**INI ADALAH BOOK KE 2 DARI SEMBILAN GULUNGAN NAGA LEGENDARIS.**
Ketika seluruh semesta terancam, satu pemuda harus memilih: menjadi monster yang menyelamatkan dunia, atau tetap manusia dan membiarkan semua musnah.
Lin Tian, kehilangan segalanya, karena invasi entitas misterius yang melahap dimensi. Kini, sebagai pewaris teknik "Orkestrasi Sembilan Naga," ia melintasi batas dimensi untuk berburu Master mereka: Pemangsa Dimensi yang mengancam 30 dimensi sekaligus.
Di Dimensi Asura, dimensi pejuang brutal, Lin Tian menemukan kekuatan... tapi hampir kehilangan kemanusiaannya. Antara latihan mematikan, pertarungan melawan entitas cerdas, dan persahabatan yang tak terduga, ia belajar kebenaran paling sulit: kekuatan tanpa hati adalah tirani, tapi hati tanpa kekuatan adalah kehancuran.
Bisa kah ia menyelamatkan alam semesta tanpa kehilangan jiwanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Dimensi Asura
Lin Tian mengikuti para prajurit Asura melewati sebuah gerbang dimensional yang stabil.
Pemandangan itu sendiri sudah cukup membuatnya terkejut.
Di dunia tempat tinggalnya, perjalanan antar dimensi membutuhkan teknik rumit dan risiko besar. Namun di tempat ini, gerbang dimensional tampak seperti teknik biasa yang digunakan tanpa kesulitan.
Begitu melewati portal tersebut, Lin Tian langsung merasakan dunia di sekitarnya berubah total.
Langit di Dimensi Asura berwarna merah darah dengan cahaya redup yang seolah tidak pernah berubah. Tidak ada matahari. Tidak ada malam. Seluruh dunia terasa seperti berada dalam senja abadi.
Tanahnya keras dan kasar, dipenuhi batu hitam, sungai lava, dan pegunungan vulkanik yang menjulang tinggi. Hampir tidak ada tumbuhan.
Dunia ini dibangun untuk bertahan hidup.
Bangunan-bangunan raksasa berdiri di berbagai tempat, seluruhnya terbuat dari batu gelap dan logam aneh. Bentuknya kokoh, kasar, dan penuh bekas pertempuran.
Namun yang paling mencolok adalah arena.
Arena pertempuran ada di mana-mana.
Dan di seluruh dimensi itu, ribuan Asura terlihat bergerak tanpa henti.
Semua tinggi besar. Semua berotot. Semua memancarkan aura prajurit yang menakutkan.
Tidak ada warga biasa.
Tidak ada pedagang santai.
Tidak ada kehidupan damai seperti di dunia tempat tinggalnya.
Yang ada hanyalah para petarung.
Di berbagai sudut kota, Lin Tian melihat duel berlangsung terus-menerus. Ada yang bertarung dengan pedang, tombak, bahkan tangan kosong. Benturan senjata dan ledakan energi tidak pernah berhenti terdengar.
Seolah seluruh budaya di dunia ini hanya mengenal satu hal.
Pertarungan.
Dan energi spiritual di tempat ini... Benar-benar mengerikan.
Kepadatan energi di udara setidaknya dua puluh kali lebih besar dibanding dimensi dunia kultivasi atau alam rendah. Bahkan bernapas terasa berat bagi Lin Tian, seolah tubuhnya dipaksa menyesuaikan diri dengan tekanan dunia yang jauh lebih tinggi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lin Tian merasa kecil.
Prajurit pemimpin berjalan di depannya sambil berbicara tanpa menoleh.
"Selamat datang di Dimensi Asura," katanya. "ini adalah Alam Perang."
Nada suaranya tenang, tetapi penuh kebanggaan.
"Di sini, kekuatan adalah segalanya."
"Yang lemah akan mati. Yang kuat akan bertahan."
"Itulah hukum kami."
Tatapan emasnya sedikit menyipit. "Dan itu juga hukum alam semesta."
Lin Tian diam mendengarkan.
"Kau lemah untuk standar dunia ini," lanjut sang prajurit tanpa basa-basi. "Karena itu, latihanmu wajib jika ingin bertahan hidup."
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan,
"Meski begitu, peluangmu untuk hidup tetap belum pasti."
Lin Tian mengepalkan tangan nya pelan.
Ia tidak menyukai posisi ini.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar berada dalam situasi yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan itu terasa merendahkan.
"Ikuti kami," kata sang prajurit lagi. "Kepala perang ingin bertemu denganmu."
Tatapan Lin Tian langsung berubah serius.
Kepala perang.
Pemimpin Dimensi Asura?
Jika iya, maka nasibnya mungkin akan ditentukan oleh pertemuan ini.
Tak lama kemudian, mereka tiba di arena pusat.
Ukuran tempat itu begitu besar hingga menyerupai sebuah kota kecil. Ribuan Asura memenuhi tribun batu sambil berteriak dan bersorak keras.
Di tengah arena, dua prajurit sedang bertarung.
Bukan duel biasa.
Melainkan pertarungan hidup dan mati.
Lin Tian langsung memusatkan indranya pada mereka.
Prajurit pertama berada di Transformasi Jiwa Lapisan Kelima.
Prajurit kedua berada di Lapisan Keenam.
Dan keduanya jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan.
Pertarungan dimulai begitu cepat hingga Lin Tian nyaris kesulitan mengikutinya.
Tubuh mereka bergerak melampaui kecepatan suara. Tidak ada teknik energi yang rumit atau serangan megah seperti kultivator di Alam Rendah.
Yang ada hanyalah efisiensi brutal.
Setiap pukulan cukup kuat untuk meretakkan ruang di sekitar arena.
Benturan senjata mereka menciptakan gelombang kejut yang membuat tanah bergetar.
Namun pertarungan itu hanya berlangsung tiga puluh detik.
Cepat.
Mematikan.
Dan tanpa ampun.
Prajurit Lapisan Keenam akhirnya membelah tubuh lawannya dengan satu tebasan brutal.
Darah menyembur ke udara.
Tubuh korban jatuh tanpa nyawa.
Lalu beberapa Asura masuk ke arena dan membawa mayat itu pergi dengan santai, seolah hal seperti ini sudah biasa terjadi setiap hari.
Yang lebih mengejutkan adalah reaksi penonton.
Mereka bersorak keras.
Kematian dianggap hiburan.
Lin Tian terdiam beberapa saat.
Budaya Dimensi Asura benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah ia kenal.
Dan kenyataan bahwa petarung sekuat Transformasi Jiwa Lapisan Kelima dan Keenam terlihat begitu umum di tempat ini membuat dadanya terasa berat.
Di Alam Rendah, dirinya adalah eksistensi tak tertandingi.
Namun di sini… Ia hanya rata-rata.
Kesadaran itu terasa menghantam harga dirinya, tetapi sekaligus membakar semangatnya.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat jalan menuju kekuatan yang jauh lebih tinggi.
Di pusat arena terdapat sebuah singgasana raksasa.
Dan di atasnya duduk sosok yang membuat seluruh arena terasa kecil.
Tubuhnya hampir tiga meter tingginya. Otot-ototnya sebesar batu gunung, dipenuhi bekas luka yang tak terhitung jumlahnya.
Kulit merah gelapnya memancarkan tekanan luar biasa, sementara mata emasnya menyimpan keganasan sekaligus kebijaksanaan.
Armor yang ia kenakan terbuat dari tulang naga utuh yang menyatu menjadi perlindungan mengerikan di seluruh tubuhnya.
Di samping singgasana bersandar sebuah kapak raksasa dengan bilah sepanjang dua meter.
Namun yang paling menakutkan bukan penampilannya.
Melainkan auranya.
Lin Tian mencoba membaca tingkat kultivasinya.
Dan hasilnya langsung membuat napasnya tertahan.
Ia tidak bisa mengukurnya.
Kekuatan pria itu sudah jauh melampaui Transformasi Jiwa.
Bahkan keberadaannya saja sudah cukup membuat udara terasa menekan.
Kharos bahkan belum bergerak.
Belum mengeluarkan aura penuh.
Namun Lin Tian sudah merasa seperti sedang berdiri di depan monster kuno yang mampu menghancurkan dunia dengan mudah.
Lalu suara berat menggema ke seluruh arena.
"Orang Luar." Suara itu begitu kuat hingga tanah arena ikut bergetar. "Kultivator Alam Rendah. Transformasi Jiwa Lapisan Ketiga."
Tatapan emas Kharos menatap langsung ke arah Lin Tian.
"Lemah."
Ia berhenti sejenak, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Tapi kau berhasil menembus penghalang dimensional dan bertahan hidup."
"Para prajuritku mengatakan kau menunjukkan keberanian."
Nada suaranya berubah lebih tertarik.
"Itu cukup menarik."
Kharos bersandar di singgasananya sambil menatap Lin Tian tajam.
"Siapa namamu?"
Lin Tian menatap langsung ke arah Kharos.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Dimensi Asura, ia benar-benar menekan harga dirinya demi bertahan hidup.
"Aku Lin Tian," ucapnya tenang. "Kultivator Transformasi Jiwa Lapisan Ketiga."
Kharos memperhatikan dirinya beberapa detik sebelum kembali berbicara.
"Lin Tian." Suaranya berat seperti gemuruh perang. "Apa tujuanmu memasuki dimensi ini?"
Tatapan emasnya menyipit tajam.
"Katakan yang sebenarnya."
Lin Tian terdiam sejenak.
Berbohong terasa berbahaya. Dunia Asura tampaknya sangat menghargai kehormatan dan keberanian. Jika kebohongannya terbongkar, kemungkinan besar ia akan mati saat ini juga.
Namun mengatakan seluruh kebenaran juga memiliki risiko besar.
Beberapa detik kemudian, ia akhirnya memutuskan.
"Aku sedang memburu musuh."
Seluruh arena perlahan menjadi lebih tenang.
"'Pemangsa Dimensi'," lanjut Lin Tian. "Pemimpin para entitas." Matanya tetap lurus menatap Kharos.
"Alam Rendah terus diserang. Miliaran makhluk hidup mati."
Nada suaranya berubah lebih dalam. "Aku datang ke luar penghalang dimensional untuk mencari jawaban."
Dan yang paling penting... "Aku datang untuk mencari kekuatan."
Setelah itu, keheningan memenuhi arena.
Kharos tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Lin Tian tanpa berkedip, seolah sedang mencoba melihat isi jiwanya secara langsung.