NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Gravitasi dan Gengsi di Bawah Pohon Ek

Malam Gala Militer itu berakhir dengan ketegangan yang merambat di dalam mobil limusin hitam yang meluncur membelah kegelapan menuju Glanzwald. Matthew duduk tegak, tangannya masih mengepal di atas lutut, sementara Daisy menatap keluar jendela, membiarkan pantulan lampu jalan menyinari wajahnya yang dingin.

Aroma parfum Daisy yang bercampur dengan aroma sampanye mewah memenuhi ruang sempit itu. Matthew sesekali melirik ke arah pinggang Daisy—tempat di mana tangannya berada sepanjang malam tadi. Ia merasa haus, merasa kesal, dan merasa tidak puas. Ia benci bagaimana mata para perwira muda itu memuja Daisy. Ia benci bagaimana Daisy tersenyum ramah pada setiap orang, kecuali padanya.

"Anda terlalu berlebihan malam ini, Jenderal," suara Daisy memecah keheningan, tetap dengan nada formalnya. "Anda merangkul saya seolah-olah saya akan lari di depan Raja."

"Aku hanya memastikan posisiku sebagai suamimu diakui oleh semua orang di ruangan itu, Daisy," jawab Matthew tanpa menoleh. "Termasuk oleh perwira-perwira ingusan yang lupa cara menjaga pandangan mereka."

Daisy menghela napas pendek, sebuah dengusan remeh. "Keamanan Anda atas diri saya terasa lebih seperti pengurungan daripada perlindungan."

Mobil itu berhenti di depan paviliun utama. Tanpa menunggu dibukakan pintu, Daisy keluar lebih dulu, meninggalkan Matthew yang masih terpaku dalam kemarahannya yang tertahan. Malam itu berakhir tanpa kata selamat malam. Mereka kembali ke rutinitas "makhluk asing" dalam satu kamar.

Beberapa hari berlalu. Kehidupan di Glanzwald kembali ke pola semula: sunyi, sibuk, dan penuh sekat. Matthew berangkat ke markas militer sebelum fajar, dan Daisy mengunci diri di studio atau pergi ke Ibukota untuk urusan musiknya.

Namun sore ini berbeda. Langit Glanzwald berwarna oranye keunguan yang hangat. Matthew pulang lebih awal dari markas. Ia tidak langsung menuju ruang kerjanya. Setelah menyerahkan jubah dan tas militernya kepada pelayan, ia melonggarkan kerah kemejanya yang kaku.

"Di mana dia?" Tanya Matthew pada seorang pelayan yang sedang merapikan vas bunga di aula.

"Nyonya Muda sedang berada di area sungai, Tuan Duke. Di pohon ek favorit beliau," jawab pelayan itu sambil membungkuk.

Matthew melangkah menuju hutan kecil di belakang paviliun. Bot militernya tidak lagi menghentak keras, ia berjalan lebih pelan, seolah tidak ingin merusak ketenangan sore itu. Namun, saat ia sampai di tepian sungai, matanya menyipit.

Ia tidak melihat Daisy bersandar di akar pohon. Ia juga tidak melihat Daisy duduk di atas rumput.

Matthew mendongak. Dan di sanalah istrinya.

Daisy tidak sedang duduk manis. Ia berada di dahan pohon yang cukup tinggi—mungkin sekitar tiga meter dari tanah. Ia mengenakan gaun rumah berwarna biru muda yang santai, rambutnya dikuncir kuda asal-asalan. Tampaknya, ia mencoba mengambil sesuatu—mungkin sebuah buku atau properti komik yang tersangkut—namun posisinya sekarang sangat tidak menguntungkan.

Daisy sedang bergelantungan. Tangannya mencengkeram dahan pohon dengan kuat, sementara kakinya mencoba mencari pijakan di batang pohon yang licin.

"Jenderal! Uh—" Daisy memekik kecil saat kakinya tergelincir lagi.

Matthew berhenti tepat tiga meter di bawah pohon itu. Ia melihat pemandangan yang sangat tidak biasa. Istrinya yang selalu formal, anggun, dan kaku seperti manekin, kini sedang berjuang melawan gravitasi dengan wajah memerah karena panik.

Bukannya panik, sebuah dorongan aneh muncul di dada Matthew. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan: rasa geli.

Matthew mengepalkan tangannya di depan mulut, mencoba menahan tawa yang ingin meledak. Bahunya bergetar hebat. Suara tawa rendah—suara yang belum pernah didengar Daisy selama tiga tahun—akhirnya keluar meski Matthew berusaha menutupinya dengan kepalan tangan.

"Hei! Anda tertawa?" Teriak Daisy dari atas. Matanya melotot tajam, meski tangannya mulai gemetar karena menahan beban tubuhnya sendiri. "Cepat bantu saya dulu! Ini tidak lucu, Jenderal!"

Matthew menurunkan tangannya, namun senyum miring masih menghiasi wajah tampannya. "Pemandangan ini cukup langka, Daisy. Seorang Muse yang dipuja dunia, kini bergelantungan seperti tupai yang kehilangan arah."

"Berhenti mengejek saya! Bantu saya turun!" Daisy berteriak lagi, suaranya sedikit melengking karena dahan tempat ia berpegangan mulai terasa licin.

Matthew melangkah maju, berdiri tepat di bawah Daisy. Ia mendongak, menatap mata cokelat madu yang sedang dipenuhi amarah dan ketakutan itu.

"Boleh, aku akan membantu," ucap Matthew dengan nada menggoda yang sangat asing. "Tapi kau harus meminta bantuan yang sungguh-sungguh."

Daisy mendengus. "Saya sudah minta tolong! Cepat!"

"Bukan begitu caranya," Matthew menggelengkan kepala perlahan. "Gunakan namaku. Tanpa embel-embel Jenderal atau Anda. Katakan, Matthew, tolongin aku. Ayo, coba katakan itu, baru aku tolongin."

Daisy tertegun. Ia menatap wajah Matthew yang diterangi cahaya senja. Pria itu tampak sangat berbeda—lebih manusiawi, lebih... menyebalkan. "Anda benar-benar pria menyebalkan! Tidak tahu tempat untuk bercanda!"

"Satu... dua..." Matthew mulai menghitung, sengaja memprovokasi.

"Jenderal, Anda—" Daisy kehilangan pijakan sepenuhnya. Dahan yang ia pegang terasa berderit.

"Tiga."

"Aaaa! Matthew!" Daisy berteriak saat tangannya terlepas dari dahan.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, bersiap merasakan sakitnya hantaman tanah yang keras. Namun, gravitasi seolah berhenti bekerja. Daisy tidak merasakan tanah. Ia merasakan sepasang lengan yang luar biasa kuat dan kokoh menangkap tubuhnya dengan presisi militer yang sempurna.

Brukk.

Daisy membuka matanya perlahan. Ia berada di dalam dekapan Matthew. Jenderal itu menangkapnya dalam posisi bridal style. Wajah mereka sangat dekat, begitu dekat hingga Daisy bisa merasakan deru napas Matthew yang sedikit memburu karena gerakan tiba-tiba tadi.

Matthew menatapnya. Senyum mengejek tadi sudah hilang, digantikan oleh tatapan intens yang membuat jantung Daisy berdegup dua kali lebih cepat.

"Kau memanggil namaku," bisik Matthew. Suaranya rendah dan dalam, bergema di dada Daisy. "Itu suara terindah yang pernah kudengar selama tiga tahun ini, Daisy."

Daisy terdiam, tangannya tanpa sadar melingkar di leher Matthew untuk menjaga keseimbangan. Ia melihat Matthew tidak lagi tertawa. Ada kilatan emosi yang jujur di sana—rasa lega, rasa bangga, dan sesuatu yang menyerupai kasih sayang.

"Tadi itu... Anda sengaja kan," gumam Daisy, pipinya memerah hebat karena posisi mereka yang sangat intim. "Anda sengaja membiarkan saya hampir jatuh."

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh ke tanah, Daisy," jawab Matthew. Ia tidak segera menurunkan Daisy. Ia justru membawa Daisy dalam gendongannya menuju bangku kayu di tepi sungai. "Aku hanya ingin mendengar kau menyebut namaku tanpa dinding formalitas yang membosankan itu."

Matthew mendudukkan Daisy di bangku kayu, namun ia tetap berdiri sangat dekat, seolah ingin memastikan Daisy tidak akan lari lagi ke atas pohon.

"Lain kali, jika ingin memanjat pohon, panggil Aku. Aku akan menjadi pijakanmu," ucap Matthew.

Daisy merapikan gaunnya yang sedikit berantakan, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Saya tidak butuh pijakan. Saya hanya... salah perhitungan tadi."

"Kau selalu salah perhitungan jika menyangkut diriku, Daisy," Matthew menyahut pelan. Ia duduk di samping Daisy, membiarkan keheningan sore itu menyelimuti mereka.

Kali ini, keheningannya terasa berbeda. Tidak ada rasa dingin yang menusuk. Hanya ada sisa tawa Matthew yang masih menggantung di udara, dan suara detak jantung dua orang yang mulai menyadari bahwa di bawah pohon ek ini, benteng pertahanan mereka perlahan mulai retak oleh hal-hal kecil yang tidak masuk dalam protokol militer mana pun.

Daisy melirik Matthew yang sedang menatap air sungai. Untuk pertama kalinya, ia melihat Matthew bukan sebagai Jenderal yang menakutkan, tapi sebagai pria yang baru saja menyelamatkannya—dan pria yang ternyata punya selera humor yang menyebalkan.

"Terima kasih... Matthew," bisik Daisy sangat pelan.

Matthew tidak membalas dengan kata-kata, tapi ia meraih tangan Daisy dan meremasnya lembut. Sore itu, di Glanzwald, gravitasi tidak hanya menjatuhkan tubuh Daisy ke pelukan Matthew, tapi juga mulai menjatuhkan sedikit demi sedikit rasa benci yang selama ini Daisy pertahankan.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!