NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 21 : PILIHAN DI AMBANG PINTU ICU

 Lorong lantai tiga Rumah Sakit Pusat Harapan Medika berangsur sepi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua siang. Hermawan, Sarah, Fandi, dan Shinta sudah pulang beberapa saat lalu setelah Fitri memastikan kondisi Ambarwati benar-benar melewati masa kritis utamanya. Di sepanjang deretan bangku tunggu besi yang dingin, Kalea Azzahra Putri duduk sendirian. Jilbab voal hitamnya yang sempat berantakan akibat tamparan Amanda kini sudah dia rapikan, meskipun pipi kirinya masih menyisakan rona merah yang samar. Dia menopang dagu, menatap kosong ke arah lantai marmer yang mengilat bersih.

 Ceklek...

Suara pintu kaca ruang rawat intensif (ICU) yang bergeser memecah keheningan koridor. Radit melangkah keluar dengan tubuh jangkungnya yang tegap. Jas dokter putihnya sudah dia lepas, menyisakan kemeja hitam yang lengannya masih digulung rapi hingga siku. Guratan lelah di wajah tampannya langsung memudar begitu sepasang mata elangnya menangkap sosok Kalea yang setia menunggu.

Kalea refleks bangun dari duduknya, merapikan blus hijau botolnya yang sedikit kusut. "Mas..." panggil Kalea pelan.

Radit melangkah lebar menghampiri Kalea, lalu berdiri tepat di hadapan wanita bermata biru itu. "Maaf ya, Kalea. Aku bikin kamu nunggu lama banget di luar sini. Kamu pasti capek dan laper, kan?" ucap Radit dengan nada suara bariton yang terdengar begitu lembut dan penuh rasa bersalah.

Kalea memaksakan seulas senyuman manis di bibir ranumnya, menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Mas. Aku nggak capek kok. Yang penting sekarang kondisi Tante Ambarwati gimana? Udah membaik, kan?"

"Udah jauh lebih stabil dari tadi," jawab Radit sambil menatap lekat-lekat mata biru Kalea. "Makanya, sekarang kamu ikut aku masuk ke dalam, yuk. Kita temui Mommy bersama-sama."

Mendengar ajakan Radit, senyuman di wajah Kalea mendadak layu. Dia mundur satu langkah, menolak halus dengan menggelengkan kepalanya perlahan. "Nggak, Mas... aku nggak bisa masuk. Malah sebenernya... aku mau bilang kalau aku pengen mengakhiri semua kegilaan ini sekarang juga."

Radit langsung mengernyitkan dahi, rahang tegasnya mengeras kaku. "Maksud kamu apa, Kalea?"

"Kita nggak bisa nikah, Mas. Aku menolak," ucap Kalea, suaranya mulai bergetar menahan gejolak emosi di dalam dadanya. Kedua tangannya meremas ujung blazernya kuat-kuat. "Kesepakatan taruhan kita dari awal emang udah salah. Apalagi sekarang... Tante Ambarwati sampai masuk rumah sakit dan jantungan begini, itu pasti gara-gara aku, Mas. Gara-gara aku nekat dateng ke rumah kamu tadi siang."

Setitik air mata bening akhirnya lolos membasahi pipi mulus Kalea. Dia menundukkan kepala, dadanya terasa sesak luar biasa saat ingatan tentang caci maki di rumah Wijaya dan rumah Baskara kembali merayap kejam. "Aku sadar diri, Mas Radit... Statusku di dunia ini nggak lebih dari sebatas perempuan yang selalu direndahin semua orang. Di mana-mana aku selalu dipanggil anak haram, darah kotor, pembawa sial. Mommy kamu benci banget sama aku, adekmu juga benci. Aku nggak mau jadi perusak kebahagiaan keluarga kamu cuma karena ambisi kontrak gila ini. Tolong... lepasin aku, Mas."

Melihat air mata mengalir dari sepasang mata biru yang paling dia kagumi, pertahanan kaku di dada Radit runtuh seutuhnya. Rasa sayang dan keinginan untuk melindungi wanita di depannya ini membubung tinggi mengalahkan egonya. Radit melangkah maju, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, kedua tangan besarnya yang hangat langsung bergerak menangkup wajah cantik dan imut Kalea.

Radit sedikit menundukkan kepalanya, memaksa mata biru Kalea yang berair untuk menatap lurus ke dalam manik mata elangnya yang memancarkan ketulusan mutlak. Ibu jari Radit bergerak perlahan, menghapus air mata yang membasahi pipi kemerahan Kalea dengan kelembutan seorang pria yang sedang jatuh cinta.

"Kalea, liat aku," bisik Radit dengan nada suara yang sangat dalam dan menenangkan. "Jangan pernah kamu berani ngomong begitu lagi di depan aku. Berulang kali aku bilang, kamu bukan anak haram, kamu bukan pembawa sial! Kondisi Mommy itu emang udah punya riwayat penyumbatan jantung dari setahun lalu, jadi ini bukan salah kamu, paham? Aku nggak peduli apa kata dunia luar tentang statusmu. Di mataku, kamu itu tetep Kalea-ku yang tangguh, yang berharga, dan cewek pertama yang berhasil ngebuka ruang hatiku. Aku nggak bakal pernah lepasin kamu, apalagi cuma karena bualan sampah dari orang-orang itu. Jadi tolong, percaya sama aku sekali aja."

Kalea tertegun, napasnya tercekat di tenggorokan. Genggaman hangat tangan Radit di wajahnya dan kata-kata manis yang begitu romantis sukses bikin jantung wanitanya kembali berdegup sangat kencang dan liar di dalam rongga dada. Dia gugup setengah mati, bingung harus menjawab apa menghadapi ketulusan dokter sombong ini.

Tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadari, di balik ambang pintu kaca ICU yang sedikit terbuka, Dimas Narendra Baskara berdiri mematung. Tadinya, Dimas berniat keluar dari ruang rawat untuk membelikan makanan dan minuman hangat buat adiknya di kantin luar. Namun, begitu pintu bergeser, pemandangan intim di koridor sepi itu langsung tersaji telanjang di depan matanya.

Dimas menyaksikan dengan jelas bagaimana tangan abang sulungnya menangkup lembut wajah Kalea, menghapus air matanya, dan mendengar rentetan kalimat cinta yang begitu tulus keluar dari mulut Radit.

DEG!

Detik itu juga, Dimas ngerasa seluruh dunianya runtuh berkeping-keping tanpa sisa. Dadanya sesak luar biasa, bagai dihantam godam besar yang tak kasat mata. Rasa sakit batin yang teramat sangat mendalam merayap mengunci seluruh nadinya. Meskipun dia emang baru kenal Kalea kemarin malam di pinggir jalan, tapi getaran jatuh cinta pada pandangan pertama yang dia rasakan bener-bener nyata dan mendalam. Dan sekarang, melihat gadis yang dia puja sedang didekap hangat oleh abang kandungnya sendiri sebagai calon kakak ipar, Dimas bener-bener kehilangan arah.

Dengan langkah kaki yang kaku bagai robot kehilangan daya, Dimas perlahan-lahan mundur kembali ke dalam ruang rawat ICU, menutup pintu kaca dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara sepeser pun. Dia mengurungkan niatnya keluar, memilih kembali duduk di sudut ruangan dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan air mata kekecewaan yang hendak tumpah.

Di luar lorong, Radit masih terus membujuk Kalea dengan kelembutan yang gigih. "Ayo masuk, Kalea. Tunjukin ke Mommy kalau kamu itu cewek terhormat pilihan aku. Jangan lari dari takdir kita."

Kalea yang benteng pertahanannya goyah akibat usapan hangat Radit akhirnya mengembuskan napas pasrah. "Ya udah... aku ikut masuk, Mas. Tapi kalau nanti suasananya makin kacau, kamu jangan salahin aku ya."

