"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sloth
...Jakarta, 9 Juni 2025...
Langit Jakarta pagi ini tampak mendung. Walau sebenarnya, sulit untuk membayangkan kapan terakhir kali langit kota ini benar-benar cerah. Setiap hari, lapisan polusi tebal selalu menggantung di atas sana, menciptakan ilusi abu-abu yang mirip seperti cuaca menjelang hujan.
Pagi yang biasanya dijalani Samuel dengan ketenangan mutlak, kini harus berubah total. Ada seorang tersangka yang mengungsi di apartemennya. Walau ini adalah prosedur resmi dari kantornya—Badan Penyelidikan Indonesia (BPI)—tetap saja ada rasa canggung yang mengganjal di dada. Bagaimana tidak? Dia sekarang harus tinggal satu atap dengan seorang wanita, yang sialnya, merupakan saksi kunci sekaligus tersangka dari kasus yang sedang ia tangani.
Samuel beranjak dari tempat tidur. Kepalanya masih menyisakan sedikit denyutan samar, efek samping dari informasi yang berdesakan di otaknya. Sembari memikirkan kejanggalan demi kejanggalan dalam kasus ini, ia melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah.
Di meja makan, Riza Beatrice sudah duduk dengan tenang. Wanita itu sedang menyesap kopi hangatnya sembari mengusap layar ponsel, menelusuri media sosial.
Begitu menyadari kehadiran sang tuan rumah, netra mereka saling bertatapan. Riza menurunkan ponselnya, membuka percakapan lebih dulu.
"Pagi, Penyelidik."
Samuel, dengan wajah bantal dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, hanya mengerjapkan mata tanpa membalas ucapan itu. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin sekali menjawab sapaan tersebut dengan keren. Namun, rasa malu mendadak menyumbat tenggorokannya.
Di luar sana, orang-orang mengenali Samuel sebagai sosok pria yang sukses. Kariernya cemerlang di usia muda, wajahnya elok, postur tubuhnya pun tergolong tinggi di atas rata-rata pria Indonesia, lengkap dengan dada bidang yang atletis. Namun, ada satu rahasia menyedihkan: Samuel tidak pernah memiliki pasangan seumur hidupnya. Alasan utamanya sederhana, dia tidak pernah menemukan satu pun wanita yang bisa menerima tabiat asli dirinya yang merupakan seorang otaku garis keras.
Melihat Samuel yang masih mematung, Riza kembali bersuara, "Hari ini Anda tidak pergi ke kantor?"
Samuel melangkah mendekati dispenser, meneguk segelas air putih dingin untuk mengembalikan kesadarannya. Setelah merasa agak segar, ia baru menjawab, "Huwah... Hmm, nampaknya tidak. Aku baru saja membaca pesan dari Ahmad. Dia bilang, hari ini aku tidak usah masuk kerja."
Riza mengernyitkan alis, tampak bingung dengan dinamika kerja instansi BPI. "Sistem kerja kalian sebenarnya bagaimana? Bukankah seorang penyelidik harus saling bekerja sama di lapangan untuk menyelesaikan kasus?"
Samuel mendengus pelan. Ia meraih teko, menuangkan kopi hitam ke dalam gelasnya sendiri, lalu mengambil posisi duduk di meja makan—sengaja memilih sudut yang tidak berhadapan langsung dengan Riza demi mengurangi rasa canggung.
"Ya, kau benar. Nilai seratus untukmu," ujar Samuel sebelum menyeruput kopinya perlahan. "Tapi kasus kami berbeda. Kau lihat papan nama digital di lobi kantor kemarin? Di situ tertulis namaku berada di peringkat nomor dua. Padahal sebenarnya... kemampuan analisis dan pengetahuanku dalam hal penyelidikan tidak sehebat itu."
Riza tetap diam, menyimak dengan saksama sembari memegang cangkir kopinya.
"Ahmad-lah yang membuat namaku meroket ke peringkat dua, karena kami berada di dalam satu tim. Penyelidik lain di BPI biasanya bekerja berpasangan dalam tim yang terdiri dari dua orang yang setara," Samuel menjeda kalimatnya, kembali menikmati aroma kopi di gelasnya.
"Ahmad, secara teknis, sebenarnya tidak membutuhkan tim sama sekali. Dia terlalu genius. Tapi karena aturan mutlak dari Mas Dimas—Kepala Divisi kami—dia terpaksa harus merekrut rekan. Akhirnya dia memilihku, orang yang bisa dibilang bodoh dalam hal investigasi murni. Kami kebetulan memiliki hobi dan sifat konyol yang sama. Jadi, Ahmad hanya membutuhkan seorang teman di kantor, bukan rekan kerja yang kaku."
Samuel mendadak menghentikan narasinya. Pandangannya yang semula fokus pada permukaan kopi hitam kini beralih menatap Riza. Senyum aneh mulai terukir di wajahnya.
"Tidak, tidak, tidak... Muhahaha! Ahmad sialan itu... dia serba tahu. Dia tahu kalau aku memiliki kemampuan di luar nalar untuk mengubah waktu."
Riza menghela napas panjang. Pikirannya semakin tidak paham dengan jalan pikiran detektif di hadapannya ini. "Lalu, apa hubungannya dengan alasan kau tidak pergi ke kantor hari ini?"
Samuel mengkerutkan dahi, menatap Riza seolah-olah wanita itu baru saja menanyakan hal yang sangat remeh.
"Kau masih belum paham juga? Baiklah, akan kubuat kalimatnya menjadi lebih sederhana." Samuel menaruh gelas kopinya ke meja dengan bunyi ketukan yang mantap.
"Dengan kata lain... Ahmad sudah menemukan siapa pelakunya. Kita hanya perlu menunggu sampai besok."