NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

... * * *...

Sementara itu di sisi lain, Suzanne yang merasa hancur karena ditolak mentah-mentah oleh sang suami berulang kali, berada dalam kondisi mental yang sangat rapuh.

Untuk melarikan diri sejenak dari bayang-bayang penghinaan Willem, malam itu dia memutuskan untuk keluar menghirup udara malam.

Gedung pencakar langit elite itu memiliki unit-unit privat berlapis keamanan tingkat tinggi yang biasanya hanya dihuni oleh kalangan miliarder.

Suzanne berjalan menyusuri koridor koridor yang sunyi, berniat menuju ke area atap atau mencari sudut sepi untuk menenangkan pikirannya yang kalut.

​Namun sayang, tepat di depan salah satu pintu lift lorong privat yang remang, langkah kaki Suzanne mendadak terhenti.

Di sana, di lantai marmer yang dingin, dia menemukan seorang pria dengan gelagat yang sangat aneh.

Pria itu tampak sedang terduduk lemas, menyandarkan punggungnya pada dinding dengan kedua tangan mencengkeram erat lututnya.

Keringat dingin keluar dalam jumlah banyak, membasahi pelipis dan lehernya, sangat kontras dengan seragam SMA yang masih melekat erat di tubuhnya yang proporsional dan atletis.

Napasnya terdengar memburu, berat, dan patah-patah, seolah-olah ia sedang berjuang mati-matian mempertahankan sisa kesadarannya dari rasa sakit yang mendera.

​Melihat kondisi yang tampak begitu mengkhawatirkan di area hunian eksklusif itu, jiwa kemanusiaan Suzanne refleks terketuk.

Ia melangkah mendekat dengan gurat cemas di wajahnya.

​"Hey... mau kubantu bawa ke rumah sakit? Kau terlihat sangat buruk," Suzanne menawarkan diri dengan tulus, mendekatkan tubuhnya untuk memeriksa kondisi remaja tersebut.

​Remaja berseragam SMA itu mendongak sedikit, menampilkan garis rahang yang tegas namun basah oleh keringat.

Netra matanya tampak kabur dan tidak fokus, dipenuhi oleh kilat gairah liar yang aneh dan tidak wajar.

​"Tidak, Nona... saya-saya tidak apa-apa. Saya hanya perlu meraih pintu apartemen," ucap remaja jangkung dengan tinggi sekitar 184 sentimeter tersebut.

Suaranya terdengar berat, serak, dan tersengal-sengal di sela napasnya yang memburu.

​Rupanya, pria muda itu sedang sekuat tenaga menahan diri dari dorongan insting yang primitif.

Dia sama sekali tidak sedang sakit secara fisik; melainkan seluruh sistem saraf dan aliran darah di dalam tubuh mudanya sedang dipengaruhi secara paksa oleh dosis tinggi obat perangsang yang sengaja dicekokkan oleh seseorang beberapa jam lalu.

Ia berhasil melarikan diri ke gedung ini untuk mencari perlindungan, namun efek obat itu kini telah mencapai puncaknya, membakar akal sehatnya dari dalam.

​Pria remaja itu adalah Aiden Luther Stone, yang saat itu baru menginjak usia 18 tahun.

​Suzanne kembali mendesak karena merasa tidak tega melihat anak sekolah terkapar di depan lift dengan kondisi mengenaskan seperti itu.

"Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri dengan benar. Mari, biar saya antar ke apartemen mu."

​"Terima kasih," kata Aiden dengan sisa kesadaran yang kian menipis.

​Suzanne dengan sigap memapah lengan kokoh Aiden, menuntun tubuh jangkung remaja itu menyusuri lorong menuju unit apartemen milik Aiden yang berada di koridor yang sama.

Namun, karena pengaruh obat perangsang itu sudah berada di tingkat tertinggi dan tidak lagi bisa ditoleransi oleh akal sehat seorang remaja berusia 18 tahun, begitu mereka melangkah masuk, perubahan atmosfer terjadi secara instan.

Aiden, yang semula tampak lemas dipapah oleh Suzanne, mendadak membalikkan posisinya dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa besar untuk ukuran anak SMA.

Dengan satu sentakan kasar namun terarah, Aiden menarik tubuh Suzanne hingga ikut terseret masuk ke dalam apartemennya yang gelap.

Tangan kokohnya bergerak cepat membanting pintu mahoni di belakang mereka hingga tertutup rapat dengan bunyi berdentum keras, menguncinya secara otomatis dari dalam.

Sebelum Suzanne sempat memproses apa yang sedang terjadi atau mengeluarkan suara untuk memprotes, Aiden sudah membalikkan tubuh wanita itu, menekannya dengan kuat ke dinding pintu yang dingin.

Tubuh jangkung Aiden yang tegap mengunci pergerakan Suzanne sepenuhnya, mematikan semua jalur pelarian.

Detik berikutnya, Aiden langsung menyerang dan membekap wanita yang baru saja menolongnya itu dengan sebuah ciuman yang brutal, panas, dan penuh dengan keputusasaan yang tidak terkendali.

Ciuman menuntut dari seorang remaja yang sedang terbakar gairah obat terlarang, mengoyak keheningan apartemen yang sunyi itu dengan paksa.

"Mpphhh... tolong... lepaskan saya!"

Suara Suzanne tertahan di balik lumatan bibir Aiden yang mengunci pergerakannya, tangannya yang kecil berusaha keras memukul dada bidang remaja di hadapannya, mencoba mencari celah untuk melepaskan diri dari situasi gila yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan menimpanya malam ini.

Namun kekuatan Aiden yang dominan membuat semua usahanya terasa sia-sia, menandai awal dari sebuah takdir rumit yang kelak akan mengikat mereka kembali di masa depan.

Aiden benar-benar sudah dipengaruhi oleh obat perangsang itu sampai ke tingkat yang paling ekstrem.

Yang menakutkan adalah, dia sadar. Dia sadar sesadar-sadarnya tentang siapa dirinya, di mana dia berada, dan tindakan gila apa yang sedang ia lakukan saat ini.

Otaknya merekam setiap jengkal kejadian itu dengan akurasi yang mengerikan, namun kendali atas tubuhnya telah direnggut paksa oleh zat kimia yang membakar pembuluh darahnya.

Menolak keinginan tubuhnya yang bergejolak hebat saat ini rasanya benar-benar membuatnya ingin mati.

Rasa panas, sesak, dan dorongan ini benar-benar menyiksanya hingga ke tulang.

Sebagai seorang remaja berusia delapan belas tahun yang masih duduk di bangku high school, moralitasnya menjerit menolak situasi ini.

Dia benci fakta bahwa dia harus melakukan hal hina ini pada perempuan yang tidak ia kenali sama sekali, seorang wanita asing yang beberapa menit lalu berniat baik menolongnya.

Di dalam benaknya yang berkabut namun tersiksa, bayangan kedua orang tuanya melintas, menghakiminya.

Malam ini, dia merasa sudah melanggar semua peraturan dan prinsip hidup yang ditanamkan oleh sang Mommy, Vexana Valerio, dan sang Daddy, Martin Luther.

Sepanjang hidupnya, kedua orang tuanya selalu memberikan wejangan yang sangat tegas agar Aiden jangan pernah sekali-kali membawa wanita di atas ranjang tanpa ikatan, apalagi mempermainkan perasaan mereka.

Martin Luther selalu mendidik putranya untuk menghormati wanita sebagai makhluk yang harus dilindungi, bukan objek pemuas nafsu.

Karena wejangan itulah, selama masa remaja di sekolah, Aiden tidak pernah mau berpacaran.

Dia selalu menarik diri dari lingkaran pergaulan bebas teman-temannya.

Dia takut menyakiti hati perempuan mana pun yang datang mendekat, karena dia tahu dia belum bisa membalas atau berkomitmen sepenuhnya pada perasaan mereka.

Namun malam ini, takdir seolah sedang menertawakan semua prinsip luhurnya.

Dengan kesadaran yang gila dan menyiksa, tubuh Aiden bergerak sendiri secara dominan.

Rasa haus akan sentuhan mengalahkan akal sehatnya. Ia menekan tubuh Suzanne ke atas ranjang apartemennya yang luas, memaksa dan menyobek setiap inci pertahanan wanita di bawahnya tanpa bisa dihentikan.

Suzanne sudah kehabisan tenaga. Ruangan apartemen yang remang itu saksi bisu bagaimana ia mencoba mencakar, mendorong, dan memohon agar dilepaskan, namun tenaganya kalah jauh dibandingkan dengan dominasi fisik seorang remaja jangkung yang sedang kerasukan gairah obat terlarang.

Hingga akhirnya, dalam kondisi lelah meminta tolong dan menyadari bahwa pelarian adalah hal yang mustahil, Suzanne berhenti memberontak.

Tubuhnya melemas di atas seprai sutra.

Dalam suara yang parau, lirih, dan sarat akan kepasrahan yang menyedihkan, ia berbisik di dekat telinga Aiden.

"Tolong... perlakukan aku dengan baik. Ini... pertama kalinya untukku..."

Mendengar bisikan parau itu, ada secercah rasa terkejut yang sempat menyentak kesadaran moral Aiden.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Gelombang panas di tubuhnya kembali mengamuk, menuntut pelampiasan instan yang tidak bisa lagi ditunda bahkan untuk satu detik pun.

Aiden langsung saja menundukkan kepalanya untuk menggigit pelan bibir Suzanne yang sempat memprotes itu, membungkam sisa suaranya, lalu berbisik dengan napas yang memburu panas di atas permukaan kulit wajah wanita itu.

"Aku akan pelan... maafkan aku..."

Dan setelah ucapan serak itu terlontar, penyatuan intim yang intens di antara dua orang asing itu tidak bisa lagi dihindari.

Rasa sakit yang tajam sempat membuat tubuh Suzanne menegang seketika, jemarinya mencengkeram erat pundak kokoh Aiden yang basah oleh keringat dingin.

Namun anehnya, setelah badai rasa sakit pertama itu berlalu, Suzanne tidak lagi menangis karena menderita.

Lambat laun, di bawah dominasi dan sentuhan intens remaja ini, Suzanne justru mulai menikmati rasa itu.

Sebuah ironi yang luar biasa pelik melanda batinnya.

Penyerahan diri secara total yang seharusnya ia lakukan pada sang suami sebulan yang lalu—namun berujung pada penolakan yang menghinakan—kini justru ia lakukan bersama seorang bocah SMA yang baru ia temui di koridor rumah sakit.

Ajaibnya, Suzanne tidak merasa menyesal sedikit pun.

Di dalam hatinya yang terluka parah oleh perlakuan Willem, Suzanne justru merasa dirinya jauh lebih berguna dan dihargai malam ini, daripada jika ia harus menyerahkan kesuciannya pada pria yang menjadi suaminya sendiri.

Pria yang selama ini menganggap dirinya menjijikkan, memandangnya dengan tatapan hina, dan menyebutnya sebagai penghalang kebahagiaan.

Di apartemen Willem, dia adalah hantu tak diinginkan. Namun di sini, di ranjang asing ini, remaja di bawah pengaruh obat ini begitu mendambakan dirinya, menyentuhnya seolah-olah Suzanne adalah satu-satunya air di tengah gurun pasir yang gersang.

Air mata Suzanne memang menetes membasahi bantal, tetapi maknanya telah bergeser.

Dia menangis karena menyadari bahwa secara hukum dan norma, dia sudah mengkhianati pernikahan dan statusnya sendiri sebagai seorang istri sah.

Namun, rasa sakit di hatinya karena ucapan-ucapan kejam sang suami beberapa jam lalu—dan sebulan lalu saat menolak menyentuhnya—membuat rasa bersalah itu terkikis habis, digantikan oleh dorongan emosional untuk ikut menikmati keintiman yang intim ini.

Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan hangat sang remaja, membalas cengkeraman tangan Aiden pada jemarinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di tengah-tengah pergulatan gairah yang semakin memanas, kesadaran Aiden yang tersiksa membuat sebuah ucapan maaf kembali lolos dari mulutnya yang gemetar.

"Maaf... maafkan aku..." gumam Aiden berulang kali di sela-sela kegiatannya.

Ucapan maaf yang tulus dari mulut remaja ini justru membuat Suzanne meneteskan air matanya lebih deras lagi.

Kali ini, tangisan itu bukan karena rasa sakit fisik di bawah sana yang mulai terbiasa, melainkan karena getaran hebat di dalam dadanya.

Di usianya yang menginjak 24 tahun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan mental, dihina, dan direndahkan oleh lingkaran sosialnya karena kebangkrutan keluarga Klatten, Suzanne merasa dirinya benar-benar dihargai dan diinginkan sebagai seorang wanita utuh.

Remaja di atasnya ini memperlakukannya dengan intensitas pemujaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Melihat air mata yang terus mengalir di pipi Suzanne di bawah temaramnya lampu kamar, Aiden yang sedang memacu tubuhnya dengan ritme yang konstan mendadak dilanda kepanikan moral.

Ia mengira wanita di bawah kungkungannya itu merasa kesakitan yang luar biasa karena tindakannya yang mungkin terlalu kasar akibat pengaruh obat yang belum sepenuhnya reda.

Aiden memperlambat gerakannya, menatap wajah Suzanne dengan pandangan mata yang sayu namun sarat akan rasa bersalah yang teramat dalam.

"Maafkan aku... aku menyakitimu, kan? Aku... aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi," bisik Aiden dengan suara parau, bersiap untuk menarik diri meskipun tubuhnya menolak keras.

Namun, di luar dugaan Aiden, Suzanne justru menggelengkan kepalanya perlahan di atas bantal.

Tatapan mata wanita itu tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan sebuah penerimaan yang pasrah namun mendalam.

Tangan Suzanne yang bebas bergerak naik, mengusap pelan rahang tegas Aiden yang basah oleh keringat, menahan pria muda itu agar tidak pergi.

Dengan suara yang bergetar namun terdengar sangat tegas di telinga Aiden, Suzanne menjawab, "Lakukanlah... habiskan pengaruh obat itu dari tubuhmu. Aku tidak keberatan."

Jawaban itu seolah menjadi izin mutlak yang merubuhkan sisa-sisa kendali Aiden.

Dengan erangan rendah yang penuh rasa terima kasih dan gairah yang kembali tersulut, Aiden kembali menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih dalam, dan melanjutkan penyatuan malam itu hingga tuntas, mengunci takdir rahasia di antara seorang wanita yang terluka dan seorang remaja yang terjebak dalam jebakan malam.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Rosdianah: huhuhu Maafkan typo author 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!