pengajuan Arkan Xavier sebagai Justice Collaborator mengguncang panggung politik dan hukum Jakarta. Hakim Agung Baskara mulai merasa kursinya goyah. Adrian Baskara menghilang dari radar, menyadari bahwa ia baru saja membangkitkan raksasa yang salah.

Di selnya, Arkan mulai menulis pernyataan pembuka untuk sidangnya nanti.

Darah mungkin lebih kental dari air, tapi keadilan lebih suci dari segalanya. Ibu, maafkan aku karena harus menjadi pedang yang membedah luka lama kita. Aisyah, terima kasih karena telah menjadi kompas saat aku kehilangan arah di tengah badai keluarga.

Malam itu, mawar di taman panti asuhan mekar dengan warna merah yang sangat pekat, seolah menyerap seluruh keberanian dari doa-doa yang dipanjatkan Aisyah.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!