Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip baru lagi.
Semenjak kejadian hari itu aku memilih diam di rumah dan hanya membalas pesan mereka dengan seperlunya. Sudah satu minggu sejak kepergian mama, papa dan bang Brian ke luar kota mereka masih belum pulang dan aku belum tau ada urusan apa mereka ke luar kota. Malam ini aku menyiapkan semua keperluan untuk besok pertama masuk sekolah setelah libur dua minggu. Aku pun tidur lebih awal karena entah kenapa akhir-akhir ini bawaannya ngantuk mulu.
Kring.... kring... kring.... jam beker di samping tempat tidur ku berbunyi dan aku pun segera bangun dan saat di lihat ternyata sudah jam lima pagi dan aku segera turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan bersiap aku langsung turun untuk ikut sarapan.
"Pagi, " sapa ku pada kak Kanaya dan bang Indra.
"Pagi juga, " balas Kak Kanaya dan bang Indra hanya melirik ku saja.
Aku duduk dan sarapan ku sudah siap, susu dan roti karena di rumah kak Kanaya sarapannya pasti seperti itu gak seperti di rumah bisa nasi goreng atau mie goreng.
"Kamu berangkat bareng abang saja, " ucap bang Indra dan aku hanya mengangguk.
Setelah selesai sarapan aku langsung berangkat bareng bang Indra. Tibanya di sekolah aku pun langsung turun namun saat melirik ke arah gerbang masuk area sekolah aku melihat Zahara dan April berdiri sambil melihat ke arah ku bahkan mereka melambaikan tangan.
"Aku masuk duluan bang, " pamit ku pada bang Indra setelah menutup pintu mobil.
Aku pun melangkah mendekati ke dua temanku dengan memasang wajah dingin karena aku sengaja ingin ngerjain mereka.
"RI, lo marah sama kita? " tanya Zahara dan aku diam saja dengan terus berjalan.
"Iya Ri, padahal kita gak tau lo kalau Rio bakal ajak Yudistira, " tambah April.
Aku pun berhenti berjalan lalu berbalik ke arah mereka membuat mereka kaget.
"Gue memang marah sama Rio, tapi gue gak marah sama kalian hanya saja aku gak mau buat kalian ikut kena marah sama gue jadi gue lebih memilih diam, " ucap ku.
April dan Zahara saling lirik lalu memeluk ku membuat aku kaget.
"Beneran ya lo gak marah sama kita, kita takut lo gak mau dekat sama kita lagi, " lirih April dan aku hanya tersenyum.
"Udah ah lepasin gue gak bisa nafas ni, " ujar ku dan mereka langsung melepaskan pelukannya.
Kami bertiga mencari kelas masing-masing dan ternyata kita bertiga satu kelas bahkan Dwi juga satu kelas lagi sama kita.
"Awas lo pacaran! " peringatan ku pada April karena satu kelas dengan Dwi.
"Ri, " panggil Zahara dan aku pun meliriknya.
"Kita satu kelas sama Soni, "beritahu Zahara.
" Ya memang kenapa? toh aku merasa gak salah dia aja yang baper, "ucap ku lalu melangkah pergi mencari kelas kita.
Kita pun masuk dan saat masuk pandangan ku dengan Soni bertabrakan karena dia juga langsung menatapku. Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku lalu duduk di tengah-tengah.
"Briana, " panggil Dwi karena aku tau itu suara dia.
"Apa? " tanya ku dengan jutek.
"Lo.marah sama gue? " tanya nya dan itu pertanyaan yang sama seperti Zahara dan April.
"Lo merasa punya salah sama gue? " tanya ku balik.
"Ya gue sih merasa gak salah karena gue gak tau jika Rio ajak Yudistira, hanya saja gue gak enak sama lo, " jawab nya.
"Gue gak marah hanya saja gue sedikit kecewa sama kalian karena gak ngasih tau gue kalau Yudistira ikut, " beritahu ku.
"Kita juga tau saat sudah di tempat karena Yudistira tiba-tiba datang, " balas Dwi.
"Ya udah lah lagian udah terjadi juga, " ucap ku.
Dwi langsung duduk di bangkunya karena wali kelas kita masuk, semua murid diam dan hanya guru yang bicara kebetulan wali kelas kami guru yang terkenal galak juga. Setelah dua jam bicara di depan akhirnya guru itu diam lalu keluar membiarkan kami untuk memilih siapa saja yanga kan jadi ketua dan yang lainnya. Aku yang tidak tertarik dalam masalah ini aku memilih untuk bermain ponsel dan tiba-tiba pesan masuk dari mama memberitahu ku jiga mama dah pulang jadi pulang sekolah aku bisa pulang ke rumah.
"Lo gak ikut gabung dalam organisasi sekolah? " tanya Dwi dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Gue dengar abang lo lagi ada masalah ya? " tanya Dwi membuat aku kaget dan langsung meliriknya.
"Gue tau dari ketua geng gue, kalau bang Brian sedang kena kasus vidio asusila, " lanjutnya membuat aku kaget.
"Lo punya Vidio nya? " tanya ku memastikan.
"Gak ada dan gue gak percaya toh cuman kabar burung tanpa ada bukti, " jawab nya dan aku merasa lega karena jika tersebar bisa kasus kak Kanaya.
"Sebenarnya gue gak tau pergaulan abang gue gimana dan gue tau baru-baru ini, " ucap ku.
"Ya wajarlah lo gak tau toh dulu kita masih SMP saat abang lo jadi raja jalanan, " ujar Dwi membuat aku mengangkat ujung bibir ku.
"Pulang-pulang, " teriak salah satu teman sekelas ku yang baru kembali dari luar.
"Jangan bohong lo, " teriak yang lain.
"Dengerin aja, " jawab nya dan benar saja langsung di umumkan semua murid pulang cepat hari ini karena akan ada rapat kecuali murid baru.
Aku pun segera berdiri dan langsung keluar bersama yang lain.
"Lo mau bareng kita gak? " tanya April pada ku.
"Gak usah gue bisa naik taksi kok, " tolak ku karena aku ingin beli sesuatu dulu.
Aku berjalan ke arah halte bus dan berdiri di sana sambil memainkan ponsel ku untuk memesan taksi online. Namun tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan ku dan aku tidak kenal dengan motor itu. Orang yang du motor itu membuka helmnya dan aku kaget ternyata itu Soni.
"Lo nunggu siapa? " tanya nya.
"Gue mau pesan taksi online, " jawab ku.
"Bareng gue aja, " ucapnya sambil menyerahkan helm pada ku.
"Gak usah gue udah pesan taksi kok, " tolak ku berbohong karena aku belum dapat taksinya.
"oh, ya udah gue duluan, " ucapnya lalu menutup kaca helm dan pergi.
Aku bingung dengan sikap Soni padahal selama ini dia kaya benci banget sama aku bahkan saat di tanya dia gak pernah jawab sama sekali. Akhirnya aku pun dapat taksi dan tak lama taksi itu datang dan aku pun segera naik ke dalam mobil. Sepanjang jalan aku hanya diam saja sampai tiba-tiba ponselku berdering dan Zahara mengirimkan ku sebuah foto aku berdiri di halte bus yang di hampiri Soni.
"Cowok baru lagi? " tanya Zahara isi di pesannya.