HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengulang Lamaran
BAB 10 — MENGULANG LAMARAN
Aku berdiri tegak di depan cermin besar yang tergantung di dinding kamarku, menatap lekat-lekat pantulan diriku sendiri yang tampak begitu jelas di sana. Gaun putih sederhana yang kupakai hari ini terlihat persis sama dengan yang aku kenakan dua tahun silam, saat hari lamaran yang kemudian mengubah seluruh arah perjalanan hidupku. Bahkan anting-anting mutiara kecil yang tergantung anggun di kedua telingaku pun tidak berubah, dipilih dengan cermat agar tampak sopan, bersih, dan memancarkan kesan anggun yang sesuai dengan acara resmi seperti ini. Semua benda di sekelilingku, mulai dari perabotan kamar hingga tata letak ruangan, terlihat sama persis seperti kejadian di masa lalu, seolah waktu berhenti berputar dan kini berusaha mengulang adegan yang sama persis sekali lagi. Namun di balik kemiripan yang terlihat oleh mata siapa pun, ada satu hal yang sangat berbeda, sesuatu yang tidak kasat mata namun terasa begitu nyata dan mengubah segalanya: diriku sendiri.
Dua tahun yang lalu, saat berdiri di tempat yang sama persis ini, jantungku berdebar kencang bukan karena rasa takut atau was-was, melainkan karena perasaan bahagia yang meluap-luap hingga sulit untuk disembunyikan. Hari itu aku percaya sepenuhnya pada setiap kata yang terucap, meyakini bahwa Arga datang dengan niat tulus untuk memintaku menjadi pendamping hidupnya selamanya. Aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia, yakin bahwa akulah satu-satunya yang dicintainya, dan bahwa masa depan yang menantiku akan dipenuhi dengan kebahagiaan, ketenangan, dan kasih sayang yang abadi. Betapa naifnya aku saat itu, membiarkan kata-kata manis dan sikapnya yang tampak sempurna membutakan mataku dari kenyataan pahit yang sebenarnya sedang disusun secara perlahan. Sekarang, setiap kali mengingat masa-masa itu, aku hampir ingin tertawa miris menyadari betapa mudahnya aku tertipu dan dibohongi oleh penampilan semata. Karena kenyataannya, hari itu bukanlah awal dari sebuah kisah cinta yang indah dan bahagia, melainkan awal dari sebuah perangkap yang dirancang dengan sangat rapi, yang perlahan-lahan akan menghancurkan hidupku, merampas harta warisan, nama baik keluarga, bahkan nyawaku sendiri. Namun kali ini, aku telah terlahir kembali dengan pengetahuan tentang segala rencana jahat yang telah mereka susun, dan aku bertekad untuk tidak membiarkan hal yang sama terulang kembali.
Dari balik tirai jendela kamar yang sedikit terbuka, aku melihat deretan mobil mewah mulai memasuki halaman depan rumah keluarga Wibisono dengan tertib. Mereka telah tiba—keluarga Arga, orang-orang yang dulu aku sambut dengan tangan terbuka dan senyum tulus, namun kemudian ikut menikmati dan bahkan menjadi dalang di balik kehancuran yang menimpaku dan keluargaku. Aku menarik napas panjang, menghirup udara segar sedalam-dalamnya, berusaha menenangkan detak jantung dan menekan segala emosi negatif seperti amarah, kekecewaan, dan dendam yang berusaha meledak keluar. Belum saatnya untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya dan apa yang aku ketahui. Aku harus tetap tenang, berpikir jernih, dan memainkan peran ini dengan sangat hati-hati dan cermat, seolah tidak ada yang berubah sedikit pun. Karena kali ini tujuanku bukan sekadar menyelamatkan diri dari bahaya yang mengancam, melainkan membalikkan keadaan sedemikian rupa sehingga aku bisa keluar sebagai pemenang dalam permainan kotor yang mereka mulai sejak awal.
Di lantai bawah, ruang keluarga tampak penuh sesak dengan kehadiran kerabat dan tamu undangan yang telah berkumpul sejak tadi. Para pelayan sibuk bergerak ke sana kemari dengan sigap, menyajikan minuman hangat dan makanan ringan kepada setiap orang yang hadir, sementara suara obrolan dan tawa terdengar riang memenuhi seluruh ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan akrab. Semuanya terlihat persis sama seperti dua tahun yang lalu, seolah waktu berhenti bergerak dan tidak ada satu pun peristiwa kelam yang pernah terjadi. Aku mulai menuruni tangga perlahan, setiap langkah kuatur dengan tenang dan penuh keyakinan, memastikan bahwa tidak ada yang mencurigai ada perubahan pada diriku. Saat kaki terakhirku menginjak lantai ruang tamu, pandanganku langsung tertuju pada satu sosok yang sudah kutunggu-tunggu kehadirannya—Arga. Begitu matanya bertemu dengan pandanganku, ia segera mengukir senyum manis di bibirnya, senyum yang dulu mampu membuat hatiku berdebar dan merasa tersanjung, namun kini hanya menimbulkan rasa jijik dan muak yang mendalam di dalam hatiku. Meski demikian, aku tetap membalasnya dengan senyum tipis yang terlihat sopan dan biasa saja, berusaha menyembunyikan segala perasaan yang sebenarnya agar tidak ada yang curiga. Aku belum boleh menunjukkan keanehan apa pun, setidaknya belum sampai tiba saat yang tepat untuk membuka semua kebenaran.
Di sudut ruangan yang lain, sosok Eliana juga terlihat berdiri di antara kerabat yang sedang berbicara. Tentu saja ia hadir, persis seperti yang terjadi di kehidupan sebelumnya yang telah aku lalui. Dulu aku menganggap kehadirannya sebagai bentuk dukungan dan kasih sayang dari seorang adik yang baik hati, namun kini aku tahu tujuan sebenarnya ia datang ke sini: memastikan bahwa rencana licik mereka berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Begitu melihatku melangkah masuk, Eliana segera bergerak mendekat dengan langkah ringan, lalu memelukku dengan erat seolah kami memiliki hubungan yang sangat akrab dan penuh kasih sayang. Secara refleks, hampir saja aku mendorong tubuhnya menjauh karena merasa tidak nyaman dan terganggu, namun aku berhasil menahan diri dan tetap berdiri diam, membiarkannya berpura-pura.
“Kakak terlihat sangat cantik hari ini,” ucapnya dengan suara lembut yang terdengar tulus dan manis, meski aku tahu betul di baliknya tersimpan niat jahat.
Aku hanya tersenyum tipis tanpa menampakkan terlalu banyak perasaan. “Terima kasih,” jawabku singkat dan datar, tidak memberikan kesempatan untuk melanjutkan pembicaraan yang tidak perlu.
Andai saja semua orang yang hadir di ruangan ini tahu bahwa di balik senyum manis dan sikapnya yang terlihat sopan itu bersembunyi seekor ular berbisa yang siap menyengat kapan saja untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tidak lama kemudian, ibu tiriku, Eleanor, juga mendekatiku dengan langkah yang pelan. Dulu, saat dia memberikan nasihat dan peringatan, aku selalu mendengarkannya dengan penuh perhatian dan bahkan berusaha mematuhinya sepenuhnya. Aku ingat betul bagaimana dia pernah berkata bahwa aku beruntung mendapatkan Arga, dan saat itu aku merasa bangga serta jantungku berdebar kencang karena merasa dihargai. Kini aku menyadari betapa naifnya diriku saat itu, yang tidak mampu melihat kepalsuan di balik setiap ucapannya.
“Kamu harus terlihat manis dan sopan, duduk dengan tenang, dan jangan sampai membuat suasana menjadi tidak enak atau canggung,” ujar Eleanor dengan nada lembut yang penuh kepalsuan, seolah dia benar-benar menginginkan yang terbaik untukku.
Dia melanjutkan dengan nada yang sedikit ditekan namun masih terdengar halus, “Ingatlah, Violet, jangan sampai kamu membuat malu keluarga kita di hadapan tamu-tamu penting ini.”
Aku hanya menatapnya dalam diam, tidak memberikan reaksi berlebihan seperti dulu. Dulu aku akan mengangguk patuh dan berjanji akan berperilaku baik, namun kali ini aku hanya membiarkan kata-katanya melayang begitu saja.
“Kau tahu, kau adalah gadis yang sangat beruntung dipilih oleh Arga. Banyak orang yang bahkan iri padamu, termasuk Eliana,” bisiknya lagi dengan nada yang seolah ingin berbagi rahasia, mencoba menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab di hatiku.
Aku tertawa kecil di dalam hati mendengar kalimat yang persis sama diucapkan kembali. Dulu aku tidak mengerti ada maksud tersembunyi di balik ucapannya, namun kini aku sangat paham bahwa kata-kata itu hanya bertujuan memanipulasi perasaanku agar aku merasa berutang budi dan tidak berani menolak apapun. Aku hanya mengangkat sedikit ujung bibirku, sama sekali tidak tertarik untuk menjawab atau menanggapi ucapan Eleanor. Aku bisa melihat sekilas bahwa wajah ibu tiriku terlihat sedikit pucat dan bingung, terlihat ada kerutan halus di atas keningnya yang menunjukkan kegelisahan. Dia tahu aku adalah putri tiri yang sangat penurut dan selalu menjawab setiap ucapannya, sehingga melihat ekspresiku yang datar dan tidak tergoyahkan ini tentu membuatnya merasa tidak nyaman dan curiga.
“Baiklah, aku akan duduk di sana. Kau ingat pesanku tadi,” katanya akhirnya, lalu berbalik dan bergerak menjauh dari hadapanku.
Acara pun berlangsung sesuai dengan urutan adat dan tata cara yang telah direncanakan dengan matang. Perwakilan dari keluarga Arga menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan kata-kata yang halus, sopan, dan penuh penghormatan, lalu diikuti dengan jawaban dari pihak keluargaku yang juga disampaikan dengan bijaksana. Semua berjalan lancar, tertib, dan sesuai dengan apa yang terukir jelas dalam ingatanku di masa lalu.
Namun kali ini, mataku tidak lagi buta. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Arga sesekali melirik ke arah Eliana, tatapan yang dulu tidak aku mengerti maknanya, namun kini aku sadar sepenuhnya bahwa tatapan itu penuh dengan kasih sayang dan rahasia yang mereka sembunyikan. Setelah itu, Arga menoleh kembali ke arahku, berusaha menampilkan wajah yang lembut, namun aku justru dengan sengaja membuang pandanganku ke arah lain seolah tidak melihatnya. Arga mengernyitkan dahinya, tampak bingung dan agak terkejut melihat sikapku yang berbeda dari biasanya. Dia pasti berpikir ada yang salah, karena selama ini aku selalu tersenyum lebar dan menatapnya dengan penuh kekaguman dan cinta, namun hari ini sikapku terasa dingin dan jauh berbeda. Namun aku membiarkannya berpikir apa pun yang dia mau, karena ini hanyalah awal dari segala perubahan yang akan mereka hadapi.
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
aku padamu Sherkan ♥️🫰
apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
semangat Mak Eva 💪🥰