Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lepas kendali
Keesokan harinya...
Hari-hari masih berlangsung seperti biasa. Mereka sarapan bersama dalam keheningan tanpa suara. Hanya suara aduan denting sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.
"Hari ini kamu jangan lupa jemput Leo di bandara! Ingat, jangan buat dia menunggu!" ucap Hardiman mengingatkan Sukma yang sedang sarapan sambil memeriksa email di ponselnya.
Sukma mengangkat kepala. "Sepertinya aku hari ini tidak sempat Pa! Ada meeting dengan perusahaan besar yang harus aku tangani sendiri!" jawabnya.
Hardiman mengangguk. Jika untuk kepentingan perusahaan, pria tua itu tidak akan memaksa.
"Kalau begitu kamu aja yang jemput Leya!" kata Hardiman, bukan bertanya tapi memerintah.
"Jam berapa emangnya Kak Leo pulang Kek?"
Tidak ada reaksi bahagia dari ekspresi yang Leya tunjukkan saat mendengar kakaknya akan pulang. Meski ia dan Leo sudah berpisah lama, tetapi tidak pernah ada kedekatan yang terjalin diantara mereka.
"Jam 11 pesawatnya landing!" jawab Hardiman.
"Aku gak bisa Kek!" tolak Leya halus. "Aku masih ada kelas jam segitu!"
Hardiman menoleh. Seperti biasa, selalu tatapan tak bersahabat yang ia tunjukkan. "Ini perintah bukan negosiasi!" ujarnya.
Leya tak bisa menolak, apalagi membantah. Di rumah itu, ia hanya anjing kecil yang hanya bisa menuruti sang tuan, kemanapun ia pergi menarik talinya.
"Baik Kek!" jawab Leya.
"Jangan sampai terlambat!" sakali lagi Hardiman mengingatkan. Memang, anak laki-laki sangat berharga seperti permata di mata pria tua itu.
Angkasa yang ada di depannya mengepalkan tangan. Ia tak tahan dengan situasi ini. Ia benci wanitanya terus diperlakukan dengan tidak adil. Ia ingin segera mengakhiri pernikahan ini, tapi sayangnya... Leya masih melarang dirinya.
"Kalau begitu aku berangkat!" pamitan Leya, tanpa berniat untuk menghabiskan sarapannya.
"Biar Papa antar!" sambung Angkasa, seperti biasa ingin mengantarkan kekasihnya.
"Hari ini kamu antar Sukma ke kantor aja!" timpal Hardiman tiba-tiba.
Leya dan Angkasa kompak menoleh, terkejut ke arah pria tua itu.
"Hari ini biar Leya bawa mobil milik Ibunya untuk jemput Leo di bandara. Kamu antarkan Sukma ke kantor!" lanjut Hardiman.
"Tapi aku punya mobil sendiri Kek!" daripada naik mobil ibunya, Leya lebih baik ia naik mobilnya sendiri.
"Mobil kamu untuk Leo saja! Kasihan dia gak punya mobil sendiri!"
Leya terkejut. Selalu, selalu seperti ini kenyataan yang harus ia terima dan ia hadapi. Lagi-lagi harus mengalah dari Kakaknya.
"Gak bisa gitu dong Kek! itukan mobil aku. Kak Leo kan punya mobil sendiri di garasi! ngapain ganggu mobil aku?" Leya protes! Tentu saja. Kali ini ia tidak terima jika mobil kesayangan harus diberikan ke kakaknya.
"Kamu mau melawan Kakek!" bentak Hardiman. Leya menurut saja ia tidak suka melihatnya. Apalagi saat ia membantah seperti ini? Membuat emosi dan rasa benci pria tua itu melambung tinggi.
"Ini bukan melawan atau tidak Kek! tapi kakek makin keterlaluan. Dari dulu aku harus mengalah dari Kakak, semua untuk kakak, yang bagus-bagus untuk kakak. Kapan Kakek mau melihat aku sebagai cucu!" Leya teriak, ia frustasi menahan rasa ketidakadilan ini sendirian.
Braaak!
Hardiman menggebrak meja makan dengan keras.
"Kamu itu sama kayak bapak kamu, pecundang yang gak tau diri! Seharusnya kamu bersyukur masih ditampung di rumah ini! kalau Kakek usir, jadi gelandangan kamu!"
Masih tidak terlihat sedikitpun belas kasih dimata tuanya. Yang ada hanya kebencian yang sepertinya semakin membesar.
Leya berdiri mematung. Semakin sakit dan semakin besar luka yang Kakeknya berikan padanya. Kini, harapannya untuk dianggap cucu seperti kakaknya kian menipis bahkan mungkin sudah habis.
Ia menangis, menangis dalam diam sambil mengepalkan tangan. Ia sempat milik ke ibunya, berharap wanita itu akan membelanya. Tapi masih sama seperti sebelumnya, jika ibunya tidak bereaksi apapun.
