Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari balik gelombang
Tiga minggu telah berlalu sejak Ravion pertama kali menginjakkan kaki di tanah pesisir yang asin ini. Kulitnya kini benar-benar gelap, wajahnya lebih tirus, namun sorot matanya jauh lebih tajam dan stabil. Tidak ada lagi serangan panik saat mendung datang; ia telah belajar bahwa badai hanyalah bagian dari siklus alam yang harus dihadapi, bukan ditakuti.
Namun, dunia di luar sana tidak berhenti berputar. Pagi itu, sebuah mobil hitam mengkilap—pemandangan yang sangat asing bagi warga desa—berhenti tepat di depan gubuk Elfesya. Sosok asisten kepercayaan Ravion turun dengan wajah cemas yang luar biasa.
"Pak Ravion, saya mohon... Anda harus kembali," ucap sang asisten begitu menemukan Ravion sedang membantu warga memperbaiki jaring. "Rapat pemegang saham tahunan diadakan lusa. Ayah Anda tidak bisa mengendalikan para investor. Saham perusahaan mulai goyah karena ketidakhadiran Anda yang terlalu lama tanpa alasan yang jelas."
Ravion berdiri, mengelap tangannya yang kotor dengan kain lusuh. Ia menatap mobil itu, lalu menatap laut lepas. Ada bagian dari dirinya yang sudah mulai terbiasa dengan ketenangan di sini, namun ia tahu ia tidak bisa lari selamanya. Ada tanggung jawab besar yang harus ia selesaikan, terutama untuk membersihkan nama yang selama ini ia sandang.
Ia berjalan menuju gubuk dan menemukan Elfesya sedang menemani Elric membaca dari buku-buku bekas yang mereka temukan di pasar.
"Aku harus kembali, Elfesya," ucap Ravion tanpa basa-basi.
Elfesya mendongak, matanya menunjukkan secercah kekecewaan yang coba ia sembunyikan. "Saya mengerti. Bapak memang tidak seharusnya berada di sini lebih lama lagi."
"Bukan 'aku' yang kembali," sela Ravion, suaranya mantap. "Tapi 'kita'. Aku tidak akan meninggalkanmu di sini sendirian lagi. Elric harus kembali sekolah. Dia sudah terlalu lama tertinggal, dan aku sudah mengatur agar dia masuk ke sekolah terbaik dengan identitas yang terlindungi, jika itu yang kamu khawatirkan."
Elfesya terdiam. Ia menatap Elric yang juga terdiam menatap mereka berdua. "Saya tidak ingin kembali ke rumah besar itu, Ravion. Saya tidak ingin menjadi pajangan lagi."
"Kita tidak akan ke sana," janji Ravion. "Aku punya unit apartemen atas namaku sendiri, bukan atas nama keluarga Arshaka. Kita akan tinggal di sana. Hanya kita bertiga. Kamu bisa tetap bekerja, atau kamu bisa melanjutkan pendidikanmu yang sempat tertunda. Aku akan mengembalikan semua hak yang seharusnya milik keluargamu, langkah demi langkah."
Elfesya menatap tangan Ravion yang kasar—tangan yang selama tiga minggu ini bekerja keras bersamanya. Ia melihat kejujuran yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
"Elric," panggil Elfesya pada adiknya. "Kamu mau kembali sekolah?"
Bocah itu mengangguk pelan. "Aku ingin jadi pintar, Kak. Supaya tidak ada orang yang bisa menipu keluarga kita lagi."
Elfesya menghela napas panjang, lalu menatap Ravion. "Baik. Kami ikut. Tapi ingat, Ravion... jika saya melihat satu saja tanda bahwa Anda kembali menjadi pria yang dulu, saya tidak akan ragu untuk menghilang lagi. Dan kali ini, Anda tidak akan pernah bisa menemukan saya."
"Aku pegang kata-katamu," sahut Ravion dengan senyum tipis yang tulus.
Perjalanan kembali ke Jakarta terasa sangat kontras. Elric tampak terpukau melihat gedung-gedung tinggi dari jendela mobil, sementara Elfesya lebih banyak diam, menggenggam erat tangan adiknya.
Mereka tidak menuju rumah utama Arshaka, melainkan ke sebuah penthouse pribadi di pusat kota yang memiliki akses keamanan sangat ketat. Tempat itu luas, modern, namun terasa lebih hangat karena Ravion secara khusus meminta pelayan untuk menyiapkan kamar yang nyaman untuk Elric, lengkap dengan tumpukan buku dan komputer untuk belajarnya.
"Malam ini aku harus ke rumah utama untuk bicara dengan Papa dan Nenek," ucap Ravion setelah mereka sampai. "Kalian istirahatlah. Di sini aman."
"Ravion," panggil Elfesya sebelum pria itu keluar. "Terima kasih... karena telah menjemput kami dengan cara yang benar."
Ravion hanya mengangguk kecil, matanya memancarkan rasa lega yang luar biasa.
Namun, sesampainya di rumah utama, suasana tidak sehangat yang ia bayangkan. Pak Arshaka sudah menunggunya di ruang kerja dengan wajah merah padam.
"Jadi kamu membawa gadis itu kembali?" tanya Pak Arshaka dengan nada menghina. "Setelah semua keributan yang dia buat? Kamu menghancurkan reputasimu sendiri demi seorang sekretaris rendahan?"
Ravion berdiri tegak, tangannya terselip di saku celana. Ia tidak lagi merasa terintimidasi oleh ayahnya. "Dia bukan sekretaris rendahan, Pa. Dia istriku. Dan mulai besok, aku akan memulai proses audit internal terhadap semua aset yang Papa ambil dari Winda Jaya Konstruksi sepuluh tahun lalu."
Pak Arshaka tersentak, wajahnya memucat. "Apa maksudmu?! Itu urusan masa lalu!"
"Masa lalu yang membangun masa depanmu yang palsu ini," balas Ravion dingin. "Aku akan mengembalikan apa yang menjadi hak Elfesya. Jika Papa mencoba menghalangiku, aku tidak akan segan-segan mengungkap semua kebusukan Papa ke publik. Aku tidak peduli pada saham Arshaka Group jika fondasinya dibangun dari penderitaan orang lain."
Nenek Lastri yang berada di ambang pintu hanya bisa menutup mulutnya, terkejut sekaligus bangga melihat cucunya akhirnya memiliki keberanian untuk menjadi pria yang berintegritas.
Ravion melangkah pergi, meninggalkan ayahnya yang terpaku dalam ketakutan. Malam itu, ia kembali ke apartemennya. Saat ia masuk, ia melihat Elfesya sedang menyelimuti Elric yang tertidur pulas di kamar barunya.
Ravion mendekat, berdiri di belakang Elfesya. Ia tidak lagi merasa perlu menutup gorden. Di luar sana, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip indah, dan untuk pertama kalinya, Ravion merasa bahwa masa depannya tidak lagi segelap senja yang selama ini ia takuti.
"Kita mulai dari awal, Elfesya," bisiknya.
Elfesya menoleh, menatap pria yang kini berdiri di sisinya sebagai pelindung, bukan lagi sebagai tuan yang angkuh. "Dari awal yang jujur," jawabnya pelan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...