NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Lima Tahun Tempaan

Raksasa emas polos (Wujud Purba) yang sempat menaungi batu kali itu perlahan melarut kembali ke dalam punggung Mada. Sepasang mata emas (Niti Sastra) miliknya meredup menjadi hitam jernih kembali. Bocah berusia lima tahun itu berdiri dengan napas terengah-engah, menatap telapak tangannya yang masih bergetar akibat sisa-sisa letupan tenaga dalam (Kanuragan Raga) yang baru saja ia bangkitkan.

Rama Sidacerma tidak memberikan pujian, tidak pula memberikan pelukan hangat. Pria tua itu justru melangkah mendekat dengan wajah sedingin es batu, lalu mengetukkan ujung jari telunjuknya yang dialiri energi ungu pekat tepat ke dahi Mada.

Pletack.

Mada terhuyung mundur dua langkah, memegangi dahinya yang terasa panas.

"Jangan jemawa karena berhasil memanggil wujud raksasa itu sekejap mata, Mada," suara Rama berat, menggema di antara kabut pagi Hutan Tarik. "Kekuatan liar yang bangkit karena amarah sesaat hanya akan menguras sukmamu sampai kering. Di dunia luar, para pembunuh bertopeng faksi Mahapati tidak akan memberimu waktu untuk menarik napas saat raksasamu menghilang. Mulai hari ini, belantara ini akan menjadi kawah candradimuka bagimu. Aku tidak akan melepasmu ke mana pun sebelum tubuh dan batinmu sekokoh karang."

Sejak fajar hari itu, kehidupan Mada sebagai bocah normal berakhir sepenuhnya. Rama Sidacerma menerapkan metode latihan militer kuno yang jauh lebih kejam daripada pelatihan prajurit pilihan di kota raja Trowulan.

Tahun pertama, saat Mada menginjak usia enam tahun, fokus latihan sepenuhnya ditekankan pada penguncian dan kestabilan energi dasar. Setiap pagi buta, saat embun hutan masih membeku, Mada dipaksa bersila di bawah air terjun lembah purba selama berjam-jam. Tugasnya hanya satu: menahan hantaman air yang berat sembari mempertahankan pendaran aura putih (Kanuragan Raga) di permukaan kulitnya agar tidak padam. Di sinilah keistimewaan pasif (Kulit Tembaga) miliknya ditempa secara konstan. Kulitnya yang semula halus perlahan berubah menjadi pekat, keras, dan mulai kebal terhadap goresan duri-duri tajam Hutan Tarik.

Memasuki tahun kedua dan ketiga, usia Mada beranjak tujuh dan delapan tahun. Rama mulai menambahkan beban fisik luar logika. Kedua pergelangan tangan dan kaki Mada tidak lagi diikat dengan batu kali biasa, melainkan lempengan besi meteorit hitam yang bobotnya terus ditambah setiap beberapa bulan sekali.

Mada dipaksa berlari mendaki tebing-tebing curam, memikul kayu jati yang tumbang, hingga melompat di antara akar-akar pohon raksasa dalam kondisi terikat beban besi langit tersebut. Jika Mada mengeluh atau gerakannya melambat seujung kuku, cambuk rotan ghaib milik Rama yang dialiri tenaga dalam akan langsung menyabet punggungnya tanpa ampun, meninggalkan bekas luka parut yang membentuk mentalitas bajanya.

"Seorang kesatria Majapahit tidak digerakkan oleh otot daging, Mada! Gerakkan beban itu dengan hawa murnimu!" bentak Rama yang selalu mengawasi dari atas dahan pohon.

Di tahun keempat, pada usia sembilan tahun, latihan mulai beralih ke pilar pertama tingkat lanjut, yaitu mencoba menyentuh gerbang (Jagat Alit). Rama mulai melatih Mada teknik meringankan tubuh yang disebut Langkah Halimun. Mada diperintahkan untuk berjalan di atas seutas tali rotan tipis yang dibentangkan di atas jurang lembah yang dalam. Awalnya, Mada terjatuh ratusan kali, tubuhnya menghantam semak belukar di dasar jurang hingga babak belur. Namun, bakat batin bawaan lahirnya yang masif membuat proses pemulihan tubuhnya berjalan sangat cepat. Lambat laun, pendaran aura di bawah telapak kakinya yang semula putih bersih mulai terkontaminasi oleh pendaran warna hijau muda khas energi (Jagat Alit).

Mada juga belajar untuk menyembunyikan kekuatannya. Rama mengajarkan teknik mengunci lubang spiritual tubuh agar mata emas (Niti Sastra) dan Khodam raksasanya tidak bocor keluar secara tidak sengaja. Mada diajari untuk terlihat seperti bocah biasa yang tidak memiliki kemampuan apa-apa, sebuah taktik kamuflase mutlak yang kelak akan sangat berguna untuk misinya menyusup ke militer kerajaan.

Waktu terus bergulir, menempa sang bocah takdir di dalam kesunyian belantara yang terisolasi dari peradaban dunia.

Hingga akhirnya, lima tahun berlalu dengan sangat cepat. Matahari fajar menyinari Hutan Tarik, menembus sela-sela kabut tebal yang mulai menipis.

Di atas batu kali tempat latihan pertamanya dulu, berdiri sesosok anak laki-laki yang kini telah genap berusia sepuluh tahun. Tubuh Mada tidak lagi mungil; ia tumbuh menjadi bocah yang jangkung, dengan dada bidang yang tegap dan lengan yang dipenuhi otot padat yang kokoh bagaikan dipahat dari kayu jati tua. Sorot matanya yang hitam jernih memancarkan ketenangan yang sangat dalam, jauh melampaui kedewasaan orang dewasa pada umumnya. Wajahnya tegas, dengan rahang yang mengeras, mencerminkan kepribadian yang jarang tersenyum dan dingin akibat kerasnya didikan belantara.

Di hadapannya, Rama Sidacerma berdiri dengan rambut putihnya yang berkibar ditiup angin hutan. Pria tua itu menatap Mada dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu seulas senyum tipis—yang pertama kali dalam lima tahun ini—muncul di sudut bibirnya.

"Lima tahun kawah candradimuka telah selesai, Mada. Kulitmu telah menjadi tembaga, dan fondasi batinmu sudah terkunci rapat," ucap Rama, nadanya tidak lagi membentak, melainkan dipenuhi wibawa seorang mentor tertinggi. "Kini, usiamu telah sepuluh tahun. Tubuh dan energimu sudah matang untuk menerima ujian hidup dan mati yang sesungguhnya di luar batas gubuk ini."

Rama meraba pinggangnya, lalu menarik sebuah pisau berburu panjang berkepala perunggu kuno yang selama ini tersimpan di dalam petinya, lalu melemparkannya ke arah Mada.

Sret. Tancap. Pisau itu tertanam kuat di tanah tepat di depan kaki Mada yang telanjang.

"Besok pagi, petualangan pertamamu di rimba hitam akan dimulai," lanjut Rama, matanya berkilat serius. "Dan aku tidak akan menemanimu lagi."

Mada menatap pisau perunggu di bawahnya, lalu perlahan membungkuk untuk mencabutnya. Pegangannya terasa sangat pas di tangan kokohnya yang kini siap untuk mengguncang tatanan dunia.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!