Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberian dari mamanya Dwi.
Aku pun tiba di rumah dan langsung turun, namun saat masuk gerbang aku di buat kaget dengan kehadiran seorang cewek sambil menggendong anak. Aku pun memutuskan untuk masuk lewat belakang karena aku pikir ada tamu.
"Neng, kok masuk lewat belakang? " tanya mbak pembantu rumah.
"Di depan kayanya ada tamu jadi lewat sini, " jawab ku.
"Tamu?, gak ada neng, " beritahu mbak.
"Gak ada, terus cewek yang gendong anak di depan siapa? " tanya ku.
"Oh itu, neng Zahra, istri den Brian, " jawab bibi membuat aku kaget.
"Istri?, yang bener mbak? " tanya ku dengan kaget.
"Neng tanya ibu aja kalau ingin jelas, " jawab mbak dan aku pun segera masuk dan tujuan aku bukan mama melainkan bang Brian.
"Ana, " panggil mama saat aku hendak naik ke kamar ku.
"Eh mama, " ujar ku setelah berbalik.
Mama datang bersama cewek yang tadi di depan.
"Kenalin ini Zahra istri abang kamu, " ucap mama dan aku pun tersenyum dan menyalaminya.
"Briana, " aku menyebutkan nama.
"Ma, abang mana? " tanya ku setelah bersalaman dengan Zahra.
"Di kamar lagi istirahat, " yang menjawab bukan mama tapi Zahra.
"Oh, aku ke atas dulu ma, " pamit ku langsung naik ke lantai atas.
Aku langsung masuk ke kamar bang Brian dan bang Brian kaget saat pintu di buka.
"Lo bukannya ketuk dulu main masuk aja, " omelnya.
"Dih biasa juga kagak, " balas ku.
"Sekarang beda lagi, ada orang lain di kamar ini, " ucap nya lalu bangun dan duduk di sampingku.
"Ceritakan semuanya, " titah ku.
"Apa yang di ceritakan? " tanya nya bingung.
"Ya cewek yang di bawah, " jawab ku.
"Emang Kak Kanaya gak cerita? " tanya nya dan aku menggelengkan kepala.
"Dia cewek yang ada di vidio dan saat kita ke rumahnya tuh cewek gak ada dan keluarganya bilang tuh cewek pergi kerja ke luar kota. Namun saat mama dan papa ceritakan kejadian itu orang tuanya gak tau, tapi ada adiknya yang tau, " cerita bang Brian.
"Terus? " tanya ku.
"Dia ceritakan semuanya jika kakaknya pergi dari rumah dalam keadaan hamil dan sekarang dia tinggal di kota dan bekerja, dia juga memberi kami alamatnya, " lanjut bang Brian.
"Anak itu? " tanya ku.
"Ya dia anak abang karena saat malam kejadian tuh cewek baru pertama kali. Namun awalnya tuh cewek nolak saat mama dan papa ingin bertanggung jawab karena dia merasa kalau abang gak harus tanggung jawab toh dia lakukan itu juga di bayar, " jawab bang Brian membuat aku kaget.
"Di bayar?, maksud abang dia di suruh apa jual diri? " tanya ku dengan kaget.
"Dia jual diri, karena dia butuh buat bayar rumah sakit papanya, " jawab bang Brian membuat aku kaget karena seperti adegan dalam film aja.
"Abang beli dia? " tuduh ku membuat bang Brian menatap ku tajam.
"Aku kan cuman naya, " ucap ku sedikit takut.
"Abang kalah taruhan, " ucapnya lalu berbaring.
"Taruhan? " tanya ku kaget.
