Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak pembawa sial!
Begitu tiba di depan rumah, Nadia malah bingung karena pintu rumah terkunci rapat.
"Loh, kok gak ada orang?!"
Nadia mencoba mencari-cari kunci yang biasanya di simpan di bawah pot bunga. "Pasti kuncinya ayah bawa."
Cuaca yang tadi baik-baik saja, mendadak berubah menjadi riuh. Angin bertiup kencang. Suara atap seng berderit riuh diterpa angin membuat Nadia merasa takut.
Nadia yang hanya memakai baju tangan pendek dan rok pendek pun kini merasa kedinginan. "Ayah... Aku takut." lirihnya terduduk memeluk lutut bersandar di daun pintu yang terkunci rapat.
DERRR
Suara petir diikuti kilat yang menyambar seakan membelah langit.
Nadia menutup kedua telinganya, membenamkan wajah diantara lututnya. "Ayah..."
Nadia sangat ketakutan, sendirian di luar rumah dengan suara petir yang terus menerus bersautan, kilat menyambar dan diikuti rintik hujan yang langsung deras. Sangking takutnya Nadia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk mengetuk pintu rumah tetangga.
Sementara itu, di pasar malam. Beberapa waktu sebelum Nadia pulang, Nina dan Nino sengaja meminta bantuan penjual telur gulung untuk membohongi Nadia.
Jadilah, saat itu mereka kehujanan di pasar malam. Berteduh di bawah tenda-tenda pedagang.
"Kalian tunggu disini, ayah cari Nadia."
"Tapi hujannya deras banget mas. Nadia juga pasti udah neduh."
Arman tidak mendengarkan celoteh Astrid. Di tengah guyuran hujan, petir dan kilat, Arman berkeliling dari satu stand ke stand lain mencari Nadia.
"Nadia, kamu dimana nak?"
Arman putus asa, karena sudah semua stand ia periksa dan Nadia tidak kunjung ditemukan.
"Nadia... Kamu dimana nak?" masih terus mencari.
Sedangkan Nina dan Nino kini saling menyalahkan.
"Apa yang kalian lakukan sama anak pungut itu?" tanya Astrid pada si kembar.
Nina dan Nino pun menceritakan semuanya.
"Jadi, maksud kalian, anak pungut itu mungkin sudah pulang?"
"Iya ma."
Astrid tersenyum puas. "Akan lebih bagus kalau anak pungut itu tidak pernah sampai ke rumah."
"Iya ma. Aku benci banget sama Nadia. Ayah selalu sayang sama dia. Apa-apa pasti Nadia, Nadia, Nadia." sambung Nina.
"Kalau gak di culik, ya paling nyasar." Celetuk Nino yang berakhir dengan gelak tawa Nina dan Astrid.
Arman kembali ketempat Astrid dan anak-anaknya dalam keadaan basah kuyup. "Ayah tidak bisa menemukan Nadia." ungkapnya putus asa.
"Ya udahlah mas, biarkan saja anak itu. Toh gak ada ruginya juga buat kita." celetuk Astrid.
"Kenapa sih kamu begitu membenci Nadia? Padahal selama Nadia bersama kita, kehidupan kita perlahan membaik. Nadia juga anak yang sopan dan penurut. Aku pikir setelah bertahun-tahun berlalu, kamu akan sedikit merasa iba pada anak itu..."
"Cukup mas! Cukup membanggakan Nadia di depan anak-anak. Mas pikir anak-anak gak sakit, gak terluka melihat dan mendengar mas membela Nadia segitunya?"
"Aku tidak membela Nadia. Aku hanya tidak habis pikir dengan kalian yang selalu mengucilkan Nadia!"
"Nadia itu bukan darah dagingku. Jadi, terserah aku mau melakukan apa pun sama dia. Oh atau jangan jangan Nadia itu benaran anak haram kamu dengan gundik mana mas?"
PLAK
Tangan Arman mendarat tepat di wajah Astrid. Kejadian itu disaksikan langsung oleh Nina dan Nino juga orang orang yang ada di bawah tenda tempat mereka berteduh.
"Astrid..."
Wajah Astrid merah padam. Dengan cepat dia meraih tangan Nina dan Nino. "Ayo kita pulang."
"Astrid, aku..."
Astrid tidak menghiraukan Arman sama sekali. Dengan langkah cepat, dia berjalan di tengah derasnya hujan bersama kedua anaknya.
Arman sendiri mematung di depan tenda, membiarkan dirinya ditimpa hujan. Matanya menatap telapak tangan yang telah memukul wajah istrinya untuk pertama kalinya selama hidup bersama.
"Maafkan aku, Astrid. Aku bersumpah, Nadia bukan darah dagingku. Aku hanya terlalu kasihan pada anak itu." lirihnya menyesali apa yang sudah terjadi.
>~<
Astrid tidak membawa Nina dan Nino pulang malam itu. Mereka menginap di rumah teman baik Astrid. Sementara Arman masih terus mencari Nadia sepanjang malam bahkan sampai matahari terbit.
Dalam kondisi kedinginan, Arman lemas dan tidak kuat menahan perasaan dingin bercampur lelah. Namun, ia tetap melangkah menyusuri jalan berharap bisa menemukan Nadia.
Nahasnya, Arman jatuh pingsan di tengah jalan dan terlindas mobil truk yang lewat.
Karena masih sangat pagi, cuaca dingin setelah hujan, jalanan pun licin, sehingga belum ada manusia atau pengendara lain yang lewat selain truk itu.
"Sial!" rutuk sopir truk saat menyadari telah menabrak seseorang hingga tewas di tempat.
Sopir truk itu pun segera meninggalkan TKP tanpa peduli pada orang yang telah dia tabrak.
Sementara itu, Nadia masih meringkuk di teras rumah dalam kondisi menggigil hebat. Perlahan matanya terbuka dan yang dilihatnya ibu dengan kedua kakaknya saja yang pulang.
"Ibu, ayah mana!" Seru Nadia berlari mengejar Astrid.
"Ini semua karena kamu! Dasar anak pembawa sial!" Pekik Astrid sambil menarik kuat rambut Nadia dengan kedua tangannya.
"Sakit buk... Lepas..."
"Kamu membunuh suamiku! Anak sialan..."
Astrid membabi buta. Suara jeritan Nadia dan amarah Astrid terdengar oleh tetangga yang membuat mereka satu-persatu berdatangan. Beberapa tetangga mencoba melerai pertikaian Astrid dan Nadia, tapi fokus mereka teralihkan pada mobil ambulan yang datang dengan sirine yang menandakan ambulan membawa jenazah.
Nina dan Nino menangis terisak. Astrid masih terus memukul dan menjambak Nadia.
"Teh Astrid sudah atuh. Sabar teh, kasihan Nadia." tetangga mencoba melerai.
"Kasihan atuh Nadia. Cukup teh Astrid."
Dengan beberapa orang yang melerai, akhirnya mereka bisa memisahkan Nadia dan Astrid.
Kondisi Nadia sangat memprihatinkan. Tubuhnya lemah, kedinginan dan pucat. Nadia terbaring lemah dalam pangkuan ibu tetangga. Matanya menatap kosong jenazah Arman yang digotong keluar dari ambulan.
Astrid masih meraung-raung mencaci maki Nadia. Sementara Nina dan Nino pun juga masih terus menangis histeris.
Tetangga mulai berdatangan setelah mendengar kabar duka itu. Dengan tulus, mereka membantu prosesi penyelenggaraan jenazah hingga selesai.
Kini, Arman sudah pergi. Ia sudah istirahat di tempat peristirahatan terakhir dengan hati yang menjerit khawatir karena hingga hembusan napas terakhirnya dia tidak bisa menemukan Nadia.
Astrid tidak bisa menahan luka yang dia gores sendiri. Penyesalan terbesarnya karena tidak memberitahu Arman bahwa Nadia sudah pulang. Jika saja Astrid mengatakan itu, pertengkaran dan kemalangan seperti ini mungkin bisa dihindari.
Namun, Astrid tidak ingin menanggung penyesalan itu sendiri, sehingga dia melimpahkan semua kesalahan itu pada Nadia yang malang.
Mata Astrid merah padam menatap Nadia yang menangis menyentuh nisan Arman. "Pembawa sial! Seumur hidup kamu hanya akan menjadi kesialan untuk siapapun. Harusnya kamu tidak pernah lahir ke dunia ini!" ucap Astrid berbisik pada Nadia.
Yang bisa Nadia lakukan hanya menangis, ketakutan dan mulai menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Anak kecil itu, harus menanggung label sebagai anak pembawa sial seumur hidupnya.
Bersambung...