Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Tidak ada yang benar-benar berubah setelah pertemuan itu.
Hidup tetap berjalan, seperti biasa.
Orang-orang tetap berangkat pagi, pulang malam, mengeluh tentang hal-hal kecil, dan tertawa pada hal-hal yang sama.
Tapi bagi Arka…
ada sesuatu yang diam-diam tertinggal.
Bukan Nara.
Karena Arka tahu, Nara sudah benar-benar pergi.
Tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu
sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan, bahkan pada dirinya sendiri.
Malam itu, Arka duduk sendiri di ruangannya.
Lampu tidak terlalu terang.
Hanya cukup untuk membuat bayangan terlihat jelas.
Di meja, ponselnya tergeletak.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada pesan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama
Arka tidak mencari siapa pun.
Hanya… duduk.
Diam.
Pikirannya kembali ke kereta.
Ke pertemuan yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi.
Ke cara Nara menatapnya
tidak lagi seperti dulu.
Tidak ada harapan.
Tidak ada tuntutan.
Hanya… penerimaan.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Karena Arka sadar
Nara sudah benar-benar selesai.
Sementara dia…
tidak pernah benar-benar mulai memperbaiki.
“Kenapa baru sekarang…”
Arka bergumam pelan.
Tapi tidak ada yang menjawab.
Karena jawaban itu sudah terlalu jelas
dan terlalu terlambat.
Arka bangkit, berjalan ke arah jendela.
Melihat ke luar.
Kota masih hidup.
Lampu-lampu menyala.
Mobil bergerak.
Orang-orang berjalan.
Semua terlihat biasa.
Tapi di dalam dirinya
tidak.
Dia mengingat hal-hal kecil.
Hal-hal yang dulu terasa tidak penting.
Cara nara selalu menunggu dia selesai bicara.
Cara Nara tidak pernah memaksa.
Cara Nara tetap tinggal… bahkan saat Arka mulai menjauh.
Dan sekarang
Arka baru mengerti.
Bahwa cinta Nara dulu
tidak pernah setengah-setengah.
Hanya saja
Arka yang tidak tahu cara menjaganya.
Dia menghela napas panjang.
Menutup mata.
Ada banyak hal yang ingin dia ulang.
Bukan untuk mengubah semuanya.
Tapi setidaknya
untuk melakukan satu hal dengan benar.
Jujur.
Tentang apa yang dia rasakan.
Tentang apa yang dia takutkan.
Tentang apa yang sebenarnya dia inginkan.
Tapi waktu tidak memberi kesempatan seperti itu.
Waktu hanya berjalan.
Dan membawa semuanya pergi.
Arka kembali duduk.
Tangannya menyentuh ponsel
Untuk sesaat
dia ingin membuka percakapan lama.
Nama itu masih ada di sana.
Tidak pernah dia hapus.
Nara.
Tapi dia tidak membukanya.
Karena untuk pertama kalinya
dia mengerti bahwa beberapa hal…
tidak perlu diulang.
Bukan karena tidak ingin.
Tapi karena sudah tidak seharusnya.
Hari-hari berikutnya berjalan pelan.
Arka mulai kembali ke rutinitas.
Bekerja.
Bertemu orang.
Berbicara seperti biasa.
Dari luar
tidak ada yang berubah.
Tapi di dalam
Arka menjadi lebih diam.
Bukan karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan.
Tapi karena dia mulai memahami
tidak semua hal bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Suatu sore, tanpa rencana
Arka kembali ke tempat yang dulu sering mereka datangi.
Kafe kecil.
Tidak terlalu ramai.
Masih sama seperti dulu.
Dia duduk di sudut.
Memesan minuman yang sama.
Dan untuk beberapa detik
semuanya terasa seperti kembali.
Seolah Nara akan datang.
Duduk di depannya.
Tersenyum kecil.
Tapi tidak.
Kursi itu kosong.
Dan untuk pertama kalinya
Arka benar-benar merasakan…
kehilangan.
Bukan kehilangan seseorang yang pergi.
Tapi kehilangan kesempatan
untuk melakukan sesuatu dengan benar.
Dia tertawa kecil.
Pahit.
“Harusnya waktu itu…”
Kalimat itu menggantung.
Karena tidak ada kelanjutannya.
Semua “harusnya”
selalu datang setelah semuanya selesai.
Arka menatap meja di depannya.
Kosong.
Seperti percakapan yang dulu tidak pernah dia mulai.
Dan sekarang
tidak akan pernah bisa dia mulai lagi.
Malam semakin larut.
Arka pulang dengan langkah yang lebih pelan.
Bukan karena lelah.
Tapi karena dia tidak lagi terburu-buru.
Tidak ada yang dikejar.
Tidak ada yang ditunggu.
Hanya… hidup.
Dan semua yang sudah terjadi di dalamnya.
Beberapa hari kemudian, Arka menemukan sesuatu yang lama.
Sebuah catatan kecil.
Tulisan tangan Nara.
Sederhana.
“Jangan terlalu sering diam ya. Nanti aku yang capek menebak.”
Arka tersenyum kecil.
Matanya sedikit basah.
Karena sekarang
dia mengerti.
Nara tidak pernah meminta terlalu banyak.
Hanya… kejelasan.
Dan itu
yang tidak pernah Arka berikan.
Dia menutup catatan itu pelan.
Menyimpannya kembali.
Bukan untuk dilupakan.
Tapi untuk diingat
sebagai sesuatu yang pernah dia miliki…
dan tidak dia jaga.
Waktu terus berjalan.
Dan perlahan
rasa itu berubah.
Bukan lagi penyesalan yang menyakitkan.
Tapi menjadi…
pemahaman.
Bahwa tidak semua kehilangan harus diperbaiki.
Beberapa hanya perlu diterima.
Dan mungkin
itulah cara hidup mengajarkan sesuatu.
Tidak dengan memberi kesempatan kedua.
Tapi dengan membuat kita mengerti
apa yang seharusnya kita lakukan…
di kesempatan pertama.
Suatu malam
Arka kembali melihat langit.
Tenang.
Tidak ada yang istimewa.
Tapi cukup.
“Semoga kamu bahagia.”
Dia berkata pelan.
Bukan untuk didengar.
Bukan untuk dijawab.
Hanya… untuk dilepaskan.
Dan untuk pertama kalinya
Arka tidak merasa berat setelah mengatakannya.
Karena kali ini
dia tidak menahan apa pun lagi.
Tidak ada yang tertinggal.
Kecuali satu hal
pelajaran.
Bahwa mencintai seseorang…
tidak cukup hanya dengan perasaan.
Tapi juga keberanian
untuk tetap tinggal.
Dan berbicara…
sebelum semuanya terlambat.