NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberangkatan dari Kota Seratus Mata Air

Fajar kelima di Kota Seratus Mata Air datang dengan kabut tipis yang menyelimuti danau-danau. Teratai-teratai spiritual masih bersinar redup, cahayanya yang keperakan perlahan memudar seiring matahari yang mulai mengintip dari balik pegunungan di timur.

Di vila terapung, rombongan sudah berkemas.

Wei Zhen memeriksa tali kekang kuda spiritual yang mereka beli kemarin—tiga ekor kuda putih bersayap, binatang transportasi paling umum untuk perjalanan darat di Benua Selatan. Kuda-kuda itu memiliki bulu seputih salju, sayap berbulu di punggungnya, dan mata biru yang cerdas. Mereka bisa terbang rendah untuk jarak pendek, tapi untuk perjalanan jauh, berlari di darat lebih efisien.

"Perjalanan ke Lembah Seribu Bintang memakan waktu sekitar seminggu," kata Xu Mei, jubah merah marunnya sudah rapi, peta di tangannya terbentang. "Kita akan melewati Hutan Kabut dulu, lalu Ngarai Angin. Setelah itu, kita masuk ke wilayah reruntuhan."

"Apa ada bahaya yang harus diwaspadai?" tanya Feng Mo, mengikat pedangnya ke pelana.

"Hutan Kabut adalah sarang binatang buas tingkat menengah. Tapi banyak di antaranya non-humanoid." Xu Mei melirik Xiao Chen. "Jadi seharusnya tidak masalah."

"Kenapa kalian semua menatapku?" tanya Xiao Chen, alisnya terangkat.

"Karena monster non-humanoid selalu tunduk padamu," jawab Zhang Yuan, nadanya setengah kagum setengah iri. "Kau bahkan tidak perlu bertarung. Mereka lihat kau, lalu lari."

"Itu bukan salahku."

"Aku tidak bilang itu salah."

Lin Yao sudah menaiki kudanya, duduk dengan postur tegak. Jubah hijaunya berkibar pelan. "Kita berangkat sekarang atau menunggu sampai siang?"

"Sekarang," kata Wei Zhen, naik ke kudanya sendiri. "Semakin cepat kita tiba, semakin baik."

Perjalanan keluar dari Kota Seratus Mata Air membawa mereka melewati gerbang selatan—sebuah lengkungan batu raksasa yang diukir dengan relief mata air yang mengalir. Di atas gerbang, sebuah formasi kuno masih aktif, memancarkan cahaya biru lembut.

Begitu mereka melewati gerbang, seorang gadis kecil muncul dari balik tiang.

"Kakak berambut putih!"

Xiao Chen menoleh. Itu Lian—gadis kecil yang ditemuinya di pasar tiga hari lalu. Jepit rambut berbentuk teratai masih bertengger di rambut hitamnya. Dia berlari ke arah kuda Xiao Chen dengan kaki kecilnya, napasnya terengah-engah.

"Lian," kata Xiao Chen, menghentikan kudanya. "Kenapa kau di sini?"

"Aku... aku tidak mau kakak pergi." Mata gadis itu berkaca-kaca. "Aku sudah tunggu di sini setiap pagi sejak kakak kasih aku jepit ini."

Xiao Chen turun dari kudanya, berjongkok di depan gadis itu. "Aku harus pergi, Lian. Ada sesuatu yang harus kutemukan."

"Aku mau ikut!"

"Kau masih terlalu kecil untuk perjalanan sejauh ini."

"Aku bisa jadi besar! Nanti!" Lian mengepalkan tangan kecilnya. "Aku sudah bilang sama Ibu. Aku mau jadi kultivator kuat dan cari kakak!"

Ibunya muncul dari belakang—wanita muda berwajah lelah yang sama seperti sebelumnya, dengan bayi di gendongannya. "Lian, jangan ganggu Tuan Xiao. Dia sedang dalam perjalanan penting."

"Tapi Bu..."

Xiao Chen meletakkan tangannya di kepala Lian. "Dengarkan ibumu, Lian. Tapi ingat janjimu—kau akan jadi kultivator kuat." Dia mengeluarkan sebuah batu kecil dari sakunya—Batu Spiritual Tingkat Tinggi yang dibungkus dengan formasi pelindung sederhana. "Ini untuk membantu kultivasimu nanti. Simpan baik-baik."

Mata Lian membelalak. "Untukku?"

"Untukmu. Sekarang, pulanglah. Jadilah anak baik."

