Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan : Prof.Dr. Amatsuki Hisroshi
Malam di Rumah Sakit Pusat Argena tidak pernah benar-benar sunyi sejak wabah diumumkan.
Lampu lorong tetap menyala terang.
Suara mesin ventilator berdengung stabil.
Sepatu medis berderap cepat di lantai steril.
Namun di balik aktivitas itu, ada ketegangan yang tidak terlihat.
Bukan hanya karena wabah.
Ada sesuatu yang tidak berada pada tempatnya.
Dan malam itu, seseorang mulai menyadarinya.
Profesor Amatsuki Hiroshi.
Hiroshi berdiri sendirian di ruang laboratorium analisis patogen.
Dinding kaca transparan memisahkan area kerjanya dari ruangan observasi sampel. Di dalamnya, beberapa tabung reaksi tersusun rapi dalam rak pendingin otomatis.
Lampu putih dingin memantul di permukaan meja logam.
Di tangannya, ia memegang satu vial kecil berisi sampel darah pasien yang baru masuk beberapa jam lalu.
Ia tidak langsung memprosesnya.
Sebagai ilmuwan yang telah menghabiskan puluhan tahun di dunia penelitian, Hiroshi memiliki kebiasaan kecil yang tidak pernah berubah.
Mengamati terlebih dahulu.
Ia memutar vial itu perlahan di bawah cahaya.
Cairan merah di dalamnya bergerak tenang.
Normal.
Terlalu normal.
Itulah yang membuatnya tidak tenang.
Virus yang sedang mereka teliti seharusnya menunjukkan aktivitas protein tertentu yang mudah terlihat melalui reaksi kimia awal.
Namun pada beberapa sampel terakhir, aktivitas itu justru terlihat… terlalu stabil.
Seolah sesuatu menjaga struktur virus itu tetap rapi.
Hiroshi menaruh vial di atas meja.
Tangannya bergerak tenang, tapi sangat presisi.
Ia mengenakan sarung tangan baru.
Mengecek segel masker.
Lalu menyalakan panel analisis mikro.
Monitor cahaya menyala.
Grafik struktur RNA virus muncul perlahan.
Ia menunggu beberapa detik.
Lalu matanya menyipit.
“Tidak berubah lagi…”
Ia bergumam sangat pelan.
Di meja sebelah, seorang peneliti muda menatap layar dengan wajah lelah.
“Profesor… jumlah pasien bertambah lagi.”
“Berapa?”
“Dua puluh tiga dalam tiga jam terakhir.”
Hiroshi tidak menoleh.
“Zona yang sama?”
“Mayoritas dari distrik utara.”
Ia mengetuk meja sekali.
Bukan karena gugup.
Itu kebiasaannya saat berpikir.
“Apakah semua menunjukkan pola infeksi identik?”
Peneliti itu memeriksa data.
“Tidak sepenuhnya. Tapi inti mutasinya sama.”
Hiroshi akhirnya menoleh.
“Virus alami jarang sekali bereplikasi dengan stabilitas setinggi ini.”
Peneliti muda itu ragu.
“Profesor… maksud Anda ini bukan mutasi alami?”
Hiroshi tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata pelan.
“Data belum cukup untuk kesimpulan.”
Namun di dalam pikirannya, ia sudah memiliki hipotesis lain.
Hipotesis yang jauh lebih mengkhawatirkan.
---
Beberapa menit kemudian, Hiroshi berdiri dari kursinya.
Ia berjalan ke lemari penyimpanan alat analisis lanjutan.
Tangannya berhenti sebentar di depan rak kaca.
Di dalamnya tersimpan beberapa sampel lama.
Termasuk…
sampel dari pasien yang dinyatakan meninggal dua malam lalu.
Pasien yang grafik biologisnya sempat menunjukkan fluktuasi aneh.
Hiroshi membuka lemari dengan kartu aksesnya.
Gerakannya tenang.
Tidak tergesa.
Ia mengambil satu vial kecil.
Labelnya jelas.
Subjek 324 – Status Klinis: Deceased
Ia menatap tulisan itu beberapa detik.Lalu berjalan kembali ke meja kerja.
Prosedur analisis kedua dimulai.
Ia menyiapkan pipet mikro.Menarik sedikit cairan dari vial.Meneteskan sampel ke kaca analisis.
Setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati.
Tidak ada yang terlihat mencurigakan bagi orang lain.
Namun sebenarnya, Hiroshi sedang melakukan sesuatu yang tidak tercantum dalam protokol resmi malam itu.
Ia membandingkan sampel virus dari pasien hidup dan pasien yang telah dinyatakan mati.
Mesin analisis mulai bekerja.
Grafik muncul.
Lalu muncul lagi.
Dan lagi.
Hiroshi memperhatikan tanpa berkedip.
Beberapa detik berlalu.
Lalu garis grafik menunjukkan sesuatu.
Perbedaan kecil.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk membuat seorang profesor berpengalaman mengerutkan kening.
“Struktur proteinnya…”
Ia memperbesar layar.
“…tidak rusak.”
Peneliti muda yang tadi mendekat.
“Profesor?”
Hiroshi menunjuk grafik.
“Jika seseorang benar-benar mati karena virus, struktur ini biasanya mengalami degradasi cepat.”
