Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21. rencana ta'aruf
Chris masih merebahkan tubuhnya di sebuah papan kayu di rooftop kosnya, kota Yogyakarta di bawah sana terasa begitu tenang, kontras dengan pikirannya yang riuh. Angin yang semilir pun tak cukup menenangkan dadanya yang terasa sesak.
Ia mendesah pelan, kedua matanya menerawang jauh ke langit.
Ucapan Lia terus terngiang dalam pikirannya, terutama bagian terakhir yang diucapkan begitu tegas,
"Kecuali kamu mau menikah dengan Maya."
Chris menggertakkan rahangnya pelan. Ia tahu Lia bukan sedang menggertak. Kalimat itu bukan main-main. Dalam keluarga Maya, pacaran tanpa niat serius, apalagi sampai menginap di luar rumah seperti semalam, adalah sesuatu yang bisa dianggap aib.
"Menikah?" gumamnya lirih.
Chris menatap kosong, ia tidak pernah berfikir sejauh itu. Ia tidak ingin membuang masa mudanya dengan menjalani kehidupan seperti itu. Baginya, menjalin hubungan seperti pacaran layaknya pasangan muda lainnya, adalah sesuatu yang biasa. Namun ternyata untuk keluarga Maya, tidak demikian.
Ia bahkan belum menyelesaikan kuliahnya. Ia masih ingin merasakan kebebasan sebagai lelaki muda, pacaran tanpa beban, jalan-jalan, merintis karier, dan mencari tahu arah hidupnya. Menikah bukan bagian dari rencana dekatnya.
Namun, setelah melihat ketakutan Maya... lalu menghadapi Lia pagi tadi, semuanya berubah begitu cepat. Ia tidak bisa begitu saja pergi dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mendongak lagi ke langit, seolah berharap ada seseorang yang bisa memberinya jawaban.
Drrrt.. Drrtt..
Getaran di saku celananya membuat Chris kembali terduduk. Chris merogoh ponselnya, dan melihat nama Maya ada di layar telpon genggamnya.
"Maya.."
Maya mengirim pesan singkat kepadanya.
[Chris, tadi kakakku ngomong apa aja sama kamu?]
Chris membaca berulang kali pesan Maya, tetapi tidak ada niatan untuk membalasnya. Ia bimbang. Chris ingin menjalin hubungan dengan Maya, tetapi masih belum siap jika harus menikahi wanita itu.
...****************...
"Mbak Maya, sudah ditunggu Nyonya dan Mbak Lia di bawah."
Maya yang tengah asyik berbaring santai di ranjang, segera mengalihkan pandangan matanya dari ponsel pintarnya ke arah pintu.
"Aku makan malamnya nanti aja, Bi." Maya sedikit kesal, karena hingga malam ini, pesan WhatsApp nya tidak dibalas sama sekali oleh Chris, padahal laki-laki itu jelas telah membacanya.
"Nanti magh Mbak Maya kumat lagi, loh."
"Nggak akan," balas Maya sok tahu.
"Eh, jangan ngomong gitu. Penyakit itu bisa kapan saja dat—"
"Ish! Iya iya! Aku ke bawah."
Maya melemparkan ponselnya ke samping ranjang hingga terpental jauh. Ia turun dari atas tempat tidur dengan wajah tertekuk, lalu pergi meninggalkan Mbok Sri yang saat ini menggelengkan kepalanya karena melihat kelakuan dari anak majikannya.
Maya menuruni tangga, lalu berjalan melewati ruang keluarga. Di sebelah barat ruang keluarga, kakak perempuannya dan ibunya sudah menunggu dirinya untuk makan malam di ruang makan.
Tapi ternyata, selain mereka berdua ada ayahnya yang juga telah duduk di singgasananya.
"Kapan Papa pulang?" Maya mencium pipi ayahnya, Abidin. Dan mengambil duduk di samping ibunya, Ami.
Ibunya adalah sosok wanita yang jauh lebih lembut dan pengertian dari pada sang ayah maupun sang kakak yang akhir-akhir ini begitu otoriter dan disiplin kepadanya. Dan Maya tidak suka. Maya tidak suka diatur.
"Papa beli tiket eksklusif, dan beruntung masih tersisa dua kursi, padahal ini weekend panjang."
"Oh..." Maya melihat menu makan malam dan wajahnya kembali cemberut, karena sekali lagi hidangan makanannya serba sayuran, salad.
Suasana di meja makan besar yang dikelilingi oleh seluruh anggota keluarga Maya, cukup tenang. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang menjadi pengantar diantara mereka.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa menit sebelum Ayah Maya bertanya di tengah makan malamnya. "Maya, besok malam kamu ada waktu?"
Maya mengangkat wajahnya lalu mengangguk.
“Bagus,” kata Abidin senang. "Besok, Reza anak dari sahabat Papa mau ketemu sama kamu."
Maya menautkan kedua alisnya, lalu menghentikan gerakannya dan meletakkan sendoknya ke atas piring sambil menatap ayahnya curiga. “Reza? Reza siapa, Pah? Aku nggak kenal Reza."
“Reza, anak dari teman bisnis Papa. Keluarganya baik, latar belakangnya jelas. Papa sudah bicara pada mamamu. Kamu memang tidak mengenalnya, tapi sebentar lagi kalian akan saling mengenal. Papa dan mamamu ingin kamu ta'aruf dengannya.”
'Ta'aruf? Jangan-jangan Papa mau menjodohkan aku lagi!'
Suapan Lia terhenti. Ia seolah tak ingin mencampuri, sementara suasana mulai mengencang. Maya menatap ayahnya tak percaya.
"Nggak mau!" Maya menolak rencana Papa nya mentah-mentah.
"Maya..." Abidin mengeram.
"Aku nggak mau nikah sekarang. Aku belum siap, Pah!"
"Ini untuk kebaikan kamu, Maya. Kamu sudah cukup umur, sudah dua puluh tahun. Papa nggak mau kamu terus main-main dengan laki-laki yang nggak jelas ujungnya. Dengan ta'aruf, semuanya lebih terarah."
Maya menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang mulai mendidih. “Aku bahkan belum kenal siapa itu Reza, Pah. Aku nggak mau dijodohin.”
"Itu bukan dijodohin, Maya. Ini proses taaruf. Kalian saling mengenal dulu, lalu kalau cocok—"
“Aku bilang aku nggak mau! Nggak! Nggak! Nggak!” potong Maya tajam.
"Maya!"
Semua mata tertuju padanya. Maya merasa napasnya berat. Ia bangkit dari kursinya dengan kasar, hingga kursi berderit di lantai.
"Aku bukan barang yang bisa ditukar-tukar buat nyenengin urusan bisnis Papa," ucap Maya tajam.
"MAYA!!"
Bentakkan keras Abidin membuat Maya bungkam. Pada saat itu juga Maya memilih untuk pergi meninggalkan ruang makan. Langkah kakinya cepat nyaris berlari dengan wajah memerah karena letupan kecil di hatinya.
"Maya!"
Maya mengabaikan panggilan lantang dari ayahnya, dan terus berjalan keluar rumah. Tidak sadar jika kakinya telah menginjak halaman dan sebentar lagi akan sampai di depan pagar tinggi rumahnya.
"Kamu mau ke mana? Maya!"
Sekali lagi, Maya mengabaikan panggilan itu. Kemudian Maya membuka pagar besi rumahnya dan keluar hingga kakinya menjejak aspal.
"Taksi!" Maya berusaha tidak menghiraukan suara ayahnya dan masuk ke dalam taksi.
Saat Maya masuk, ia segera meminta supir itu untuk menjalankan mobilnya. Maya masih melihat sang ayah berteriak memanggilnya. Wajah pria itu tampak merah padam karena marah.
Maya duduk diam di kursi belakang taksi, membiarkan punggungnya bersandar lemas ke sandaran. Pandangannya menerawang ke luar jendela, menyaksikan jalanan Yogyakarta yang mulai ramai oleh aktivitas malam. Namun, pikirannya jauh terjebak dalam percakapan terakhir dengan ayahnya. Maya menggigit bibirnya pelan, matanya mulai memanas. Bukan karena marah, tapi karena sesak. Hatinya terasa berat.
Ia tahu, tadi terlalu emosional. Ia tahu, cara bicaranya pada ayahnya melampaui batas. Tapi Maya juga merasa terpojok, dipaksa memilih jalan yang tidak ia kehendaki. Ia merasa seperti sedang dijerat oleh pilihan yang bukan miliknya.
Namun kini, setelah menjauh dari rumah, amarah itu mulai pudar dan digantikan oleh penyesalan. Maya menyesap udara dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang sesak.
“Maafkan Maya, pah…” bisiknya pelan, tak terdengar oleh siapa pun selain dirinya sendiri. Ia memejamkan mata sejenak. Wajah ayahnya yang terlihat kecewa kembali terbayang jelas. Maya tahu, walau ayahnya keras, sebenarnya ia sangat peduli padanya. Dan sikapnya tadi pasti membuat sang ayah terluka.
Taksi terus melaju, membawa Maya menjauh dari rumah, dan Maya semakin ciut karena saat ini, ia lupa bahwa ia sudah keluar tanpa membawa sepeser pun uang.