NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

​Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Syifa sudah berbaring di atas tempat tidur. Gadis itu bahkan belum sempat mengganti pakaiannya, masih mengenakan gamis lengkap dengan hijab yang membungkus kepalanya. Fadhlan menghela napas pendek. Ia berjalan mendekat, menaruh nampan makanan dan obat di atas nakas samping tempat tidur.

​Fadhlan mendudukkan dirinya di tepi ranjang, tepat di sisi Syifa berbaring. "Syifa, bangun. Makan dulu sebentar. Ummi bilang sakit maag kamu kambuh," ujar Fadhlan, suaranya bariton rendah, terdengar begitu lembut di keheningan kamar.

​Tidak ada respon. Tubuh di balik selimut itu tidak bergeming.

​Fadhlan sedikit menunduk, menatap sudut mata Syifa yang bergerak-gerak kecil. "Saya tahu kamu belum tidur. Setidaknya isi perutmu sedikit dan minum obat dulu, baru setelah itu lanjut istirahat."

​Mendengar desakan suaminya, Syifa akhirnya menyerah. Dengan perlahan, ia membalikkan tubuh dan membuka matanya, mengerang pelan sembari meremas perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk. "Hm... iya," jawab Syifa lirih dengan suara melemah.

​Syifa memaksakan diri untuk duduk, bersandar pada kepala ranjang dengan wajah yang pucat. Fadhlan meraih piring nasi di atas nakas. "Mau saya bantu?" tanya Fadhlan, tangannya sudah siap memegang sendok.

​Dalam keadaan sehat walafiat, Syifa pasti akan menolak mentah-mentah. Namun malam ini, tenaganya benar-benar terkuras habis. Dengan pasrah dan sedikit malu, Syifa mengangguk pelan. Dengan ketelatenan yang tidak pernah Syifa bayangkan sebelumnya, Fadhlan menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke bibir Syifa.

​Baru satu suapan masuk, Syifa langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sudah... engga selera makan lagi, Mas. Rasanya mual.

​Fadhlan menahan sendoknya di udara, menatap Syifa lekat-lekat. "Baru satu suap, Syifa. Buka mulutmu lagi, hmm?" pinta Fadhlan dengan nada membujuk yang sangat halus.

​"Perutnya perih banget..." rengek Syifa tanpa sadar, bibirnya mengerucut persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

​Detik itu juga, dada Fadhlan berdesir hebat. Kerutan di dahi Syifa dan caranya merengek seketika memicu gelombang kenangan masa lalu di benak Fadhlan, kenangan saat Syifa masih kecil dan selalu merengek padanya dengan cara yang persis sama. Fadhlan tersenyum sangat tipis, menyembunyikan binar kerinduan di matanya.

​"Iya, saya tahu perutmu perih. Justru karena itu harus diisi makanan. Dua suap lagi, oke? Setelah itu minum obat," tawar Fadhlan mengalah.

​Syifa akhirnya menurut daripada harus mendengarkan 'kuliah malam' dari suaminya yang berstatus dosen itu. Setelah dua suapan terakhir berhasil ditelan dengan susah payah, Fadhlan membantu Syifa meminum obatnya.

......................

​Selesai merapikan piring dan gelas, Fadhlan berbalik dan mendapati Syifa tengah sibuk menata sesuatu di tengah-tengah ranjang. Sebuah guling panjang diletakkan melintang tepat di tengah kasur, membagi area tidur mereka menjadi dua bagian yang sama besar.

'​Ya Allah... malam ini beneran harus tidur satu ranjang sama Pak Fadhlan?'batin Syifa menjerit, mendadak dilanda panik.

​Syifa mendongak, menatap Fadhlan dengan tatapan defensif yang dipaksakan galak, meski wajahnya masih pucat. "Jangan sampai melewati pembatas guling ini ya, Pak. Awas saja kalau melanggar."

​Fadhlan menatap guling pembatas itu, lalu menatap wajah ketakutan istrinya dengan senyuman pasrah. "Terserah kamu saja, gadis kecil," jawab Fadhlan santai, mulai merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong.

​"Kalau melanggar, ada hukumannya!" ancam Syifa lagi, tidak mau kalah.

​Fadhlan memiringkan tubuhnya menghadap Syifa, menumpu kepalanya dengan satu tangan. "Hukuman? Apa hukumannya?"

​"Iya! Kalau Pak Fadhlan yang melanggar dan melewati guling ini, hukumannya harus bantu saya mengerjakan seluruh tugas kuliah saya sampai semester ini selesai. Tapi, kalau saya yang melanggar, hukumannya—"

​"Hukumannya, kamu harus dapat nilai A+ di mata kuliah saya, maksimal sampai ujian akhir semester nanti," potong Fadhlan cepat dengan kerlingan mata jahil.

​Syifa mendengus kesal, bibirnya mencibir telat. "Hm! Dosennya saja pelit nilai setengah mati, bagaimana mahasiswanya mau dapat nilai A+!" ketus Syifa, langsung membalikkan badan dengan cepat membelakangi Fadhlan dan menarik selimut hingga sebatas dada.