"Dua hari sebelum kejadian, Toni nantang aku buat balapan dengan anak geng cobra yang saat itu menjadi geng motor yang sangat di takutkan. Abang setuju dan jika kalah hukumannya abang harus tidur sama cewek yang udah Toni sediakan. Abang setuju namun entah kenapa malam itu abang kalah dan abang sudah punya rencana buat bohongi Toni karena bang gak mau lakukan itu namun sebelum temui tuh cewek Toni ngasih abang minuman dan abang gak curiga. Abang masuk dan tuh cewek udah ada di dalam dengan penampilan seksi. Abang yang biasanya gak ada hasrat apa kalau lihat cewek seksi malam itu beda, jiwa laki-laki abang muncul dan rencana abang buat nego sama tuh cewek hilang begitu saja bahkan abang gak tau jika itu semua di vidio walau tidak pul "cerita bang Brian.
" Ya pantes kalau tuh cewek merasa kalau abang gak harus tanggung jawab toh dia udah di bayar sama bang Toni, "ucap ku.
" Ya tapi abang juga merasa bersalah karena tuh cewek rela kehilangan kegadisan nya buat abang apa lagi setelah abang tau kalau tuh cewek, cewek baik-baik, "balas bang Brian.
" Bang Toni lakukan itu buat apa? "tanya ku.
" Dia iri pada abang karena abang di angkat jadi ketua geng motor dan vidio itu dia jadikan sebagai ancaman buat abang, namun gak mempan karena semua anak-anak tau jika itu rencananya, "jawab Brian.
"Lalu kenapa bisa sampai di tangan bang Indra? " tanya ku lagi karena vidio di dapat dari bang Indra.
"Papanya Toni ternyata saingannya bang Indra dan entah dari mana papanya Toni dapat vidio itu, " jawab bang Brian lagi.
Aku dan bang Brian melihat ke arah pintu karena tiba-tiba pintu kamar bang Brian terbuka dan ternyata yang masuk istrinya bang Brian.
"Maaf, aku mau ambil celana Adrian, " ucapnya dan aku langsung bangkit dan tersenyum.
"Masuk aja kak, aku udah selesai kok mau ke kamar aja buat ganti baju, " ucapku lalu keluar dari kamar bang Brian.
Aku pun masuk ke kamar lalu menyimpan tas yang dari masih menempel di punggung ku. Aku pun merebahkan tubuhku. Ku tatap langit-langit kamar dan aku merasa hidup ku sekarang tidak sebebas dulu karena semenjak kak Kanaya menikah dengan bang Indra semua kehidupan kami sekeluarga berubah. Bang Indra merupakan anak dari orang berpengaruh di kota ini dan semua kehidupan nya sangat di jaga jangan sampai membuat reputasi keluarganya hancur. Ponselku berdering dan saat di lihat ternyata itu panggilan masuk dari April, aku pun langsung mengangkatnya dan April. langsung bicara dengan nada berteriak masalah foto yang tersebar di grup sekolah. Aku hanya mendengarkan ocehan April tanpa membalasnya.
"Ana, " panggil mama membuat aku langsung menutup ponselku tanpa memberitahu April.
"Iya ma, " jawab ku sambil keluar kamar lalu segera turun dan menemui mama.
"Ada apa ma? " tanya ku.
"Ada Dwi di luar, " jawab mama memberitahu ku jika Dwi datang.
"Ngapain tuh anak kemari? " tanya ku pada mama.
"Ya mana mama tau lah, udah sana temui!" ucap mama dan aku pun langsung menemuinya.
Aku langsung duduk di hadapan Dwi dan dia tersenyum.
"Ngapain lo kemari gak ngabarin dulu? " tanya ku.
"Gue kemari di suruh nyokap, " jawab nya.
"Nyokap lo, ngapain? " tanya ku bingung.
Dwi lalu berdiri dan keluar, aku pun segera mengikutinya ternyata dia bawa mobil. Dwi kembali lagi dengan membawa sebuah kotak yang entah apa isinya.
"Apa ni? " tanya ku sambil menerimanya.
"Gak tau gue, nyokap cuman bilang kasih ke nyokap lo, " jawab nya.
"Ya terus kenapa gak lo langsung kasih ke nyokap malah ke gue, " ucap ku kesal.
"Gak enak lah, " jawab nya.
Aku hanya memutar bola mata kesal.
"Ya udah gue balik, dah, " ucap nya lalu pergi.