Lian menggenggam batu itu erat-erat, air mata mengalir di pipinya. Tapi dia mengangguk. "Aku... aku akan cari kakak. Nanti. Kalau aku sudah besar dan kuat."

"Aku tahu kau akan melakukannya."

Saat Xiao Chen naik kembali ke kudanya, Lian berdiri di dekat ibunya, melambai-lambai dengan tangan kecilnya. "Sampai jumpa, Kakak Berambut Putih!"

Xiao Chen melambai balik, senyum hangat di wajahnya.

Wei Ling, yang menyaksikan dari kudanya, menatap Xiao Chen dengan ekspresi lembut. "Kau benar-benar baik pada anak-anak."

"Mereka tulus. Itu langka."

"Kau akan jadi ayah yang baik."

Xiao Chen menoleh, senyum nakalnya muncul. "Kau sudah memikirkannya?"

Wajah Wei Ling langsung merah padam. "Aku—itu bukan—maksudku—"

Lin Yao, yang berada di depan, mendengus pelan. "Dia selalu bisa membuatmu kehilangan kata-kata."

"Kau juga," balas Wei Ling.

"Aku tidak kehilangan kata-kata. Aku hanya memilih untuk tidak bicara."

"Itu sama saja."

"Beda."

Xu Mei, yang berada di depan bersama Wei Zhen, menghela napas. "Mereka selalu seperti ini?"

"Sejak awal," jawab Wei Zhen datar. "Kau akan terbiasa."

"Aku ragu."

Hutan Kabut terbentang di depan mereka setelah setengah hari perjalanan.

Sesuai namanya, hutan ini diselimuti kabut abadi—lapisan putih tebal yang menggantung di antara pepohonan raksasa setinggi lima puluh meter. Akar-akar pohon membentuk jembatan alami di atas sungai-sungai kecil, dan suara binatang malam bergema dari kedalaman hutan meskipun matahari masih tinggi.

Begitu mereka memasuki hutan, kuda-kuda spiritual mulai gelisah.

"Binatang buas," bisik Feng Mo, tangannya sudah di gagang pedang. "Aku bisa merasakannya."

"Tapi mereka tidak menyerang," tambah Zhang Yuan. "Kenapa?"

Xiao Chen tidak menjawab. Dia hanya menatap ke depan, ke dalam kabut. Dari kegelapan di antara pepohonan, puluhan pasang mata bersinar—merah, kuning, hijau—menatap mereka dengan intensitas yang mengerikan. Serigala bayangan. Ular pohon. Laba-laba batu. Semuanya binatang tingkat menengah yang biasanya akan menyerang siapa pun yang memasuki wilayah mereka.

Tapi tidak hari ini.

Hari ini, mereka hanya menatap. Tubuh mereka gemetar. Kepala mereka menunduk.

Satu per satu, mereka mundur ke dalam kegelapan, menghilang tanpa suara.

"Aku tidak akan pernah terbiasa dengan ini," bisik Zhang Yuan.

Xu Mei menatap Xiao Chen dengan mata yang sulit dibaca. "Apa yang kau lakukan pada mereka?"

"Tidak ada. Aku hanya... ada."

"Itu bukan jawaban."

"Itu satu-satunya jawaban yang kupunya."

Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan. Kabut semakin tebal, dan pepohonan semakin rapat. Tapi tidak ada satu pun binatang yang mendekat. Bahkan suara-suara hutan perlahan menghilang, seolah seluruh hutan menahan napas saat Xiao Chen lewat.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah tempat terbuka—reruntuhan kuil kecil di tengah hutan. Tiang-tiang batu yang sudah berlumut berdiri dalam lingkaran, dan di tengahnya ada kolam kecil dengan air jernih yang entah bagaimana tidak tersentuh kabut.

"Kita beristirahat di sini," kata Wei Zhen. "Lanjutkan perjalanan besok pagi."

Mereka turun dari kuda, mendirikan tenda di sekitar reruntuhan. Zhang Yuan dan Feng Mo mengumpulkan kayu bakar. Wei Ling membantu ayahnya menyiapkan makanan. Xu Mei membentangkan peta dan mulai menandai rute.

Lin Yao menghilang ke balik reruntuhan. Xiao Chen mengikutinya.

Dia menemukannya di kolam kecil, duduk di atas batu, menatap air yang memantulkan langit senja. Kabut di sekitar reruntuhan lebih tipis, dan sinar matahari terakhir menciptakan warna jingga di permukaan air.

"Kau sering menyendiri," kata Xiao Chen, duduk di sampingnya.

"Aku terbiasa sendiri."

"Tapi kau tidak sendiri sekarang."

