Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Langkah kaki Tristan berdentam keras saat memasuki basecamp tempat gengnya biasa berkumpul. Tatapan matanya tajam memburu, dipenuhi kilat amarah yang siap meledak. Di dalam ruangan, tampak Andre dan Indra sedang asyik mengobrol santai bersama Bella.
Tanpa peringatan, Tristan melesat maju. Dengan gerakan cepat, kedua tangannya mencengkeram kuat kerah kemeja Andre dan Indra sekaligus, memaksa kedua pria itu berdiri dengan wajah tegang.
"Dasar bedebah lo berdua! Kalian sudah bosan hidup, hah?!" geram Tristan dengan rahang mengeras.
Bugh!
Bugh!
Dua pukulan mentah mendarat telak di wajah Andre dan Indra secara bergantian. Tubuh mereka terjerembap ke lantai, meringis kesakitan memegangi rahang mereka yang membiru.
Melihat aksi brutal itu secara tiba-tiba, Bella berteriak histeris, menutupi mulutnya yang ternganga. "Hentikan, Tristan! Kau bisa membunuh mereka berdua! Sebenarnya kalian ada masalah apa?"
"Diam lo, Bel!" bentak Tristan, menunjuk wajah Bella dengan telunjuknya yang gemetar karena amarah. "Kau dan kedua cecunguk ini sama saja! Elo juga ikut terlibat kan di Hotel Permata tadi malam?!"
Bella mengernyitkan keningnya, tampak bingung dan ketakutan. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa. Semalam, saat pesta Halloween meriah di dekat kampus, Bella justru sibuk mencari keberadaan Tristan yang tiba-tiba menghilang. Bella tidak tahu bahwa malam itu, Ananda yang bekerja paruh waktu sampai larut di kafe tempat pesta berlangsung, telah dijebak. Semua ini adalah rencana busuk yang disusun rapi oleh Andre dan Indra.
"Ampun, Tristan! Bukankah si itik buruk rupa itu sudah resmi jadi milik lo? Gue ngaku kalah taruhan, makanya gue... gue...!" Andre terbata-bata sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Gue apa, hah?! Dasar bangs4t elo berdua!" amuk Tristan.
Dengan frustrasi, Tristan meraih sebuah balok kayu di dekatnya dan melemparkannya ke sembarang arah hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu. Pikirannya kalut. Rasa bersalah yang teramat sangat mendorongnya untuk segera keluar dari tempat itu untuk mencari satu nama.
"Aku harus meminta maaf kepada si itik. Tidak seharusnya aku menghancurkan masa depannya seperti ini!" batin Tristan bergegas pergi.
Tristan berlari menyusuri koridor kampus. Langkahnya berhenti di depan ruang kelas Ananda. Dengan napas terengah-engah, ia langsung bertanya kepada dosen yang tengah mengajar di dalam kelas tersebut. Namun, jawaban yang ia terima laksana petir di siang bolong.
"Ananda Ayunindia? Dia sudah resmi mengundurkan diri dan keluar dari kampus ini hari ini juga, Tristan," ujar sang dosen.
Mendengar hal itu, tubuh Tristan mendadak lemas. Frustrasi dan kepanikan menjalar di sekujur tubuhnya. Tanpa membuang waktu, ia bergegas menuju area parkir dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah kontrakan Ananda. Ia harus menemukan gadis itu, apa pun jalannya.
Namun, takdir berkata lain. Tepat saat mobil Tristan sampai di depan pintu gerbang luar kawasan kontrakan tersebut, sebuah mobil mewah berlogo keluarga Bratadikara melintas dan mendadak menghadang jalannya. Kaca mobil tengah diturunkan, menampilkan wajah sang ibu yang tampak pucat dan sembap.
"Tristan, putraku! Ayahmu kecelakaan!" seru ibunya dengan suara bergetar menahan tangis. "Kita harus segera pergi ke Kanada sekarang juga. Ayahmu sedang kritis dan dirawat di sana!"
Tristan tertegun di balik kemudinya. Ia melirik ke arah jalan menuju kontrakan Ananda, lalu beralih menatap ibunya yang terus memohon agar ia cepat bergerak. Tristan ingin menolak, ia ingin menyelesaikan dosanya pada Ananda terlebih dahulu. Namun, kewajibannya sebagai seorang anak di saat genting seperti ini membelenggu langkahnya. Ia terpaksa mengalah dan ikut pergi bersama ibunya menuju bandara.
Sambil menatap nanar ke luar jendela mobil yang mulai melaju kencang, Tristan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
'Itik... aku janji. Setelah kepulanganku dari Kanada, aku pasti akan mencari mu. Aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan jahanam ku ini!' janjinya dalam hati, meratapi kepergiannya yang menyisakan luka misterius bagi gadis yang ditinggalkannya.
*
*
Waktu bergulir tanpa ampun. Enam tahun telah berlalu sejak malam jahanam yang menghancurkan seluruh dunia Ananda. Di sebuah rumah sederhana di sudut Kota Bandung, seorang wanita muda sedang merapikan blazer kerjanya di depan cermin.
Ia menatap pantulan dirinya. Tidak ada lagi kacamata tebal yang melorot, tidak ada lagi rambut kepang dua yang kusam, dan tidak ada lagi wajah penuh jerawat kemerahan yang dulu membuatnya dicap sebagai 'si itik buruk rupa'. Wanita di dalam cermin itu kini memiliki kulit yang bersih terawat, tatapan mata yang tajam berbinar, serta aura anggun, energik, dan pemberani.
Ananda Ayunindia telah sepenuhnya bermetamorfosis.
