Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Suka Yang Lebih Tua
Bab 4
...Asep...
^^^Kalau mas restu tanya kita mau kemana, bilang aja cari barang. Nggak usah disebutin barang dan tempatnya^^^
Wani piro
^^^Rese^^^
Makanya cari pacar. Selama status lo masih jomblo, akan ada Restu, Tarjo dan Yahya lainnya
^^^Pacar aku masih tersesat, nggak pake GPS kayaknya^^^
Cinta gercep untuk satu kata dengan Asep. Jangan sampai tidak ada alasan untuk menolak permintaan antar jemput dari Restu. Motornya masih berada di bengkel, tawaran antar jemput masih seliweran.
Beres dari kantin, Cinta menjelaskan ruangan dan area yang mungkin saja mereka akan datangi selama bekerja pada Eru.
“Studio ada di lantai 2 dan 3. Lantai 7 khusus manajemen.” Eru mengangguk paham. “Nggak usah aneh kalau ketemu artis hilir mudik, tapi jangan harap bisa mudah minta foto. Kita nyapa dia balas senyum aja udah bagus. Aslinya kadang cuek, Cuma dadah-dadah doang. Mungkin buru-buru ya ada acara lagi.”
“Pengalaman ya mbak?”
“Iya. Tahun pertama kerja di sini, ada penyanyi yang aku kagumi. Pas banget ketemu di lobby, belum sempat bilang minta foto baru nyapa doang. Mukanya jutek sambil ngelirik sinis gitu.”
“Masih ngefans gak?”
“Malas. Pernah satu lift, aku cuek aja. Mana tahu roda kehidupan serius berputar, terus mereka yang nyapa aku duluan.” Cinta terkikik geli membayangkan hal itu, Eru tertular untuk ikut tersenyum.
“Yuk ah, nanti telat Bang Umar marah.” Cinta refleks menarik tangan Eru agar bergegas.
Eru menatap tangannya sambil tersenyum. Hari-harinya ke depan mungkin akan sangat menyenangkan.
“Mbak kerja di sini udah lama?” Eru bertanya saat pintu lift tertutup.
“Udah 4 tahun sih, tapi ….” Cinta menoleh dan agak menengadah karena perbedaan tinggi tubuh mereka. “Umur kamu berapa sih? Kenapa panggil aku mbak.”
“Menghormati, masa saya panggil mbak sayang. Mau?”
“Ish, ngaco.” Cinta refleks memukul lengan Eru yang terkekeh geli.
“Paling beda setahun sama mbak.” Cinta kembali menyarangkan tangannya memukul lengan Eru. Suka sekali gadis ini memukul.
Sampai lagi di lantai divisi tujuan mereka. Berjalan dengan CInta, Eru harus terbiasa berhenti karena gadis itu disapa atau menyapa rekannya. Bahkan disela dengan canda.
Cukup lama briefing dengan Umar, mereka akan berangkat 2 hari lagi untuk proses shooting outdoor. Umar, Cinta, Asep, Eru dan Abil merupakan teknisi.
“Kita aman berangkat segini doang Bang?” tanya Asep.
“Aman, kok. Acara Hidden Gems, hostnya shooting terpisah. Nggak mungkin kita bawa artis ke pelosok, kadang tempat wisata yang dikunjungi belum standar mereka. Gue udah terima arahan terkait ambil gambar.”
“Eru ikut juga Bang? Dia ‘kan magang, kalau aku masih magang sih pengennya di office aja,” kali ini Cinta yang bertanya. Eru yang berada di samping gadis itu menoleh.
“Itu elo, bukan Eru.” Asep menarik ujung rambut kunciran Cinta membuat gadis itu memekik lalu balas menarik kerah kemeja belakang Asep.
Eru memperhatikan interaksi itu, kedekatan dan keseruan Cinta.
“Ck, macam kucing sama 4njing aja kalian. Bang, pacaran apa gimana mereka?” tanya Abil.