"Nggak bakal," jawab Radit sambil tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya yang mematikan. Tangan kekarnya langsung menyusup, menggenggam erat-erat jemari tangan mungil Kalea dalam genggaman erat yang hangat penuh protektif.

Ceklek...

Radit mendorong pintu ICU, menuntun langkah tegap Kalea masuk ke dalam ruangan bernuansa putih steril tersebut. Di atas ranjang pasien, Ambarwati Baskara tampak sudah siuman sejak beberapa menit yang lalu. Beliau bersandar pada bantal dengan selang oksigen yang masih menempel di hidungnya, didampingi Amanda dan Dimas yang berjaga di sisi ranjang.

Begitu pintu terbuka dan pandangan mata Ambarwati menangkap sosok Kalea yang masuk sambil menggandeng erat tangan putra sulungnya, wajah paruh baya yang masih pucat itu langsung berubah memerah padam menahan amarah yang kembali meledak.

"RADIT!!! MAU NGAPAIN KAMU BAWA PEREMPUAN ITU KE SINI SEKARANG?!" teriak Ambarwati dengan suara yang bergetar hebat menahan emosi, menunjuk tepat ke arah wajah Kalea dengan jari gemetaran. "Keluar kamu dari ruangan saya! Tempat ini steril, nggak sudi saya diisap udaranya sama anak pembawa sial kayak kamu! Pergi?!"

Amanda langsung melompat berdiri dari kursinya, melemparkan tatapan mata yang sangat sinis dan penuh kebencian ke arah Kalea. "Iya, Mas Radit keterlaluan banget sih! Nggak punya otak ya?! Mommy baru aja siuman dan Mas Radit malah nekat bawa perempuan kurang ajar ini masuk ke sini?! Amanda nggak sudi dan nggak bakal pernah setuju punya kakak ipar dari darah kotor kayak dia, titik?!"

Meskipun ibunya berteriak mengusir dan adiknya memaki kejam, Radit sama sekali nggak melepaskan genggaman erat tangannya dari jemari Kalea. Dia justru semakin merapatkan tubuh jangkungnya melindungi Kalea seutuhnya. Radit menatap Amanda dengan sepasang mata elangnya yang mendadak berkilat sangat tajam, kaku, dan dingin laksana belati.

"Amanda! Jaga mulut kamu ya!" bentak Radit dengan suara bariton yang rendah namun terdengar sangat tajam dan mematikan, membuat Amanda langsung ciut ketakutan dan mundur satu langkah di belakang kakaknya. "Kalea ini calon istri sah aku! Suka atau nggak suka, besok dia bakal resmi jadi kakak ipar kamu! Jadi mulai detik ini, belajar cara sopan santun menghargai kakak iparmu kalau kamu masih mau aku anggap sebagai adek di rumah ini!"

"RADITYA EVAN BASKARA!!! KAMU BENER-BENER ANAK DURHAKA GARA-GARA PEREMPUAN INI?!" Ambarwati berteriak marah dengan suara yang semakin melengking kaku. Sifat keras kepalanya memuncak akibat egonya yang terluka melihat putra kebanggaannya lebih memilih membela anak haram keluarga Wijaya. Ambarwati menegakkan punggungnya dengan kaku, menatap Radit penuh dengan ketegasan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Sekarang Mommy kasih kamu pilihan terakhir, Radit! Kamu pilih tetep bersama perempuan darah kotor ini dan angkat kaki dari rumah keluarga Baskara tanpa dapet restu dan harta sepeser pun, atau kamu tinggalin dia detik ini juga dan kembali jadi putra kebanggaan Mommy?! PILIH MOMMY ATAU PEREMPUAN INI, RADIT?!"

Suasana di dalam kamar ICU bernuansa steril itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi, kaku, dan mencekam. Dimas hanya bisa duduk diam membisu di sudut kursi dengan pandangan mata yang kosong, menolak ikut campur karena hatinya sendiri saat ini sedang hancur berkeping-keping.

Radit terdiam kaku. Sepasang mata elangnya menatap ibunya dengan keheningan yang mendalam, terjebak dalam dilema batin yang luar biasa berat antara bakti kepada ibu atau cinta pertamanya.

Kalea yang berdiri di samping Radit bisa merasakan bagaimana jemari tangan kekar Radit mendadak gemetaran tipis akibat tekanan berat dari pilihan ibunya. Rasa sakit hati karena statusnya kembali dihina sebagai darah kotor, ditambah rasa bersalah melihat hubungan ibu dan anak ini hancur akibat dirinya, membuat Kalea mengambil keputusan tegas. Sifat mandiri dan harga dirinya menolak untuk menjadi beban atau pengemis restu di rumah terhormat ini.

Kalea menatap ke samping wajah tegas Radit dengan seulas senyuman sinis yang penuh kepedihan, lalu dengan perlahan namun pasti, Kalea menggerakkan jarinya untuk melepaskan jalinan genggaman erat tangan Radit.

Sret...

Genggaman tangan mereka terlepas seutuhnya. Radit tersentak kaget, menoleh menatap Kalea dengan mata membelalak. "Kalea? Kenapa dilepas?!"

"Urusan kita bener-bener selesai sampai di sini, Mas Radit," ucap Kalea dengan nada suara yang pelan namun terdengar sangat tegas dan berwibawa di depan semua orang. "Aku memilih untuk pergi dari kehidupan kamu sekarang juga. Selamat siang."

Kalea membalikkan tubuh mungilnya dengan entakan high heels miliknya, melangkah lebar secepat kilat meninggalkan ruangan ICU tanpa berniat menengok ke belakang lagi. Air mata kepedihan batin akhirnya tumpah deras membasahi pipinya sepanjang koridor rumah sakit.

"KALEA!!! TUNGGU!!! JANGAN PERG—"

Radit langsung berteriak panik, bersiap melompat lebar mengejar pergerakan Kalea keluar pintu. Namun, baru saja kaki panjang Radit melangkah dua kali, suara pekikan tertahan dari arah ranjang kembali memotong gerakannya dengan telak.

"A-Ahhh... J-Jantungku... D-Dadaku sakit banget... Radit... Ahhh..."

Ambarwati Baskara mendadak memegangi dada kirinya kembali dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat selimut. Wajah paruh bayanya ditekuk kaku dengan napas yang mendadak tersengal-sengal sesak yang dibuat seolah-olah dia kembali mendapat serangan jantung susulan.

"MOMMY?!" Amanda berteriak histeris ketakutan, langsung memeluk ibunya. Dimas juga ikut terlonjak panik dari duduknya, bergegas memeriksa mesin monitor jantung di samping ranjang. "Mas Radit! Cepat ke sini! Monitornya drop lagi!"

Radit seketika mematung di dekat pintu, wajah tampannya memucat sempurna dipenuhi kepanikan darurat medis. Naluri seorang dokter bedah vaskular memaksa kakinya untuk berbalik arah, melepaskan kepergian Kalea demi berlari kesetanan mendekati ranjang ibunya untuk melakukan tindakan resusitasi darurat.

Di balik akting erangan sakitnya yang mencengkeram dada, di dalam lubuk hati Ambarwati yang terdalam, sebuah senyuman licik yang penuh kemenangan egois mendadak terukir sangat lebar. Dia bersorak puas karena taktik serangan jantung palsunya terbukti seratus persen berhasil menahan langkah kaki putra sulungnya agar tidak mengejar si anak haram tersebut.

...****************...

Setelah badai di rumah sakit mereda, Hermawan dan Sarah memutuskan untuk langsung pergi menghadiri sebuah acara rekan bisnis mereka. Di rumah mewah keluarga Wijaya, suasana mendadak sunyi senyap. Keheningan ini justru dimanfaatkan oleh dua manusia berhati iblis. Di dalam kamar utama milik Fandi dan Fitri, sprei kasur sudah berantakan. Fandi Achmad Mahendra dan Shinta Kirana Wijaya sedang bergumul panas di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat suci pernikahan Fitri. Mereka tertawa-tawa, merasa di atas angin setelah berhasil memfitnah Kalea di rumah sakit tadi.

Sementara itu, jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Mobil sedan milik Fitri Amelia Wijaya perlahan memasuki pelataran rumah. Sepanjang jalan pulang dari rumah sakit, senyum tidak pernah lepas dari wajah lelahnya. Sebagai seorang Dokter Spesialis Jantung, Fitri merasa bersyukur kondisi Ambarwati sudah stabil. Tadi sebelum pergi, dia sempat melihat Kalea masih duduk sendirian di bangku tunggu koridor ICU, tapi Fitri memilih mengabaikannya. Dia tidak menyapa atau menanyakan apa pun karena hatinya telanjur dipenuhi kebahagiaan.

Sore ini, Fitri sengaja mampir ke sebuah pusat perbelanjaan mewah. Dia membelikan sebuah hadiah istimewa untuk suaminya tercinta sebagai bentuk rasa terima kasih karena Fandi selalu bersikap manis dan menenangkannya. Sebuah kotak beludru hitam berisi jam tangan mewah keluaran terbaru bermerek Rolex kini tergenggam erat di tangan kirinya.

Fitri melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa sangat sepi. "Mas Fandi? Bi Minah?" panggil Fitri lembut, namun tidak ada sahutan sepeser pun.

Fitri mengedikkan bahu, lalu melangkah riang menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Namun, begitu kakinya sampai di ujung koridor depan kamarnya, langkah Fitri mendadak membeku. Daun telinganya menangkap sebuah suara erangan dan desahan yang sangat menjengkelkan dari dalam ruangan.

Deg! Deg! Deg!

Jantung Fitri seketika berdegup kencang secara tidak karuan. Napasnya tercekat di tenggorokan. Dia melihat pintu kamarnya ternyata terbuka sedikit, menyisakan celah sempit. Dengan tangan yang gemetaran hebat, Fitri memberanikan diri untuk mengintip ke dalam melalui celah tersebut.

Detik itu juga, seluruh dunia Fitri runtuh menjadi kepingan tak bermakna. Matanya melotot sempurna dengan rasa syok yang luar biasa besar menembus dadanya. Di atas ranjangnya sendiri, dia melihat dengan mata kepala telanjang bagaimana suaminya, Fandi, sedang melakukan perbuatan bejat itu bersama Shinta—adik kandung kesayangannya yang selama ini dia manjakan.

"Ngg-nggak mungkin... Mas Fandi... Shinta..." Fitri terisak pelan, buru-buru menutup mulutnya menggunakan telapak tangan agar suara tangisannya tidak pecah di depan pintu. Air matanya langsung tumpah deras membanjiri pipinya. Rasanya hatinya seperti ditusuk ribuan belati berkarat. Ucapan Kalea waktu itu di tepi kolam renang seketika terngiang-ngiang nyata di kepalanya.

"Kalea nggak bohong... aku yang bodoh!" jerit batin Fitri frustrasi.

Dengan tubuh yang lemas dan gemetaran, Fitri merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, berniat menelpon papa dan mamanya untuk menyuruh mereka pulang detik ini juga. Namun, belum sempat dia menekan nomor Papanya, suara deru mobil Hermawan terdengar berhenti di bawah, disusul suara langkah kaki Sarah dan Hermawan yang baru saja melangkah masuk karena acara mereka selesai lebih cepat.

Fitri langsung berbalik tubuh, berlari menuruni anak tangga sambil menangis histeris meraung-raung. Sarah yang baru saja melepas alas kakinya terkejut setengah mati melihat putri sulungnya berlari kesetanan dengan wajah hancur.

"Ya Allah, Fitri! Ada apa, sayang?!" tanya Sarah panik, langsung menangkap tubuh Fitri dan membawanya ke dalam pelukannya yang hangat. "Kenapa kamu nangis kejer begini setelah pulang dari rumah sakit? Dokter Radit macam-macam sama kamu?"

Hermawan juga ikut melangkah mendekat dengan kening berkerut dalam, merasa bingung melihat ada apa dengan putri sulungnya yang biasanya tegap berwibawa itu. "Fitri, tenang dulu. Ada masalah apa di rumah sakit sampai kamu hancur begini? Bicara sama Papa."

Fitri tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Suaranya tercekat oleh tangisan parau yang menyayat hati. Sambil terus terisak hebat, Fitri melepaskan pelukan mamanya, lalu menarik kasar tangan Hermawan dan Sarah, membawa mereka paksa menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua untuk melihat langsung kebusukan di dalam sana.

Begitu sampai di depan pintu kamar, Fitri dengan sisa kekuatannya langsung menendang dan membuka lebar pintu kamarnya. BRAAAKKK!

"LIHAT APA YANG DILAKUIN SAMA DUA IBLIS INI, PA, MA?!" jerit Fitri histeris.

Di dalam kamar, Fandi dan Shinta yang sedang asyik bergumul langsung terlonjak kaget setengah mati. Wajah mereka berdua seketika memucat sempurna bagaikan mayat. Begitu pula dengan Hermawan dan Sarah yang langsung membelalakkan mata mereka, syok berat menatap pemandangan telanjang yang luar biasa menjijikkan di atas ranjang tersebut.

"A-Astagfirullah... Shinta! Fandi!" pekik Sarah nyaris pingsan, menutup matanya ketakutan.

Fandi dan Shinta langsung panik kesetanan, melompat turun dari ranjang sambil buru-buru memunguti dan mencari baju mereka yang berserakan di lantai untuk menutupi tubuh mereka yang gemetaran.

Hermawan Wijaya yang melihat pengkhianatan paling keji di dalam rumahnya sendiri langsung dirasuki oleh kemurkaan yang luar biasa meledak. Rahang tegasnya menegang kuat dengan urat dahi yang menegang kaku laksana badai petir. Hermawan melangkah lebar, lalu tanpa memberikan aba-aba, tangan kekarnya bergerak secepat kilat melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras tepat menghantam wajah Shinta.

PLAK!!!

"ANAK KURANG AJAR TIDAK TAHU DIRIII!!!" bentak Hermawan menggelegar. Dorongan tamparannya membuat tubuh Shinta terhuyung mundur hingga jatuh tersungkur meringkuk di samping ranjang dengan sudut bibir yang berdarah.

Tidak berhenti sampai di situ, Hermawan berbalik arah menatap Fandi yang sedang ketakutan memakai celananya. Tanpa ampun, Hermawan langsung melayangkan sepasang bogeman mentah yang sangat keras bertubi-tubi menghantam wajah Fandi.

BUGHHH! BUGHHH! BUGHHH!

"BAJINGAN KAU FANDI!!! KAU SUDAH MERUSAK DUA PUTRIKU DI RUMAH INI?!" maki Hermawan kesetanan, memukuli Fandi hingga menantunya itu jatuh tersungkur di atas lantai marmer dengan wajah yang babak belur bersimbah darah.

Fandi yang sudah tidak berdaya langsung merayap kaku di atas lantai, lalu dengan sangat menjijikkan dia meringkuk di bawah kaki Fitri, mencoba memegang ujung gaun navy istrinya sambil merengek palsu. "Fitri... Fitri sayang, tolong Mas... Apa yang kamu lihat itu nggak bener, sayang! Mas dijebak! Shinta yang gatel masuk ke kamar kita dan ngegodain Mas! Demi Allah, Mas cuma cinta sama kamu, Fitri!"

Fitri menatap Fandi dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa jijik yang teramat sangat mendalam. Dia mengentakkan kakinya kasar, melepaskan cengkeraman tangan Fandi. Fitri melangkah mendekati Shinta yang sedang menangis memegangi pipinya yang merah.