"Bunda... El sudah siap!"
Suara cempreng seorang bocah laki-laki berusia lima tahun memecah lamunan Ananda. Ananda berbalik, tersenyum manis melihat putra kecilnya, Elvano, yang sudah rapi mengenakan tas ransel kecilnya. El adalah kekuatan Ananda, alasan utamanya untuk tetap bertahan hidup setelah badai besar enam tahun yang lalu.
Bu Mila, yang rambutnya kini telah memutih dan jalannya mulai sedikit renta, melangkah mendekat sambil menuntun sang cucu.
"Nduk, kamu benar-benar yakin kita harus kembali ke Jakarta?" tanya Bu Mila dengan nada khawatir yang masih sama seperti enam tahun yang lalu. Setelah sempat mengikuti program transmigrasi ke Sumatra selama beberapa tahun, mereka memang memutuskan kembali ke Jawa demi pendidikan El, dan Ananda memilih kuliah kelas karyawan di Bandung hingga lulus setahun yang lalu.
Ananda menggenggam lembut tangan ibunya. "Yakin, Bu. Ananda sudah diterima sebagai sekretaris di salah satu perusahaan properti terbesar di Jakarta. Gajinya sangat besar, cukup untuk biaya sekolah El dan pengobatan Ibu. Kita tidak bisa terus-menerus lari dari kota itu, Bu. Ananda yang sekarang bukan Ananda yang dulu."
Bu Mila menghela napas panjang, lalu tersenyum tegar. "Baiklah, kalau itu sudah jadi keputusanmu. Ibu dan El akan selalu bersamamu."
Perusahaan Bratadikara
Gedung pencakar langit Bratadikara Group berdiri kokoh di pusat bisnis Jakarta. Ananda melangkah mantap melewati pintu kaca otomatis. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tegas. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris pribadi Chief Executive Officer (CEO) yang baru.
Seorang staf HRD mengantarnya menuju lantai teratas, tempat kubikel sekretaris dan ruangan sang CEO berada.
"Fasilitas dan berkas yang harus ditandatangani hari ini sudah saya siapkan di mejamu, Ananda," ujar staf HRD tersebut dengan ramah. "Pak CEO baru saja selesai rapat di luar dan sedang menuju kesini. Sifatnya agak tegas dan dingin, jadi kuharap kamu bisa langsung menyesuaikan diri."
"Baik, terima kasih banyak. Saya akan melakukan yang terbaik," jawab Ananda dengan senyuman profesional.
Setelah staf HRD pergi, Ananda mulai merapikan meja kerjanya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kopi dan ruangan ber AC yang mewah. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri. Dari seorang gadis korban perundungan yang kehilangan beasiswa, kini ia berdiri di puncak kariernya.
Ceklek.
Suara pintu lift khusus bernada sensor berbunyi. Langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat. Ananda segera berdiri dari kursi kerjanya, memasang senyum ramah, dan menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat tanpa melihat wajah sang atasan terlebih dahulu.
"Selamat pagi, Pak. Saya Ananda Ayunindia, sekretaris baru Anda..."
"Tolong siapkan laporan keuangan kuartal kedua dan bawa ke ruangan saya sekarang," potong suara berat itu dengan nada dingin dan mutlak.
Deg!
Jantung Ananda mendadak berhenti berdetak. Suara itu... nada bicara itu... bariton yang dalam itu tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya, bahkan jika ratusan tahun berlalu.
Ananda perlahan menegakkan tubuhnya dan memberanikan diri untuk mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan setelan jas mahal berpotongan sempurna. Wajahnya semakin matang, rahangnya tegas, dan tatapan matanya sedingin es.
Pria itu adalah Tristan Bratadikara.
Dunia seolah telah berhenti berputar. Ananda mengepalkan kedua tangannya di balik rok kerjanya, mencoba sekuat tenaga menahan gemetar yang tiba-tiba menyerang tubuhnya. Kilasan malam kelam itu mendadak berputar di kepalanya. Namun, Ananda dengan cepat memejamkan mata sejenak, mengusir rasa takut itu, lalu menatap Tristan dengan berani.
Di sisi lain, Tristan yang hendak melangkah masuk ke ruangannya mendadak menghentikan gerakannya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Suara sekretaris barunya tadi... terdengar familiar, namun ia tak tahu di mana.
Tristan membalikkan badannya secara penuh. Netranya langsung bertubrukan dengan manik mata indah milik Ananda.
Tristan tertegun. Pria itu terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Bola mata itu... jernih, indah, namun menyimpan luka sekaligus keberanian yang mendalam. Tristan merasa pernah melihat sepasang mata itu di suatu masa dalam hidupnya, masa di mana ia melakukan kesalahan terbesar yang membuatnya menyesal selama enam tahun berturut-turut.
Namun, penampilan wanita di hadapannya ini begitu sempurna, cantik, modis, dan memancarkan aura wanita karier yang tangguh. Sangat kontras dengan memori masa lalunya tentang seorang gadis lusuh.
Tristan menyipitkan matanya, mencoba mengingat-ingat. "Siapa namamu tadi?" tanyanya dengan suara yang mendadak melunak, mengabaikan sikap dinginnya yang biasa.
Ananda tersenyum profesional, senyuman yang penuh dengan ketegasan. "Nama saya Ananda Ayunindia, Pak Tristan. Mohon bimbingannya."
Akankah Tristan menyadari bahwa wanita cantik dan pemberani di hadapannya saat ini adalah 'si itik buruk rupa' yang rahimnya pernah ia tanami benih enam tahun yang lalu?
Bersambung...