“Namun ini…”
Peneliti itu menatap layar.
“…masih stabil.”
Hiroshi mengangguk.
“Itulah yang aneh.”
Ia menutup file itu.
“Jangan laporkan ini dulu.”
Peneliti itu tampak bingung.
“Kenapa?”
Hiroshi menjawab singkat.
“Aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.”
Setelah peneliti itu kembali ke mejanya, Hiroshi membuka laci kecil di bawah meja kerja.
Di dalamnya terdapat satu benda yang tidak seharusnya berada di sana.
Jarum suntik yang ia temukan di tempat sampah medis lorong tadi.
Ia mengambilnya perlahan.
Memutarnya di bawah cahaya.
Desainnya berbeda.
Logamnya lebih berat.
Dan bagian pengunci jarumnya menggunakan sistem khusus yang tidak biasa dipakai di rumah sakit umum.
Ia mengambil kaca pembesar kecil.
Mengamati bagian sambungan jarum.
Ada sisa cairan sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Hiroshi menyiapkan pipet mikro.
Gerakannya lebih hati-hati dari sebelumnya.
Ia menarik sisa cairan itu.
Hanya setetes kecil.
Cukup untuk analisis.
Cairan itu ia teteskan ke panel uji kimia.
Mesin menyala.
Grafik muncul perlahan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu hasil awal muncul.
Hiroshi tidak bereaksi.
Namun matanya menajam.
Komposisi kimianya…
tidak cocok dengan vaksin mana pun yang ia kenal.
Bukan antivirus.
Bukan antibodi sintetis.
Dan bukan obat medis standar.
Ia memperbesar grafik lagi.
Beberapa molekul tampak…
dirancang.
Seperti sesuatu yang dibuat untuk memicu reaksi tertentu di dalam tubuh.
Di luar ruang lab, suara langkah kaki terdengar.Beberapa petugas keamanan lewat.
“Situasi di lantai dua makin ramai.”
“Pasien darurat?”
“Ya. Dan keluarga mulai memaksa masuk.”
“Perintah pusat?”
“Tidak ada kunjungan.”
Di dalam lab, Hiroshi tetap duduk tenang.
Namun pikirannya bergerak cepat.
Jika cairan itu bukan vaksin…
lalu apa?
Mengapa digunakan dengan jarum khusus?
Dan yang lebih penting—
mengapa dibuang di lorong yang tidak tercatat dalam peta fasilitas?
Hiroshi menyimpan kembali jarum itu di laci.
Lalu mematikan layar analisis.
Ia berdiri.
Langkahnya tenang.
Namun arah langkahnya jelas.
Menuju lorong yang sama.
Lorong tempat ia tadi menemukan tempat sampah medis itu.
---
Lorong Level 3 lebih sepi sekarang.
Lampunya redup.
Suara mesin ventilasi terdengar samar.
Hiroshi berjalan perlahan.
Setiap langkahnya terukur.
Ia berhenti di depan pintu yang tadi ia lihat.
Pintu tanpa papan nama.
Tanpa identifikasi departemen.
Ia tidak mencoba membuka pintu itu lagi.
Sebaliknya…
ia menunduk sedikit.
Melihat ke bawah pintu.
Cahaya lampu dari dalam terlihat tipis.
Artinya ruangan itu masih aktif.
Ia memiringkan kepala sedikit.
Mendengarkan.
Suara percakapan samar terdengar.
“Batch berikutnya siap didistribusikan.”
“Statistik korban sesuai target.”
“Pastikan subjek yang belum mati tetap dipantau.”
Hiroshi tidak bereaksi.
Namun kata-kata itu cukup untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih lambat.
Subjek yang belum mati?
Apa maksudnya?
Ia berdiri beberapa detik.
Lalu berbalik.
Seolah tidak menemukan apa-apa.
Namun dalam pikirannya…
potongan-potongan puzzle mulai tersusun.
Kembali di ruang laboratorium, Hiroshi duduk lagi di kursinya.
Ia membuka satu file kosong.
Mulai menulis catatan pribadi.
Bukan laporan resmi.
Catatan ilmiah pribadi.
Tangannya bergerak pelan di atas keyboard.
Hipotesis sementara:
Virus kemungkinan besar telah dimodifikasi.
Ada agen kimia tambahan yang belum teridentifikasi.
Beberapa korban mungkin tidak mengalami kematian biologis penuh.
Hiroshi berhenti mengetik.
Ia menatap layar.
Jika hipotesis ini benar…
maka wabah ini bukan hanya bencana medis.
Ini sesuatu yang lebih buruk.
Seseorang…
sedang menciptakan kondisi tertentu pada tubuh manusia.
Dan rumah sakit ini mungkin hanya salah satu titik dari rencana besar itu.
Hiroshi menutup file.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
Matanya menatap kosong ke arah lampu lab.
Ia belum tahu siapa yang berada di balik semua ini.
Namun satu hal jelas.
Jika dibiarkan…
jumlah korban akan terus bertambah.
Dan mungkin…
bukan hanya untuk kematian biasa.
Malam itu, tanpa disadari oleh siapa pun…
Profesor Amatsuki Hiroshi telah mengambil langkah pertama dalam penyelidikan yang akan membuka salah satu rahasia paling gelap di balik wabah yang sedang melanda kota.