"Papa hati-hati kalau bicara!" bukan Sukma yang bicara, tapi Angkasa. Kesabaran pria itu sudah habis, ketika wanitanya kembali disakiti hingga menangis.
"Kamu jangan ikut campur Angkasa. Anak yang gak tau diuntung itu harus sadar... kalau dia masih ditampung disini hanya karena dalam tubuhnya masih mengalir darah keluarga Hardiman. Kalau tidak... sudah dari dulu dia dibuang seperti bapaknya!"
"Dibuang? Apa maksud kakek?" tanya Leya, ini kali pertama Kakeknya kembali menyinggung tentang ayahnya.
"Bukan apa-apa!" Hardiman berdalih, sepertinya pria tua itu keceplosan bicara.
Tapi Leya tidak mau diam. Selama ini yang ia tahu jika ayah kandungnya pergi meninggalkan ibunya karena selingkuh dengan wanita lain. Tapi ucapan kakeknya hari ini, membuat Leya ragu dengan alasan kepergian ayahnya.
Leya tersenyum sambil menangis. "Jangan bilang jika kepergian Papa bukan karena selingkuh! tapi karena kakek usir, iya!" teriak Leya hingga urat lehernya menegang.
Praaang!
Sebuah gelas melayang. Hampir mengenai wajah Leya, jika saja Angkasa tidak cepat menarik dan melindungi kekasihnya.
"Kamu gak apa-apa?" Angkasa memeluk Leya, hal yang selalu ia lakukan.
"PAPA KETERLALUAN!" hardik Angkasa, kali ini kesabarannya benar-benar habis.
"Papa bilang kamu jangan ikut campur Angkasa! lepaskan tanganmu! kamu suaminya Sukma!" Hardiman semakin berang, melihat Leya memeluk Angkasa dengan erat.
Hardiman maju, ia ingin melepaskan pelukan mereka. Tapi Angkasa menolak, ia tidak mau melepaskan pelukan itu. Di dunia ini, hanya ia yang menjadi pelindung dan tempat Leya bersandar. Mana mungkin dalam situasi seperti ini ia menghindar.
Sukma masih menonton, melihat dan menyaksikan apa yang terjadi dihadapannya tanpa berniat untuk ikut campur.
"PAPA BILANG LEPASKAN ANGKASA!" teriak Hardiman, sudah dikuasai oleh amarah yang meledak-ledak.
Angkasa tetap memeluk dan melindungi Leya dibelakang tubuhnya. "Aku gak akan biarkan Papa menyakiti kekasihku lagi!" jika keadaannya sudah seperti ini, tidak ada gunanya untuk terus menyembunyikan hubungan mereka. Sekalian saja ia ungkapkan, agar ia bisa melindung Leya secara terang-terangan. Sekaligus, ia juga bisa mengakhiri pernikahan gila ini.
"Kekasih? kamu selingkuh sama anak gak tau diri ini!" syok Hardiman, begitu juga dengan Sukma.
"Jadi kekasih yang kamu bilang itu... anak kandungku sendiri Angkasa?" setelah sekian lama, Sukma baru bersuara.
Dibelakang tubuh Angkasa Leya menggeleng. Ia tidak setuju jika hubungan mereka diungkapkan sekarang. Tapi Angkasa tidak mendengarkan. Ia sudah tidak tahan melihat perlakuan tidak adil yang terus didapatkan oleh Leya.
"Iya, Leya kekasihku! kekasih yang sudah menemaniku lebih dari 4 tahun." Angkasa tidak membantah, ia mengakui semuanya.
Hardiman dan Sukma makin syok.
"Aku gak mau basa-basi. Intinya aku mau menceraikan Sukma dan menikah dengan Leya! Semua ini keputusan ku sendiri, tidak ada hubungannya dengan kekasihku!" lanjut Angkasa.
Kedua mata Sukma berkaca-kaca. Ia melangkah pelan, menghampiri suaminya yang sedang melindungi putrinya.
Plaaak!
Dengan gerakan cepat. Sukma menarik tangan Leya dan menampar wajah putrinya.
"APA YANG KAMU LAKUKAN SUKMA!" Angkasa kecolongan. Ia menarik Leya, membawanya kembali kepelukan.
Leya menangis, merasakan sakit bukan di pipinya yang memerah. Tapi karena sakit dihatinya yang semakin besar.
"DASAR PELAKOR KURANG AJAR!" teriak Sukma dengan amarah yang membabi buta. "DIA AYAH TIRIMU! SUAMI MAMA! BISA-BISANYA KAMU MEREBUT DIA DARI MAMA!"
Sukma kalap. Ia tidak terima saat mengetahui fakta itu. Hatinya sakit, ia cemburu, dan ia marah melihat Angkasa sangat melindungi Leya. Apalagi melihat tatapan penuh cinta dari pria itu ke putrinya, membuat Sukma makin kehilangan kontrolnya.