"Shinta... jawab pertanyaan Mbak sekarang," tanya Fitri dengan nada suara yang mendadak berubah jadi sangat dingin, tajam, dan bergetar hebat menahan sesak. "Udah berapa lama hubungan menjijikkan kalian berdua di belakang Mbak?"

Shinta yang sudah telanjur basah kelicikannya, menatap kakaknya dengan sisa-sisa ego kepalsuannya yang menolak kalah. Sambil terisak memegangi pipinya setelah tamparan yang didapatkan dari papanya tadi, Shinta menjawab dengan lantang. "Udah tiga tahun, Mbak! Kami udah ngelakuin ini selama tiga tahun!"

Fitri seketika tertegun kaku, otaknya berputar cepat menghitung nominal waktu. "Tiga tahun? Sementara pernikahan aku sama Mas Fandi baru berjalan dua tahun... Berarti... berarti kalian berdua udah ngelakuin perbuatan najis itu waktu Mas Fandi masih berstatus sebagai TUNANGAN AKU, HAH?!"

"Iya! Mas Fandi beneran nggak pernah cinta sama Mbak Fitri yang kaku itu!" teriak Shinta membalas dendam egoisnya.

"Shinta bohong, Fitri! Dia yang bohong! Shinta yang selalu ngegodain Mas dan rela nyerahin tubuhnya biar Mas nggak ngelirik Kalea!" potong Fandi panik mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.

"KAU YANG BAJINGAN MAS FANDI!!! KAU YANG SUTRADARA DI SINI SEKARANG MAU NYALAHIN AKU?!" teriak Shinta marah, tidak terima disudutkan oleh selingkuhannya sendiri.

Fitri menarik sudut bibirnya, mengulas sebuah senyuman sinis yang sangat mengerikan menatap kehancuran moral di depannya. Shinta yang melihat senyum sinis kakaknya langsung mendadak ketakutan, tubuh seksinya semakin meringkuk gemetaran di samping ranjang sambil terus menangis parau.

Tanpa aba-aba, Fitri melompat maju, lalu dengan gerakan tangan yang luar biasa kasar, dia langsung menjambak kuat-kuat rambut panjang Shinta hingga kepala adiknya mendongak kaku kesakitan. "Perempuan jalang tidak tahu malu! Kau mengkhianati kakakmu sendiri demi laki-laki brengsek ini?!"

"Awhhh! Sakit, Mbak Fitri! Lepasin?!" jerit Shinta kesakitan, namun sifat dongkolnya malah membuat dia meledakkan tawa histeris yang sangat absurd di sela-sela jambakan itu. "Bwahaha! Tapi emang kenyataannya Mbak Fitri itu BODOH banget, kan?! Tiga tahun aku tidur sama suamimu di rumah ini dan kamu nggak pernah tahu karena kamu terlalu sibuk sok jadi dokter hebat di rumah sakit! Hahaha, kasihan banget si dokter pinter tapi otaknya bego?!"

Mendengar hinaan dari Shinta, emosi Fitri semakin membara. Dia memperkencang jambakannya. Sarah yang tidak tega melihat anak bungsunya disiksa, langsung berlari maju dan menahan paksa kedua tangan Fitri yang sedang menjambak Shinta. "Fitri! Udah, sayang! Lepasin adekmu! Jangan kayak begini, nanti Shinta bisa terluka!"

Fitri melepaskan jambakannya dengan kasar karena ditahan, lalu memutar tubuhnya menatap wajah mamanya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kilatan kekecewaan dan amarah yang luar biasa besar karena melihat mamanya malah membela Shinta yang bersalah. "Mama... Mama masih mau ngebela ular ini setelah apa yang dia lakuin ke rumah tanggaku, hah?! Mama bener-bener pilih kasih dari dulu?!"

Fitri mengusap air matanya kasar, lalu menatap lurus ke arah Fandi dengan tatapan mata yang sedingin es di kutub utara. "Fandi... besok pagi, aku bakal langsung mengurus seluruh surat perceraian kita ke pengadilan! Hubungan kita selesai, dan aku nggak mau liat mukamu lagi!"

