----
"Ugh ..."
Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ... sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. RENCANA ARDIANSYAH
Flash Back!
Saat Nayra keluar dari kamar-- tempat sang kakek di rawat. Monica melihatnya saat itu.
"Nayra!!! Jadi kamu ada di dalam ..."
Tatapannya tajam melihat Nayra yang keluar dari kamar sang kakek dengan langkah kaki yang berat dan raut wajah penuh kesedihan.
"Sekarang kamu sudah mengetahui siapa dirimu Nayra!" ucap Monica dengan tenang.
"Karena kamu telah mengetahuinya! Kamu harus mati Nayra!!!"
Flash Back Off!
...══════ஜ▲ஜ══════...
"Monica! Kamu pikir aku tidak tahu itu semua adalah ulah mu!" Ardiansyah menatapnya. "Aku tidak akan pernah membiarkan Nayra mati, sebelum aku berhasil membalas dendam kepada kalian semua yang telah membuat ibuku menderita."
"Se-sejak kapan kalian berdua menjalin hubungan?" tanya Dharma -- ayah Aqila.
Aqila tersenyum. "Sudah lama pah! Aku hari ini, aku berniat memberi tahu kalian semua ... Aku dan Ardiansyah sudah resmi bersama, kami berdua sedang menjalin hubungan."
--
Setelah acara selesai ...
"Ardiansyah! Apa kamu ada urusan setelah ini?" tanya Aqila.
"Ada apa? Apa kamu perlu sesuatu?" jawab Ardiansyah, kembali bertanya.
"Aku ingin tahu? Kenapa tiba-tiba sekali kamu ingin berpacaran dengan ku?" tanya Aqila semakin penasaran.
"Apa kamu lupa perjanjian kita kemarin! Kita hanya berpura-pura menjadi pasangan di depan orang-orang, itu semua demi keuntungan kita masing-masing ..." jawab Ardiansyah tegas.
"Aku tahu itu! Kenapa kamu tiba-tiba saja datang kesini? Apa yang sebenarnya kamu rencanakan Ardiansyah? Aku tahu orang seperti dirimu tidak akan datang kesini tanpa ada tujuan?"
"Sepertinya kamu tidak bodoh Aqila! Tenang saja, aku tidak akan menyakiti kalian! Aku hanya ingin memastikan kamu menepati janji mu!" Ardiansyah perlahan mendekat.
"Jangan lupa! Aku adalah musuh keluarga mu!" bisik Ardiansyah di telinga Aqila.
"Aku tidak peduli! Cepat atau lambat, kamu akan memohon di bawah kaki ku." jawab Aqila penuh percaya diri.
Ke-dua nya tersenyum menyeringai, sama-sama memiliki niat tersembunyi senyum licik tersirat diantara mereka.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Di dalam sebuah kamar Nayra kembali sadar ...
"Ssttt ..." aku perlahan membuka mataku, sambil memegang kepala ku yang sedikit terasa sakit.
"Dokter!" aku memanggil dokter yang memeriksa ku saat ini.
"Iya!" jawab dokter itu.
Aku berusaha bangun dari tempat tidur, namun aku tidak bisa! Seluruh tubuh ku masih terasa sakit dan begitu lemah.
"Hati-hati!" dokter itu dengan lembutnya membantu ku duduk.
Aku bertanya kepada dokter yang ada di depanku, kenapa aku tidak merasakan bayi yang ada di dalam kandungan ku.
"Dok! Kenapa aku tidak merasakan bayiku lagi ...?!"
Saat itu aku melihat, dokter yang ada di hadapanku sedikit ragu untuk berbicara.
"Bu Nayra! Be-begini ..."
"Apa Dok?"
Dokter itu sedikit menundukkan wajahnya.
"Apa Dok? Cepat katakan ...?!" desak ku kepada dokter itu.
"Ibu jangan syok saat mendengarnya!" pinta dokter itu kepada ku.
Aku mengangguk. "Ada apa dok?" aku semangat bertanya-tanya?
"Bayi yang ada di kandungan ibu sudah tidak ada! Ibu mengalami keguguran ..." jawab dokter itu kepada ku dengan penuh keprihatinan.
SRET!
Bagaikan tersayat sembilu ... Mataku terbelalak dan berkaca-kaca. Air mataku langsung mengalir deras penuh kesedihan.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... T-tidak! Tidak mungkin Dok ..." suara ku serak dan terisak-isak.
"Mohon ibu menerima kenyataan! Ibu yang sabar ya."
"Anakku ..." air mataku terus mengalir deras, saat aku tahu bahwa aku keguguran.
Ceklekkk
Aku melihat Ardiansyah masuk.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Ardiansyah kepada ku.
Aku terus menangis tanpa menghiraukan pertanyaan Ardiansyah.
"Apa kamu menangis karena mereka? atau kamu menangis karena tidak jadi mati?!"
Kata-kata sadis Ardiansyah kembali menusuk hatiku. Aku menoleh ke-arah nya, dengan raut muka penuh dengan amarah.
"Ardiansyah! Kenapa kamu menolong ku? Kenapa kamu tidak memberikan aku mati saja ... HAAA! Kenapa? Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Teriakku kepada Ardiansyah dengan emosi yang dalam dan penuh dengan kemarahan. Rasanya lebih baik aku mati daripada aku harus hidup namun kehilangan bayi yang ada di dalam kandungan ku.
"Apa kamu marah karena aku menyelamatkan nyawa mu Nayra! Dasar wanita bodoh!"
Aku semakin menatap tajam Ardiansyah. "Aku ingin mati sekarang!!!"
"Mati? Kamu ingin mati? Nayra-Nayra ... Dengar! Jika kamu mati sekarang, itu yang mereka inginkan ... Kematian mu, itu adalah rencana mereka! Apa kamu ingin mati sementara mereka hidup bahagia di atas penderitaan mu! HAAA" ucap Ardiansyah sedikit membentak di ujung kalimat.
"Apa kamu tidak ingin membalas dendam kepada mereka semua!!! HAAA!!! BODOH KAMU NAYRA!!!" suara Ardiansyah mengerang keras, urat lehernya keluar dan nadanya naik satu oktaf.
"Mereka semua hidup bahagia! Sedangkan kamu! Apa kamu bahagia? Tidak! Kamu hanya dijadikan sebagai pelampiasan keserakahan mereka!"
Aku menangis meratapi nasibku. Aku adalah putri kandung ayahku! Tapi kenapa aku harus hidup menderita? Lalu aku tersadar, kenapa aku bisa ada di panti asuhan?.
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
Semua perkataan Ardiansyah memang benar, apakah aku yang bodoh dan lemah. Apa memang ini semua adalah takdir ku?
"Tuan! Tuan tenang dulu! Bu Nayra baru sadar."
"Tenang! Aku berusaha menyelamatkan nyawa nya! Namun apa? Dia ingin mati! Bagaimana aku bisa tenang ..." tangannya menunjuk Nayra.
Aku tidak tahu, mengapa Ardiansyah menyelamatkan nyawa ku? Jelas-jelas dia tahu aku adalah anak dari keluarga yang selama ini menjadi musuhnya? Apa yang sebenarnya Ardiansyah rencanakan?.
"Balas mereka semua Nayra!!! Hancurkan seluruh keluarga itu! Sama seperti mereka menghancurkan hidup mu"
Ardiansyah semakin memprovokasi Nayra. Rencana awalnya yaitu membuat Nayra membenci keluarganya sendiri.
"Dengar Nayra! Mereka yang membuat kamu kehilangan bayi mu! Mereka juga yang ingin membunuhmu! Mereka semua yang telah menghancurkan hidup mu!"
"DIAM!!! Hiks ... Hiks ... Hiks ..." aku berteriak kepada Ardiansyah.
Aku melihat sorot mata Ardiansyah begitu merah dan penuh kebencian.
"Hancurkan mereka Nayra!!! Hancurkan!!!" teriaknya tajam menembus telingaku.
Sekilas ingatan sebelum aku tidak sadarkan diri terlintas di benakku.
Mati kamu Nayra!!! Ha-ha-ha ... Kamu adalah anak kandung suamiku ... Kamu akan mati ditangan ku ... Mati kamu Nayra!!! Kamu harus mati ...
Ingatan itu muncul sekilas, kepalaku terasa berat saat kata-kata itu terlintas di kepalaku.
"Sstttt" rintihan ku sambil memegang kepalaku yang terasa sangat berat.
"Mama'!!!" sorotan mataku tajam.
Aku tahu siapa yang ingin membuhku. Ibu angkat ku sendiri. Dia pelakunya, tidak cukup dia menyiksa ku selama ini, dia juga tega membunuh ku.
"HAAA!!! Aku akan membunuh mereka semua!!!!"
"Kalian semua harus mati!!!"
Saat itu Ardiansyah tersenyum menyeringai, itulah yang ia harapkan.
"Bagus Nayra! Bagus! Itu yang aku harapkan ... Benci mereka semua! Hancurkan keluar itu ..." ucap Ardiansyah dalam hati penuh kemenangan.
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...
...•...
baca nya
kalau aku yang jadi istri mu, wes tak tinggal pergi