​Bukannya marah mendengar cibiran istrinya, Fadhlan justru terkekeh pelan di dalam kegelapan. Suara tawa rendah Fadhlan terdengar begitu menggelitik di telinga Syifa, membuat jantung gadis itu berdegup tidak karuan. Syifa memejamkan matanya kuat-kuat, mencoba waspada dan gelisah meski rasa kantuk sudah menyerang pertahanannya.

​Melihat punggung kaku istrinya yang tampak tegang, Fadhlan berbisik pelan, "Tidurlah, ini sudah sangat malam. Lagipula kamu sedang sakit... mana tega saya meminta 'hak' saya darimu dalam kondisi seperti ini."

​DEG!

​Kalimat blak-blakan Fadhlan sukses membuat wajah Syifa memerah sempurna di balik selimut. Ia semakin mengerutkan tubuhnya menghadap tembok, pura-pura tidak mendengar, walau hatinya sudah seperti kembang api yang meletup-letup.

...----------------...

Lewat tengah malam, keheningan kamar terusik. Fadhlan yang memiliki kebiasaan tidur tidak terlalu nyenyak, mendadak terbangun saat mendengar suara rintihan tertahan di sebelahnya. Pria itu membuka mata dan langsung bangkit duduk. Suara itu berasal dari Syifa.

​Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, Fadhlan bisa melihat dahi Syifa dipenuhi butiran keringat dingin. Napas gadis itu memburu, dan saat Fadhlan menyentuh keningnya, suhu tubuh Syifa meningkat drastis. Gadis itu terserang demam tinggi.

​Dengan sigap dan tanpa kepanikan, insting pelindung Fadhlan langsung bekerja. Ia keluar kamar sejenak, mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil dari dapur, lalu kembali ke sisi ranjang untuk mengompres dahi istrinya.

​"Ja-ngan... tolong, Kakak! Syifa kesakitan... sakit sekali," racau Syifa tiba-tiba, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri di atas bantal.

​DEG!

​Jantung Fadhlan serasa berhenti berdetak. Pria yang di kampus dikenal berhati dingin, kaku, dan tak tersentuh itu mendadak merasakan dadanya berdenyut nyeri yang teramat sangat. Air matanya hampir menitik mendengarkan sebutan yang sudah bertahun-tahun tidak ia dengar dari bibir gadis itu. 'Kakak' , Syifa memanggilnya dengan sebutan masa kecil mereka di dalam mimpi buruknya.

​"Syifa takut... Kakak jangan pergi, mereka jahat! Kakak di sini saja..." rintih Syifa lagi dengan suara parau. Tangan mungilnya bergerak acak di atas kasur, seolah mencari pegangan, hingga akhirnya jemari dinginnya berhasil meraih dan menggenggam erat telapak tangan Fadhlan yang berada di sampingnya. Mata Syifa masih terpejam rapat, terperangkap dalam trauma masa lalu yang entah apa.

​Fadhlan menggenggam balik tangan istrinya dengan erat, merasakan getaran ketakutan dari tubuh Syifa. Ia menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Syifa, lalu berbisik dengan suara yang bergetar penuh emosi mendalam.

​"Kakak di sini, Sayang... Kakak di sini. Kakak janji... Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tidak akan pernah."

​Keajaiban kecil terjadi. Perkataan penuh keyakinan dari Fadhlan perlahan menenangkan badai di dalam mimpi Syifa. Rintihannya mereda, napasnya kembali teratur, dan gerakan gelisah di kepalanya terhenti. Namun, tangan mungilnya tetap menggenggam erat jemari Fadhlan, seolah takut jika dilepaskan, pria itu akan menghilang.

​Melihat pemandangan itu, pertahanan ego Fadhlan runtuh sepenuhnya. Dengan perlahan, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Syifa, menembus batas guling pembatas yang kini sudah terabaikan. Fadhlan menarik tubuh ramping istrinya dengan sangat hati-hati ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan kepala Syifa bersandar di dada bidangnya.

​"Maaf..." lirih Fadhlan sangat pelan di tengah kegelapan, tangannya membelai lembut puncak kepala Syifa yang masih terbalut jilbab instan. "Kakak tidak bermaksud melukai perasaanmu atau memaksamu dengan pernikahan ini, Dek... Kakak hanya tidak ingin kehilangan kamu lagi. Kakak hanya ingin kamu mengingat Kakak lagi... mengingat momen kebersamaan kita dulu."

​Dengan perasaan cinta yang sudah mengakar begitu dalam sejak mereka kecil, Fadhlan menunduk, lalu mengecup singkat dan penuh kelembutan bibir istrinya tanpa ragu. Sebuah kecupan suci yang mengunci janji setianya untuk menjaga gadis itu seumur hidupnya.

...****************...

1
Ulfa 168
lanjut thor
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!