Lin Yao menoleh, menatapnya. "Aku tahu." Dia berhenti. "Kadang-kadang aku masih tidak percaya. Enam bulan lalu, aku hanya kultivator sekte kecil yang tidak peduli pada siapa pun. Lalu kau muncul, dan segalanya berubah."

"Apakah itu buruk?"

"Tidak. Hanya... aneh." Lin Yao menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Chen—gerakan yang tidak akan pernah dia lakukan beberapa bulan lalu. "Aku tidak pernah membayangkan akan berbagi seseorang dengan wanita lain. Tapi denganmu... entah kenapa terasa benar."

Xiao Chen mencium puncak kepalanya. "Kau luar biasa, Lin Yao."

"Aku tahu."

Mereka duduk dalam keheningan, menatap matahari yang perlahan terbenam. Di kejauhan, suara tawa Zhang Yuan terdengar—mungkin dia baru saja mengatakan sesuatu yang bodoh lagi.

"Xiao Chen," kata Lin Yao pelan. "Jika kau menemukan jawabanmu di Lembah Seribu Bintang... apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan terus mencari. Sampai semua potongan kain terkumpul. Sampai aku tahu siapa aku sebenarnya."

"Dan setelah itu?"

Xiao Chen menatap langit yang semakin gelap. "Setelah itu... aku akan tinggal. Bersama kalian."

"Janji?"

"Janji."

Malam tiba. Api unggun menyala di tengah reruntuhan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di tiang-tiang batu. Mereka semua duduk mengelilinginya—Wei Zhen di satu sisi, Feng Mo dan Zhang Yuan di sisi lain, Wei Ling di samping Xiao Chen, Lin Yao di seberangnya, dan Xu Mei sedikit menjauh, masih sibuk dengan peta.

"Aku penasaran," kata Zhang Yuan tiba-tiba, "apa isi Lembah Seribu Bintang sebenarnya. Selain potongan kain itu."

"Reruntuhan kuno," jawab Xu Mei tanpa menoleh dari peta. "Dibangun oleh peradaban yang sudah punah lebih dari seratus ribu tahun yang lalu. Konon, mereka adalah kultivator yang hampir mencapai Alam Immortal sebelum jatuh karena bencana yang tidak diketahui."

"Bencana apa?"

"Tidak ada yang tahu. Semua catatan tentang mereka hilang. Yang tersisa hanya reruntuhan dan jebakan."

"Kedengarannya menyenangkan," gumam Feng Mo.

"Aku tidak sabar," tambah Lin Yao.

"Kalian semua gila," kata Zhang Yuan.

Xiao Chen tersenyum mendengar percakapan mereka. Tangannya merogoh balik jubahnya, menyentuh kedua potong kain emas. Resonansinya semakin kuat sekarang—denyutan yang terasa seperti detak jantung. Semakin dekat mereka ke Lembah Seribu Bintang, semakin jelas getarannya.

Sebentar lagi, pikirnya. Aku akan menemukan potongan berikutnya.

Malam semakin larut. Satu per satu, mereka masuk ke tenda masing-masing. Wei Ling adalah yang terakhir, berdiri di samping Xiao Chen yang masih duduk di depan api unggun yang mulai meredup.

"Kau tidak tidur?" tanyanya.

"Aku tidak butuh tidur."

"Aku tahu. Tapi..." Wei Ling ragu. "...aku ingin kau di sampingku malam ini."

Xiao Chen menatapnya. Cahaya api memantul di matanya yang ungu keemasan. "Kalau begitu, aku akan di sampingmu."

Mereka masuk ke tenda Wei Ling—tenda kecil dengan satu dipan portabel. Begitu berada di dalam, Wei Ling sudah menarik Xiao Chen ke dalam pelukan, wajahnya dibenamkan di dadanya.

"Aku hanya ingin merasa dekat denganmu," bisiknya. "Tidak perlu yang lain. Hanya... dekat."

Xiao Chen memeluknya, mencium keningnya. "Aku di sini."

Mereka berbaring bersama, Wei Ling di pelukan Xiao Chen, matanya perlahan terpejam. Napasnya menjadi teratur, dan segera dia tertidur dengan senyum kecil di wajahnya.

Xiao Chen tetap terjaga, menatap langit-langit tenda. Pikirannya melayang ke Lembah Seribu Bintang, ke kain emas, ke misteri yang semakin dekat.

Siapa aku sebenarnya?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Tapi untuk sekarang, dengan Wei Ling di pelukannya, itu tidak terasa begitu mendesak.

Besok, perjalanan berlanjut.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!