Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan Kembali
Rumah mewah di kawasan Ibu Kota itu kini terasa seperti medan perang yang dingin. Langit-langit yang tinggi dan lampu kristal yang mahal seolah tidak mampu meredam ketegangan yang memuncak sejak kepulangan Arka.
Di ruang kerja yang didominasi kayu jati gelap, Pak Baskara berdiri membelakangi Arka, menatap keluar jendela besar.
"Hanya mendampingi Papa bertemu Dirjen, Arka! Itu bukan permintaan yang sulit. Kamu tahu seberapa besar pengaruh pertemuan ini bagi kariermu di kementerian nanti?"
"Arka tahu, Pa," jawab Arka dengan suara yang tenang namun tetap teguh. "Tapi Arka juga tahu pertemuan itu bukan soal karier saja. Papa ingin mengenalkan Arka pada putri Pak Dirjen, kan? Maaf, Pa, Arka tidak bisa. Arka sudah memiliki pilihan sendiri."
Pak Baskara berbalik dengan wajah memerah padam. "Pilihan? Gadis dari pesantren itu? Kamu mau menukar masa depan di Ibu Kota demi menjadi menantu kiai itu?"
"Ini bukan soal menukar, Pa. Ini soal integritas dan kebahagiaan Arka. Di Sukamaju, Arka menemukan diri Arka yang sebenarnya. Dan Zahwa... dia adalah wanita yang membantu Arka menemukan jalan itu."
"CUKUP!" bentak Pak Baskara hingga suaranya bergema ke seluruh ruangan. "Jangan bicara soal moralitas dan cinta padaku! Kamu itu anak Baskara! Kamu harus punya kelas!"
Di ambang pintu, Bu Karina menangis sesenggukan. Ia hatinya hancur melihat suami dan anak laki-laki satu-satunya saling berhadapan dengan urat leher yang menegang. Ia ingin membela Arka, namun ia tahu betapa keras watak suaminya.
"Pa, tolong... dengarkan Arka sekali ini saja," Bu Karina memohon dengan suara bergetar.
"Diam, Karina! Kamu jangan ikut memanjakan dia dengan mimpi-mimpi konyol itu!" Pak Baskara menggebrak meja kerja.
Ia menatap Arka dengan tajam. "Dengarkan Papa, Arka. Kamu boleh kembali ke Sukamaju, tapi jangan harap Papa akan memberikan restu. Papa tidak akan pernah menginjakkan kaki di pesantren itu, dan Papa tidak akan pernah menyetujui pernikahanmu dengan gadis itu sampai kapan pun!"
Jag
Arka merasa dadanya sesak. Ia sudah mencoba segala cara, membujuk, merayu, bahkan menunjukkan kliping prestasi desanya untuk membuktikan bahwa ia telah dewasa dan bertanggung jawab. Namun, bagi Pak Baskara, prestasi itu tidak ada harganya jika tidak bersanding dengan kekuasaan di Ibu Kota.
"Kalau begitu," Arka menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tidak goyah, "Arka tetap akan berjuang. Arka tidak akan memaksakan Papa hadir sekarang, tapi Arka akan buktikan bahwa pilihan Arka tidak salah."
"Keluar kamu dari ruangan ini!" usir Pak Baskara tanpa mau menatap Arka lagi.
Arka melangkah keluar, menghampiri ibunya dan memeluknya erat. "Ma, maafkan Arka. Arka harus kembali ke Sukamaju siang ini juga. Arka tidak bisa meninggalkan tanggung jawab di sana lebih lama lagi."
"Arka... hati-hati, Nak," bisik Bu Karina di tengah tangisnya.
Malam itu, Arka meninggalkan Ibu Kota dengan hati yang hancur sekaligus tekad yang mengeras. Ia gagal membawa orang tuanya, namun ia membawa sebuah janji yang harus ia pertanggung jawabkan di hadapan Kiai Hasan dan Zahwa. Ia tahu, badai yang lebih besar sedang menantinya di desa.
***
Arka tiba di Desa Sukamaju menjelang maghrib, sesampainya di desa ia langsung menuju rumah dinasnya, Desa Sukamaju terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya terdengar sayup-sayup suara shalawat menjelang adzan dari speaker masjid pesantren.
Arka melihat kubah masjid pesantren dari kejauhan, ia harus segera berbicara kembali kepada kiai hasan.
Malam itu, ruang tamu rumah utama Kiai Hasan terasa begitu dingin meski tak ada angin yang masuk. Arka duduk bersila dengan kepala tertunduk dalam di hadapan Kiai Hasan dan Ummi Maryam. Suaranya bergetar saat ia menceritakan penolakan keras Pak Baskara dan keputusannya untuk kembali ke Sukamaju tanpa rombongan keluarga.
"Kiai, Ummi... saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena belum bisa memenuhi janji saya membawa orang tua. Papa masih belum bisa membuka hatinya," ucap Arka lirih.
"Tapi niat saya tidak berubah sedikit pun. Saya akan terus berjuang sampai Papa luluh."
Kiai Hasan dan Ummi saling pandang dengan tatapan sedih. Namun, sebelum Kiai Hasan sempat menanggapi, suara gesekan kain tirai pembatas terdengar. Zahwa melangkah keluar, dengan sorot matanya menunjukkan ketegasan yang tak terduga.
"Pak Arka..." panggil Zahwa. Suaranya tenang, namun mengandung kesedihan mendalam.
Arka mendongak, terkejut melihat Zahwa keluar ke ruang tamu.
"Zahwa?"
Zahwa menarik napas panjang, ia berdiri di dekat Ummi, mencoba menguatkan hatinya yang terasa remuk.
"Pak Arka, saya berterima kasih atas semua perjuangan Pak Arka. Saya menghargai ketulusan Pak Arka yang sudah jauh-jauh ke Ibu Kota demi saya."
Ia terdiam sejenak, matanya mulai berkaca.
"Tapi, setelah saya mendengar semuanya... saya rasa lebih baik Pak Arka mundur saja."
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Arka. Tubuhnya kaku, ia merasa dunianya runtuh seketika.
"Kenapa, Zahwa? Saya tidak akan menyerah. Saya akan kembali lagi ke bertemu kedua orangtua saya, saya akan..."
"Bukan itu masalahnya, Pak" potong Zahwa dengan tegas namun lembut.
"Abah selalu mengajarkan saya bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua kepala, tapi dua keluarga. Saya tidak ingin menjadi penyebab retaknya hubungan antara Pak Arka dan orang tua Pak Arka sendiri. Pernikahan tanpa restu itu hampa, dan saya tidak ingin membangun kebahagiaan di atas air mata Ibu Pak Arka atau kemarahan Ayah Pak Arka."
Zahwa menatap Arka dengan pandangan yang sangat dalam, seolah sedang mengucapkan selamat tinggal.
"Saya memang sudah membuka hati untuk Pak Arka. Saya yakin, semenjak Abah dan Ummi memberitahu niat baik saat Pak Arka ke sini beberapa hari kemarin. Tapi cinta saya pada orang tua saya dan hormat saya pada orang tua Pak Arka, jauh lebih besar daripada keinginan saya untuk bersama. Jika restu itu tidak ada, maka jalan kita memang sudah sampai disini saja."
Arka terpukul hebat. Ia mengira Zahwa akan menjadi kekuatannya, orang yang akan menunggunya di ujung badai. Namun kenyataannya, prinsip Zahwa sebagai putri kiai begitu kokoh. Zahwa lebih memilih melepaskan cintanya daripada melangkah tanpa ridha orang tua.
"Zahwa, tolong beri saya waktu..." bisik Arka putus asa.
Zahwa tersenyum getir.
"Kembalilah fokus pada tugas Pak Arka di desa. Jadilah pemimpin yang baik untuk warga, tapi tolong... jangan lagi memikirkan saya sebagai masa depan Pak Arka."
Zahwa segera berbalik dan masuk kembali ke dalam, menyisakan isak tangis yang tertahan. Arka mematung, dadanya sesak luar biasa. Kiai Hasan hanya bisa menghela napas panjang dan menepuk bahu Arka yang sedang terguncang hebat.
"Nak Arka.." panggil Kiai Hasan.
"Tidak apa-apa, Kiai.. Kalau memang harus begini, saya ikhlas.." ucap Arka sedikit bergetar.
Arka pamit, beranjak dari duduk nya, lalu menyalami Kiai Hasan dan Ummi Maryam dengan takzim.
Ummi Maryam yang melihat Arka keluar dari halaman rumahnya, sedikit teriris hatinya. Namun ia pun tidak dapat berbuat banyak, jika memang keputusan Zahwa memang seperti itu.
...🌻🌻🌻...