NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Nara yang penasaran mendekati Sagara yang tengah duduk di atas motornya. "Kamu ada di sini?"

Belum sempat Sagara menjawab, pintu restoran kembali terbuka. Tiwi keluar sambil membawa tas dan ponselnya di tangan. Namun, langkahnya langsung terhenti begitu melihat sosok pria yang duduk di atas motor di depan Nara. Matanyanya membulat seketika. "Lho ...," gumamnya pelan.

Tiwi menatap layar ponselnya, lalu menatap Sagara lagi memastikan. Nama pengendara dan wajah di depannya benar-benar sama. "Bukannya ini ...." Ia menunjuk Sagara pelan. "Mas montir bengkel kemarin?"

Sagara terkekeh kecil sambil melepas helmnya. "Saya juga baru sadar yang pesan ternyata Mbak Tiwi yang kemarin."

Nara yang berdiri di samping motor mengernyit samar. Tatapannya berpindah bergantian antara Tiwi dan Sagara. "Jadi, dia pengendara ojek online yang kamu pesan?" tanyanya datar.

Tiwi mengangguk cepat, masih tampak tidak percaya. "Iya, Nona. Saya tidak tahu kalau yang dapat order itu dia."

Sagara memasukkan ponselnya ke saku jaket. "Saya kerja macam-macam kalau lagi ngga ada lemburan di bengkel."

Tiwi berkedip beberapa kali. Jujur saja, ia masih sulit membayangkan pria setampan itu bekerja sebagai montir sekaligus pengemudi ojek online. "Hebat juga ya ...," gumamnya tanpa sadar.

Sagara hanya tersenyum tipis. Sementara itu, Nara diam memperhatikan pemuda di hadapannya. Lampu jalan memantulkan cahaya samar di wajah Sagara yang masih sedikit berbekas noda oli meski sudah dibersihkan.

Aneh. Pria itu benar-benar berbeda dari orang-orang yang biasa berada di sekitar Nara. Tidak dibuat-buat. Tidak berlebihan. Dan tidak tampak berusaha mencari perhatian darinya.

"Kalau begitu, saya antar sekarang?" tanya Sagara profesional.

Tiwi langsung menoleh pada Nara. "Nona jadi pergi ke Mansion Tuan Dhanubrata, kan?"

Nara terdiam sesaat. Tatapannya beralih pada motor Sagara. Entah kenapa, sensasi saat duduk di belakang motor kemarin kembali terlintas di pikirannya. Angin yang berhembus, jalanan kota, dan perasaan bebas yang jarang ia rasakan.

Beberapa detik kemudian, Nara menyerahkan kunci mobil pada Tiwi. "Kamu saja yang bawa mobilnya pulang."

Tiwi langsung melongo. "Lalu Nona?"

"Aku ikut dia."

"Hah?" Mata Tiwi membesar sempurna, bahkan Sagara ikut mengangkat alisnya tipis. Namun, wajah Nara tetap tenang seolah ucapannya barusan hal biasa.

"Ada masalah?" tanyanya datar sambil menatap Sagara.

Sagara sempat terdiam beberapa detik. Tatapan matanya berpindah dari Nara ke Tiwi, lalu kembali lagi pada wanita itu. Seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. "Naik motor?" tanyanya memastikan.

"Iya."

Tiwi langsung panik. "Nona, mana bisa begitu?" Bagaimana kalau nanti ketahuan Tuan Dhanubrata?"

"Aku hanya naik ojek online, bukan melakukan kejahatan," jawab Nara tenang.

"Tapi ...."

"Tiwi." Satu panggilan itu cukup membuat Tiwi langsung bungkam.

Sagara menahan senyum kecil melihat perubahan ekspresi asisten itu.

Nara kemudian melangkah mendekati motor. Tanpa canggung, ia berdiri di sampingnya sambil menatap helm cadangan yang tergantung di bagian depan motor. "Helmnya?" tanyanya singkat.

Sagara tersadar cepat. "Ah, iya." Ia segera mengambil helm itu lalu menyerahkannya pada Nara. Jemarinya sempat bersentuhan singkat dengan tangan wanita itu.

Dingin. Berbeda jauh dengan tangannya yang kasar dan hangat karena seharian bekerja keras.

Nara mengenakan helm itu perlahan. Rambut panjangnya disibakkan rapi sebelum pengait helm dipasang di bawah dagu.

Beberapa pria yang keluar masuk restoran tanpa sadar melirik ke arah mereka. Pemandangan wanita elegan seperti Nara berdiri di dekat motor sederhana milik pengemudi ojek oline memang cukup menarik perhatian.

Tiwi terlihat masih belum rela dan tentu saja takut, ia tidak ingin mendapat masalah karena membiarkan Nonanya pergi naik motor dengan seseorang yang tidak dikenal. "Nona yakin? Tuan besar pasti marah."

Nara menaiki motor iti dengan tenang lalu duduk di belah Sagara "Aku hanya ingin mencari angin sebentar."

Padahal Tiwi tahu jelas itu bukan alasan sebenarnya. Wanita itu hanya sedang ingin melarikan diri sejenak dari hidupnya yang terlalu penuh aturan.

Sagara menyalakan mesin motor. Suara halus kendaraan itu terdengar di tengah ramainya jalanan kota malam hari. "Saya jalan, Mbak Tiwi," ucapnya sopan.

Tiwi mengangguk pasrah, meski wajahnya masih penuh kekhawatiran.

Motor itu perlahan melaju meninggalkan restoran. Beberapa detik awal, suasana terasa canggung. Nara duduk tegak tanpa menyentuh tubuh Sagara sama sekali. Sampai sebuah mobil melaju cepat dari samping membuat motor sedikit bergoyang.

Refleks, tangan Nara langsung mencengkram bagian belakang jaket Sagara. Pemuda itu melirik sekilas lewat kaca spion. Sudut bibirnya nyaris terangkat melihat ekspresi Nara yang langsung kembali memasang wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa.

"Takut?" tanya Sagara pelan.

"Tidak."

"Kalau begitu, pegangan saja. Jalannya agak padat."

Nara terdiam sesaat, lalu perlahan jemarinya benar-benar mencengkram jaket Sagara lebih erat dari sebelumnya.

Di sisi lain jalan, sebuah mobil sedan hitam baru saja berhenti di lampu merah. Di dalamnya, seorang pria tampan duduk bersandar sambil menatap layar tablet di tangannya. Jas abu gelap yang dikenakannya masih tampak rapi meski hari sudah malam. Namun, fokusnya buyar saat tanpa sengaja melihat motor yang melintas di depan mobilnya. Atau lebih tepatnya, wanita yang duduk di belakang motor itu.

Mata pria itu langsung menyipit. "Nara?" gumamnya pelan. Tatapannya mengikuti motor yang terus menjauh di antara padatnya kendaraan malam. Mustahil ia salah lihat.

Rambut panjang, postur tubuh, sampai pakaian hitam elegan yang dikenakan wanita itu terlalu mudah dikenali. Dan yang membuatnya semakin terkejut, Nara sedang duduk di atas motor sambil memegangi jaket seorang pria. Ekspresi dingin di wajah Seokjin perlahan berubah. Kaget sekaligus tidak percaya, lalu berubah menjadi sulit dibaca.

"Tuan?" Suara sopirnya membuat Seokjin tersadar.

Lampu lalu lintas sudah berubah hijau sejak beberapa detik lalu. Namun, pria itu masih menatap ke arah motor yang semakin jauh.

"Itu Nona Naraya, kan?" tanya sopirnya ragu.

Seokjin tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras samar. Selama ini, Nara selalu menjaga jarak dari siapa pun. Bahkan pria-pria dari kalangan atas yang mencoba mendekatinya saja nyaris tidak pernah mendapat perhatian lebih. Tapi sekarang?

Wanita itu justru terlihat pergi bersama seorang pria asing di atas motor.

"Apa perlu kita mengikutinya, Tuan?"

Tangan Seokjin mengepal erat, meski wajahnya tetap terlihat datar. "Tidak perlu," ucapnya tegas. "Putar kembali ke Mansion Kakek."

Sopir mengangguk patuh. "Baik, Tuan."

****

Motor terus melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu malam. Angin menerpa lembut rambut Nara yang keluar dari balik helmnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kepalanya terasa ringan.

Tidak ada suara rapat. Tidak ada tatapan penuh kepentingan. Tidak ada Orang-orang yang terus menunggunya mengambil keputusan, hanya suara mesin motor dan udara malam yang dingin.

Sagara melirik kaca spion sekilas. Wanita di belakangnya tampak diam sejak tadi. "Sebentar lagi sampai, Mbak," ucapnya santai.

Nara mengangkat alis samar. Ia mulai memperhatikan jalanan yang mereka lewati. Beberapa detik kemudian, dahinya mengernyit. Motor iti tidak menuju apartemen pribadinya ataupun Mansion keluarga Dhanubrata, melainkan apartemen Tiwi.

Motor akhirnya berhenti tepat di depan lobi apartemen modern itu. Sagara mematikan mesin motor lalu sedikit menoleh ke belakang. "Sudah sampai."

Terdiam beberapa saat, Nara akhirnya turun perlahan dari motor. Ia melepas helm sambil menatap gedung apartemen di depannya. "Aku tidak tinggal di sini?" ucapnya datar.

Sagara tampak bingung. "Saya mengantar sesuai tujuan yang tertera di aplikasi."

Nara berkedip pelan, baru saat itu ia sadar. Karena ini pertama kalinya naik ojek online, ia bahkan tidak tahu bagaimana sistem pemesanannya bekerja. Dan tadi yang tadi memesan memang Tiwi, bukan dirinya.

Sagara memperhatikan perubahan ekspresi kecil di wajah itu sebelum akhirnya terkekeh pelan. "Sepertinya, Mbaknya baru pertama kali naik ojol ya?"

Panggilan Pemuda itu yang terdengar berbeda dibanding saat mereka berada di bengkel kemarin, membuat alis Nara sedikit terangkat. "Mbak?" ulangnya singkat.

Sagara menggaruk tengkuknya canggung. "Maaf. Saya memang terbiasa memanggil begitu pada pelanggan saat sedang narik," ucapnya menjelaskan.

Nara hanya mengangguk kecil.

"Jadi bagaimana?" tanya Sagara lagi. "Mbaknya mau tetep turun di sini atau mau saya antar ke tempat lain?" lanjutnya santai, merasa kasihan melihat Nara yang tampak kebingungan.

"Saya ... sampai di sini saja," putusnya ragu.

"Mbaknya yakin?" tanya Sagara lagi.

"Saya bisa minta sopir saya menjemput ke sini," jawab Nara.

"Baiklah kalau begitu." Sagara tersenyum tipis. "Mbak bisa bayar ongkos ojeknya."

Nara langsung menoleh cepat. "Ongkos?"

"Iya." Sagara menahan tawa. "Ojol tetap harus dibayar, Mbak."

Beberapa detik suasana hening sebelum Nara akhirnya sadar. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi dinginnya sedikit retak. "Oh ...."

Sagara sampai harus memalingkan wajah karena menahan senyum melihat reaksi polos wanita itu.

"Kemarin dan sekarang berbeda, Mbak," ucap Sagara santai. "Kemarin saya menolak ongkos karena saya berniat membantu."

Nara tidak menggubris ucapan Sagara. Ia membuka tas kecilnya. Jemarinya mengambil selembar uang nominal paling besar lalu menyodorkannya.

Namun, Sagara malah menggeleng pelan. "Ini kebanyakan. Saya nggak punya kembaliannya."

"Ambil saja," jawab Nara singkat.

"Uang pas saja, Mbak, " tolak Sagara keukeuh.

Nara menarik napas pelan. Sudah dua kali pemuda itu menolak uang darinya mentah-mentah. Padahal buat, Orang-orang justru berlomba mencari perhatian dan mengambil keuntungan dari namanya. Sementara pemuda di depannya, malah sibuk menghitung tarif normal.

"Totalnya dua puluh tiga ribu."

Nara menatapnya tidak percaya. "Cuma segitu?"

"Iya. Makanya tadi saya bilang uang Mbaknya kebanyakan."

Akhirnya Nara menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Sagara menerimanya, lalu merogoh saku jaketnya untuk mengambil kembalian.

"Kembaliannya, dua puluh tujuh ribu," ucap Sagara santai. Ia menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribuan, satu lembar uang dua ribuan, dan beberapa keping uang receh di telapak tangannya.

Nara langsung terdiam. Tatapannya berpindah dari uang receh itu ke wajah Sagara. Seumur hidup, belum pernah ada yang memberinya kembalian receh seperti itu.

Sagara yang melihat wanita itu diam malah mengangkat alis. "Kenapa?"

Nara perlahan menerima uang itu. Jemarinya tampak sedikit kaku saat memegang beberapa keping logam kecil. "Tidak apa-apa," jawabnya pelan.

Entah kenapa, situasi sederhana itu terasa aneh baginya. Sangat asing, namun justru terasa nyata.

Sagara kemudian mengenakan helmnya kembali. "Kalau begitu saya jalan dulu, Mbak."

Nara mengangguk kecil. Motor itu perlahan menyala lagi, lalu perlahan menjauh untuk kembali berbaur dengan aspal jalan.

Sementara, pandangan Nara masih tertuju pada punggung pemuda itu yang semakin menjauh. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ada seseorang yang memperlakukannya seperti orang biasa. Bukan pewaris keluarga Dhanubrata, bukan CEO muda, dan bukan cucu keluarga konglomerat. Hanya ... seorang pelanggan ojek online. Tanpa sadar, sudut bibir Nara terangkat tipis.

**** bersambung.

1
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
SaturdayNight🌠
benul🤣
SaturdayNight🌠
paling dgbukin tahan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!