NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi gengsi

“Mas, malam ini aku tidur di kamar Daffa nggak apa-apa ‘kan?” tanya Kinanti saat Keenan baru saja menidurkan Daffa di atas ranjang tempat tidurnya.

Mereka adalah pasangan pengantin baru. Kinanti bisa saja mengabaikan Daffa dan tidur di kamarnya, namun ia memilih menemani putra sambungnya itu, hal itu membuat hati Keenan hangat.

“Iya, nggak apa-apa. Tapi karena tempat tidurnya sempit, mas tidur di sofa.”

"Kalau Mas mau tidur di kamar nggak apa-apa kok. Biar aku yang jagain Daffa.”

Keenan tersenyum lembut, lalu berkata," Terima kasih ya, Sayang.”

Kinanti tersipu. Ini adalah kali pertama Keenan memanggilnya dengan sebutan itu. Mereka berdua hampir tak mengenal satu sama lain. Tapi Kinanti percaya ucapan Ratih yang mengatakan jika Keenan adalah pria yang baik.

Malam berlalu, hingga menjelang dini hari tiba-tiba Daffa terjaga dari tidurnya. Ia menangis lantaran tenggorokannya terasa begitu nyeri.

Kinanti yang mendengar suara rintihan Daffa langsung bangun.

“Tenggorokanmu sakit ya? Semalam ‘kan kamu belum minum obat karena ketiduran. Sekarang ibu bantu kamu minum obat ya," ucap Kinanti.

Daffa ingin menolak, tapi ia nyaris tak bisa bersuara. Akhirnya ia menurut saat Kinanti memintanya membuka mulut dan menyuapkan obat.

"Masih jam 2 pagi, kamu tidur lagi ya.”

Daffa kembali menurut. Kinanti menyenandungkan sholawat sambil mengusap kepala Daffa. Di saat setengah sadar dan pengaruh obat, Daffa seolah melihat wajah Kinanti berubah menjadi wajah almarhumah ibunya, Ratih. Daffa tersenyum, lalu kembali tertidur.

Keesokan paginya,

Kinanti tengah memasak di dapur ketika terdengar suara langkah kaki. Ia menoleh dan tersenyum saat melihat rupanya Daffa sudah bangun.

“Eh, kamu sudah bangun?"

Daffa masih kaku. Sepertinya bocah laki-laki itu masih enggan bersikap manis pada ibu barunya.

“Gimana tenggorokanmu? Masih sakit nggak?" tanya Kinanti sambil berjalan mendekat.

Daffa berdehem, menunjukkan jika tenggorokannya masih sakit.

“Karena tenggorokanmu masih sakit, pagi ini kita sarapan bubur ayam." Kinanti dengan penuh semangat mengaduk beras yang tengah ia masak di dalam panci. Sementara di panci lainnya, ia memasak opor ayam.

“Daffa … kamu sudah bangun, Nak? Gimana tidurmu semalam?" tanya Keenan uang baru memasuki ruang dapur.

Daffa diam.

“Jam pagi Daffa bangun, katanya tenggorokannya sakit. Aku langsung memberikannya obat," jawab Kinanti sambil terus mengaduk bubur di atas kompor.

“Kalau tenggorokanmu masih sakit, biar ayah minta izin pada gurumu."

“Aku mau sekolah," jawab Daffa dengan suara serak.

“Kamu yakin?" tanya Keenan.

Daffa mengangguk mantap.

“Jagoan ayah yang satu ini memang rajin. Ya sudah, selagi ibumu menyiapkan sarapan, ayo ayah bantu siap-siap."

Daffa mengangguk. Keduanya lalu meninggalkan ruang dapur.

Tak lama kemudian, bubur ayam buatan Kinanti sudah tersaji di meja makan. Ia menoleh ke arah jarum jam, waktu menunjukkan pukul 06.15 dan pintu kamar Tiara dan Yudha masih tertutup rapat.

“Mereka harus sekolah ‘bukan? Kenapa sudah jam segini belum bangun?" gumam Kinanti.

Ia baru melangkah menuju kamar Tiara, ketika hendak mengetuknya, tiba-tiba pintu terbuka. Tiara memandang dengan wajah penuh kebencian.

"Kenapa nggak bangunin aku?!" omelnya.

“Ehm …”

"Iya. Biasanya ibu yang bangunin kami!” Yudha yang baru keluar dari kamarnya menimpali.

"Maaf, ibu tidak tahu kalau, …"

“Pede banget menyebut dirimu sebagai ibu. Ingat ya, sampai kapan pun, kami tidak akan pernah memanggilmu ibu!” seru Yudha.

"Eeh… kalian ini bicara sama orang yang lebih tua kok kasar begitu!" tegur Keenan. Ia keluar dengan menggandeng tangan Daffa yang sudah rapi dengan seragam TK nya.

“Kami berdua telat bangun gara-gara dia!" desis Tiara.

“Maaf, Mas. Aku nggak tahu kalau mereka biasanya dibangunkan setiap pagi," ucap Kinanti.

“Yudha, Tiara …ibu kalian sudah nggak ada. Kinanti juga masih perlu banyak beradaptasi dengan kebiasaan di keluarga ini. Jadi kalian jangan cuma marah-marah nggak jelas begitu," ucap Keenan, berusaha menjaga nada suaranya agar sabar.

Yudha dan Tiara saling sikut.

“Kalian berdua punya handphone, bisa ‘kan pasang alarm tanpa harus dibangunkan setiap pagi?”

"Yw sudah, ibu minta maaf. Mulai besok ibu akan membangunkan kalian. Sekarang kalian siap-siap, lalu sarapan. Ibu sudah masak bubur ayam.”

"Bubur ayam? Kamu pikir kami ini bayi?!” bentak Yudha.

"Adik kalian ‘kan lagi sakit, jadi biar adil kita makan seperti yang dia makan."

“Nggak! Aku nggak mau!"

Yudha dah Tiara berbalik menuju kamar masing-masing.

“Yudha… Tiara,” panggil Keenan. Namun kedua remaja itu tak menoleh lagi.

“Sudah, Mas. Nggak apa-apa. Daffa … kamu sudah lapar? Ibu ambilkan bubur nya ya," ucap Kinanti.

Keenan dan Daffa lalu duduk berdampingan di meja makan. Kinanti dengan penuh kesabaran menyiapkan dua mangkuk bubur ayam untuk suami dan anak sambungnya itu.

"Ayo dimakan, selagi hangat,” ucap Kinanti saat melihat Daffa hanya diam memandangi mangkuknya.

“Hmmm… bubur ayam buatan ibumu enak banget lho," ujar Keenan dengan senyum puas setelah menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya.

Daffa awalnya hanya menatap mangkuk bubur di hadapannya. Uap hangat masih mengepul dari permukaannya, membawa aroma kaldu ayam yang gurih berpadu dengan wangi bawang goreng dan kuah opor yang begitu menggugah selera.

Perlahan, ia mengambil sendok.

Suapan pertama masuk ke mulutnya.

Mata bocah itu langsung membulat.

"Enak..."

Tanpa sadar, ia mengambil suapan kedua, lalu ketiga. Rasa gurih yang pas dan tekstur bubur yang lembut membuat tenggorokannya tidak terasa sakit saat menelan. Tak lama kemudian, mangkuk di hadapannya telah kosong.

"Hoiiik"

Sebuah sendawa lolos dari mulutnya.

Kinanti yang melihat itu tak kuasa menahan senyum.

"Kalau Daffa sampai bersendawa begitu, tandanya perutnya kenyang," ujar Keenan sambil terkekeh.

"Alhamdulillah."

Tak lama kemudian, pintu kamar Yudha dan Tiara terbuka hampir bersamaan. Keduanya sudah rapi mengenakan seragam sekolah. Yudha dengan seragam putih abu-abu khas siswa SMA, sedangkan Tiara mengenakan seragam putih-biru.

"Ayo, sarapan dulu," ajak Keenan.

Namun, Yudha bahkan tidak melirik ke arah meja makan.

"Aku nggak mau makan masakan dia," ujarnya dingin.

Kening Keenan langsung berkerut.

"Yudha!" Nada suaranya terdengar lebih tegas dari biasanya.

"Jaga sikapmu. Kinanti sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Tolong hargai dia."

Yudha hanya mendecak pelan.

Melihat suasana mulai memanas, Kinanti buru-buru menyela.

"Nggak apa-apa, Mas. Mungkin Yudha memang nggak suka bubur."

Keenan menghembuskan napas panjang sebelum mengalihkan perhatian kepada putrinya.

"Tiara, sarapan dulu, Nak."

Tiara terdiam. Sejujurnya, sejak tadi aroma bubur ayam itu terus mengusik perutnya. Ia bahkan sempat membayangkan betapa nikmatnya bubur hangat dengan kuah opor yang harum itu. Kakinya nyaris melangkah menuju meja makan. Namun sebelum sempat bergerak, Yudha lebih dulu menarik lengannya.

"Ayo. Kita berangkat."

Tiara menoleh sekilas ke arah meja makan. Lalu kepada mangkuk kosong milik Daffa. Entah kenapa, hal itu membuatnya semakin penasaran dengan rasa bubur tersebut. Namun pada akhirnya, ia tetap mengikuti kakaknya. Mereka menghampiri Keenan dan menyalami ayahnya secara bergantian.

"Assalamualaikum, Yah."

"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan."

Kinanti yang berdiri di samping Keenan ikut mengulurkan tangan dengan senyum ramah. Namun Yudha dan Tiara berlalu begitu saja, seolah tidak melihat keberadaannya. Tangan Kinanti menggantung sesaat di udara sebelum akhirnya ia turunkan kembali.

Meski begitu, senyum tipis masih bertahan di wajahnya.

Ia tidak marah, juga tidak kecewa.

Setidaknya tidak ingin menunjukkannya.

Sementara itu, sebelum melangkah keluar rumah, Tiara sempat mencuri pandang ke arah meja makan untuk terakhir kalinya. Ia menelan ludah. Perutnya benar-benar lapar. Namun demi mempertahankan gengsi dan kesetiaannya pada sang kakak, ia memilih berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!