Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Lemah yang Terlihat
Feiyan terbangun dengan napas tertahan, seolah baru saja keluar dari mimpi yang terlalu dalam.
Langit-langit ruang perawatan tampak samar di matanya, berlapis kabut tipis dari formasi penyembuh. Aroma herbal memenuhi udara, menenangkan namun juga mengingatkan bahwa tubuhnya baru saja melewati sesuatu yang seharusnya tidak ia hadapi. Setiap tarikan napas terasa lebih ringan dibanding hari sebelumnya, tetapi di balik itu ada sensasi kosong yang tidak bisa disembuhkan oleh ramuan apa pun.
Ia menggerakkan jari-jarinya perlahan.
Masih hidup.
Pikiran itu datang tanpa rasa lega yang utuh.
Luka fisiknya pulih lebih cepat dari yang ia perkirakan, namun ingatan tentang tekanan Qi yang menghancurkan, tentang detik-detik ketika kematian begitu dekat, masih melekat jelas. Bahkan sekarang, saat tubuhnya beristirahat, dadanya berdenyut pelan—Void Crack yang tersembunyi di balik tulang dan dagingnya tidak pernah benar-benar diam.
Pintu ruangan terbuka tanpa suara.
Cahaya lembut masuk bersamaan dengan langkah seseorang yang sangat ia kenal.
Gao Lian.
Ia masuk dengan sikap tenang, membawa mangkuk kecil berisi cairan berwarna keemasan pucat. Senyumnya hangat, tidak berlebihan, seperti seseorang yang datang bukan untuk mengganggu, melainkan memastikan segalanya baik-baik saja.
“Kau sudah bangun,” katanya lembut.
Feiyan berusaha duduk, namun Gao Lian segera mendekat, menahan bahunya dengan sentuhan ringan. Aura Cahaya mengalir tipis dari telapak tangannya, menenangkan otot dan menekan rasa nyeri yang tersisa.
“Tidak perlu memaksakan diri,” lanjutnya. “Tubuhmu masih butuh waktu.”
Feiyan menurut, membiarkan dirinya bersandar kembali. Ada rasa lega yang muncul tanpa ia sadari—bukan karena tubuhnya, melainkan karena kehadiran Gao Lian sendiri. Sejak tugas rahasia itu, ada bagian dari dirinya yang terus waspada, seolah bahaya bisa muncul kapan saja. Namun di hadapan Gao Lian, ketegangan itu sedikit melonggar.
“Aku dengar kau terluka cukup parah,” ujar Gao Lian sambil menyerahkan mangkuk itu. “Minumlah. Ini akan membantu menstabilkan Qi-mu.”
Feiyan menerima mangkuk tersebut dengan kedua tangan. Cairannya hangat, rasanya lembut, hampir manis. Saat menelannya, ia merasakan aliran tenang menyebar dari perut ke seluruh tubuhnya.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Gao Lian duduk di sisi ranjang, jaraknya pas—cukup dekat untuk terasa hadir, cukup jauh untuk tidak menekan. Ia menatap Feiyan sejenak, seolah menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan.
“Kau membuat banyak orang khawatir,” katanya akhirnya. “Bukan hanya karena lukamu… tapi karena caramu menghadapi semuanya sendirian.”
Feiyan terdiam.
Kalimat itu tidak terdengar menyalahkan. Tidak ada nada menghakimi. Justru karena itulah, kata-kata tersebut menembus lebih dalam.
“Aku hanya menjalankan tugas,” jawab Feiyan setelah beberapa saat. “Aku tidak berpikir sejauh itu.”
Gao Lian tersenyum tipis. “Aku tahu. Dan itu yang membuatku khawatir.”
Ia melipat tangannya di pangkuan, sikapnya santai namun penuh perhatian. “Feiyan, dunia kultivasi bukan hanya tentang kekuatan. Ini tentang memilih dengan siapa kau berdiri… dan sejauh mana kau mendorong dirimu sendiri.”
Feiyan menunduk, memandangi tangannya sendiri. Ada bekas luka tipis yang belum sepenuhnya hilang, jejak nyata dari pertempuran yang seharusnya tidak ia menangkan.
“Ada kalanya,” lanjut Gao Lian, “menahan langkah adalah bentuk kebijaksanaan. Tidak semua tantangan perlu dihadapi secara langsung.”
Kata-kata itu terdengar masuk akal.
Feiyan mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ingatan tentang tekanan luar biasa dari musuh bayangan itu muncul kembali. Jika ia sedikit saja lebih lambat, sedikit saja lebih lemah, ia tidak akan duduk di sini sekarang.
“Mungkin aku memang terlalu memaksakan diri,” katanya lirih.
Gao Lian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feiyan dengan ekspresi yang lembut, seolah mendengar pengakuan yang sudah ia duga.
“Kau punya potensi,” katanya kemudian. “Tapi potensi yang besar sering kali datang dengan risiko yang sama besar. Banyak yang jatuh bukan karena mereka lemah… melainkan karena mereka tidak tahu kapan harus berhenti.”
Kalimat itu melekat.
Bukan sebagai peringatan keras, melainkan sebagai nasihat dewasa yang sulit dibantah.
Feiyan menarik napas perlahan. “Aku hanya… tidak ingin tertinggal.”
Gao Lian menggeleng kecil. “Tertinggal dari siapa?”
Pertanyaan itu membuat Feiyan terdiam lebih lama. Ia tidak punya jawaban yang jelas. Ia hanya tahu bahwa setiap kegagalan, setiap tatapan kasihan dari orang lain, membuatnya merasa semakin kecil.
Gao Lian melanjutkan dengan suara yang tetap tenang, “Kau tidak perlu membandingkan dirimu dengan siapa pun. Jalan setiap orang berbeda. Yang penting, kau selamat… dan tidak melukai dirimu sendiri demi sesuatu yang belum tentu sepadan.”
Aura Cahaya di sekeliling Gao Lian terasa sedikit lebih kuat, menyelimuti ruangan dengan kehangatan yang menenangkan. Feiyan merasakan dadanya mengendur, ketegangan di pikirannya berkurang.
Tanpa ia sadari, ia mulai menyandarkan diri pada kata-kata itu.
“Mungkin,” Gao Lian menambahkan pelan, “kau hanya perlu lebih berhati-hati dalam memilih lingkunganmu. Tidak semua orang mendorongmu maju karena mereka peduli. Beberapa hanya ingin melihat seberapa jauh kau bisa dipaksa.”
Feiyan mengangkat kepala. “Maksudmu…?”
“Aku tidak menuduh siapa pun,” jawab Gao Lian cepat, senyumnya tetap lembut. “Aku hanya ingin kau lebih waspada. Dunia ini kejam pada mereka yang terlalu percaya.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Feiyan mengangguk tanpa berpikir panjang.
Ia tidak merasa diperingatkan. Ia merasa dilindungi.
Di balik ketenangan itu, Void Crack di dadanya berdenyut lemah, hampir tak terasa—namun cukup untuk menandai bahwa keraguan baru saja ditanam, rapi dan dalam, tanpa paksaan apa pun.
Feiyan duduk sendirian setelah Gao Lian pergi.
Ruangan perawatan kembali sunyi, hanya suara formasi yang berdesir halus seperti napas panjang yang ditahan. Cahaya lembut masih menyelimuti tubuhnya, namun rasa hangat itu perlahan memudar, meninggalkan sisa-sisa pikiran yang justru semakin jelas.
Kata-kata Gao Lian terngiang kembali, tidak keras, tidak memaksa.
Justru karena itu, kata-kata tersebut terasa berat.
Feiyan menurunkan pandangannya ke telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya sedikit gemetar ketika ia mengepalkannya perlahan, lalu melepaskannya lagi. Ia mencoba merasakan aliran Qi-nya—lebih stabil dari sebelumnya, lebih tenang. Tidak ada lonjakan, tidak ada desakan.
Aman.
Namun anehnya, rasa aman itu tidak sepenuhnya membuatnya lega.
Ia mengingat momen di lokasi tugas rahasia. Tekanan yang hampir menghancurkan tulangnya. Sensasi waktu yang melambat. Dorongan aneh dari dalam dada yang menyelamatkannya di ambang kematian.
Jika bukan karena itu… ia menelan ludah.
“Mungkin aku memang tidak seharusnya berada di situ,” gumamnya pelan.
Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa perlawanan.
Feiyan bersandar ke dinding, memejamkan mata. Tubuhnya masih lemah, tapi yang membuatnya enggan bangkit adalah sesuatu yang lain—keraguan yang merayap perlahan, seperti kabut tipis yang menutupi jalan di depan.
Ia teringat tatapan orang-orang setelah ia kembali terluka. Tidak ada ejekan terbuka, namun ada keheningan yang canggung. Ada jarak yang tidak ia sadari sebelumnya.
Mungkin Gao Lian benar.
Mungkin ia terlalu memaksakan diri.
Void Crack di dadanya berdenyut samar.
Bukan panas, bukan dingin—lebih seperti ruang kosong yang mengembang perlahan, merespons setiap pikiran ragu yang muncul. Feiyan membuka matanya, terkejut oleh sensasi itu, lalu meletakkan telapak tangan di dadanya.
“Aku baik-baik saja,” katanya pada dirinya sendiri, seolah mencoba meyakinkan sesuatu yang tidak terlihat.
Namun denyutan itu tidak berhenti.
Ia bangkit dari ranjang dengan hati-hati. Kakinya masih terasa sedikit lemah, tapi mampu menopang tubuhnya. Feiyan melangkah keluar dari ruangan perawatan, berjalan menyusuri koridor sekte yang lengang.
Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya.
Ia melewati halaman latihan kecil, tempat beberapa murid berlatih dengan serius. Api kecil, aliran angin, dan kilatan Qi tampak terkontrol, rapi, seolah semuanya berada di jalur yang benar.
Feiyan berhenti sejenak.
Ia membandingkan dirinya dengan pemandangan itu tanpa sadar. Gerakan mereka tampak mantap. Tidak ragu. Tidak terburu-buru.
“Aku tidak seperti mereka,” pikirnya.
Bukan dengan nada iri—melainkan penerimaan yang perlahan mengendap.
Langkahnya berlanjut, hingga akhirnya ia duduk di bawah pohon tua di sudut halaman. Angin menggerakkan daun-daun pelan, menimbulkan suara yang menenangkan.
Feiyan menarik napas panjang.
Mungkin memang lebih baik jika ia berhenti mendorong dirinya sejauh itu. Mungkin ia perlu lebih berhati-hati. Lebih memilih dengan siapa ia melangkah. Lebih menunggu, daripada terus maju tanpa arah yang jelas.
Pikiran-pikiran itu terasa masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Void Crack berdenyut lagi, kali ini sedikit lebih jelas, seolah merespons keputusan yang belum sepenuhnya terbentuk. Feiyan mengerutkan kening, namun tidak melawan sensasi itu. Ia membiarkannya lewat, seperti membiarkan rasa lelah setelah latihan berat.
Di kejauhan, Gao Lian berdiri di balik pilar batu, mengamati dari sudut yang tidak mencolok.
Tatapannya tenang, senyumnya tipis.
Ia melihat cara bahu Feiyan sedikit merosot. Cara napasnya lebih dalam, lebih lambat. Cara pandangannya tidak lagi mengarah jauh ke depan, melainkan tertahan di sekelilingnya.
Semua tanda itu jelas baginya.
“Hati-hati,” gumam Gao Lian pelan, hampir seperti doa. “Kau terlalu mudah melukai dirimu sendiri.”
Aura Cahaya mengalir halus di sekeliling tubuhnya, tidak diarahkan, tidak menekan—hanya hadir, seperti jaring tak kasatmata yang siap menutup ketika diperlukan.
Ia berbalik pergi dengan langkah tenang.
Di bawah pohon, Feiyan mengepalkan tangannya sekali lagi, lalu melepaskannya. Untuk pertama kalinya sejak memasuki jalur kultivasi ini, ia tidak yakin apakah melangkah lebih jauh adalah pilihan yang benar.
Dan di balik keraguan itu, titik lemahnya mulai terlihat dengan jelas.