Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Taruhan
"Nona Qiuye jangan pergi terlalu jauh!" pekik Bibi Lan kepada Qiuye yang berlarian kesana kemari menyelusuri jalan dimana para penjual tengah menjajakan dagangan mereka.
"Baik Bibi!" sahutku dari kejauhan.
Kedua mataku berbinar-binar, ketika melihat surga makanan dan juga berbagai macam barang yang baru pertama kali ku lihat.
Aku berjalan kesana kemari dan tidak sedikit juga lapak yang ku singgahi hanya sekedar untuk melihat-lihat saja tanpa membeli dan pergi menyelusuri jalan kembali untuk melihat pedagang yang lain.
Tanghulu manis! ... Tanghulu manis! ... satu tusuk harga 2 koin, beli dua cuma bayar 3 koin saja! ... Tanghulu manis! ... Tanghulu manis! Mari beli!
Langkahku terhenti pada sebuah pedagang tanghulu, aku menongak hingga keatas dimana berjejer tusukan buah hawthorn (sejenis buah bery kecil yang asam) bersalut cairan gula sehingga terasa manis. Berwarna merah mengkilap dengan ukuran besar-besar menancap pada tiang bambu.
"Nona cantik, silahkan tanghulunya!" ucap pedagang tanghulu ramah membuatku berhenti dan ingin membelinya.
"Paman, berikan tanghulu padaku dua tusuk!" ucapku sedikit berteriak agar suaraku terdengar karena suara riuh dari tempat lain.
"Baik Nona, baik!" sahut paman penjual tanghulu sigap. "Ini Nona punya anda," ucapnya kemudian memberikan buah manisan itu.
Aku menggenggamnya erat dan begitu senang gembira, akhirnya aku bisa membeli dan memakan makanan kesukaanku dengan uang hasil keringatku sendiri.
Aku kembali berjalan ke tempat pedagang lain, terkadang ikut berdesak-desakan dengan para pengunjung lainnya agar bisa melihat dan membeli beberapa makanan khas musim gugur.
Seperti Yue Bing atau kue bulan dan juga kue bunga Osmanthus.
"Hmm kue ini harum sekali ... Paman, beri aku satu kotak kue bunga osmanthus!" ucapku menunjuk kue manis beraroma khas bertabur bunga osmanthus diatasnya.
"Ini Nona, silahkan dinikmati."
"Paman, beri aku kue bulannya!" tunjukku pada pedagang disebelahnya.
"Baik, Nona." ucap paman penjual kue bulan.
Setelah puas membeli beberapa kudapan manis untukku dan juga nona Huang, tidak ketinggalan aku melihat seni pertunjukkan yang ada di pesta rakyat itu.
Seperti permainan menyambung kata-kata puisi yang hilang, tapi aku memilih permainan yang ada disebelahnya yaitu permainan memanah.
"Paman, aku ingin main permainan ini!" ucapku dari balik kerumunan para pria.
Mendengar suaraku yang bukan seorang pria, kumpulan para pria itu menoleh bersamaan dan lantas mengejekku.
"Aduh nona manis, kenapa main permainan berbahaya seperti ini?"
"Benar, daripada ikut memanah lebih baik kita pergi ke kedai minuman saja. Kakak akan mentraktirmu minum anggur sampai puas, bagaimana?"
Gelak tawa para pria bergemuruh di lapak permainan itu, namun aku tidak peduli sehingga mereka semakin berani. Bahkan ada seorang pria yang mengulurkan lengannya ingin menyentuh wajahku.
Dengan satu gerakan cepat aku menangkap dua jarinya sebelum menyentuh wajahku, lalu aku memutarnya hingga berbelok.
"Akh jariku! Sakit sekali, cepat lepaskan!"
Melihatnya berteriak kesakitan, aku melepaskan cengkraman tanganku dengan sedikit hentakan keras. Kemudian membersihkan tanganku dengan kain seperti mengejeknya. "Mengotori tanganku saja."
"Kau!" geram pria itu sambil memegangi jarinya yang sakit.
"Kakak-kakak yang berisik, daripada sibuk menggodaku, lebih baik kalian duduk diam saja disana dan melihat bagaimana caraku memanah papan itu. Kalau kalian masih terus saja menggangguku, takutnya nanti anak panah ini malah jadi salah sasaran. Bukannya menancap di papan itu, melainkan menancap di kepala kalian!"
"Wah berani juga gadis ini! Dia juga sungguh kurang ajar karena telah berani menyinggung putra pejabat daerah."
"Benar, dia sungguh berani! Butuh diberi pelajaran sepertinya."
"Heh, Nona! Bagaimana kalau kita bertaruh saja, kalau kau berhasil memanah tepat ditengah lingkaran itu, maka aku Yuan Pan putra pejabat daerah ini akan mengaku kalah dan menerima apapun permintaanmu. Tapi jika kau kalah, maka ikutlah aku ke penginapan dan terimalah kebaikanku disana. Bagaimana hah? Hahaha ..."
"Baiklah, aku terima tantanganmu. Tapi kalau aku menang, aku ingin kau melepaskan semua pakaianmu dan berjalan pulang dengan jungkir balik."
"Kau! Benar-benar kurang ajar! Sombong sekali, kau pikir kau akan menang hah!" ucap Yuan Pan geram sambil terus menunjuk kearahku.
"Berisik sekali. Paman cepat ambilkan busurnya!" ucapku pada si penjaga.
"Baik, Nona. Ini busur dan anak panahnya." Lalu menjelaskan permainannya padaku. "Anda diberi tiga kali kesempatan, jika ada satu panah yang berhasil kena di papan itu maka anda mendapat hadiah boneka ini," jelasnya
"Baik," jawabku bersemangat.
Tapi tunggu dulu, bagaimana ya cara memanah?
Gelak tawa mulai memenuhi tempat itu dan aku mulai gugup.
Semua orang menungguku dengan tidak sabar, termasuk Yuan Pan si musang bir*hi itu. Dia tidak henti-hentinya mengganggu konsentrasiku sehingga dua anak panahku gagal melesat.
"Sudahlah nona manis, dua kali sudah gagal. Yang ketiga kali sudah pasti hasilnya akan sama," gelak tawa Yuan Pan mulai berani dan sangat yakin kalau keinginannya akan terpenuhi malam ini.
"Kurang ajar, aku benar-benar harus menang kali ini. Kalau tidak malam ini aku akan habis diterkam si musang itu," gumamku cemas dan merasa jijik membayangkannya.
Tanganku mulai gemetaran, dan aku telah memikirkan cara apabila aku gagal taruhan ini. Yaitu lari sekencang-kencangnya menjauhi para pria kelaparan yang menungguku.
Hingga pada saatnya aku menarik busur dan melepaskan anak panah terakhir.
Tiba-tiba saja suasana mendadak mencekam, terlebih diriku ini. Aku merasa tembakanku kali ini akan sama, tidak bertenaga dan akan gagal. Apalagi aku melihat ujung anak panahnya sudah mulai terjun ke bawah.
Namun disaat itu semua terjadi, sebuah anak panah melesat cepat melewati wajahku, begitu cepat hingga tidak terlihat, hanya terasa hembusan anginnya saja yang mengenai telinga dan pipiku.
Lalu anak panah itu tertancap sempurna di tengah papan lingkaran, tanpa suara, tanpa kesalahan hingga membuat semua mata yang memandang terdiam.
"A-aku menang? T-tapi itu sepertinya bukan panahku," gumamku. Karena aku melihat sendiri jika panahku tadi terjerembab kebawah tanah.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar dan ke berbagai macam arah, disaat semua orang masih terheran-heran dengan hasil tersebut.
Lalu pandanganku terhenti tepat pada satu tujuan, dimana ada seorang pria berdiri jauh dibelakangku dengan tangan memegang alat panah seperti tembakan.
Aku merasa yakin jika yakin pria itulah yang menembak anak panahnya, tapi entah apa alasannya pria itu membantuku.
Namun satu hal yang pasti aku harus berterima kasih kepadanya.
Akan tetapi pria itu tiba-tiba saja menjauh dan menghilang ditengah kerumunan, sebelum aku sempat mengejarnya.
"Selamat Nona, selamat!" ucap penjaga permainan itu dan memberikanku sebuah boneka.
Aku menerima boneka itu dengan senang dan kembali kepada Yuan Pan yang sudah bertolak pinggang.
Aku tidak mau kalah, aku bertolak pinggang juga. "Hey musang!"
"Apa? Musang? Siapa yang kau panggil musang hah!" tunjuk Yuan Pan pada diri sendiri.
"Ya kau si Musang!" sahutku tidak takut.
"Berani sekali kau memanggilku musang!" geram Yuan Pan.
"Ya kau si Musang bau ... Kau sudah kalah taruhan, cepat penuhi janjimu!" ucapku mengingatkan.
"hah kau bilang apa? taruhan? Taruhan yang mana, kami tidak ingat. Ya kan?" ucapnya pada rekan-rekannya.
"Benar, kami tidak ingat ada taruhan."
Merasa kesal karena telah dipermainkan, aku mencabut pedangku dan menghunuskannya ke arah Yuan Pan. Lalu tanpa ba bi bu, aku mengoyak pakaiannya hingga compang camping.
"Ah gadis sialan, beraninya dia main kasar!"
Aku tertawa puas, "Haha ... Rasakan itu!" lalu segera pergi menjauh dari Yuan Pan dan rekan-rekannya sebelum mereka membalas perbuatanku.
Sementara itu disisi lain, Guan Yu menghampiri Xin yang sudah menunggunya.
"Tuan, untung saja anda membantunya. Karena kalau tidak nona Qiuye akan berada dalam masalah," ucap Xin merasa lega akhirnya sang atasan mau turun tangan membantu.
Namun Guan Yu hanya terdiam, sesekali menghela nafasnya panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mengingat tingkah putri kaisar Song yang asli.
...Bersambung....