“Emang gitu, nggak usah diladeni. Kalau kesel kita sembur kopi aja atau ambil aer seember guyur dah.”
Abil terkekeh. “macam kucing berantem ya.”
“Idih. Kang Asep udah mau nikah, lagian aku cari pacar yang kinyis-kinyis bukan yang udah tuir kayak dia.”
“Pantes jomblo akut, cari yang modelan Tarjo ya.” Asep terbahak. Cinta melirik sinis.
“Ikut, Eru ikut tim. Tadi pak Arif bilang gitu. Siap Ru?” tanya Umar.
Eru langsung terkesiap ketika namanya dipanggil Umar, sejak tadi hanya fokus pada CInta. Entah kenapa, gadis itu seolah menarik perhatiannya apapun yang dilakukan.
“Oh, siap, bang.”
“Tanya ke Cinta barang pribadi yang harus kamu siapkan.”
“Oke, bang. Aman.”
“Semp4k jangan lupa Ru, pentinglah itu,” cetus Abil lalu terkekeh.
“Duit aja yang banyak,” sahut Cinta.
“Untuk apa Mbak?” Eru dengan polosnya bertanya, padahal obrolan itu sudah melenceng.
“Buat mahar, lo mau mahar berapa Ta?” Asep menepuk bahu Cinta sedikit kencang.
“Njir, sakit tahu.” Cinta berbalas menghajar punggung Asep. Eru masih memperhatikan tingkah Cinta.
“Berapa, itu Eru nungguin?”
Plak, plak.
Umar menghantamkan sebuah map ke kepala Umar dan Cinta. “Bercanda mulu, ini serius loh! Tim kreatif udah wanti-wanti acara ini nggak boleh turun rating atau bakal dibungkus.”
“Tinggal bilang karet 1 atau 2 aja, bang,” lirih Cinta tapi masih bisa didengar oleh yang lain.
“Bil, siapkan alatnya sekarang, gue nggak mau ada insiden alat kita bermasalah di lokasi.”
“Siap, bang.”
“Elo juga Sep. Kita pernah shooting nggak ada suaranya dan elo nggak ngeh, untungnya off air di studio.”
“Nggak akan terulang lagi bang. Orang pintar tidak melakukan kesalahan yang sama,” seru Asep bahkan menunjukan kedua ibu jarinya.
“Orang pintar minum tolak angin,” bisik Cinta.
“Kamu juga Ta, agak khawatir gue bawa elo. Di luar resikonya besar, obat dan antisipasi segala kemungkinan harus elo perhatikan.”
“Iya, bang.” Kali ini CInta tidak menjawab dengan candaan.
Lepas maghrib tim 7 usai dengan tugas mereka. Cinta sudah memakai lagi kemeja tactical dan menggendong ransel. Eru berjalan di sampingnya.
“Pulang kemana mbak?”
“Kampung sawah, aku ngekos di sana.”
Eru mengangguk. Asep sambil berdendang mendahului langkah mereka Cinta dan Eru.
“Kamu tinggal di mana?”
“Perum gading,” sahut Eru, tentu saja bukan sebenarnya.
“Kepala Gading ‘kan?” Eru mengangguk. “Nggak jauh dari kosan aku dong. Koja sama kelapa gading ‘kan dekat.”
“Hm.”
Keduanya masih menunggu di lobby, menunggu transportasi.
“Ojek aku udah dekat, yang kamu udah di mana?”
“Masih jauh, katanya muter dulu. Mbak duluan aja.”
“Yakin? Entar lo sendirian ada yang nawar tau. Di sini banyak mbak-mbak single ala sugar mommy gitu.” Cinta terkikik menatap sekitar. Hilir mudik pekerja dan karyawan atau orang tokoh penting termasuk juga content creator yang sering fyp.
“Iyakah? Nggak pa-pa deh, kayaknya saya suka cewek yang usianya lebih tua dari saya,” tutur Eru sambil memandang Cinta.
“Hah?”
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya