Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Istri
Kelebihan menjalin hubungan dengan Duda, atau pria yang secara finansial dan emosional sudah matang, adalah tujuan masa depan yang jelas.
Seorang pria yang pernah menjalani pernikahan selama beberapa tahun menunjukkan paling tidak ia memiliki komitmen untuk bertahan. Bagi banyak wanita, hal ini juga berarti pria tersebut layak mendapat kesempatan kedua.
Pria yang telah mengakhiri pernikahannya mungkin lebih baik dalam berkomunikasi. sebagian besar pria yang pernah bercerai dan menikah kembali, cenderung lebih mudah mengungkapkan perasaannya dan memiliki empati yang lebih besar pada pasangan.
Pria juga lebih terbiasa menghadapi konflik. Bagaimana pun dalam berumah tangga, konflik adalah hal yang normal dan punya pilihan bahwa setiap konflik bisa diselesaikan dengan berbagai cara tanpa menuruti emosi. Kecerdasan emosional seperti itu yang diinginkan para wanita.
Yang diinginkan aku tentunya.
Aku mengatakan hal-hal di atas bukannya menduga-duga, tapi memang itu lah yang kualami sendiri. Apalagi bagi laki-laki yang workaholic seperti Felix, konflik adalah hal biasa sampai dirasa dia sudah enteng saja menghadapinya. Dia lebih panik kalau konfliknya menyerangku.
Menjelang penikahan kami, seperti biasa banyak kejadian yang di luar nalar.
Seperti hari ini.
Felicia Asmorochandra datang ke kantor membicarakan mengenai restrukturnya yang ditolak. Hebohnya, dia datang bersama dua selingkuhannya. Yang lain tidak tahu, tapi Felix tahu. Felix bahkan bilang padaku.
Sambil berbisik.
“Si Sun dal malah bawa-bawa madu... dua botol pula,” gumamnya pelan.
“Ih, kamu mulutnya,” balasku pelan.
“Lebih baik mulutku dari pada kelakuannya. Aku ke toilet sebentar, mau muntah,” dan dia melengos pergi ke toilet, diiringi tatapan sinis Felicia.
“Dia mau kemana? Meetting segera dimulai!” sahut Felicia padaku.
“Katanya mau ke toilet, Bu. Mau muntah,” jawabku.
Felicia menatapku.
Aku balas menatapnya.
Ekstra senyum manis.
Sengaja, kok.
“Kamu siapa?” dia mendekatiku dan agak mendongak sambil menatap wajahku.
Iya, tinggiku memang di atas rata-rata.
Aku mengangkat cincin berlian baruku. “Tunangannya,”
Ia ternganga dan mengangkat alisnya, “Tunangannya?!” nada suaranya seperti tertekan.
“Ini bulan terakhir saya bekerja di sini,” Dan aku pun menatap dua pria di belakang Felicia yang menatapku dengan seksama. Dari atas ke bawah.
Aku tahu pakaianku provokatif.
Sengaja juga kok.
Aku minta izin ke Felix pagi-pagi pakai baju yang agak nganu untuk menyaingi Felisia.
Tadinya dia tidak suka, tapi akhirnya dia menyetujuinya dengan syarat, setelah menikah, aku sepenuhnya menutup diri. Pakai Hijab.
Tentu aku menyanggupinya.
Lagi pula, se-seksi-seksinya pakaianku, tetap tertutup dan sopan kok. Cuma agak ketat saja karena lekuk tubuhku gitar spanyol.
“Nama saya Chintya,” desisku, “Bapak-bapak ini?”
Mereka mengenalkan namanya dan menjabat tanganku. Sumpah, sampai sekarang aku bahkan lupa nama mereka. Aku sibuk membuat Felisia cemburu.
Saat Felix dan komisaris yang lain datang, diskusi kami lumayan alot.
Disertai gebrak-gebrak meja dari Felisia. Dia hanya diberi pilihan, melunasi semua pinjamannya yang 100 miliar plus bunganya. Atau aset kami sita.
Juga kami mempermasalahkan pinjaman bapaknya yang 25 miliar dengan aset rumah Hang Lekir. Optionnya sama saja. Lunasi semuanya atau rumah kami sita.
Felisia bilang perusahaannya sedang tidak baik-baik saja. Karena itu Bapaknya sekarang sedang sakit. Apalagi mereka butuh dana untuk mengangkat Paman Felisia ke kursi kabinet melalui salah satu partai besar.
Dan saat itu, si Felix malah bilang sesuatu yang membagongkan. Di luar ranahnya sebagai Komisaris Garnet Bank.
“Fel... nyerah saja. Yang penting sampai tua hidup kamu dan keluarga tetap kaya tujuh turunan. Kembalikan semua asetku. Aku korting pelunasan setengah harga. Tuh 75 miliar, sana deposito-in, makan bunga deposito tiap hari kan masih bisa beli keju...”
Pak Danu sampai cekikikan geli. “Hadooh udah urusan keluarga jatohnya, gue balik ah...” gumamnya sambil berdiri.
“Yang penting gue nggak Loss ya Lix, awas lo mark up aset, gue gibas pake goloknya Dimas,” ujar Pak Haryono menyusul Pak Danu.
“Anuuu, saya permisi. Mau jualan Hermes. Bay!” desis Pak Dimas langsung kabur.
Felisia tidak memiliki pilihan lain.
“Saya minta bicara berdua saja dengan mantan suami saya, bolehkan? Lagipula tidak ada yang berhak melarang kecuali Mantan Suami saya menolak,” desis Felisia. Dan herannya dia menatap ke arahku, seakan mengklaim kalau ia masih berhak atas diri Felix seutuhnya dibandingkan aku.
Aku pun dengan tahu diri, berdiri.
Tapi Felix menahan tanganku.
“Aku menolak mendengarkan omong kosong kamu,” desis Felix.
“Felix,” tekan Felisia.
“Felisia, kamu harus mendengarkanku. Sampaikan ke ayahmu juga, sejelas-jelasnya. Hey kamu berdua yang tiap hari three some sama ni cewek, rekam semuanya,”
Kedua pria di samping Felisia hanya bisa mencibir Felix.
Aku saja sampai menunduk mendengarnya. Karena malu.
Bagaimana ya hari-hariku nanti bersamanya? Sifat Apa-adanya Pria ini menarik sekali, menurutku.
Ketiganya salah kalau mau menyerang Singa di teritorinya sendiri. Sudah pasti mereka akan hancur.
“Orang luar tidak bisa-“
“Kamu yang orang luar, kita sudah bercerai,” potong Felix.
“Kita menikah 8 tahun, Felix,”
“Apa kamu menganggapku suamimu selama 8 tahun itu? Atau hanya mesin ayahmu?” tanya Felix.
“Ini sudah kita bahas di pengadilan,”
“Perceraian kita juga sudah sah di pengadilan, seingatku aku tidak mengajukan rujuk. Chintya akan jadi istriku, dia harus tahu aset mana saja yang akan jadi miliknya,”
Sontak aku menaikkan alisku sambil menatapnya. Aku tidak menginginkan hartanya. Jujur saja, semua ini malah membuatku takut. Sampai kemarin membaca kasus -kasus penipuan aku tenang-tenang saja karena uang di tabunganku sedikit. Bisa jadi si penipu malah lebih kaya dari padaku.
Kalau besok, mungkin saja aku was-was setiap hari!
“Dia hanya ingin hartamu. Aku beda, aku sudah kaya sejak lahir. Aku malah bisa menambah kesejahteraanmu. Apa yang bisa dilakukan perempuan ini selain bergoyang di atasmu?” sindir Felisia ke arahku.
“Masih mending di atasku dari pada goyangnya di atas lelaki lain?”
Felisia diam.
Aku sebenarnya tak sanggup mendengarkan lebih lanjut. Mereka yang bertengkar, aku yang malu.
“Felix jangan kekanak-kanakan, kita tidak bisa mencampur adukkan Bisnis dengan hati!”
“Bukankah itu seharusnya untuk dirimu sendiri, lihat kan apa yang terjadi kalau deal kontrak iming-imingnya tidur bareng? Udah pasti hanya perusahaan abal-abal yang mau begitu. Goblok banget sih jadi cewek!!” kata Felix.
Aku melihat muka Felisia sudah merah. Campur aduk antara marah dan malu, matanya juga sudah berkaca-kaca.
“Dengar ya Mantan Istri Sialan, aku akan berusaha menjalankan win-win solution melalui gentleman Agreement. Kalau kamu maunya Bussiness is Bussiness ya sudah ini penawaran dari Bank. Dikasih penawaran rasa saudara tidak mau ya sudah kuberi yang saklek!”
“Tunggu!" cegah Felisia.
Mungkin dia tahu kalau sudah berkaitan dengan bisnis, Felix ini liciknya minta ampun. Dia babat habis semua korbannya.
“Em... 75 miliar sisanya, dalam bentuk saham di Amethys. Please? Sekali ini saja?” pinta Felisia mengalah.
“Oke. Setelah ini jangan pernah menemuiku lagi. Jelas?!” ujar Felix.
Kali ini Sang Ratu bertekuk lutut di depan Singa.
Setidaknya, Amethys akan memberikannya keuntungan, dari pada keluarganya bangkrut semua.
**
“Kenapa sih kamu keukeuh banget sama rumah di Hang Lekir?” tanyaku. Aku dan Felix makan siang bareng di Kubikelku, karena aku sambil mengajari Kenanga mengenai pekerjaanku. Tampak Kenanga sampai mengernyit tanda dia sedang berpikir keras memperhatikan angka annual report di komputer.
Teman-temanku tampak mondar-mandir sambil bolak balik memperhatikan Felix yang makan nasi capcay di meja staf di sebelahku. Mana ada Komisaris yang rela di downgrade seperti itu coba?
Kebetulan calon istrinya staf biasa sih yaaa.
Maaf loh, gara-gara aku jadi jatuh levelnya.
“Karena mamaku,” jawab Felix.
“Mama kamu?”
“Dia suka rumah itu.”
Lalu kami diam.
Aku menunggunya berbicara.
Dia malah diam tak melanjutkan ucapannya.
“Sudah itu saja?” tanyaku.
“Iya itu saja,”
“Mama kamu bukannya masih sehat ya?”
“Alhamdulillah masih bisa main ski di Swiss,” gumamnya.
“Itu saja alasannya? Karena Mama kamu suka rumah itu?”
“Iya, itu saja.” Ia menatapku, lalu tersenyum.
Saat itu aku tahu, sebenarnya rumah itu tidak berarti apa-apa baginya. Tapi melihat Felisia tinggal di sana, di rumah yang ia beli pakai uangnya sendiri, ia tidak suka. Jadi ini masalah ke-egoisannya saja. Ia tidak suka melihat Felisia hidup nyaman.
“Aku nggak mau tinggal di sana, ya,”
“Ya katanya mau tinggal di Sentul?”
“Nanti kucari dulu yang murah sesuai dengan budgetku,”
“Ya nggak usah pakai uang kam-“
“NGGAK! Tidak bisa Felix! Kali ini aku memaksa, kita tinggal di RUMAHKU. Nggak peduli kamu bisa beli gedung tingkat 150, aku maunya tinggal di rumahku sendiri. Jelas tidak?!” Tekanku.
Ia menatapku sambil ngunyah capcay.
“Oke.” Jawabnya pendek.
Lalu kami saling diam.
Aku tak peduli apa yang ia pikirkan. Tapi yang jelas, elusan lembut menghiasi sepanjang punggungku.
Ia sedang merayuku.
Aku hanya bisa menarik nafas panjang.
Kami teralihkan dengan kedatangan Pak Dimas bersama seorang pria tinggi bersamanya.
“Tuh kan udah gue duga dia pasti nongkrong di sini!” omel Pak Dimas ke Felix.
“Woy Bro,” sapa Felix ke pria di sebelah Pak Dimas.
Mereka berjabat tangan dengan akrabnya.
“Bro, kenalin nih, tunangan gue,” Felix mengenalkanku ke pria itu.
“Oh ini Chintya?” Kami berjabat tangan. Bisa jadi orang ini sudah sangat akrab dengan Pak Dimas dan Felix. Tapi aku amati dia, rasanya aku pernah mengenalnya...
Ah! sekarang aku ingat!
“Kamu kaaan, Yang di seminar bukan?!” tembaknya, sebelum aku bilang.
“Naaah, saya baru mau ngomong begitu! Kita pernah ketemu ya di seminar peluncuran saham!” sahutku saat ingat masa lalu.
“Iya, di Jade Construction! Kamu waktu itu cerita lagi nyari rumah kontrakan soalnya sebel sama mertua, hahahaha!!”
“Alhamdulilah sekarang udah nggak jadi mertua, hahahaha!”
“Maksudnya udah nggak jadi mertua?”
“Udah selesai proses perceraian Maaas,”
“Udah cerai aja si Mbak nya! Wait...” dan pria itu beralih ke Felix. “Ini calon istri lo nih?” ia menunjukku.
“Heeem...” gumam Felix sebal. Dia sebal karena aku akrab dengan cowok lain.
Gemesin banget sih.
“Waduuuh, satu kantor bukannya nggak boleh?”
“Iya ini saya proses resign, ngajarin Pjs dulu. Sori saya lupa nama kamu Mas,”
“Theo, Mbak. Theodore lebih tepatnya. Saya di sini dalam rangka serah terima jabatan sebagai Direktur Bisnis,”
“Waaaah, Halo Pak Theo. Saya Chintya, Account Officer Senior di sini. Mohon Bimbingannyaaaa,” aku menggodanya.
“Sama-sama Bu Chintya,” ia membungkuk juga membalasku.
“Ini pengganti saya, Namanya Kenanga,” Aku mengenalkan Kenanga yang dari tadi berada di belakangku.
Entah kenapa dia agak sulit kutarik.
Seperti dia sedang menyembunyikan dirinya supaya tak tampak kehadirannya.
“Ken, maju Ken,” desisku.
Kenanga tampak menarik nafas panjang dan maju ke depan, sambil menatap ke arah Pak Theo dengan lurus.
Pak Theo... tiba-tiba senyumnya menghilang saat melihat Kenanga.
Sejenak kami juga terdiam karena menyadari perubahan suasana. Yang tadinya ceria, jadimenegangkan.
Sampai semenit kemudian dalam posisi terdiam, Pak Dimas akhirnya menggeret Pak Theo untuk melanjutkan perjalanannya. Pak Theo sambil berjalan menatap Kenanga dengan tajam.
Sampai sosok keduanya berlalu ke balik pintu.
Aku dan Felix meminta konfirmasi lebih lanjut tentunya, ke arah Kenanga. Secara nanti Kenanga lah yang bekerja menggantikanku. Otoritas atas dirinya berada tepat di bawah Pak Theo sebagai Direktur Bisnis.
“Dia... mantan pacar gue,” gumam Kenanga. “Gue ninggalin dia karena lebih milih pria beristri. Laki gue yang sekarang,”
“Ha? Bukannya lo dan suami memang pacaran sejak SMA? Kan laki lo yang rada-rada malah ngehamilin cewek lain!” sewotku.
“Ya makanya di Inggris gue pelampiasan, pas gue tahu dia nikah sama orang lain gue depresi. Dan saat itu... muncul Theo,” Kenanga menatapku dengan khawatir.
“Dia yang akan jadi atasan gue?” tanya Kenanga.
Aku mengangguk, Kenanga menatap Felix dengan mata mengiba.
“Nggak bisa minta pindah ya Bu Nga, selesaikan urusan kamu sampai tuntas. Jangan lari. Ini semua kan salah kamu maen-maenin hati orang!” tahu sendiri Felix mulutnya pedas. Tapi makjleb.
“Errrgh...” e rang Kenanga.
Bu Nga itu siapa ya? Singkatan dari Bu Kenanga gitu? Masih mending dari pada aku yang Bu Cin. Si Felix maen nyingkat-nyingkat aja nama orang.
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor