NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3. Ijab di ujung Napas ibu

Malam itu, selepas azan isya menggema dari surau kecil di ujung kampung, rumah keluarga Rahman dipenuhi cahaya lampu kuning yang temaram. Udara Garut terasa dingin sejak sore tadi, aroma tanah bercampur teh manis dan gorengan yang disiapkan seadanya oleh para tetangga memenuhi halaman rumah sederhana itu.

Pekarangan luas yang siang tadi tampak lenggang, kini dipenuhi sandal dan sepatu para tamu. Beberapa ibu duduk bersila di atas tikar sambil berbisik pelan. Para bapak mengenakan sarung dan peci hitam, sesekali melirik ke arah kamar Bu Rahman dengan wajah iba.

Semua orang di kampung itu tahu, malam ini bukan sekadar pernikahan.

Ini adalah permintaan terakhir seorang ibu.

Di ruang tamu rumah sederhana itu, suasana terasa sesak oleh haru yang menggantung di udara. Lampu ruang tamu menyala terang, tetapi tidak ada suara tawa layaknya pesta pernikahan, tak ada pelaminan. Tak ada musik. Tak ada hiasan bunga mewah.

Hanya ada beberapa kursi plastik, meja kecil berlapis taplak putih, dan Al-Qur'an yang diletakkan rapi di atasnya.

Galang Langit jatmika duduk di sudut ruangan dengan tubuh sedikit membungkuk. Lelaki itu mengenakan celana bahan hitam dan kemeja putih polos yang lengannya di gulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, seolah sejak tadi ia terlalu sibuk mengurus ibunya hingga lupa merapikan diri.

Matanya merah.

Sejak tadi ia lebih banyak diam.

Tangannya menggenggam tangan sang ibu yang terbaring lemah di ranjang dalam kamar yang pintunya sengaja dibuka lebar agar bu Rahman bisa menyaksikan semuanya.

"Galang..." suara Bu Rahman lirih.

Galang langsung mendekat. "Ya, Bu."

Tangannya mengusap pelan air mata di sudut mata ibunya. Namun justru dirinya yang tak mampu menahan tangis. Rahangnya mengeras, napasnya berat.

"Jangan nangis terus..." bisik Bu Rahman sambil tersenyum lemah. "Hari ini ibu bahagia."

Galang menunduk dalam. Bahunya bergetar pelan.

Di sisi lain ruangan, Sekar duduk tenang di dekat ibunya, Bu Dewi. Gadis itu tampak masih mengenakan gamis yang ia kenakan sejak tadi sore datang. Tidak ada riasan apa pun pada wajah Sekar. Tidak ada asesoris yang menghiasi kerudungnya.

Sejak tadi, Sekar hampir tak banyak bicara. Jemarinya saling bertaut gugup di atas pangkuan. Sesekali matanya melirik ke arah Galang-- lelaki asing yang beberapa jam lagi akan menjadi suaminya.

Atau mungkin... beberapa menit lagi.

Jantungnya berdegup tak karuan. Ia bahkan masih sulit percaya semua ini benar-benar terjadi. Bu Dewi menggenggam tangan putrinya pelan.

"Kamu takut?" bisiknya.

Sekar menelan ludah lalu mengangguk kecil.

"Sedikit."

Bu Dewi tersenyum lirih, meski matanya sembab sejak tadi. "Galang anak baik."

Sekar kembali menatap laki-laki itu.

Galang masih duduk di samping ranjang ibunya, menunduk sambil mengusap punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh kasih.

Entah kenapa, dada Sekar terasa sesak melihatnya.

Tak lama kemudian suara salam terdengar dari depan rumah.

"Assalamualaikum..."

Beberapa lelaki segera berdiri menyambut kedatangan penghulu yang malam itu datang bersama Mas Iqbal, kakak ipar Galang-- suami dari teh Indah. Lelaki asal Pekalongan itu tampak lebih tenang dibanding anggota keluarga lainnya, meski matanya jelas menyimpan kesedihan mendalam.

Mas Iqbal langsung memeluk adiknya erat.

Galang menahan napas, lalu membalas pelukan itu.

"Semuanya sudah siap. Kamu yang tegar." Bisik Mas Iqbal.

Tak lama kemudian, penghulu mulai mempersiapkan akad sederhana itu. Para saksi duduk di tempat masing-masing. Beberapa tetangga ikut menyaksikan dengan mata berkaca-kaca.

Galang akhirnya berpindah duduk di depan penghulu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Sekar duduk tepat di sampingnya.

Jarak mereka begitu dekat.

Namun terasa asing.

Sekar bisa mendengar napas lelaki itu yang berat dan tidak teratur. Bisa melihat jemari panjang Galang yang gemetar saat menerima tangan wali.

Lelaki itu bahkan tak berani menoleh ke arahnya.

Pandangan Galang terus tertuju ke bawah. Seolah ia sedang berusaha keras bertahan agar tidak runtuh malam ini.

Sementara dari dalam kamar, Bu Rahman menatap mereka dengan mata berkaca-kaca namun penuh kebahagiaan.

Senyumnya tak pernah hilang.

"Bismillahirrahmanirrahim..." suara penghulu memulai akad.

Semua orang mendadak diam. Udara terasa semakin berat. Galang menarik napas panjang.

Lalu ijab qobul itu terucap sederhana, tanpa kemewahan, tanpa pesta.

Namun begitu sakral.

"Saya nikahan dan saya kawinkan engkau, Galang Langit jatmika, dengan Hanum Sekar Salsabila binti Hendra Gunawan..."

Galang mengepalkan tangan satunya di atas paha.

"Saya terima nikah dan kawinnya Hanum Sekar Salsabila binti Hendra Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Sah...!"

Suara para saksi dan tamu menggema bersamaan.

Beberapa ibu langsung menangis haru.

Sekar menunduk dalam. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Tangannya dingin sejak tadi.

Kini statusnya berubah.

Ia telah menjadi istri seorang lelaki yang bahkan belum benar-benar ia kenal.

Di sampingnya, Galang memejamkan mata sesaat panjang sekali. Seolah seluruh tenaganya habis setelah satu kalimat itu berhasil di ucapkan.

Lalu--

Suara benda jatuh pelan terdengar dari arah kamar. Seketika semua kepala menoleh, Bu Rahman yang sejak tadi tersenyum kini terlihat diam tak bergerak di atas ranjang.

Senyum itu masih ada.

Namun matanya perlahan tertutup.

"Ibu...?"

Galang langsung bangkit berdiri.

"Ibu!" suaranya pecah.

Lelaki itu menghampiri ranjang sang ibu dengan langkah limbung. Tangannya mengguncang pelan tubuh Bu Rahman yang kini sudah tak memberi respon.

"Ibu...ibu lihat Galang udah nikah..." suaranya bergetar hebat. "Bu..."

Tak ada jawaban.

Tangis pecah memenuhi rumah malam itu.

Beberapa tetangga langsung beristighfar. Ada yang menutup mulut menahan tangis. Bu Dewi memeluk wajahnya sendiri sambil menangis sesenggukan.

Mas Iqbal memalingkan wajah sambil mengusap air mata kasar di pipinya.

Namun Galang...

Laki-laki itu benar hancur.

Ia memeluk tubuh ibunya erat sambil menangis seperti anak kecil kehilangan arah.

"Ibu jangan tinggalin Galang..." lirihnya patah. "Bu...bangun, Bu..."

Bahu lebarnya bergetar hebat.

Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh tanpa sisa.

Sekar hanya terpaku beberapa detik dari tempat duduknya. Dadanya terasa nyeri melihat lelaki itu menangis sedemikian dalam.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia sadar...Galang bukan lelaki dingin. Ia hanya terlalu sedih. Perlahan Sekar bangkit mendekat.

Namun langkahnya terhenti saat Mas Iqbal dan A Ridwan suaminya teh Mila memberi isyarat agar tubuh Bu Rahman mulai di baringkan dengan tenang.

Galang akhirnya duduk lemah di lantai, tepat di samping ranjang ibunya.

Kepalanya tertunduk.

Tangisnya belum reda.

Dan tanpa banyak bicara, Sekar duduk pelan di dekat lelaki yang kini bergelar suaminya itu.

Tidak ada kalimat penghiburan.

Tak ada kata-kata manis.

Gadis itu hanya mengangkat tangannya perlahan...lalu mengelus bahu Galang dengan lembut.

Pelan.

Hati-hati.

Seolah takut membuat lelaki itu semakin hancur.

Galang terdiam beberapa detik.

Tangisnya masih pecah, namun kini ia tak lagi sendiri.

Di tengah malam penuh duka itu, dirumah sederhana yang di penuhi Isak tangsi para pelayat, sebuah pernikahan baru saja dimulai bersamaan dengan sebuah perpisahan yang abadi.

°°°°°°°°°°

Hai, dukung Yehppee dengan komen, like, vote, subscribe, dan bintang limanya 🫶

jangan loncat-loncat bab ya🙏

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!