Mendengar kata 'cerai', Fandi seketika terperanjat panik. Status sosial dan hartanya terancam hancur. Dia langsung berdiri dari lantainya dengan wajah merah padam penuh amarah. "Nggak! Aku nggak mau cerai, Fitri! Kamu nggak bisa mutusin sepihak begitu cuma karena masalah sepele ini?!"

PLAK!!!

Sebuah tamparan yang luar biasa keras dari Fitri kembali mendarat telak di pipi kanan Fandi yang babak belur, membungkam mulut pria brengsek itu seketika. "Diam kamu bajingan?! Jangan sebut namaku lagi!"

Keributan luar biasa hebat bercampur adu mulut penuh emosi terus berkecamuk di antara Fandi dan Fitri di dalam kamar itu. Hermawan yang sudah tidak tahan melihat kebusukan menantunya langsung melangkah maju, menunjuk pintu keluar dengan pandangan mata tua yang berkilat murka. "Fandi!!! Detik ini juga, kau ANGKAT KAKI DAN PERGI DARI RUMAH SAYA!!! Kau haram menginjakkan kakimu di sini lagi, keluar?!"

"Iya! Pergi kamu dari sini bajingan kotor?!" usir Fitri ikut berteriak lantang mengusir suaminya.

Fandi yang merasa posisinya sudah hancur total dan tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan mendadak meledakkan tawa sinis yang penuh ejekan yang sangat menyebalkan tepat di depan wajah Hermawan dan Fitri. Dia menolak untuk diusir sendirian. "Hahaha! Oke! Aku bakal pergi dari rumah terkutuk ini! Tapi denger ya, Papa Hermawan, Fitri sayang... Kalau aku diusir dari sini, berarti si SHINTA juga harus diusir dari rumah ini sekalian! Adil, kan?! Dia kan sama-sama iblisnya yang tidur sama aku di ranjang ini selama tiga tahun! Kenapa cuma aku yang ditendang keluar?!" goda Fandi dengan seringai mengejeknya yang sangat menjijikkan.

Sarah yang mendengar kalimat ancaman Fandi yang mau menyeret anak emasnya ikut diusir langsung berteriak murka kesetanan dengan wajah memerah. "FANDI!!! JAGA MULUT KOTORMU YA!!! Berani-beraninya kamu mau bawa-bawa anak saya Shinta buat diusir dari rumah ini?! Kamu yang bajingan setannya di sini, keluar kamu?!"

"Aku nggak peduli! Kita hancur bareng-bareng di sini!" balas Fandi lantang dengan dialog yang kian panas memicu baku hantam baru dengan Hermawan di dalam ruangan.

Fitri menggelengkan kepalanya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat mendalam menatap kekacauan moral di dalam kamarnya sendiri. "Aku tetep bakal tetep bercerai sama kamu, Fandi. Urusan kita selesai secara hukum."

Fitri membalikkan tubuh tegapnya dengan langkah kaku, bersiap melangkah keluar dari dalam kamar shinta tersebut. Namun, sebelum kakinya melewati ambang pintu utama, Fitri sempat menghentikan langkahnya sebentar. Dia memutar kepalanya sedikit ke belakang, melemparkan sebuah tatapan mata dan kalimat sinis yang begitu menusuk dan meremukkan ego adik kandungnya yang masih menangis meringkuk di bawah lantai.

"Shinta Kirana Wijaya... nikmatin aja ya sisa-sisa kemenangan palsumu malam ini," desis Fitri dengan suara yang sangat rendah namun terdengar penuh intimidasi kekejaman yang bergetar. "Mulai detik ini, kamu bukan lagi adek yang aku sayangi. Kamu cuma sampah menjijikkan yang bakal aku pastiin hidupmu bakal jauh lebih hancur dan menderita kayak di neraka daripada apa yang pernah dirasain sama Kalea selama ini. Selamat meratapi kebusukanmu sendiri, pelacur."

Fitri melangkah lebar meninggalkan koridor lantai dua dengan tangisan parau penuh dendam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!