Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Status
Fian masuk rumah bersama Lana dengan menggandeng tangannya. Dua orang pembantu berjalan di belakang karena membawa koper mereka.
"Mas Fian!"
Bukan saja Fian yang kaget tapi juga Lana. Lynda datang dengan gaun gamis panjang dan berkerudung. Fian bahkan melongo melihatnya.
"Cantik 'kan aku?" Lynda menampilkan pose andalan beberapa kali di depan Fian.
Fian bahkan melepas tangan Lana. "Cantik." Bukankah ini yang ia ingin dari Lynda sejak lama?
"Yang bener, Mas?" Lynda pura-pura tersipu malu, tapi gaya model yang angkuh tidak bisa ia lepaskan begitu saja. Ia kembali berpose dengan gaya seksi.
"Jadi, kamu memutuskan berkerudung?" tanya Fian lagi.
Saat itulah, Lana merasa dirinya tak diperlukan. Ia harus tahu diri hingga bergegas ke arah kamar. Pasti Fian akan tidur dengan Lynda lagi, 'kan?
Fian melihat saja saat Lana pergi ke kamar, tapi ia terkejut Lynda menggandeng tangannya. "Ayo, Mas, kita ke kamar!" Ia berusaha bicara sedikit keras agar Lana mendengarkan.
"Oh, maaf."
Lynda terkejut ketika Fian melepas tangannya. "Mas ... kamu ...."
"Kamarku di bawah dan aku tidur dengan Lana sekarang."
"Lho, kenapa?" Mata wanita cantik itu membulat sempurna.
"Karena Lana tengah mengandung anakku."
"Anak?"
"Iya. Bukankah kamu ingin menunda punya anak karena tak ingin kariermu rusak? Tapi Lana bersedia hamil duluan, jadi aku ingin menjaganya." Ia bergerak ke kamar. "Oh iya. By the way, kamu cantik pakai hijab. Teruskan, ya!" Pria itu dengan santai kembali ke kamar.
Lynda mengerutkan hidung karena kesal. Kesal perubahannya tak membuat Fian peduli. Ia sampai melepas kerudung dan menginjak-injaknya karena geram. "Ingat saja Lana ... kau takkan bisa mengambil Fian dan hartanya karena kamu cuma seorang pengganti! Pengganti yang akan aku buang ke tempat sampah dengan tanganku sendiri," gumamnya dengan pandangan menusuk dan kepalan tangan yang erat.
Di kamar, Lana kaget Fian masuk. Padahal tadinya ia mau menggerutu di kamar sendirian.
"Kamu capek?" Fian melihat istrinya duduk di tepi ranjang.
"Eh, enggak." Saking kagetnya Lana ia masih tak percaya dengan kehadiran suaminya.
"Ayo, buka kerudungnya. Ganti pakaian yang nyaman dan istirahatlah." Pria itu sendiri sudah mendatangi lemari dan membuka kancing kemejanya.
"Eh, iya."
Setelah berganti pakaian Fian mengajak istrinya tidur.
"Tapi aku sudah banyak tidur, Mas. Aku tidak mau tidur lagi."
"Sebentar saja, Lana. Aku ingin memelukmu. Aku sangat senang kita akan punya anak. Kamu telah mengabulkan permintaanku. Ayah dan Ibu pasti senang mendengarnya. Ayo!" Fian sudah naik ke atas ranjang.
Terpaksa Lana ikut. Ia pun masuk dalam dekapan suami di dalam selimut. Fian menyentuh kalung yang dipakai Lana, kalung pemberiannya. "Jangan pernah kamu lepas kalung ini kecuali dengan izinku, mengerti?"
"Iya, Mas."
Fian pun memeluk istrinya dengan senyum tersungging di wajah. Pelukannya terasa hangat hingga sebentar saja ia sudah tertidur.
***
"Lana, aku pergi ke kantor sebentar. Ada rapat. Nanti aku akan segera kembali." Fian merapikan jasnya.
"Mas gak usah buru-buru pulang juga gak papa. Aku kan udah di rumah, Mas."
"Kamu gak antusias gak papa, tapi kalo aku antusias, jangan hentikan aku. Aku akan kembali, takut kamu ngidam apalagi."
Lana tersipu mendengar ucapan suaminya. "Gak usah, Mas. Nanti kalo aku butuh aku telepon deh."
"Tapi tetap saja, aku ingin berada di sampingmu." Fian mendatangi sang istri dan menciuum keningnya. "Aku pergi dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Lana keluar tak lama setelah suaminya pergi. Ia pergi ke dapur dan meminta pembantu untuk memotongkan buah untuknya. Setelah itu ia duduk di beranda belakang sambil melihat taman. Ia paling suka tempat itu karena bisa melihat taman yang ditata indah dan teduh.
"Heh! Sampai kapan kamu ada di sini!?"
Sebuah sapaan keras membuat kaget Lana dan menoleh. Lynda mendatanginya. "Oh, Mbak. Maaf, ada apa?" Selama menikah, baru kali ini mereka bisa saling berinteraksi. Namun, caranya diluar nalar.
"Jangan sok ramah! Ingat, kamu itu cuma sementara. Kamu 'kan dikontrak setahun. Tahu dirilah! Jangan bergaya seperti nyonya rumah. Nyonya rumah itu aku, ya!?" ucap wanita itu dengan suara meninggi.
Kini Lana heran. Wanita itu telah kembali seperti semula, memakai pakaian seksi. Baju tank top menggantung sampai pinggang berwarna putih dengan celana kulot hijau lumut yang menggantung di kakinya yang jenjang.
Berbeda dengan dirinya yang kurus kerempeng bahkan hampir tak terlihat lekuk tubuhnya saking lurusnya. Bahkan baru beberapa bulan ini saja dadanya sedikit berisi sejak mulai hamil, itu pun juga tidak menambah menarik dirinya. "Iya, Mbak."
"Setelah setahun, kamu akan dibuang seperti sampah oleh Fian!"
Lana hanya mengangguk dengan sopan. Mau apa lagi? Ia hanya orang kecil yang selalu dilempar sana sini. Ia bisa bilang apa pada wanita ini? Lynda memang nyonyanya rumah ini. Entah kenapa Fian masih ingin mempertahankan dirinya, padahal tugasnya telah selesai. Kalau hanya harus menyelesaikan satu tahun yang sudah dijanjikan, ini terasa sesak. Ia ingin menghindar tapi tak bisa. Apalagi ia sudah terlanjur hamil. Fian sangat menginginkan bayi ini. Apa nanti suaminya akan mengambil bayi ini darinya?
Sesaat masih tersisa mangkel di hati Lynda melihat Lana. Namun, karena wanita berkerudung ini diam saja saat diingatkan, ia jadi bingung mau bicara apalagi. Ia pikir Lana akan melawan, tapi ternyata tidak. Karena itu ia cepat pergi.
***
"Lana ...." Fian datang dengan tergesa-gesa masuk kamar.
"Iya?" Lana menoleh dari benda pipih di tangan.
"Ayo, kita ke rumah Ibu dan Ayah. Aku ingin kasih tau mereka kamu sudah hamil," kata Fian bersemangat. Ia tersenyum lebar.
"Oh." Lana sedikit terkejut. "Kalau gitu aku ganti baju dulu ya, Mas."
Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di rumah orang tua Fian. Rumah jadi ramai setelah tahu Lana hamil.
"Ooh ... Lana, kamu hamil, Nak? Ibu senang." Sarah memeluk Lana.
Hawari pun ikut bahagia. Berarti Fian sudah menerima Lana sebagai istrinya. "Ini benar-benar kabar gembira. Ayah tak menyangka bisa secepat ini punya cucu." Matanya berkaca-kaca.
"Ayo-ayo, duduk dulu." Sarah mengajak duduk Lana di sofa. "Tapi kamu sehat 'kan?"
"Sehat, Bu. Alhamdulillah." Lana tersipu. Menjadi pusat perhatian, tidak mudah baginya, apalagi punya mertua mantan bosnya.
"Syukurlah. Jadi kamu sudah berapa bulan hamil? Kamu sering muntah-muntah?"
"Baru dua bulan, Bu," jawab Fian mewakili. "Pagi aja dia muntah kecuali makan makanan yang dipengenin saat itu."
"Ngidam? Ngidamnya aneh ya, hanya pagi-pagi."
"Makanya Fian gak papa telat ke kantor, mastiin dia bisa sarapan pagi."
"Memangnya dia ngidam apa?" tanya ayah penasaran.
"Pernah ngidam rujak jeruk Bali," sahut Fian.
"Oh, makanan langka."
"Makanya Fian suruh orang cari."
Hawari tersenyum. Fian terlihat begitu bertanggung jawab dengan kehamilan Lana. Kini, Hawari tak perlu bingung lagi akan hubungan keduanya. Kelihatan sekali Fian sudah mencintai istrinya. "Tapi Fian, bagaimana dengan orang tua kandungmu? Sudahkah kamu cari tahu?"
"Ayah ... jangan bicara di sini ...." Fian melirik Lana sekilas lalu kembali menatap sang ayah.
Lana terlihat bingung. Bukankah orang tua Fian itu adik ayahnya? Jadi, mencari tahu apa lagi?
"Fian, istrimu perlu tahu siapa dirimu." Terang Hawari.
"Ayah, aku tidak berniat mencarinya."
"Mencari? Mencari apa, Mas? Memangnya orang tuamu bukan adek Ayah?" Lana memberanikan diri.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp