Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI TOKO BUNGA...
Pagi ini, Naya mengenakan sebuah midi dress berwarna putih tulang yang dihiasi motif floral cat air yang lembut, perpaduan warna merah muda pudar, biru langit, dan dedaunan hijau yang tampak begitu asri. Gaun itu memiliki potongan kerah kotak yang mempertegas garis lehernya, dipadukan dengan lengan balon pendek bergaya klasik yang manis.
Dan, di bagian korset gaunnya mengecil pas di pinggang dengan deretan kancing putih di bagian depan, sebelum mekar mengembang dengan anggun hingga sebatas betis saat ia melangkah.
Dengan riasan wajah yang tipis namun segar, ia memaksakan sebuah senyuman. Ia mencoba memfokuskan pikirannya pada tujuan utamanya pagi ini. Langkah kakinya yang anggun pun membawanya berhenti di depan sebuah toko bunga kecil bernuansa klasika yang letaknya memang tak jauh dari area pemakaman ayah dan ibunya.
Tring...
Bunyi bel di atas pintu kaca berdenting nyaring saat Naya mendorongnya perlahan. Aroma wangi khas bunga segar langsung menyergap indra penciumannya, memberikan sedikit ketenangan di hatinya yang sempat gundah. Di balik meja konter, seorang wanita paruh baya yang tengah sibuk merangkai beberapa tangkai mawar merah seketika mendongak.
Begitu melihat sosok anggun yang baru saja masuk, matanya membelalak gembira. "Eh, Non Naya!" sapa wanita paruh baya itu dengan senyum ramah yang langsung merekah di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus usia.
Bu Ratih pemilik toko bunga itu segera meletakkan gunting tanamnya dan menyeka tangannya pada apron kain yang ia kenakan. Beliau sudah sangat mengenali Naya, karena setiap kali Naya datang untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya, toko inilah yang selalu menjadi persinggahan pertamanya untuk membeli bunga tabur dan beberapa tangkai bunga lili kesukaan ibunya.
"Ya ampun, Non, semakin cantik aja." Lanjut wanita itu sambil berjalan mendekat, menatap kagum pada penampilan Naya pagi ini yang terlihat begitu cantik dan berseri bak bunga yang sedang mekar di tokonya.
"Bu Ratih bisa saja," balas Naya, mencoba mencairkan kecanggungan dengan tawa kecil yang terdengar sopan.
"Saya bicara jujur lho, Non," ucap Bu Ratih tulus, matanya berbinar memandangi Naya yang tampak begitu bersinar pagi ini. "Sudah jadi guru, pasti pintar. Terus cantik, lagi. Paket lengkap pokoknya. Eh tapi... pacarnya gak ikut nemenin ziarah, Non?"
Naya meringis pelan. Pertanyaan itu seperti cubitan kecil di hatinya yang baru saja mau sembuh dari kejadian semalam. Alih-alih menjawab, ia hanya melempar senyum tipis yang sarat akan kepasrahan.
Memahami perubahan raut wajah pelanggannya, Bu Ratih buru-buru mengalihkan pembicaraan agar tidak membuat Naya tidak nyaman. "Ya sudah, tunggu sebentar ya, Non. Ibu siapkan dulu bunga tabur sama lili kesukaan Almarhumah Ibunya."
Naya mengangguk patuh. "Iya, Bu. Terima kasih."
Ia menatap punggung sosok sepuh itu yang perlahan berbalik dan menghilang menuju ruang belakang untuk meracik bunga segar. Setelah pintu belakang tertutup, Naya menghela napas panjang, melepaskan sesak yang sempat mampir. Ia mulai berjalan perlahan, mengamati deretan bunga yang dirangkai indah di jajaran rak. Ada bunga lili yang kelopaknya mekar sempurna, juga bunga krisan beraneka warna. Semuanya terlihat cerah, segar, dan sewangi embun pagi.
Tring...
Suara lenting bel pintu kaca kembali memecah keheningan toko. Refleks, Naya berbalik untuk melihat siapa yang datang. Namun, detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis. Jantung Naya mencelos saat matanya berbenturan langsung dengan manik mata seorang lelaki yang baru saja melangkah masuk.
Mata mereka saling mengunci. Naya terpaku di tempatnya berdiri. "Za—Zaki..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Lelaki itu pun ikut menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. "Bu Naya..." gumam Zaki balik.
Sepasang mata Zaki sempat menatap Naya lekat-lekat, menyapu penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilat keterkejutan yang nyata di sana. Zaki mungkin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Ya. Naya yang biasanya ia temui dalam balutan pakaian formal guru yang kaku, kini nampak begitu anggun, manis, dan sangat berbeda dengan balutan floral dress yang menawan.
Dengan kesadaran yang terkumpul penuh setelah sempat tertegun, Zaki kembali menunjukkan sopan santunnya. Ia melangkah mendekat ke arah Naya dengan gerakan tenang namun pasti. Alih-alih hanya mengangguk atau melempar senyum seperti biasa, kali ini Zaki melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Ia mengulurkan tangannya, meraih jemari kanan Naya, lalu membawanya naik.
Pemuda itu menundukkan kepala sedikit, menyalami Naya dengan cara mencium punggung tangannya dengan takzim.
Naya tersentak, tubuhnya mendadak kaku bagai tersengat aliran listrik. Jantungnya bertalu-talu dengan liar di dalam rongga dada. Biasanya, jika mereka tidak sengaja berpapasan, Zaki hanya akan menyalaminya dengan gerakan formal yang biasa dan berjarak. Namun, kali ini semuanya terasa begitu berbeda. Sentuhan tangan Zaki yang terasa kokoh sekaligus lembut di kulitnya, ditambah dengan kehangatan bibir pria itu yang menempel beberapa detik pada punggung jemarinya, membuat seluruh tubuhnya berdesir hebat. Ada getaran aneh yang mendadak melumpuhkan logikanya.
"Ini bunganya, Non—"
Kalimat Bu Ratih terputus di udara. Wanita paruh baya itu baru saja kembali dari ruang belakang sambil membawa sebuket bunga segar, dan langkahnya langsung terhenti saat mendapati pemandangan manis di depan tokonya. Dan, seketika itu juga tatapan Bu Ratih seketika berubah heboh sekaligus berbinar jahil.
Naya yang terkejut setengah mati langsung menarik tangannya dari genggaman Zaki dengan gerakan canggung, berusaha menyembunyikan rona merah yang kini mulai menjalar hebat hingga ke pelipisnya.
"E-eh... Bu Ratih," gagap Naya, salah tingkah.
Bu Ratih melangkah mendekat dengan senyum yang semakin lebar, lalu sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah Naya.
"Itu pacar Non Naya, ya?" bisik Bu Ratih dengan nada menggoda, meski suaranya masih bisa terdengar jelas.
"Bukan, Bu! Itu... dia..." Naya mencoba mengelak, tangannya melambai panik di udara.
"Muda, tampan lagi." Sela Bu Ratih cepat tanpa memberikan Naya kesempatan untuk membantah, matanya melirik Zaki yang kini berdiri tegap di samping Naya.
"Bu, itu bukan—"
"Semoga awet dan langgeng ya, Non," sela Bu Ratih lagi, kali ini sambil terkekeh pelan, benar-benar mengabaikan raut wajah Naya yang sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Mendengar godaan bertubi-tubi dari pemilik toko, Zaki tidak terlihat tersinggung sama sekali. Lelaki itu justru menahan senyum, lalu dengan ramah melempar senyum simpul yang menawan ke arah Bu Ratih untuk mencairkan suasana canggung yang mendera Naya.
"Maaf, Bu," sela Zaki dengan suara rendahnya yang menenangkan, mencoba meluruskan keadaan sebelum Naya semakin salah tingkah. "Saya ke sini sedang mencari bunga krisan."
"Oh, ada, Den. Tunggu sebentar, ya," sahut Bu Ratih cekatan, lalu kembali berbalik menuju ruang belakang untuk mengambilkan bunga krisan yang diminta.
Begitu Bu Ratih menghilang di balik tirai, Naya segera memutar tubuhnya, menghadap penuh ke arah Zaki. Rasa salah tingkahnya berubah menjadi kejengkelan kecil yang menggemaskan.
"Kamu kenapa malah minta maaf buat cari bunga krisan? Kenapa gak sekalian jelasin ke Ibunya kalau kita itu bukan—"
Kalimat Naya mendadak terputus di udara. Kata-katanya menguap begitu saja saat sepasang mata teduh Zaki kembali mengunci pandangannya, lengkap dengan sebuah senyuman simpul yang terukir di bibir pria itu. Senyuman yang begitu tenang, tulus, dan entah mengapa terlihat sangat manis di mata Naya pagi ini.
Seketika, hal itu pun sukses membuat Naya kembali membisu, kehilangan seluruh kata-kata yang sudah siap ia semburkan tadi.
"Ini bunganya, Den," kata Bu Ratih yang tiba-tiba kembali dengan membawa seikat bunga krisan putih yang segar.
Naya masih membisu, menata detak jantungnya yang mendadak karambol akibat senyuman Zaki barusan.
"Jadi berapa, Bu?" tanya Zaki, sepenuhnya mengabaikan protes Naya yang menggantung tadi.
"Tujuh puluh lima ribu, Den."
"Ini, Bu. Uangnya pas, ya," kata Zaki sambil merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lalu menyerahkannya kepada Bu Ratih dengan sopan.
Naya yang melihat hal itu langsung tertegun. "Darimana dia punya uang sebanyak itu?" gumam Naya kecil, sangat lirih hingga nyaris menyerupai bisikan angin. Ia tahu betul bagaimana kondisi Zaki, sehingga melihat pemuda itu mengeluarkan uang puluhan ribu tanpa ragu membuatnya sedikit heran.
"Nabung, Bu," jawab Zaki pelan, matanya melirik Naya dengan binar jenaka.
Naya tersentak kaget. Matanya membelalak tak percaya saat menyadari ternyata Zaki mendengar gumamannya barusan. Merasa malu karena ketahuan membicarakan isi dompet orang lain, Naya langsung salah tingkah. Ia buru-buru mengambil buket bunganya dari meja konter.
"S-saya permisi duluan ya, Bu Ratih. Mari," pamit Naya terburu-buru, lalu melangkah cepat keluar dari toko bunga sebelum wajahnya semakin memerah.
Tring...
Naya berjalan cepat membelah trotoar menuju arah pemakaman. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang lebar dan konstan menyusul di belakangnya.
Zaki rupanya tidak butuh waktu lama untuk mengejar ketertinggalannya.
Di dalam dada Naya, ada letupan rasa senang yang aneh karena bertemu dengan Zaki pagi ini. Kehadiran pemuda itu seolah menjadi penawar instan, membuatnya sejenak lupa akan luka menyakitkan bersama Tian tadi malam. Namun di sisi lain, rasa gugup dan tidak percaya juga ikut merayap. Ia masih tidak percaya bagaimana detak jantungnya bisa seberisik ini hanya karena dekat dengan Zaki.
"Bu, tunggu..." panggil Zaki dari arah belakang, membuat langkah kaki Naya otomatis melambat dan akhirnya berhenti di tempat.
Naya menghentikan langkahnya sepenuhnya, lalu berbalik dengan perlahan. Ia meremas tangkai buket bunga di pelukannya, berusaha menetralisir debaran aneh yang masih tersisa di dadanya.
"Ka—kamu... kenapa bisa ada di sini?" tanya Naya gelagapan, merutuki lidahnya yang mendadak kelu. "Kamu gak PKL?" imbuhnya cepat, mencoba memunculkan kembali wibawa seorang guru yang sedang mengontrol kedisiplinan muridnya.
Zaki menyejajarkan posisinya, berdiri satu langkah di depan Naya dengan tatapan yang masih setenang air telaga. Alih-alih menjawab, ia justru menatap buket bunga di tangan Naya. "Ibu sendiri?" tanyanya balik, suaranya terdengar berat namun lembut.
Naya mengembuskan napas pelan, sedikit melonggarkan ketegangannya. "Ibu akan mengunjungi makam mendiang kedua orang tua Ibu," jawabnya jujur sambil melirik ke arah gerbang pemakaman yang sudah terlihat beberapa puluh meter di depan mereka.
Mendengar jawaban itu, sudut bibir Zaki terangkat, membentuk sebuah senyuman getir yang sarat akan rasa kesepian dalam yang hampir sama. Tatapannya mendadak meredup, menyiratkan ada luka lama yang juga tersimpan di sana.
Naya yang menangkap perubahan ekspresi itu pun kembali menatap Zaki lekat-lekat. Sisi profesionalnya sebagai seorang guru yang mencemaskan anak didiknya kini berbaur menjadi satu dengan rasa penasaran yang membuncah di dalam hati. "Kamu belum jawab pertanyaan Ibu, Zaki," desaknya dengan nada yang lebih menuntut namun tetap terselip perhatian sekaligus rasa penasaran di dalamnya.
Zaki menarik napas panjang, lalu mengangkat seikat bunga krisan putih yang baru saja ia beli. "Aku sedang ingin mengunjungi makam ayahku, Bu. Kebetulan hari ini aku lagi libur PKL," jelasnya pelan. "Toko tempat aku biasa beli bunga langgananku lagi tutup, makanya aku nyari sampai ke daerah sini."
Naya tertegun. Penjelasan Zaki seketika menghadirkan rasa iba dan kehangatan yang menjalar di dadanya. Siapa sangka, di balik langkah tak sengaja pagi ini, mereka berdua ternyata dituntun oleh langkah rindu yang sama, mengantarkan doa untuk orang-orang terkasih yang telah tiada di balik gundukan tanah yang sunyi.
Naya mengangguk pelan, mencoba sekuat tenaga menjaga wibawa dan profesionalismenya sebagai seorang guru di depan muridnya sendiri. Ia pun merapikan letak buket bunga di pelukannya, lalu kembali mengayunkan langkah kakinya lagi, berjalan lebih dulu membelah trotoar yang mulai menghangat oleh sengatan matahari pagi.
Sementara itu, Zaki melangkah konstan tepat satu meter di belakangnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk memastikan gurunya itu tetap aman. Entah.
Di balik langkah kakinya yang anggun, Naya tidak bisa membohongi gemuruh di dalam dadanya. Ada letupan rasa senang yang membuncah begitu saja, menyapu bersih sisa-sisa sesak akibat air mata semalam. Sudah dua bulan lamanya mereka tidak saling berjumpa sejak Zaki sibuk dengan urusan PKL.
Dua bulan yang terasa sepi, kini mendadak dibayar tuntas. Naya tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Zaki, merasa takjub bagaimana Tuhan justru mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tak biasa dan tak pernah ia duga sebelumnya. Ya, tepat di depan sebuah toko bunga, mereka dipertautkan oleh takdir dalam balutan kerinduan yang sama pada sosok orang tua yang telah tiada.
Namun Bagi Naya, ada debar lain yang menyusup di antara rasa kehilangan itu. Di balik langkah kakinya yang anggun, ia merasakan rindu yang jauh lebih dalam—sebuah kerinduan yang bukan sekadar tentang masa lalu, melainkan tentang sosok pemuda yang kini berjalan tenang di belakangnya.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri